Kondisi global saat ini, menjadikan biaya operasional sebagai salah satu pertimbangan utama bagi konsumen saat memilih kendaraan. Di berbagai pasar global, tren kendaraan energi baru (NEV) juga terus menunjukkan pertumbuhan signifikan. Pada Januari 2026, penjualan NEV di sejumlah pasar utama Eropa seperti Jerman, Inggris, Italia, dan Prancis meningkat 23,1 persen secara tahunan. Bahkan segmen plug-in hybrid (PHEV) tumbuh hingga 37,8 persen.
Efisiensi energi kini tidak lagi hanya menjadi pertimbangan lingkungan, tetapi juga faktor ekonomi dalam pengambilan keputusan konsumen. Teknologi hybrid semakin relevan karena mampu menawarkan keseimbangan antara efisiensi energi, fleksibilitas jarak tempuh, serta kenyamanan berkendara.
Tren serupa juga mulai terlihat di Indonesia. Calon pembeli tidak lagi hanya mempertimbangkan harga kendaraan di awal pembelian, tetapi juga mulai memperhitungkan biaya penggunaan dalam jangka panjang. Termasuk konsumsi energi dalam aktivitas sehari-hari.

Simulasi 1.500 km per Bulan
JAECOO Indonesia menyusun simulasi biaya operasional untuk tiga lini produknya, yakni J5EV, J7SHS-P, dan J8 SHS-P ARDIS. Simulasi ini menggunakan asumsi pola penggunaan kendaraan sekitar 1.500 kilometer per bulan. Perhitungan tersebut didasarkan pada penggunaan sekitar 50 kilometer per hari pada hari kerja (sekitar 1.000 km per bulan) serta tambahan perjalanan sekitar 500 kilometer secara total dalam satu bulan.
“Kami melihat banyak calon pembeli yang masih membandingkan berbagai teknologi kendaraan sebelum menentukan pilihan. Lewat simulasi biaya operasional ini, kami ingin membantu konsumen memahami estimasi pengeluaran energi dari setiap lini JAECOO sehingga mereka dapat memilih model yang paling sesuai dengan kebutuhan mobilitas mereka,” kata Jim Ma, Business Unit Director JAECOO Indonesia.
Dari simulasi tersebut, JAECOO J5 EV menjadi model dengan biaya energi paling rendah di lini JAECOO. Dengan asumsi tarif listrik sekitar Rp 1.700 per kWh, biaya penggunaan energinya diperkirakan sekitar Rp 290.760 per bulan.

Efisiensi yang Kompetitif
Jika dihitung secara harian, angka tersebut setara dengan sekitar Rp 9.600 per hari. Rendahnya biaya operasional ini tidak lepas dari efisiensi J5 EV yang dibekali baterai 60,9 kWh. Berdasarkan pengujian internal di Indonesia, kendaraan ini mampu menempuh jarak hingga sekitar 534 kilometer dalam sekali pengisian daya. Lantas, bagi pengguna dengan rutinitas sekitar 50 kilometer per hari, hanya perlu melakukan pengisian daya sekitar sekali dalam beberapa hari penggunaan.
Bahkan dalam jangka lebih panjang, biaya energi J5 EV dalam simulasi ini juga cukup rendah, berada di kisaran Rp 872.000 untuk tiga bulan, atau sekitar Rp 3.490.000 per tahun.
Selain itu, JAECOO J7 SHS-P hadir dengan teknologi Super Hybrid System (SHS) dan konsumsi bensin sekitar 35 kilometer per liter. Sehingga biaya energi untuk penggunaan 1.500 kilometer per bulan, diperkirakan mencapai sekitar Rp 486.814 per bulan. Atau sekitar Rp 5.840.000 per tahun.
Di sisi lain, JAECOO J8 SHS-P ARDIS sebagai model premium, menawarkan efisiensi yang kompetitif untuk kendaraan di kelasnya. Dengan kemampuan berkendara listrik hingga 180 kilometer dan konsumsi bensin sekitar 23,7 kilometer per liter, biaya energi bulanannya diperkirakan sekitar Rp 584.793, atau sekitar Rp 7.010.000 per tahun.
Angka di bawah Rp 600.000 per bulan, tetap tergolong efisien bagi konsumen yang mencari keseimbangan antara efisiensi dan fleksibilitas. Terlebih model ini juga dilengkapi sistem penggerak All Wheel Drive (AWD) yang mendukung performa dan stabilitas berkendara.