Jauh sebelum mobil listrik merek global ramai di Indonesia, anak bangsa pernah merancang mobil sport listrik yang menyita perhatian. Namanya Selo, proyek yang melambangkan ambisi membangun teknologi otomotif nasional.

Mobil berwujud agresif ini dikembangkan pada awal 2010-an oleh tim yang dipimpin Ricky Elson, insinyur Indonesia dengan pengalaman riset motor listrik di Jepang. Proyek tersebut juga mendapat dorongan dari Dahlan Iskan, Menteri BUMN saat itu.
Lebih dari satu dekade kemudian, nama Selo kembali menarik perhatian. Pada 2026, muncul pertanyaan apakah mobil listrik sport tersebut berpeluang bangkit ketika pasar kendaraan listrik Indonesia semakin berkembang.
Namun, belum ada konfirmasi tepercaya yang memastikan Selo akan kembali diproduksi atau diluncurkan tahun ini. Kisahnya justru mengingatkan bahwa menciptakan mobil listrik dan membawanya hingga produksi massal merupakan dua tantangan berbeda.
Dari Tucuxi Menuju Mobil Sport Listrik Selo
Perjalanan Selo tidak bisa dilepaskan dari proyek mobil listrik Tucuxi. Setelah Tucuxi mengalami kecelakaan saat menjalani perjalanan uji coba bersama Dahlan Iskan, pengembangan kendaraan listrik sport berikutnya berlanjut melalui proyek Selo.
Ricky Elson menjadi sosok penting di balik pengembangan teknologi kendaraan tersebut. Pengalamannya bekerja di Jepang, termasuk di Nidec Corporation, menjadi salah satu bekal dalam merintis teknologi motor listrik di Indonesia.

Selo kemudian dikembangkan bersama tim Ricky dalam waktu sekitar enam bulan. Desainnya tampil rendah, lebar, dan agresif, dengan siluet yang mengingatkan pada supercar Eropa.
Warna kuning dan lekuk bodinya membuat Selo mudah mencuri perhatian. Tak sedikit orang membandingkan penampilannya dengan Lamborghini, meskipun Selo memiliki cerita pengembangan tersendiri.
Nama Selo berasal dari bahasa Jawa yang berarti batu. Nama tersebut juga dikaitkan dengan batu dalam insiden yang melibatkan Tucuxi.
Pada 2013, Selo diperkenalkan kepada publik dan dibawa ke Konferensi Tingkat Tinggi APEC di Bali. Kehadirannya menjadi simbol ambisi Indonesia untuk mengembangkan kendaraan listrik dengan kemampuan rekayasa lokal.
Mengapa Selo Tak Berlanjut ke Produksi Massal?
Setelah mencuri perhatian, perjalanan Selo tidak berlanjut menjadi mobil produksi massal. Persoalan sertifikasi, pengujian, dan kelayakan jalan menjadi bagian dari tantangan yang mengemuka.
Selo kerap diberitakan gagal dalam uji emisi. Namun, Ricky Elson pernah menjelaskan bahwa persoalan tersebut perlu dipahami secara tepat.

Mobil listrik tidak menghasilkan emisi gas buang dari knalpot seperti kendaraan bermesin pembakaran internal. Tantangan Selo berkaitan dengan persyaratan kelayakan jalan dan statusnya sebagai prototipe yang belum disiapkan untuk produksi massal.
Di sinilah persoalan pengembangan kendaraan nasional terlihat lebih kompleks. Sebuah prototipe yang berhasil dibuat belum otomatis memenuhi seluruh persyaratan untuk digunakan di jalan raya atau diproduksi secara komersial.
Dibutuhkan pendanaan berkelanjutan, fasilitas pengujian, pemasok komponen, kepastian regulasi, hingga mitra manufaktur. Tanpa dukungan tersebut, gagasan yang menjanjikan bisa berhenti sebelum mencapai konsumen.
Peluang Selo Untuk Bangkit Kembali
Kondisi industri kendaraan listrik Indonesia kini berbeda dibandingkan ketika Selo pertama kali diperkenalkan. Pilihan mobil listrik semakin beragam, teknologi baterai berkembang, dan infrastruktur pendukung terus bertumbuh.
Perubahan tersebut membuat gagasan menghidupkan kembali Selo menjadi terasa menarik. Namun, perkembangan pasar saja tidak cukup untuk memastikan proyek ini dapat dilanjutkan.
Jika benar ingin kembali, Selo membutuhkan lebih dari sekadar desain baru atau penampilan prototipe. Pengembangan sistem penggerak, baterai, keselamatan, sertifikasi, proses manufaktur, dan layanan purnajual harus menjadi bagian dari rencana yang terukur.

Kepastian mengenai siapa yang akan mengembangkan, sumber pendanaan, serta jalur produksi juga menjadi faktor penting. Hingga kini, belum tersedia informasi terverifikasi yang memastikan kebangkitan Selo pada tahun ini.
Selo pernah memperlihatkan keberanian insinyur Indonesia untuk bermimpi melahirkan mobil sport listrik sendiri. Tantangan berikutnya adalah membangun ekosistem yang mampu mengubah mimpi ini menjadi produk nyata.