Sejarah perkembangan otomotif Tanah Air tidak bisa dilupakan pula dari keberadaan mobil pertama di Indonesia, yakni Benz Victoria Phaeton. Unit ini merupakan mobil pertama yang mendarat di Indonesia. Sosok yang pertama kali memiliki mobil tersebut adalah Pakubuwono X, yang merupakan raja dari Kasultanan Surakarta.
Pada tahun 1894, Pakubuwono X membeli satu unit Benz Victoria Phaeton yang didatangkan langsung dari Jerman. Raja Solo itu membeli Victoria Phaeton dengan harga sekitar 10 ribu Gulden. Namun untuk mendapatkan pesanannya, Pakubuwono X harus menunggu kedatangannya sampai satu tahun lamanya. Setelah mobil itu datang, Pakubuwono X menjadi pemilik mobil pertama di Indonesia, sebab saat itu lazimnya kendaraan para ningrat masih ditarik kereta kuda.

Masih Mirip Dengan Kereta Kuda
Secara sekilas, Benz Victoria Phaeton tampak mirip dengan kereta kuda. Beberapa sisi dari bagian bodinya masih terbuat dari kayu. Selain itu bagian bannya semuanya terdiri dari karet tanpa perlu diisi angin. Walaupun sekilas mirip kereta kuda, namun Benz Victoria Phaeton bisa bergerak tanpa ditarik kuda. Mobil yang butuh sebanyak 10 liter bensin untuk 100 km perjalanan itu memiliki output sekitar 5 hp.
Setelah hampir 28 tahun di Indonesia, cerita Benz Victoria Phaeton ini berlanjut di Belanda. Tercatat pada tahun 1924, mobil ini dikirim ke Belanda. Menurut F.F Habnit di buku Kreta Setan, mobil ini dikirim ke Belanda untuk mengikuti pameran AutoRAI. Di buku yang sama, terdapat foto mobil ini di pelabuhan Semarang sebelum dikapalkan.

Ternyata Pindah Tangan
Kurangnya dokumentasi dari sisi Indonesia membuat munculnya isu, apakah mobil ini diambil secara paksa atau berpindah tangan tanpa legal. Namun Willem Kooijmans dalam artikel di Historiek.net, menyebut bahwa mobil ini sudah lama tidak digunakan oleh Susuhunan Solo dan mobil ini dijual kepada A.Trefson dari Rotterdamsche Lloyd. Ia lalu meminta anaknya yang memiliki bisnis jual beli mobil di Kruiskade, Rotterdam, Belanda, untuk menangani mobil tersebut.
Rencana awalnya adalah memasarkan mobil ini pada pameran AutoRAI, namun menurut Peter Staal dari KNAC (Royal Dutch Automobile Club) mereka tidak bisa menemukan bukti apakah Benz ini dipajang di acara tersebut atau tidak. Karena tidak menemukan Benz ini dalam laporan pameran ataupun daftar peserta. Namun Staal menyebut tidak menutup kemungkinan mobil ini berpartisipasi di ajang tersebut.
Nyaris Ambyar Karena Perang Dunia Kedua
Tercatat mobil ini tetap berada di keluarga Trefson. Lantaran tidak kunjung laku, maka mobil ini didonasikan kepada universitas TU Delft pada tahun 1927, untuk mendukung pembangunan museum teknologi Belanda. Dikarenakan pembangunan museum tidak berlanjut, maka pihak universitas memberikan Benz ini kepada KNAC. Meski dalam risetnya Kooijmans menyebut tidak bisa memberikan bukti apakah mobil ini dijual atau dipinjamkan, dan KNAC mengaku tidak menyimpan arsip di era itu.

Benz ini kemudian dipajang di kantor KNAC di Den Haag. Saat perang dunia kedua berlangsung, gedung kantor KNAC sempat terkena bom pada 3 Maret 1945, untungnya Benz masih selamat. Selanjutnya mobil ini dipinjamkan ke Nationaal Museum voor de Automobiel, sebuah museum swasta yang dimiliki oleh G. Riemer di Driebergen.
Saat museum ini ditutup pada tahun 1972, Benz ini berpindah tangan ke Louwman Museum. Hingga kini mobil ini masih dipajang hingga sekarang. Selain dipajang di Louwman Museum, mobil ini direstorasi dan beberapa kali mengikuti ajang London to Brighton Veteran Car Run.