Stok BBM Shell Indonesia Langka Jelang Alih Kepemilikan SPBU
Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) kembali terjadi di jaringan SPBU milik Shell Indonesia di berbagai wilayah Indonesia. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah produk unggulan seperti Shell V-Power, Shell Super, hingga V-Power Diesel dilaporkan kosong di banyak SPBU, bahkan sebagian lokasi tidak memiliki stok BBM sama sekali.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar di kalangan konsumen, terutama karena terjadi di tengah rencana pengalihan kepemilikan jaringan SPBU Shell di Indonesia kepada perusahaan patungan baru.
Stok Shell V-Power Kosong di Banyak SPBU
Kelangkaan BBM Shell bukan hanya terjadi pada satu jenis bahan bakar, tetapi hampir seluruh lini produk. Berdasarkan informasi terbaru per 16 Februari 2026, Shell V-Power (RON 95) dilaporkan kosong di seluruh jaringan SPBU Shell di Indonesia.
Sementara itu, Shell Super hanya tersedia secara terbatas di wilayah Jawa Timur, tepatnya di SPBU Lamongan dan Mojokerto. Produk lain seperti Shell V-Power Nitro+ dan Shell V-Power Diesel juga mengalami keterbatasan stok yang signifikan.
Akibat kondisi ini, banyak pelanggan terpaksa mencari alternatif BBM lain dengan nilai oktan setara, seperti Pertamax Green 95 dari Pertamina, Revvo 95, maupun BP Ultimate.

Salah satu penyebab utama kelangkaan BBM Shell adalah habisnya kuota impor base fuel yang menjadi bahan dasar produk BBM mereka. Sebagai perusahaan swasta di sektor hilir migas, Shell Indonesia mengandalkan impor untuk menjaga pasokan BBM di jaringan SPBU mereka.
Situasi serupa sebenarnya pernah terjadi pada Oktober 2025, ketika Shell Super mengalami kekosongan stok dalam waktu cukup lama. Bahkan pada Desember 2025, Shell Indonesia harus membeli base fuel dari Pertamina Patra Niaga guna menjaga ketersediaan BBM dan mempertahankan kepercayaan pelanggan.
Langkah tersebut menunjukkan adanya ketergantungan terhadap pasokan impor serta perlunya koordinasi dengan pemasok domestik dalam kondisi tertentu.
Harga BBM Stabil Meski Stok Kosong
Menariknya, kelangkaan stok BBM Shell terjadi di tengah tren harga yang relatif stabil, bahkan cenderung mengalami penurunan. Berikut daftar harga BBM Shell terbaru:
Shell Super: Rp 12.050 per liter
Shell V-Power: Rp 12.500 per liter
Shell V-Power Nitro+: Rp 12.720 per liter
Shell V-Power Diesel: Rp 13.600 per liter
Kondisi ini menunjukkan bahwa faktor kelangkaan bukan disebabkan oleh lonjakan harga global, melainkan lebih kepada aspek distribusi dan pasokan.
Pengalihan Kepemilikan SPBU Shell Sedang Berlangsung
Di saat yang sama, Shell Indonesia juga tengah menjalani proses pengalihan kepemilikan jaringan SPBU. Bisnis SPBU Shell akan diambil alih oleh perusahaan patungan baru yang dibentuk oleh Citadel Pacific Limited dan Sefas Group.
Citadel Pacific sendiri merupakan perusahaan yang memegang lisensi Shell di beberapa wilayah Asia Pasifik seperti Guam, Hong Kong, dan Makau. Sementara Sefas Group dikenal sebagai distributor pelumas Shell terbesar di Indonesia.

Meski terjadi pengalihan kepemilikan, Shell memastikan bahwa merek Shell yang berada di bawah naungan Shell plc akan tetap hadir di Indonesia melalui skema lisensi merek. Pasokan BBM juga diklaim tetap berasal dari Shell untuk menjaga kualitas produk.
Shell Indonesia menegaskan bahwa operasional SPBU tetap berjalan seperti biasa selama proses transisi berlangsung. Proses pengalihan kepemilikan ini ditargetkan selesai pada tahun 2026 atau paling lambat tahun berikutnya.
Namun hingga saat ini, belum ada penjelasan resmi apakah kelangkaan BBM yang terjadi berkaitan langsung dengan proses pengalihan kepemilikan atau murni disebabkan oleh faktor teknis seperti kuota impor dan distribusi.
Dampak bagi Konsumen dan Industri BBM
Kelangkaan BBM Shell tentu berdampak langsung bagi konsumen, terutama pengguna kendaraan yang mengandalkan bahan bakar beroktan tinggi untuk menjaga performa mesin dan efisiensi bahan bakar.
Di sisi lain, kondisi ini juga mencerminkan tantangan yang dihadapi perusahaan migas swasta di Indonesia, khususnya terkait regulasi impor, distribusi, serta dinamika pasar energi nasional.

Kehadiran pemain swasta seperti Shell sendiri merupakan hasil reformasi sektor migas yang memungkinkan persaingan sehat dengan perusahaan nasional. Oleh karena itu, keberlangsungan operasional dan stabilitas pasokan menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan konsumen.
Kesimpulan
Kelangkaan BBM Shell di Indonesia saat ini dipicu oleh habisnya kuota impor serta dinamika distribusi, di tengah proses pengalihan kepemilikan jaringan SPBU. Meski operasional tetap berjalan, konsumen untuk sementara perlu mempertimbangkan alternatif BBM lain dengan spesifikasi setara.
Ke depan, stabilitas pasokan BBM Shell akan sangat bergantung pada kelancaran proses impor, distribusi, serta penyelesaian transisi kepemilikan jaringan SPBU di Indonesia.