Airlangga Hartarto Kepincut JETOUR T2 di GIIAS 2026

Kunjungan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Airlangga Hartarto ke ajang GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 menjadi perhatian tersendiri di booth JETOUR.

Di sela kunjungannya pada Jumat (7/8/2026), Airlangga melihat lebih dekat sejumlah model yang dipamerkan JETOUR. Salah satu yang menarik perhatiannya adalah JETOUR T2 i-DM, SUV plug-in hybrid terbaru yang baru diperkenalkan untuk pasar Indonesia.

Menariknya, perhatian Airlangga terhadap JETOUR T2 bukan sekadar karena model tersebut menjadi salah satu produk unggulan JETOUR. Ia mengaku sebelumnya pernah melihat SUV ini digunakan sebagai kendaraan resmi dalam penyelenggaraan KTT G20 di Afrika Selatan.

Fakta tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana JETOUR T2 telah mendapatkan tempat di sejumlah pasar internasional.

President Director PT JETOUR Sales Indonesia, Caroline Ling, menyebut kunjungan Airlangga menjadi apresiasi sekaligus motivasi bagi JETOUR untuk terus membawa produk berstandar global ke Indonesia.

” Kunjungan Bapak Airlangga Hartarto menjadi apresiasi sekaligus motivasi bagi JETOUR untuk terus menghadirkan produk berstandar global bagi konsumen Indonesia,” ujar Caroline.

JETOUR T2 sendiri bukan nama baru di pasar global. Berdasarkan data yang disampaikan JETOUR, model tersebut telah mencatat penjualan kumulatif lebih dari 500.000 unit dalam 33 bulan. Angka tersebut membuatnya menjadi salah satu model SUV dengan pertumbuhan tercepat di pasar internasional.

Penggunaannya juga tidak terbatas pada kendaraan sipil. JETOUR menyebut T2 telah digunakan sebagai kendaraan kepolisian di sejumlah negara, termasuk Angola dan Uni Emirat Arab, serta dipercaya dalam berbagai kegiatan internasional.

Kini, karakter T2 dibawa ke level berbeda melalui teknologi elektrifikasi. Di GIIAS 2026, JETOUR memperkenalkan T2 i-DM, SUV Adventure Plug-in Hybrid Electric Vehicle yang menggabungkan kemampuan berkendara di berbagai medan dengan sistem elektrifikasi.

JETOUR T2 i-DM ditawarkan dengan harga Rp688 juta OTR Jakarta. Di balik kap mesinnya terdapat mesin Hybrid Dedicated Engine ACTECO 1.5 TGDI generasi kelima yang bekerja bersama dua motor listrik, baterai CATL LFP berkapasitas 18,4 kWh dan transmisi 3 Speed Dedicated Hybrid Transmission (3DHT).

Kombinasi tersebut menghasilkan tenaga gabungan 224 PS dan torsi maksimal 390 Nm. Dengan kondisi baterai dan tangki bahan bakar terisi penuh, JETOUR mengklaim jarak tempuhnya bisa lebih dari 1.200 kilometer.

Untuk sebuah SUV yang membawa embel-embel adventure, kemampuan tersebut menjadi salah satu daya tarik utama. Apalagi T2 i-DM tidak hanya mengandalkan sistem hybrid, tetapi juga membawa sejumlah perangkat pendukung kenyamanan dan keselamatan.

Baterainya menggunakan CATL LFP dengan sertifikasi IP68. Sementara untuk keselamatan aktif tersedia 15 fitur ADAS Level 2 serta enam airbag.

Masuk ke kabin, JETOUR membekali T2 i-DM dengan layar sentuh berukuran 15,6 inci yang menggunakan Qualcomm Snapdragon 8155. Panel instrumen digital 10,25 inci, Wireless Apple CarPlay dan Android Auto, serta sistem audio Sony dengan 12 speaker turut menjadi bagian dari perlengkapannya.

Ada pula panoramic sunroof dan fitur Vehicle-to-Load (V2L) yang membuat mobil ini lebih fleksibel ketika digunakan untuk aktivitas luar ruang.

Kehadiran T2 i-DM menjadi bagian dari strategi JETOUR mengembangkan filosofi Travel+ di Indonesia. Konsep tersebut mencoba menempatkan SUV bukan sekadar sebagai alat transportasi, melainkan sebagai kendaraan yang dapat mengikuti beragam kebutuhan perjalanan dan gaya hidup.

 

Toyota Indonesia Bukukan Rekor Ekspor Sebanyak 3 Juta Unit

Selama beberapa dekade Indonesia telah menjadi salah satu basis produksi kendaraan Toyota di kawasan Asia-Pasifik.

Setelah membukukan akumulasi ekspor kendaraan yang ke 2 juta unit di tahun 2022, Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) kini kembali membukukan angka akumulasi ekspor mobil yakni sebesar 3 juta unit per Kamis (9/10).

Seremoni pelepasan ekspor tiga juta unit mobil Toyota berlangsung di pabrik Plan 1 PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMIIN), Karawang, Jawa Barat. Acara tersebut dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto serta sejumlah tokoh, di antaranya Wakil Presiden (Wapres) RI ke-10 dan 12 Jusuf Kalla (JK), Menteri Luar Negeri Sugiono, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi; dan Presiden Toyota Motor Corporation Koji Sato.

Dalam kesempatan tersebut, Airlangga menegaskan pencapaian tersebut menjadi simbol kemandirian industri otomotif nasional yang berkontribusi langsung pada perekonomian Indonesia.

“Ekspor hari ini juga diapresiasi karena sudah menggunakan 80 persen daripada lokal content (tingkat kandungan dalam negeri/TKDN),” ujar Airlangga,

Selain menjadi penopang ekonomi nasional, Toyota juga berkontribusi melalui investasi dengan nilai Rp100 triliun dan menyerap lebih dari 360 ribu tenaga kerja di berbagai sektor. Prestasi yang luar biasa sejak Toyota Indonesia mulai mengekspor mobil yang diproduksi di Tanah Air pada tahun 1987.

Dari sekian banyak kendaraan yang dieskpor kali ini, Avanza menjadi model terbanyak dan berhasil menembus pasar global dengan volume lebih dari 40 ribu unit per tahun. Mobil harga terjangkau dan ramah lingkungan (Low Cost Green Car/LCGC) seperti Agya turut andil dengan capaian ekspor lebih dari 30 ribu unit per tahun.

Model mobil elektrifikasi Innova Zenix Hybrid dan Yaris Cross Hybrid yang juga diekspor ke sejumlah negara berhasil membukukan angka ekspor gabungan lebih dari 39 ribu unit. Pertumbuhan angka ekspor ini diraih berkat kerjasama Toyota dengan mitranya yang memiliki pabrik terbesar di Indonesia yaitu Daihatsu. Kolaborasi tersebut berhasil mendorong perluasan target pasar yang kini telah mencapai 100 negara tujuan ekspor.

Sejarah Ekspor Toyota Indonesia

Toyota Indonesia telah mulai melakukan ekspor kendaraan sejak tahun 1987 dengan pengapalan perdana Kijang generasi ketiga (Kijang Super) ke Brunei Darussalam.

Meskipun volume ekspor perdana saat itu hanya 50 unit per bulan, namun hal tersebut jadi pemacu optimisme Toyota Indonesia untuk dapat terus berkembang.

Momentum terbaik kegiatan ekspor Toyota Indonesia yakni pada tahun 2004 saat TMIIN dipercaya dalam proyek Innovative International Multi-purpose Vehicle (IMV).

Sebagai basis utama produksi Kijang Innova, Toyota Indonesia memiliki posisi strategis dan peluang besar untuk lebih memperluas penetrasi ke pasar global. Sebuah tantangan bagi TMIIN untuk membuktikan kapabilitas Indonesia sebagai basis produksi Sejak saat itu volume ekspor Toyota Indonesia terus meningkat menjadi 7.000 unit per tahun.

Pertumbuhan industri otomotif Indonesia yang kian pesat mendorong aktivitas ekspor Toyota yang semakin berkembang, baik untuk volume maupun negara tujuannya.

Saat ini Toyota Indonesia tak sekadar mengekspor model Kijang Innova, Fortuner, Vios, Sienta, Veloz, Avanza, Rush, Lite Ace/Town Ace, Agya, dan Raize dalam bentuk utuh. Tapi juga melakukan ekspor kendaraan terurai (CKD), mesin bensin, komponen, dan alat bantu produksi. Tujuan ekspor pun telah mencapai lebih dari 100 negara di kawasan Asia-Pasifik, Afrika, Amerika Latin, dan Timur Tengah.

Seiring waktu, volume ekspor tahunan terus meningkat tajam menjadi lebih dari 100.000 unit per tahun sejak tahun 2012. Bahkan di tahun 2018 Dan 2019 sempat tembus angka 200.000 unit per tahun.

Pada tahun 2022, Toyota Indonesia berhasil menorehkan akumulasi ekspor kendaraan dengan angka 2 juta unit. Dalam tiga tahun, Toyota Indonesia sukses membukukan angka akumulasi ekspor sebanyak 3 juta unit kendaraan dari total produksi sebanyak 10 juta unit.

Berkat kekuatan industri manufaktur serta komitmen terhadap standar kualitas, Toyota Indonesia siap bersaing di pasar otomotif global.

Pusat R&D Toyota Indonesia

Guna menguatkan posisi Indonesia sebagai basis manufaktur otomotif global, Toyota berencana membangun pusat research and development atau R&D di Indonesia. Potensi generasi muda berbakat di Indonesia perlu diberdayakan. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam.

“Ke depan kita akan mengembangkan R&D di Indonesia karena potensi generasi muda berbakat dan demografi yang dimiliki Indonesia sangat banyak,” ujar Bob Azam di Karawang, Jawa Barat.

Hal tersebut sangat beralasan, mengingat Toyota sudah setengah abad lebih di pasar otomotif Indonesia. Tak sekadar merakit kendaraan, namun Indonesia sudah menjadi basis produksi mobil dan punya industri manufaktur komponen lokal. Tak hanya itu, mobil buatan Indonesia sudah menembus pasar ekspor.

Indonesia tentunya sangat layak menjadi pusat R&D Toyota. Tak hanya fokus ke kendaraan saja, namun Toyota juga sudah menjajaki kerja sama dengan sejumlah institusi pendidikan untuk mengembangkan bahan bakar masa depan (future fuel).

Bahan bakar apa yang akan dikembangkan nantinya? Apakah jenis bioetanol, hidrogen, electric fuel, atau synthetic fuel? Kita tunggu saja perkembangannya.