Wuling Resmikan Pabrik Baterai Berteknologi Robotik Di Indonesia

Untuk mempercepat produksi mobil listriknya di Indonesia, SGMW Motor Indonesia (Wuling Motors) meresmikan fasilitas produksi baterai mobil listrik mereka di Indonesia, Selasa (31/12).

Peresmian pabrik baterai wuling di Indonesia

Pabrik yang berlokasi di kawasan Supplier Park Cikarang, Jawa Barat ini akan memproduksi baterai MAGIC untuk mobil listrik Wuling Cloud EV dan Binguo EV. Pembangunan fasilitas tersebut menelan investasi sebesar 40 juta Renminbi (RMB) atau sekira Rp 87 miliar.

Baterai MAGIC

MAGIC bukanlah sekadar label nama, tapi merupakan akronim dari (M)ultifunction Unitized Structure Technology (MUST), (A)dvanced Cell Safety, (G)reater Performance, (I)ntelligent Management dan (C)ombustion Free. Kelima hal tersebut merupakan pilar utama dari teknologi baterai yang dikembangkan oleh Wuling Motors.

Baterai MAGIC telah melalui serangkaian pengujian keselamatan dan keamanan berkendara, terutama uji kebocoran. Mulai dari uji bentur, uji tusuk, uji rendam, hingga uji gesekan.

Pabrik baterai wuling

Dengan teknologi Advanced Cell Safety, struktur cangkang pelindung baterai yang kokoh dan kuat dilapisi keramik. Komponen yang ada di dalam cangkang dijamin aman dari kebocoran sehingga baterai tidak mudah terbakar atau meledak.

Baterai MAGIC juga didukung High Precision Battery Management System dan teknologi AI berbasis Cloud.

Tak hanya memantau kondisi baterai secara real-time, sistem terpadu ini mendeteksi 240 parameter keamanan pada baterai dan mobil listrik. Bila terjadi anomali, sistem deteksi akan memberikan peringatan dini.

Lima Tahapan Produksi

Ada lima station yang harus dilalui dalam proses produksi baterai MAGIC Wuling. Masing-masing dirancang agar proses produksi lebih efisien.

Tahapan pertama yakni Cell Stacking Station. Seluruh komponen penyusun baterai dirapikan dan ditata sesuai urutan susunannya ke dalam cangkang baterai.

Proses berlanjut ke Welding Station yang memiliki dua tahapan kerja, yaitu Busbar Welding dan Collecting Wire Harness Welding. Kedua proses kerja ini berjalan secara otomatis menggunakan teknologi robotik. Lengan-lengan robotik dikendalikan oleh sistem Automated Guided Vehicle (AGV). Proses kerja lebih cepat, efisien dan memiliki akurasi yang tinggi.

Di area Busbar Welding, penyambungan antar sel baterai menggunakan teknologi laser berdensitas energi tinggi. Prosesnya sangat cepat dan hasil sambungan pun rapi serta sangat presisi.

Setelah seluruh sel baterai tersambung, lanjut ke tahapan Collecting Wire Harness Welding. Penyambungan sel baterai dengan kabel harness menggunakan laser, sama seperti pada tahapan Busbar Welding.

Tahapan berikutnya yakni Front Pack Station. Cangkang bagian atas baterai dipasang dan seluruh baut dikencangkan dengan sempurna. Hasil kerja pada setiap tahapan produksi diawasi secara ketat sesuai standar baku mutu yang ditetapkan.

Seluruh baterai yang telah dirakit kemudian berlanjut ke Charging Station. Di area ini baterai diuji guna memastikan proses pengisian serta pelepasan daya listrik dijamin aman dan performanya optimal.

Baterai yang telah lolos uji kemudian masuk ke tahap Rear Pack Station. Baterai akan ditimbang, dikemas dan disimpan dengan baik sebelum didistribusikan ke jalur produksi mobil listrik.

Keberadaan pabrik baterai MAGIC tersebut tak hanya meningkatkan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) pada komponen mobil listrik Wuling yang dirakit di Indonesia. Tapi juga menjadi bagian dari rencana serta komitmen jangka panjang Wuling Motors dalam mendukung pengembangan mobil listrik di Indonesia. Selain itu, akan terbuka kesempatan kerja yang lebih banyak bagi tenaga lokal terlatih di Indonesia.

 

 

Wuling Starlight S Hadir Dengan Opsi Plug-In Hybrid Dan EV

Setelah foto bocorannya bikin penasaran sejak Juni 2024 lalu, crossover terbaru Wuling Starlight S pun resmi diluncurkan.

Mobil yang di RRC punya nama asli Xing Guang S ini berbasis platform Tianyu D hasil pengembangan SGMW. Hadir dalam versi plug-in hybrid (PHEV), dan versi bertenaga listrik (EV).

Dari segi dimensi ukuran (PxLxT) 4.745 mm x 1.890 mm x 1.680 mm, bodi Starlight S terbilang bongsor. Sedikit lebih kecil dari Chevrolet Equinox, namun lebih besar dari Buick Electra E5 maupun BYD Atto 3. Dengan jarak wheelbase 2.800 mm, dapat dipastikan jika kabin mobil ini cukup lapang

Kabin Stylish

Layout desain kabin meskipun terkesan simpel namun tampil modern, mewah dan mutakhir. Meskipun pada varian standar, setir dan jok depan ikut berlapis kulit.

Varian teratas menggunakan jok kulit yang dilengkapi penghangat pada kabin depan dan belakang. Masih ditambah lagi dengan panoramic moonroof.

Layar digital 8.8-inci pada panel instrumen dan touch screen 15.6-inci penampil sistem infotainment, jadi fitur standar pada seluruh varian.

Kompartemen penyimpanan di seluruh kabin cukup banyak, ada 23 titik. Volume kargonya pun cukup besar. Jok belakang saat dilipat akan menghasilkan volume kargo sebesar 1.768 liter.

Jika ingin fitur tambahan, tersedia sistem semi-autonomous driving Level 2. Para penyuka aktifitas outdoor bisa menambah opsi power supply portable berdaya 3,3 kW.

Pilih PHEV Atau EV?

Versi PHEV dibekali mesin bensin 1.5-liter bertransmisi e-CVT. Modul hybridnya memanfaatkan motor elektrik tunggal berdaya 150 kW (201 hp) dengan torsi puncak 310 Nm.

Untuk energi listriknya menggunakan baterai lithium iron phosphate (LFP). Versi berdaya 9.5 kWh jarak tempuh mode EV mencapai 60 km. Sedangkan versi berdaya 20.5 kWh jarak tempuh dalam mode EV bisa mencapai 130 km.

Dengan tangki BBM 53 liter, Starlight S PHEV punya jarak tempuh kombinasi mode hybrid hingga 1.100 km. Tak perlu banyak berharap untuk akselerasi 0-100 km/jam. Catatan waktu 7,9 detik sudah lebih dari cukup. 

Untuk versi EV, output daya motor elektrik penggerak yang digunakan sama dengan versi PHEV. Hanya saja baterai LFP Shenlian 2C yang dibekalkan, kapasitas dayanya lebih besar yakni 60 kWh.

Catatan akselerasi 0-100 km/jam sedikit lebih cepat, yakni 7,7 detik. Sedangkan jarak tempuh maksimum dengan daya baterai terisi penuh bisa mencapai 510 km.

Harga Menggiurkan

Di pasar domestik RRC, Wuling Starlight S dipasarkan dalam lima varian. Varian termurah versi PHEV label harganya 99.800 Yuan atau sekira Rp 216 jutaan. Sedangkan versi EV dibanderol mulai dari 119.800 Yuan, kurang lebih sekira Rp 260 jutaan.

Harga yang ditawarkan pun menggiurkan. Tak heran jika daftar inden sudah tembus 10.000 unit, padahal daftar pemesanan baru dibuka pada awal Agustus 2024. 

Wuling Asta HEV

Wuling Asta HEV, SUV Hybrid Pertama Wuling Resmi Dijual

Wuling resmi menjual Asta HEV, mobil hybrid murah untuk menyasar pasar menengah. Torsinya menggiurkan.

Wuling perkenalkan SUV hybrid baru yang akan mengisi posisi di bawah Almaz. Hebatnya lagi, ini adalah mobil hybrid pertama mereka. Namanya Wuling Asta HEV. Mobil ini resmi dijual di China sejak 30 Agustus lalu. Apa bagusnya?

Seperti dibilang tadi, Asta adalah Hybrid Electric Vehicle (HEV)pertama yang dikembangkan langsung oleh SGMW. Target pasarnya keluarga muda yang baru mulai mapan di negeri Tirai Bambu itu. Untuk bergerak, Wuling Asta mengandalkan mesin empat silinder 2.0 liter NA (Naturally Aspirated/tanpa turbo atau supercharger) yang dikombinasikan dengan penggerak listrik dengan sumber daya baterai Lithium.

Menurut klaim SGMW, kedua penggerak Wuling Asta itu bisa menghasilkan tenaga 134 hp dengan torsi puncak 320 Nm. Tenaganya biasa saja. Torsinya menggiurkan! Penyalur daya memanfaatkan transmisi baru yang disebut DHT (Dedicated Hybrid Transmission). Masih menurut mereka, transmisi ini memiliki teknologi canggih untuk menghantarkan daya secara halus, berdasarkan input dari penggerak. Terserah apakah sedang berkendara kencang atau pelan.

Varian Wuling Asta HEV

Asta HEV dipasarkan dalam dua varian yaitu Electric Power dan Electric Speed. Bedanya? Tidak disebutkan, tapi dikatakan ada yang dikalibrasi untuk masing-masing varian. Yang jelas, Wuling berani menyatakan kalau SUV hybrid ini punya jarak tempuh 1.100 km dengan sekali isi full tank. Hebat juga.

Sayang, dari eksterior tidak ada bedanya dengan Wuling Asta biasa yang telah lebih dulu meluncur setahun lalu. Yang membedakan adalah tambahan warna khusus untuk Asta HEV. Namanya Polar Ice Blue. Interiornya dibalut warna Glacier White dengan permukaan jok bertekstur berlian. Keunikan lain adalah hadirnya tuas transmisi berbungkus semacam kristal.

Fitur kenyamanan yang ada antara lain layar multimedia 10,25 inci dengan kemampuan koneksi yang berbasis Ling OS, buatan mereka sendiri. Hadir juga kamera pantau 360 dan panoramic sunroof. Tapi yang terakhir itu sifatnya opsional.

Berapa harganya? Di China, Wuling Asta HEV Electric Power dihargai US $14.530 atau Rp 215 jutaan (nilai tukar 31/08/2022). Versi Electric Speed setara Rp Rp 237 jutaan.

Nah, satu hal yang menarik adalah, Wuling kemungkinan akan membawa mobil ini ke Indonesia. Entah Asta versi konvensional atau HEV. Kita tunggu saja.