BMW Siapkan Puluhan Triliun, Siap Produksi Lini Model Terbaru

BMW tengah menata ulang strategi bisnisnya dengan investasi besar sekaligus memangkas kompleksitas lini produk. Pabrikan asal Jerman ini menyiapkan sekitar €2 miliar atau sekitar Rp 41 Triliun untuk produksi kendaraan dan baterai di Jerman. Investasi BMW menjadi sorotan utama dalam upaya transformasi industri otomotif Jerman. Pabrikan ini juga siapkan generasi terbaru BMW Seri 3 dan model listrik Neue Klasse sebagai fokus utama.

Langkah tersebut memperlihatkan arah baru BMW. Perusahaan ini tidak lagi sekadar mengejar banyaknya pilihan model, namun semakin selektif menentukan kendaraan yang layak mendapat investasi pengembangan dan mampu memberikan keuntungan jangka panjang. Investasi BMW dinilai akan lebih strategis dengan fokus pada efisiensi dan potensi pasar.

Sekitar €1 miliar dialokasikan untuk fasilitas produksi di Dingolfing dan Munich. Sementara itu, sekitar €1 miliar lainnya diarahkan ke fasilitas Irlbach-Straßkirchen yang berkaitan dengan produksi baterai.

Dalam pembagian peran produksi tersebut, BMW Seri 3 generasi G50 akan diproduksi di Dingolfing. Sementara BMW i3 listrik berbasis Neue Klasse dijadwalkan diproduksi di Munich.

Keduanya mencerminkan dua jalur penting BMW yaitu mempertahankan model konvensional yang memiliki basis konsumen kuat sekaligus memperluas elektrifikasi.

Margin Keuntungan Jadi Sasaran Utama

Di balik investasi tersebut, BMW juga menghadapi tuntutan untuk memperbaiki profitabilitas. Berdasarkan laporan yang dikutip dalam sumber, margin EBIT divisi otomotif tercatat sebesar 2,3 persen pada kuartal II 2026.

BMW menargetkan margin tersebut meningkat menjadi minimal 3 persen pada 2028. Dalam jangka panjang, perusahaan ingin kembali mencapai kisaran 8–10 persen pada awal dekade berikutnya. Oleh sebab itu, strategi investasi BMW diarahkan pada keberlanjutan dan keuntungan optimal.

Selain itu, BMW membidik arus kas bebas divisi otomotif setidaknya €7 miliar.

Untuk mencapai target tersebut, perusahaan berencana mengurangi model dan varian yang dinilai kurang menguntungkan. Fokus pengembangan akan diarahkan pada produk yang berpotensi memberikan kontribusi margin lebih kuat di setiap pasar.

Strategi ini menunjukkan bahwa investasi besar tidak selalu berarti menambah sebanyak mungkin model. BMW justru ingin mengalokasikan sumber daya secara lebih terarah.

Mobil Listrik Neue Klasse Menjangkau Pasar Lebih Luas

Perubahan strategi juga terlihat pada rencana produk untuk Eropa. BMW tidak akan menghadirkan penerus langsung Seri 2 Active Tourer, seiring melemahnya daya tarik MPV di pasar tersebut.

Sebagai gantinya, BMW merencanakan model listrik baru untuk segmen pemula bervolume tinggi pada 2028. Model yang dikaitkan dengan rumor nama i1 tersebut berpotensi membawa teknologi Neue Klasse ke segmen yang lebih terjangkau.

Jika terealisasi, langkah ini memperluas peran Neue Klasse. Arsitektur dan teknologi ini tidak hanya menjadi fondasi model listrik premium, tetapi juga berpotensi menjangkau konsumen dalam skala lebih besar.

SUV Lebih Besar dari X7 dan Kebangkitan BMW Alpina

Di segmen atas, BMW menyiapkan peluang pertumbuhan berbeda. Perusahaan mengonfirmasi rencana SUV yang posisinya berada di atas X7 dan secara khusus menyasar pasar Amerika Serikat.

Nama resminya belum diumumkan. Model tersebut disebut berpotensi menggunakan konfigurasi mesin enam atau delapan silinder, tetapi detail platform dan pilihan penggeraknya belum dipastikan.

Tantangan produksi menjadi faktor penting. Pabrik BMW di Spartanburg, Carolina Selatan, yang menjadi basis utama produksi SUV BMW di Amerika Serikat, disebut telah beroperasi pada kapasitas penuh.

Karena itu, BMW perlu mempertimbangkan distribusi produksi yang lebih seimbang agar ekspansi model tidak bergantung pada satu fasilitas.

BMW juga merencanakan peluncuran model pertama dengan merek BMW Alpina pada 2027. Model tersebut disebut memiliki hubungan erat dengan Seri 7 dan akan ditempatkan di antara jajaran BMW kelas atas serta Rolls-Royce.

China Jadi Basis Produksi Regional

Strategi BMW di China juga akan semakin berorientasi lokal. Perusahaan menargetkan sedikitnya 95% kendaraan BMW yang dijual di China pada 2030 diproduksi secara lokal dan dikembangkan sesuai preferensi konsumen setempat.

BMW juga mempertimbangkan ekspor kendaraan buatan China ke pasar Asia Tenggara. Selain produksi, perusahaan berencana memperluas kerja sama dengan mitra teknologi regional, termasuk untuk sistem bantuan mengemudi dan perangkat lunak terintegrasi.

Secara keseluruhan, langkah BMW memperlihatkan transformasi yang berlangsung di berbagai lini. Investasi pabrik, pengembangan mobil listrik, pengurangan varian, dan lokalisasi produksi diarahkan pada satu sasaran: menjaga daya saing sekaligus memperbaiki keuntungan. Terakhir, penting untuk dicatat bahwa investasi BMW menjadi pendorong utama dalam menentukan masa depan perusahaan.

Bagi BMW, tantangannya bukan sekadar melahirkan kendaraan baru. Perusahaan juga harus memastikan setiap model memiliki posisi pasar yang jelas, proses produksi yang efisien, dan kontribusi bisnis yang berkelanjutan.

BMW iX3 Jadi Model Produksi Perdana Lini “Neue Klasse”

Model perdana dari generasi “Neue Klasse” akhirnya muncul juga, BMW iX3. Mobil listrik berwujud mid-size SUV ini tak hanya jadi batu loncatan teknologi, tapi jadi era baru bagi pabrikan otomotif asal Jerman ini.

Debut perdana BMW iX3 merupakan bagian dari persiapan jelang penampilan globalnya pada event pameran IAA Mobility di Munich, Jerman, 9 September mendatang.

CEO BMW, Oliver Zipse menyatakan bahwa kehadiran iX3 sebagai tahap awal dari lini “Neue Klasse” sama seperti saat BMW melakukan gebrakan tatkala memasuki era modernisasi otomotif di tahun 1960-an dengan desain “Neue Klasse”. Sejarah kini nampaknya berulang.

Jangan Melupakan Sejarah

Di pasar global saat ini terjadi persaingan antara segmen pasar kendaraan bermesin motor bakar versus mobil listrik. Tentu saja BMW memanfaatkan peluang yang ada di kedua segmen pasar tersebut. Saat versi awal mobil listrik iX3 muncul di tahun 2020, tampilannya masih identik dengan i3 yang mengkonsumsi BBM.

Hanya saja teknologi yang ada pada versi awal iX3 untuk ukuran saat ini sudah jauh tertinggal dibandingkan mobil listrik buatan RRC yang membanjiri pasar global.

Sebagai model awal dari versi produksi lini “Neue Klasse”, iX3 tak sekadar mengalami perombakan desain dan teknologi. Tapi iX3 adalah mobil listrik perdana yang punya kesan mendalam pada napak tilas sejarah bagi BMW. Ya, jangan pernah melupakan sejarah.

Teknologi Mutakhir

Tak tanggung-tanggung, BMW iX3 “Neue Klasse” langsung muncul dalam varian teratas yakni 50 xDrive. Dua unit motor elektrik penggerak yang dibekalkan yakni satu unit motor penggerak utama di poros roda belakang dan satu motor asynchronous pada poros roda depan.

Daya total kedua motor listrik mencapai 345 kW (setara 463 hp) dengan torsi puncak 645 Nm. Penyaluran daya dan torsi ke seluruh roda memanfaatkan sistem penggerak all-wheel drive (AWD) xDrive.

BMW pun tentunya menyediakan iX3 varian standar dengan motor elektrik tunggal penggerak roda belakang (RWD)

Meskipun bobotnya sekira 2,3 ton namun SUV EV ini mampu mencapai kecepatan 100 km/jam hanya dalam waktu 4,9 detik. Top speed dibatasi di angka 210 km/jam demi keselamatan berkendara. Performanya yang besar memungkinkan iX3 untuk menarik beban. Oleh sebab itu, SUV EV ini dibekali pula dengan gandengan elektrik dengan beban muatan tarik hingga dua ton.

Motor listrik synchronous yang digunakan di poros belakang dan motor asynchronous di poros depan merupakan teknologi terbaru dari BMW. Kedua motor elektrik ini tak menggunakan magnet berbahan rare earth.

Untuk pertamakalinya BMW menggunakan teknologi inverter pengubah arus listrik bervoltase tinggi dengan tegangan listrik 800 volt. Material semikonduktor yang digunakan juga memanfaatkan bahan silikon karbida yang lebih ramah lingkungan dan kinerjanya lebih baik.

BMW menyatakan bahwa material tersebut mampu mengurangi loss energi pada sistem penggerak hingga 40 persen. Tak hanya itu, bobot motor listrik dan sistem penggerak xDrive generasi keenam yang digunakan pun lebih ringan dari generasi terdahulu. Biaya produksi pun lebih hemat hingga 20 persen.

Daya Baterai Lebih Besar

Mobil listrik tak dapat terlepas dari teknologi baterai. BMW melakukan riset cukup lama dalam hal baterai sebelum menerapkannya pada iX3 “Neue Klasse”.

BMW tak lagi menggunakan sel baterai model prismatik, tapi model silinder yang memiliki densitas energi 20 persen lebih besar. Material elemen baterai tetap jenis nickel-manganese-cobalt (NMC). Walau lebih mahal dari versi lithium iron phosphate (LFP), namun densitas energinya jauh lebih tinggi. Agar distribusi bobot lebih merata, maka konstruksi yang digunakan adalah versi “cell-to-chassis” seperti Tesla.

Baterai yang digunakan pada varian 50 xDrive pun kapasitas dayanya 108 kWh, 45% lebih besar dari daya baterai iX3 generasi awal yang cuma 74 kWh.

Hasilnya, jarak tempuh mampu mencapai 805 km (standar uji WLTP). Peningkatannya mencapai 70 persen dibandingkan baterai terdahulu yang jarak jelajahnya cuma 300 km (standae uji WLTP).

Sistem pengisian ulang daya baterai pun mendukung perangkat fast charger DC dengan output hingga 400 kW. Dengan fast charger, waktu pengisian ulang daya baterai lebih cepat dan efisien. Pengecasan selama 10 menit cukup untuk jarak tempuh 372 km. Sedangkan pengecasan dari 10% hingga 80 %, di jaringan SPKLU Supercharger hanya butuh waktu 24 menit.

Tentunya BMW iX3 “Neue Klasse” juga punya opsi baterai yang lebih kecil, tapi saat ini belum diungkap.

Untuk pengecasan di rumah, iX3 dilengkapi wallbox charger arus AC beroutput 11 kW. Isi ulang daya baterak hingga penuh butuh waktu 11 jam. Tersedia pula wallbox charger beroutput 22 kW.

Oh ya, BMW iX3 “Neue Klasse” tak hanya dilengkapi fitur “Vehicle to Load” untuk menghidupkan perangkat listrik eksternal. Tapi juga fitur “Vehicle to Home” (V2H), yang mampu menjadikan daya baterainya untuk kebutuhan listrik sebuah rumah. Mobil listrik ini juga memiliki fitur “Vehicle to Grid” (V2G) yakni daya baterai bisa dialirkan ke sistem jaringan listrik lingkungan.

Nah, canggih bukan? Ingin lihat seperti apa detail kemampuan dari mobil listrik terbaru BMW ini? Kita tunggu world premierenya di IAA Mobility 2025 yang berlangsung di Munich, Jerman dalam beberapa hari kedepan.