Stellantis Stop Program Pengembangan Teknologi Fuel Cell Hidrogen

Stellantis mengumumkan keputusannya untuk menghentikan program pengembangan teknologi fuel cell hidrogen milik mereka. Hal ini disebabkan terbatasnya ketersediaan infrastruktur pengisian bahan bakar hidrogen, dan tingginya kebutuhan modal. Termasuk kebutuhan akan insentif pembelian konsumen yang lebih kuat. Apalagi perusahaan tidak mengantisipasi adopsi kendaraan komersial ringan bertenaga hidrogen sebelum akhir dekade ini.

Akhirnya, Stellantis tidak akan lagi meluncurkan jajaran baru kendaraan Pro One bertenaga fuel cell hidrogen tahun ini. Padahal produksi massal dijadwalkan antara bulan Juni hingga September tahun ini. Lokasi produksinya direncananya di Hordain, Prancis (untuk van ukuran sedang) dan Gliwice, Polandia (untuk van ukuran besar).

“Dalam konteks di mana perusahaan sedang bergerak untuk merespons regulasi CO2 yang ketat di Eropa, Stellantis telah memutuskan untuk menghentikan program pengembangan teknologi fuel cell bahan bakar hidrogennya,” ungkap Jean-Philippe Imparato, Chief Operating Officer for Enlarged Europe.

“Pasar hidrogen masih merupakan segmen yang kecil, tanpa prospek keberlanjutan ekonomi jangka menengah. Kami harus membuat pilihan yang jelas. Tentu bertanggung jawab untuk memastikan daya saing kami, dan memenuhi harapan pelanggan kami. Baik pada kendaraan penumpang, maupun komersial ringan bertenaga listrik dan hibrida buatan Stellantis,” imbuhnya.

Keputusan ini tidak akan memengaruhi staf di lokasi produksi milik Stellantis. Aktivitas penelitian dan pengembangan terkait teknologi hidrogen akan dialihkan ke sejumlah proyek lain. Kondisi segmen kendaraan hidrogen saat ini juga menghadirkan tantangan keuangan, terutama bagi berbagai pemangku kepentingan. Dalam konteks ini, Stellantis telah memulai diskusi dengan para pemegang saham Symbio, untuk mengevaluasi dampak pasar saat ini. Guna menjaga kepentingan terbaik Symbio, sesuai dengan kewajiban masing-masing.

Bosch Bersiap Rambah Era Penggunaan Hidrogen

Bosch memasuki era penggunaan hidrogen untuk keperluan mobilitas. Penyuplai teknologi dan layanan yang terletak di Stuttgart-Feuerbach, Jerman, ini memulai produksi modul tenaga fuel-cell. Nikola Corporation, sebuah perusahaan asal Amerika Serikat, akan menjadi pelanggan pertama dengan truk listrik bertenaga fuel-cell hidrogen Class 8, yang direncanakan mulai memasuki pasar Amerika Utara pada kuartal ketiga tahun ini.

“Di lokasi ini, yang mana menjadi tempat bersejarah bagi Bosch, akan menyongsong masa depan penggunaan hidrogen. Bosch memahami banyak mengenai hidrogen, baik dalam mengembangkan teknologinya maupun penerapannya,” ujar Dr. Stefan Hartung, selaku Chairman of The Board of Management of Robert Bosch GmbH.

“Bosch menjadi satu dari sedikit perusahaan yang memiliki kapabilitas dalam menciptakan teknologi produksi massal, salah satunya ialah komponen fuel-cell. Kami tidak hanya memiliki kemampuan untuk membuat sistem, tapi juga mengembangkan unit produksi untuk massal,” imbuh Markus Heyn, salah satu anggota Board of Management & Chairman of Bosch Mobility Bosch.

Komponen sistem utama seperti kompresor udara elektris dan blower resirkulasi yang dibuat oleh pabrik Bosch di kota Homburg, Jerman. Sedangkan modul tenaga fuel-cell tak hanya dibuat di pabrik Stuttgart-Feuerbach saja, namun juga di Chongqing, Cina. Komponen modul tenaga fuel-cell juga disuplai dari pabrik di Wuxi.

“Bosch adalah perusahaan pertama yang memproduksi sistem ini, baik di Jerman maupun di Cina,” tukas Dr. Stefan Hartung. Bosch pun berharap, di tahun 2030 nanti, satu dari lima truk keluaran baru yang memiliki bobot 6 ton atau lebih, akan menggunakan sistem fuel-cell sebagai sumber tenaganya.