Perkembangan kendaraan listrik di Indonesia terus menunjukkan grafik yang menjanjikan.
Namun, pesatnya pertumbuhan tersebut masih dibayangi derasnya arus informasi yang simpang siur di media sosial. Tak sedikit mitos dan disinformasi seputar kendaraan listrik yang justru membuat sebagian masyarakat ragu untuk beralih ke teknologi elektrifikasi.

Berangkat dari kondisi tersebut, Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (KOLEKSI) mengambil langkah nyata dengan menggelar workshop strategi media sosial bagi para anggotanya di Stroom Coffeé, PLN UP3 Bulungan, Jakarta Selatan, Minggu (26/7). Program ini bukan sekadar pelatihan membuat konten, tetapi juga menjadi upaya membangun barisan edukator digital yang mampu menyampaikan informasi faktual mengenai kendaraan listrik kepada masyarakat luas.
Workshop menghadirkan dua kreator konten otomotif, Jason Andikha dari Obsessed To Wheels (OTW) dan Febry Arta dari Halotomotif. Keduanya membagikan pengalaman mengenai teknik menghasilkan konten otomotif yang menarik, mulai dari pengambilan foto dan video, proses penyuntingan melalui smartphone, hingga strategi memaksimalkan distribusi konten di berbagai platform media sosial.
Langkah KOLEKSI ini dinilai tepat di tengah masih tingginya perdebatan mengenai kendaraan listrik di ruang digital. Berdasarkan hasil penelitian JUTIF 2026, sebanyak 63,3 persen komentar di YouTube terkait insentif kendaraan listrik masih didominasi sentimen negatif. Mayoritas mempertanyakan harga mobil listrik yang dianggap mahal, ketersediaan stasiun pengisian daya, hingga efektivitas kebijakan subsidi pemerintah.
Di sisi lain, penelitian SINKRON 2025 terhadap lebih dari 23 ribu percakapan di platform X menunjukkan sentimen masyarakat memang mulai bergerak ke arah positif. Meski demikian, isu mengenai harga, pajak, subsidi, regulasi impor, dan infrastruktur charging station masih menjadi topik yang paling sering diperbincangkan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa edukasi berbasis pengalaman pengguna nyata masih menjadi salah satu kunci mempercepat penerimaan kendaraan listrik di Indonesia.

Selama pelatihan, anggota KOLEKSI tidak hanya belajar membuat video yang menarik secara visual, tetapi juga memahami cara menyusun narasi yang informatif, membaca performa media sosial, hingga menghadapi komentar negatif dengan pendekatan edukatif. Semua materi dirancang praktis sehingga peserta dapat langsung memproduksi konten berkualitas hanya bermodalkan smartphone.
Ketua Umum KOLEKSI, Arwani Hidayat, mengatakan komunitas memiliki peran penting dalam membangun persepsi positif terhadap kendaraan listrik. Menurutnya, pengalaman nyata para pengguna merupakan sumber informasi yang jauh lebih dipercaya dibanding sekadar promosi.
“Melalui standarisasi kemampuan literasi digital ini, KOLEKSI berharap para anggotanya mampu menghasilkan konten edukatif yang kredibel dan mudah dipahami masyarakat. Semakin banyak informasi yang disampaikan langsung oleh pengguna kendaraan listrik, semakin besar pula peluang untuk meredam disinformasi dan mempercepat transisi menuju ekosistem transportasi yang lebih bersih,” ujar Arwani.
Melalui kegiatan ini, KOLEKSI membuktikan bahwa komunitas otomotif kini memiliki peran yang lebih luas. Tidak hanya menjadi tempat berkumpul para pemilik kendaraan listrik, tetapi juga menjadi ujung tombak penyebaran informasi yang akurat, membangun kepercayaan publik, sekaligus mendukung percepatan adopsi kendaraan listrik di Indonesia.
