BYD Bakal Terjun Ke Formula 1 Atau Balap Ketahanan?

17 March 2026 | 10:34 am | Rizky Dermawan

Event balap mobil seperti GT, rally dan Formula 1 jadi salah satu ajang promosi bagi pabrikan otomotif. Hal ini pun menjadi salah satu pertimbangan divisi pemasaran brand asal China, BYD.

Berdasarkan kabar yang diberitakan oleh Bloomberg beberapa hari lalu, BYD saat ini tengah mempelajari kemungkinan untuk terjun ke ajang balap mobil. Fokus utamanya adalah Formula 1.

Tak sekadar menjadi ajang promosi merek BYD di khalayak global. Seri kejuaraan balap Formula 1 di tataran dunia motorsports punya prestise di kasta tertinggi. Ini balap kelas para dewa. Dampaknya akan sangat luar biasa terhadap eksistensi brand BYD di pasar global. Brand awareness adalah tujuan utamanya. Tapi apakah sepadan?

Balap F1 Pendongkrak Prestise

FIA selaku organisasi yang menaungi balap Formula One menyambut gembira perihal rencana masuknya BYD di ajang balap F1.

Dalam sesi wawancara yang dilakukan Le Figaro pada tahun lalu, Mohammed Ben Sulayem selaku petinggi FIA mengatakan bahwa sangat logis jika pabrikan asal China akan mengikuti jejak Cadillac untuk mulai terjun di kancah balap F1.

Meski pihak FIA membuka pintu lebar-lebar bagi kehadiran tim baru, tapi tim pemain lama di balap F1 mungkin belum tentu sependapat. Pasalnya, jumlah tim peserta balap F1 saat ini sudah terbilang ramai. Barisan starter di grid tentu akan kian panjang jika ditambah BYD. Pastinya, akan ada tim yang tak terima terdepak jika jumlah starter di grid dibatasi.

Baca juga :  GIICOMVEC 2026 Targetkan 11 Ribu Trade Visitors

Popularitas balap F1 di China kembali booming sejak Zhou Guanyu jadi pebalap pertama asal China yang terjun di laga F1 pada tahun 2022. Ditambah lagi seri balap jet darat ini kembali dihelat di Shanghai pada tahun 2024 lalu setelah absen sekira lima tahun tak ada gelaran F1 di China.

Bercermin pada kondisi yang dialami oleh tim Cadillac, masuk di liga balap Formula One bukan hal yang mudah. Butuh waktu tahunan bagi brand asal AS ini untuk bisa masuk di garis start. Tahun ini adalah musim balap perdana bagi Cadillac di F1.

Audi cukup beruntung, bisa lebih cepat terjun di laga F1 setelah membungkus tim balap asal Swiss, Sauber yang tengah kehabisan nafas di balap kelas dewa ini.

Sangat jarang untuk bisa mendapatkan satu tim penuh yang akan dilepas. Rerata tim F1 dimiliki oleh sejumlah inverstor. Tak semua investor mampu bertahan lama di F1.

Perusahaan investor Otro Capital pun mulai gerah dan ingin menjual sahamnya di tim Alpine Racing yang disokong oleh Renault. Bahkan milyuner Lawrence Stroll baru saja menjual andil sahamnya di tim balap Aston Martin. Ia pun sudah mulai gusar dengan sejumlah kendala teknis yang mendera mobil balap tim Aston Martin secara bertubi tubi. Prestasi balap pun jadi mandeg.

Baca juga :  Suzuki Bengkel Siaga 2026 Hadir di 71 Titik Jalur Mudik

Balap Formula One bukanlah mainan murah. Butuh waktu lama untuk mengembangkan prototype mobil balap F1 hinhga siap balap. Saat regulasi berubah, maka tim riset pun harus putar otak merombak rancangan dari awal. Biaya jelas akan membengkak. Belum lagi biaya operasional balap untuk satu musim penuh paling sedikit $500 juta. Ya, bakar uang trilyunan.

Banyak hal yang harus dipertimbangkan secara matang dan serius oleh BYD sebelum benar-benar memutuskan terjun di F1.

Balap Ketahanan Jadi Pilihan Alternatif

Dari sisi teknologi, BYD mungkin akan sedikit diuntungkan oleh regulasi F1 tahun 2026 yang mulai berpihak pada mesin hybrid.

Selain F1, seri kejuaraan balap ketahanan World Endurance Championship punya kategori mobil balap hypercar bermesin hybrid. Ini mungkin bisa jadi jalan alternatif bagi BYD jika tak jadi ikut balap F1.

Cukup masuk akal jika BYD terjun di seri balap ketahanan bergengsi seperti 24 Hours of Le Mans. Saat ini BYD punya ‘bahan’ yang siap diolah, yakni Yangwang U9 Xtreme.

Hypercar EV kebanggaan BYD ini menjadi mobil listrik produksi massal pertama yang mematahkan batas waktu tercepat 7 menit di sirkuit Nürburgring, Jerman. Yangwang U9 Xtreme membukukan rekor catatan waktu tercepat 6 menit, 59.157 detik pada September 2025 lalu.

Jika saja BYD terjun di seri kejuaraan balap ketahanan WEC, kategori Hypercar terbilang paling pas dengan aset yang dimiliki oleh BYD. Namun yang akan dihadapi bukan cuma brand asal AS dan Jepang. Calon rival dari kamerad senegaranya sudah siap menanti.

Baca juga :  Kemenhub Antisipasi Arus Mudik Libur Nyepi dan Lebaran 2026

Sejak December 2025 lalu, Chery Group dan Automobile Club de l’Ouest (ACO) telah menandatangani nota kesepahaman untuk mempromosikan sub-brand EXEED berlaga di seri balap ketahanan 24 Hours of Le Mans. Hanya saja belum dipastikan kapan mulai ikut balap.

Selain balap ketahanan, juga ada balap touring. Ini pun rival terkuat BYD sudah ada yang bercokol. Geely melalui brand Lynk & Co sudah duluan berlaga di seri kejuaran balap touring FIA TCR World Tour mulai November 2025 lalu. Para pembalap yang membesut Lynk & Co 03 TCR bahkan sukses mendominasi posisi teratas dan papan tengah klasemen balap. Rival terkuat Geely di TCR adalah Hyundai dengan Elantra N dan Honda dengan Civic Type R. Jelas bukan lawan yang kelas kaleng-kaleng.

Jadi, apakah BYD mau ikut balap F1 atau, touring, atau balap ketahanan?

5 1 vote
Article Rating

Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x