Kendaraan ini sukses membangkitkan nostalgia bagi siapa saja yang melihatnya. Mungkin ada memori bersama mobil milik orang tua mereka. Atau teringat mobil dinas militer yang dulu banyak terlihat di jalanan. Atau bahkan malah kuatir, karena zaman dahulu banyak digunakan oleh pelaku kriminal di Tanah Air. Mobil ini ialah Toyota Land Cruiser 40 Series.
Sebagai generasi ketiga dari Land Cruiser, perjalanan Toyota dalam menciptakan kendaraan serbaguna tidak terlepas dari kebutuhan dari Keisatsu Yobitai atau kesatuan polisi nasional di Jepang. Di tahun 1950, Keisatsu Yobitai dan kesatuan militer Amerika yang berada di Jepang, membutuhkan kendaraan serbaguna yang ringkas.
Toyota, Mitsubishi, dan Nissan melakukan tender. Toyota mengembangkan prototipe Jeep BJ, yang menjadi embrio dari Land Cruiser. Walaupun Toyota tidak memenangkan kontrak, mereka tetap saja mengembangkan prototipe tersebut bersama sejumlah pihak pemerintahan dan perusahaan lain. Di tahun 1951, Toyota menjajal mobil tersebut di Gunung Fuji hingga pos keenam, dan menjadi satu-satunya kendaraan yang pernah dibawa ke sana.

Ekspor ke Timur Tengah
Berkat kemampuan tersebut, kepolisian langsung memesan 289 unit untuk digunakan sebagai jajaran mobil patroli. Di tahun 1954, Toyota langsung ngebut untuk melakukan produksi massal dan mengubah nama kendaraan tersebut menjadi Land Cruiser. Ekspor perdana Toyota Land Cruiser dikirim ke Pakistan tahun pada 1954 dan ke Arab Saudi menyusul pada tahun 1955. Ketangguhan Land Cruiser mampu memikat konsumen karena sesuai dengan kebutuhan saat itu.
Hal tersebut berkaitan kuat dengan kondisi geografis negara-negara dunia yang belum terhubung dengan baik oleh jalan aspal mulus, bahkan banyak di antaranya masih hutan lebat atau gurun tandus pada masa itu. Untuk itu ekspor perdana Land Cruiser dikirim ke wilayah Asia Selatan dan Timur Tengah, krena sebagian besar kontur jalanannya masih didominasi oleh gurun dan pasir, dan ditambah dengan tantangan cuaca yang begitu berat.

Menyusul di tahun 1955, Toyota menghadirkan Land Cruiser generasi kedua atau 20 Series. Bentuknya semakin diperhalus dan dibuat jauh berbeda dari Jeep asal Amerika. Bulan Agustus 1960, menjadi salah satu momen penting bagi perjalanan bisnis Toyota. Sebab, Land Cruiser generasi ketiga atau 40 Series diperkenalkan. Berkat reputasinya yang luar biasa, kemampuannya yang andal di segala medan, membuat mobil ini amat dinantikan oleh banyak pihak. Tidak hanya bagi kesatuan militer, dinas pemerintahan, tapi juga konsumen luas.
Diproduksi Lebih dari Seperempat Abad
Selama puluhan tahun Toyota Land Cruiser 40 Series berhasil diproduksi di berbagai negara. Tidak hanya di Jepang, bahkan dirakit di Malaysia, Venezuela, Indonesia, dan Brazil. Mayoritas diproduksi hingga tahun 1984. Namun, khusus di Brazil, produksinya hingga tahun 2001. Land Cruiser 40 Series ini dipasarkan dengan berbagai varian chassis, bodi dan mesin, untuk dapat memenuhi kebutuhan banyak pengguna.
Di Indonesia, Toyota Land Cruiser 40 Series ini telah ada sejak era 1960an. Mayoritas digunakan sebagai kendaraan dinas bagi Resimen Tjakrabirawa. Memasuki periode 1970an, popularitas Toyota Land Cruiser 40 Series semakin meningkat. Karena tidak hanya erat dengan mobil dinas militer, tapi juga banyak digunakan oleh instansi pemerintahan, hingga konsumen yang menginginkan kendaraan serbaguna.

Setelah dijual resmi oleh Toyota di Indonesia, mobil ini ditawarkan dengan dua varian bodi, yaitu Softtop dan Hardtop. Lalu untuk pilihan mesinnya ada yang bensin (dengan kode bodi FJ40) dan diesel (dengan kode bodi BJ40). Yang kami jumpai kali ini ialah FJ40 keluaran tahun 1982, dan telah direstorasi menyeluruh, termasuk penambahan fitur penunjang kenyamanan berkendara. Sebut saja sistem audio, power steering, dan sistem penyejuk udara (A/C).
Walaupun kini Toyota Land Cruiser 40 Series sudah menjadi unit yang bernilai, tapi masih ada beberapa pengguna yang mempercayakannya sebagai kendaraan ‘pencari duit’. Bisa untuk menarik genset listrik, maupun sebagai kendaraan wisata offroad di kawasan pegunungan. Tak ketinggalan masih ada masyarakat Indonesia masih menyimpan stigma kurang sedap terhadap mobil ini, karena dianggap sebagai mobil tukang culik. Tapi itu dulu. Kalau sekarang, tukang culiknya bisa ‘boncos’ buat isi bensin…