Lima Dekade, TMMIN Terus Perkuat Label ‘Made in Indonesia’ 

Sebagai salah satu ujung tombak industri otomotif nasional, kiprah PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) sebagai perusahaan manufaktur dan eksportir kendaraan serta suku cadang Toyota di Indonesia terus menguat. TMMIN telah beroperasi hampir lima dekade dengan saham mayoritas dimiliki oleh Toyota Motor Corporation (95%) dan sisanya oleh Astra International (5%).

Indonesia Sebagai Basis Manufaktur Global

Perjalanan TMMIN di Tanah Air dimulai dengan berdirinya pabrik manufaktur perdana di kawasan Sunter, Jakarta Utara pada tahun 1977. Hal tersebut sebagai respon dari kebijakan Kendaraan Bermotor Niaga Sederhana (KBNS) yang diberlakukan pemerintah pada saat itu.

Kebijakan KBNS tersebut bertujuan untuk menggerakkan industri otomotif dalam negeri, dengan mewajibkan penggunaan sebagian komponen lokal pada kendaraan niaga sederhana yang diproduksi di Indonesia pada masa itu. Kelahiran Toyota Kijang generasi pertama menjadi bukti komitmen besar Toyota Indonesia dalam memajukan industri otomotif nasional.

Hingga saat ini TMMIN mengoperasikan lima fasilitas produksi berstandar global yang berlokasi di Sunter, Jakarta Utara dan di Karawang, Jawa Barat. Kelima unit produksi tersebut mendukung proses perakitan kendaraan Toyota, termasuk mobil utuh, mesin, komponen, hingga alat bantu produksi dengan teknologi ramah lingkungan yang efisien.

Sebagai bagian dari rantai pasok pendukung produksi, Toyota Group (Toyota & Daihatsu) menggandeng lebih dari 760 pemasok lokal. Inilah urat nadi utama berjalannya nafas produksi yang bekerja secara terpadu.

Para pemasok lokal pun terus meningkatkan kompetensi dan kualitas produk komponen agar sesuai standar pasar global. Sinergi ekosistem industri tersebut telah membuka lapangan pekerjaan bagi lebih dari 360.000 tenaga kerja di berbagai sektor di seluruh Indonesia.

Dari Pasar Dalam Negeri Menuju Pasar Global

Aktifitas produksi skala besar di Tanah Air dilakukan oleh TMMIN, mulai dari mesin, komponen serta kendaraan utuh. Muatan komponen lokal terus ditingkatkan hingga mencapai lebih dari 80%. Keberhasilan yang dicapai TMMIN telah menjadikan Indonesia sebagai basis produksi dan juga ekspor ke pasar global untuk kendaraan bermesin Internal Combustion Engine (ICE), serta beberapa model kendaraan elektrifikasi seperti Kijang Innova Hybrid Electrified Vehicles (HEV) dan Yaris Cross HEV.

Produk-produk kendaraan Toyota buatan TMMIN diekspor dalam berbagai bentuk, mulai dari kendaraan utuh (CBU), kendaraan setengah jadi (CKD), komponen, hingga alat produksi ke puluhan negara di kawasan Asia, Timur Tengah, Afrika, hingga Amerika dan Oceania.

Saat ini, Kijang Innova Zenix, baik versi Internal Combustion Engine (ICE), maupun Hybrid Electrified Vehicle (HEV) beserta Veloz, Fortuner, dan Yaris Cross (ICE maupun HEV) menjadi ujung tombak ekspor Toyota Indonesia.

Bahkan antusiasme konsumen pasar global terhadap kendaraan elektrifikasi Toyota ‘Made in Indonesia’ cukup tinggi. Tercatat di tahun 2025 jumlah ekspor mencapai 22.868 unit, atau naik 23 persen dibandingkan dengan pencapaian di periode yang sama di tahun 2024 sebesar 18.553 unit. Kinerja ekspor ini melengkapi performa industri otomotif nasional.

Tahun 2025 juga menjadi puncak prestasi ekspor TMMIN. Sejak ekspor perdana pada 1987, TMMIN telah mengekspor 3.151.794 unit kendaraan buatan Indonesia yang tersebar ke lebih dari 100 negara. Baik di kawasan Asia, Amerika Selatan, Afrika, Timur Tengah, Australia, dan Oceania.

Hal tersebut menunjukkan bahwa sumber daya manusia, kemampuan manufaktur serta kualitas produk yang dihasilkan TMMIN telah mampu bersaing di pasar global.

Dampak Konflik Timur Tengah Terhadap Pasar Global

Terkait konflik yang saat ini terjadi antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, tentunya berpotensi berdampak terhadap kinerja ekspor kendaraan dari Indonesia.

Perlu diketahui, negara di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu tujuan ekspor kendaraan Toyota dari Indonesia. Beberapa pasar potensial di kawasan tersebut, antara lain Irak, Lebanon, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, serta Kuwait yang secara geografis berada di sekitar wilayah konflik.

Dampak yang lebih signifikan yakni adanya potensi kenaikan harga minyak dunia. Iran, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab merupakan negara pemasok utama minyak di kawasan tersebut. Jika terjadi hambatan pasokan, maka dikhawatirkan bakal mengganggu stabilitas perekonomian negara-negara pengimpor. Kondisi tersebut tentunya dapat menekan daya beli sekaligus memengaruhi permintaan kendaraan di pasar tujuan ekspor.

Pasalnya, saat ini sebanyak 20% kapal pengangkut minyak dunia tak dapat melintasi Selat Hormuz. Penghubung Teluk Persia dengan Teluk Oman ini merupakan jalur distribusi utama pasokan minyak mentah dari kawasan tersebut. Rata-rata volume pengiriman bulanan minyak mentah yang melalui Selat Hormuz berkisar 2—4 juta metrik ton per Februari 2026.

Kendati saat ini tengah terjadi ketegangan geopolitik, Toyota tetap optimis memasang target ekspor yang moderat untuk periode tahun 2026 yakni di angka 300.000 unit seperti tahun sebelumnya. Hal tersebut berkaca dari capaian Toyota sepanjang 2025 yang telah mengekspor kendaraan secara utuh (completely built up/CBU) sebanyak 298.457 unit, dengan kontribusi sebesar 58% dari total ekspor nasional.

Kiprah TMMIN dalam mewujudkan label ‘Made in Indonesia’ pada kendaraan yang diproduksi di Indonesia kini menjadi hasil nyata. Bukan sekadar label produksi semata, melainkan menjadi representasi dari kemampuan dan keyakinan kolektif bahwa produk kendaraan buatan Indonesia mampu bersaing di tataran pasar otomotif global.

 

Kijang Innova Zenix Hybrid Ekpor_1

Kijang Innova Zenix Hybrid Melesat ke Pasar Global

Toyota Indonesia melakukan ekspor perdana kendaraan elektrifikasi Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid, sekaligus menandai peningkatan level kapabilitas dan keunggulan industri manufaktur otomotif nasional. Langkah tersebut juga terkait dengan aktivitas ekspor produk berteknologi tinggi ke level berikutnya.

Toyota Indonesia berupaya untuk terus memberikan kontribusi pada pengembangan industri otomotif nasional yang telah memasuki era elektrifikasi, dan menyumbang pada neraca dagang yang positif. Ekspor perdana Kijang Innova Zenix ini tidak mungkin tercapai tanpa dukungan penuh dari Pemerintah Indonesia, kemitraan yang kuat dari seluruh rantai pasok kami termasuk industri kecil dan menengah (IKM), dan dukungan masyarakat.

Target ekspor lebih dari 8.000 unit

“Semoga kami dapat berkontribusi lebih besar lagi agar dapat bersama-sama tumbuh dan meningkatkan daya saing global untuk memenuhi perkembangan industri otomotif Indonesia dan global,” kata Warih Andang Tjahjono, selaku Presiden Direktur Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), hari ini (21/02).

Pada tahun 2023, TMMIN menargetkan ekspor Kijang Innova Zenix sebanyak lebih dari 8.000 unit dengan komposisi 30 persen tipe HEV dan 70 persen tipe internal combustion engine (ICE) ke negara-negara di kawasan Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Timur Tengah. Diharapkan, ekspor Innova Zenix ini akan terus meningkat dari tahun ke tahun dengan target 17,000 unit di 2025 untuk tipe hybrid dan konvensional.

Basis produksi dan ekspor kendaraan elektrifikasi

Ekspor mobil utuh ini juga tentunya termasuk baterai elektrifikasi yang dirakit lokal di pabrik TMMIN di Karawang. Toyota Indonesia telah memperkenalkan beragam model kendaraan yang dapat mengurangi emisi karbon melalui strategi multipathway, baik kendaraan konvensional hemat bahan-bakar, kendaraan dengan bahan bakar bio (bio-fuel), serta kendaraan berteknologi elektrifikasi, yaitu HEV, PHEV, dan BEV, selain memproduksi lokal Kijang Innova Zenix Hybrid.

“Kami akan terus mempertahankan posisi Indonesia sebagai basis produksi dan ekspor kendaraan elektrifikasi buatan dalam negeri, khususnya hybrid,” tambah Warih.

Ekspor perdana Kijang Innova Zenix disaksikan langsung oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Duta Besar Jepang untuk Indonesia Kanasugi Kenji, Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana, dan CEO of Asia Region and President of Toyota Motor Asia Pacific Hao Quoc Tien, serta jajaran manajemen Toyota Indonesia dan perwakilan perusahaan pemasok Toyota Indonesia yang termasuk di dalamnya Industri Kecil dan Menengah (IKM).

Toyota Indonesia Tetap Berprestasi di Kondisi Global Yang Menantang

Mengawali tahun 2023, Toyota Indonesia berhasil mencatatkan rekor pertumbuhan baru hasil ekspor kendaraan Toyota sebanyak 297 ribu unit, di sepanjang Januari hingga Desember 2022. Pencapaian tersebut meningkat 58 persen dibandingkan dengan kinerja ekspor di tahun 2021 silam. Performa ekspor Toyota Indonesia telah memberikan kontribusi sebesar 63 persen terhadap total unik ekspor nasional sejumlah 473.602 kendaraan.

Sebanyak 297 ribu unit kendaraan Toyota rakitan Indonesia, diterima dengan baik oleh konsumen luar negeri ke lebih dari 80 negara. Pencapaian ini merupakan rekor tertinggi aktivitas pengiriman kendaraan Toyota ke pasar internasional, sejak tahun 1987 hingga tahun 2022.

Selama lebih dari 3 dasawarsa, Toyota Indonesia telah mengirimkan 2,3 juta unit kendaraan Toyota ke berbagai negara tujuan ekspor. Bahkan Toyota Fortuner menempati posisi sebagai kontributor ekspor terbesar hingga 578 ribu unit sejak pengiriman perdananya.

“Perjalanan pertumbuhan dan pencapaian ekspor industri otomotif nasional, bukan suatu proses yang kami raih secara singkat ataupun instan, namun membutuhkan kerja keras juga proses yang cukup panjang. Sejak tahun 1987, kami menginisiasi ekspor perdana kendaraan Toyota buatan anak bangsa, dengan mengirimkan Kijang, hingga akhirnya berhasil mengirimkan 297 ribu unit kendaraan Toyota brand di sepanjang tahun 2022,” kata Bob Azam Direktur Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN).

Tambah negara tujuan ekspor

“Toyota Veloz yang baru kami ekspor di tahun lalu, menjadi kontributor terbesar di angka 70 ribu unit. Tahun ini, kami juga akan melakukan ekspansi negara tujuan ekspor ke kawasan Afrika, sebagai salah satu strategi untuk terus mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Di tengah ancaman perlambatan ekonomi global pun, Toyota Indonesia tetap menargetkan pertumbuhan kinerja ekspor tahun 2023 akan naik sebesar 5 persen,” imbuhnya.

Situasi perekonomian global di tahun 2023 yang menantang, mendorong pemerintah terus menggencarkan strategi diversifikasi negara tujuan ekspor untuk tetap mempertahankan kontribusi ekspor nasional yang selama ini berperan dalam pemulihan ekonomi Indonesia.

Tetap mendukung elektrifikasi

Hal ini sejalan dengan upaya yang dilakukan oleh TMMIN di tahun lalu, yang berhasil membuka pasar ekspor kendaraan Toyota Indonesia ke Australia dan tahun ini akan menambah negara tujuan ekspor di kawasan Afrika. Selain harus mempertahankan tren pertumbuhan ekspor yang positif, industri otomotif nasional juga memasuki transformasi kendaraan dengan teknologi elektrifikasi.

“Pengembangan kendaraan elektrifikasi Toyota di Indonesia memiliki tujuan mengurangi karbon untuk masa depan yang lebih hijau. Partisipasi aktif kami dalam mendukung target pemerintah, kami wujudkan melalui realisasi dan komitmen dengan membangun ekosistem elektrifikasi. Meliputi peningkatan kemampuan SDM dalam negeri, investasi pengembangan manufaktur otomotif, hingga menyediakan ragam teknologi elektrifikasi yang lengkap,” pungkas Bob Azam.