Mercedes-Benz Australia Lansir EQA dan EQB Night Edition

SUV EV Mercedes-Benz EQA dan EQB model tahun 2025 resmi dipasarkan di Negeri Kanguru. Sebagai pemikat, tersedia varian edisi terbatas Night Edition bagi yang ingin upgrade dan tampil beda. Hanya untuk varian entry-level EQA 250+ dan EQB 250+.

Night Package

Night Edition sebenarnya adalah tambahan opsi Night Package yang bernuansa kelam dan sedikit aksesoris AMG Line. Ini untuk pertama kalinya pada varian entry-level EQA250+ dan EQB250+. Fitur dan tampilan standar varian entry-level dirasa ‘nanggung’ oleh para konsumen. Sehingga banyak yang memilih naik satu level diatasnya walau harga sedikit lebih mahal.

Paket add-on aksesoris yang disematkan meliputi lis bodi bagian samping, garnish bemper depan dan belakang, garnish kaca, spion dan roof rail yang seluruhnya dilabur warna high-gloss black.

Pelek alloy 20-inci yang dibekalkan pun berkelir full gloss black. Pelek standarnya kombinasi warna silver dan hitam.

Fitur standar yang dibekalkan pada Night Edition meliputi panoramic sunroof, keyless entry and start, adaptive damper, adaptive LED headlight. Warna eksterior tentu saja bernuansa metallic.

Interior Upgrade Tipis

Tak hanya tampilan luar, kemasan interior pun sedikit diupgrade. Setir berbalut kulit Nappa yang lembut dan mewah. Jok depan model sport berbalut kombinasi kulit Artico dan kain microfibre Microcut. Posisi duduk dilengkapi setelan otomatis dengan memori.

Fitur interior tak ada yang berubah, alias tetap sama seperti versi standar. Mulai dari sepasang layar digital 10.25-inci, koneksi Apple CarPlay dan Android Auto, ambient lighting, hingga fitur radio dan navigasi satelit augmented-reality tak berubah.

Tak Semua Berubah

Night Edition hanya sebatas upgrade paket tampilan, sedangkan sektor performa tetap standar. Motor elektrik tunggal penggerak roda depan (FWD) pada EQA dan EQB versi Night Edition outputnya tetap 140kW (188 hp) dengan torsi puncak 385Nm.

Meskipun baterainya sama yakni 70.5kWh, tapi jarak jelajah antara keduanya berbeda. Berdasarkan standar uji NEDC, EQA bisa menempuh 578 km. Sedangkan EQB 564km. Bobot kendaraan cukup berpengaruh.

Fitur keselamatan berkendara mulai dari autonomous emergency braking, lane-keep assist, blind-spot monitoring, traffic sign recognition, side exit warning, adaptive cruise control hingga sensor parkir dan kamera 360° tak berubah.

Harga Memikat

Pemesanan untuk model Mercedes-Benz EQA250+ dan EQB250+ Night Edition sudah dibuka sejak 23 Januari 2025. Jumlah dan masa edarnya sangat terbatas. Bahkan warna Cosmos Black Metallic untuk model EQA hanya bisa dipesan secara online. Waktunya pun terbatas, cuma ditawarkan selama satu bulan.

Bagi para konsumen Negeri Kanguru yang berminat pada varian Night Edition pun tak perlu tambah biaya.

Model 5-seater EQA250+ dibanderol AU$85,800 (Rp 875 jutaan). Cukup tambah sedikit untuk bisa dapat versi 7-seater EQB250+ yang dibanderol AU$90,000 (Rp 920 jutaan). Harga off-the road, belum termasuk pajak dan biaya lainnya.

Karena harganya tak melampaui AU$91,387 (Rp 932 jutaan), maka tak terkena pajak mobil mewah atau Luxury Car Tax (LCT) untuk kategori mobil hemat energi.

Bagi yang melakukan kontrak sewa pun berkesempatan mendapat keringanan pajak melalui program Fringe Benefits Tax (FBT).

Benar-benar tawaran yang memikat dan tak mungkin dilewatkan begitu saja. Setidaknya mendongkrak pamor varian entry-level agar makin dilirik konsumen.

Review EQA: Usaha Menjadi Sebuah Mercedes-Benz Tulen

Pengujian kali ini adalah bagian dari acara akhir tahun yang digagas Motomobi News, berjudul #motomobimaukemana. Mercedes-Benz EQA adalah versi listrik dari crossover compact GLA. Sekaligus jadi SUV listrik entry level di keluarga pabrikan Stuttgart, Jerman tersebut.

Ini yang membuat kami ragu, entry level Mercedes-Benz kadang kurang terasa ciri khasnya. Mulai dari pengendaraan hingga kualitas kabin yang sepertinya perlu peningkatan untuk bisa jadi sebuah Mercedes-Benz.

EQA, mencoba menampik hal tersebut. Sepengamatan kami, Mercedes-Benz satu ini dibekali interior yang cukup berkualitas. Dari bahan dashboard hingga jok, penataan tombol, ambience sampai peredaman kabin. Hasilnya? Secara kualitas, harus diakui ini interiornya ‘Mersi’. Hal lainnya? Baca terus.

Bukan Platform EV

EQA 250

Mercedes-Benz EQA dibekali dengan basis yang tidak dikhususkan untuk mobil listrik. Mobil ini berdiri diatas platform MFA generasi kedua yang diperkenalkan pada 2018 lalu. Yang digunakan juga oleh sedan A-Class, CLA, GLA, GLB, EQB. Jadi kalau mau bilang ini adalah GLA yang mendapatkan elektrifikasi menyeluruh, ya sah saja.

Selain itu, Mercedes-Benz membekalkan motor listrik tunggal bertenaga 140 kW (setara 190 hp), menjalankan roda depan. Sumber energinya baterai lithium-ion berkapasitas 66,5 kWh yang diklaim memberikan jarak hingga 495 km berdasarkan pengujian dengan metode WLTP.

Pembuatnya mengklaim pengisian baterai dengan fast charging bisa mengisi dari 10 persen ke 80 persen dalam 32 menit. Ingat, itu klaimnya mereka.

Kami Suka Bentuknya

Review EQA

Secara desain, menurut pendapat kami, ini layak dipuji. Bentuknya bersih dengan lekukan yang halus. Muka tanpa grill terbuka membuat mobil terlihat unik. Ditambah lagi logo Mercedes-Benz yang mentereng di depan dan tulisan EQA di pintu bagasi membuat pengendara lain terkagum-kagum.

Lampu-lampu dipastikan sudah LED, baik untuk di depan maupun belakang. Lampu utama sudah dibekali adaptive highbeam. Untuk menegaskan ini mobil SUV/Crossover ada imbuhan roof rail berwarna polished metal di atap. Tidak lupa, sudah ada kaca panoramic di atap. Tidak ada yang salah dengan bentuk ini. Tipikal SUV Mercedes terkini. Jujur, lebih terlihat proporsional dibanding GLB atau EQB. 

Menurut Mercedes-Benz, bentuk ini menghasilkan nilai koefisien aerodinamika yang sangat baik untuk sebuah mobil tinggi. Nilainya 0,28.  

Kabin Menarik

dashboard EQA

Hal senada berlaku untuk kabin. Kami merasa nyaman duduk di mobil ini. Meski sepertinya jok bisa dibuat lebih empuk. Kalau disentuh, Anda juga bisa menilai, ini material yang berkualitas tinggi. Khas Mercedes-Benz. 

Satu hal yang membuat kami langsung nyaman adalah pengaturan AC yang masih menggunakan tombol fisik. Selain itu, penataan tombol di setir yang tegas juga memudahkan untuk dipahami. Deretan tombol di jempol kanan adalah untuk tampilan instrument cluster, yang kiri untuk infotainment di dashboard. Cerdas. Meskipun kami merasa setirnya agak terlalu tebal. Ini berefek mengurangi rasa nyaman, terutama untuk perjalanan jauh.

Bicara infotainment, layar di tengah memuat berbagai macam informasi. Mulai dari hiburan hingga navigasi dengan peta yang cukup detail, hingga aliran daya listrik dan konsumsi baterai.

Kami juga tidak akan mengeluhkan ruang kaki di depan. Posisi duduk di belakang mungkin sedikit terkompromi karena ada baterai di bagian itu. Ini adalah akibat dari menggunakan platform yang khusus untuk EV. Tapi untuk tipikal ukuran tubuh manusia Asia, tidak akan terlalu mengganggu.

Rasa Berkendara

Sepi. Itu mungkin satu kata yang tepat untuk menggambarkan mobil listrik EQA. Saat pertama berjalan, yang terdengar hanya bunyi peringatan objek yang terlalu dekat dengan mobil.

Masuk jalan raya, mulai terdengar suara knalpot kendaraan di sekeliling. Meskipun sangat sayup. Bahkan suara denging motor listrik juga tidak terdengar baik di dalam atau di luar  kabin. Menyenangkan. Namun masuk jalan tol, gabungan antara angin yang menabrak spion dan permukaan beton, seperti membuat paduan suara gemuruh. Peredamnya berusaha keras untuk menahan supaya suara tidak masuk ke kabin.

Sukses memang, karena tetap tidak membuat pengendaraan di tol jadi berisik. Suara audio masih bisa didengar dengan volume yang rendah. Ekspektasi kami, bisa lebih sunyi lagi. Tapi kembali harus diingat, ini mobil entry level. Meskipun pembuatnya mengklaim sudah memasangkan peredam di beberapa bagian penting. 

Pengendaliannya, di luar dugaan terasa lincah untuk sebuah EV yang terbebani oleh baterai yang berat. Setir yang tidak terasa ‘kosong’ membuat kami yakin bermanuver dengan mobil ini. Pengendaliannya mumpuni. Paling tidak di jalan aspal yang relatif rata. Pergerakkan mobil bisa terasa linear dengan input yang kami berikan melalui lingkar kemudi. Karakter kemudi ini mengingatkan kami pada BMW i4

Hasilnya, bukan hanya menikung dengan kecepatan 50 km/jam di akses keluar tol terasa meyakinkan, tapi juga memudahkan berkelit di kepadatan lalu lintas.

Performa

Untuk akselerasi, tidak ada yang istimewa. Memang rasa torsi 375 Nm akan membuat badan terasa ditelan sandaran jok, tapi tidak mengejutkan. Penghantaran tenaga dari motor elektrik bikinan ZF ke ban terasa linear, tidak terlalu menghentak. Terbukti dengan tidak ada yang mengeluh di mobil saat pedal akselerator dipijak habis.

Sayangnya, pada kecepatan di bawah 40 km/jam, bagian belakang akan terasa keras. Ini adalah karakter tipikal sebuah keluarga A-Class. Ciri tersebut bisa Anda rasakan juga di sedan A-Class dari generasi pertama. Namun saat ‘gas pol’ dan berjalan di kecepatan tinggi di tol, kestabilannya patut diacungi jempol.

Pengereman? Tipikal mobil listrik. Entah buatan Jerman, Jepang, China, Korea Selatan, semua sama. Rasanya artifisial. Ini karena sistem regenerative (regen) braking yang tersedia di setiap mobil listrik. EQA tidak terkecuali.

Mumpuni memang, apalagi tingkat kekuatan regen bisa diatur. Namun pada tingkat paling rendah pun, perlu waktu untuk menyesuaikan kaki dengan respon rem.

Kesimpulan

Overall, mobil ini memiliki paket yang mumpuni dari mulai desain hingga performa. Semuanya selaras menyatakan EQA adalah mobil listrik ramah keluarga untuk penggunaan harian.

Untuk konsumsi baterai dengan penggunaan kombinasi dan tanpa dibatasi, kami mencetak 13,9 kWh/100 km. Ini didapat dengan melalui jalanan padat, dan injak gas sesuai keadaan. Lagi-lagi, ini tipikal konsumsi energi mobil listrik yang padat fitur.

Yang kami harus keluhkan adalah suspensi belakang yang keras di kecepatan rendah. Yang mungkin, mayoritas akan dilalui selama masa pakainya.

Hal kedua adalah, banderolnya yang spektakuler. Berdasarkan daftar bulan Desember 2023 yang kami terima, harga Mercedes-Benz EQA adalah Rp 1.540.000.000 off the road (DKI Jakarta). Ini jadi perdebatan sendiri di redaksi, apakah memang sepadan sebuah mobil entry level harganya setinggi itu? Namun rumornya, BMW yang akan punya SUV llistrik entry level pun, harganya tidak akan jauh dari situ. Bukan main.