Canter Tempuh 40.000 Km dengan B50, Siapkah Mitsubishi Fuso?

Canter Tempuh 40.000 Km dengan B50, Seberapa Siap Mitsubishi Fuso Hadapi Era Biodiesel?

Bagi pelaku usaha, truk yang berhenti beroperasi berarti bisnis ikut kehilangan waktu. Karena itu, ketika Indonesia mulai memasuki era biodiesel B50, pertanyaan terbesar bagi pemilik armada bukan hanya soal apakah mesin diesel mampu meminum bahan bakar baru tersebut, tetapi apakah kendaraan tetap bisa bekerja tanpa mengganggu produktivitas.

Pertanyaan itu mendapat jawaban positif dari Mitsubishi Fuso. Melalui pengujian B50 yang dilakukan bersama pemerintah, kendaraan niaga Mitsubishi Fuso telah menempuh jarak 40.000 kilometer menggunakan biodiesel dengan kandungan 50 persen bahan bakar nabati.

Angka tersebut penting bagi kendaraan komersial. Truk bekerja dengan ritme berbeda dibanding mobil penumpang, baik dari sisi beban, durasi operasi maupun jarak tempuh. Sedikit saja gangguan pada sistem bahan bakar atau mesin dapat berujung pada downtime dan berpengaruh langsung terhadap biaya operasional.

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memang melakukan pengujian secara bertahap untuk memastikan B50 memenuhi aspek teknis, kinerja dan keandalan. Untuk kendaraan bermesin diesel dengan bobot di atas 3,5 ton, target uji jalan ditetapkan sejauh 40.000 km. Hasil sementara hingga April 2026 menunjukkan kendaraan yang telah mencapai target tersebut berada dalam kondisi aman tanpa kendala signifikan.

Bagi Mitsubishi Fuso, hasil tersebut menjadi sinyal penting menjelang penggunaan B50 secara lebih luas. Sales & Marketing Director PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB), Aji Jaya, sebelumnya menyampaikan bahwa evaluasi pada jarak 40.000 km menjadi bagian penting untuk melihat dampak penggunaan B50 terhadap kendaraan.

Artinya, kesiapan Canter tidak berhenti pada kemampuan mesin menyala dan kendaraan bergerak. Kondisi komponen setelah digunakan dalam jarak panjang menjadi bagian penting untuk memastikan bahan bakar baru tidak mengurangi keandalan armada.

Hal tersebut sekaligus menempatkan perawatan kendaraan sebagai faktor yang tidak bisa dipisahkan dari penggunaan B50. Pemilik armada tetap perlu memperhatikan kondisi sistem bahan bakar, filter dan komponen terkait serta menjalankan servis berkala sesuai rekomendasi pabrikan.

Di sinilah konsep Zero Down Time Mitsubishi Fuso menemukan relevansinya. Strategi tersebut diarahkan untuk menjaga kendaraan pelanggan tetap produktif melalui dukungan produk dan layanan purnajual. Saat ini Mitsubishi Fuso memiliki 223 dealer yang tersebar di Indonesia, ditambah layanan purna jual untuk membantu kendaraan kembali beroperasi secepat mungkin.

Kesiapan tersebut semakin penting karena pemerintah telah meluncurkan mandatori B50 pada Juli 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan terhadap impor solar.

Dengan demikian, hasil uji 40.000 km pada kendaraan niaga Mitsubishi Fuso memberikan gambaran awal yang cukup meyakinkan bagi pemilik armada. Tantangan berikutnya bukan lagi sekadar membuktikan apakah truk dapat menggunakan B50, melainkan memastikan performanya tetap konsisten ketika bahan bakar tersebut menjadi bagian dari rutinitas bisnis.

Bagi pengusaha angkutan dan logistik, satu hal tetap menjadi prioritas: truk harus terus berjalan. Dan dalam konteks itulah kesiapan kendaraan, disiplin perawatan serta kekuatan layanan purnajual menjadi sama pentingnya dengan bahan bakar yang menggerakkannya.

Solar B35_a

Pertamina Jelaskan Sumber Pengganti BBM, Ternyata Bebas Impor

PT Pertamina (Persero) menjelaskan bahwa jenis Bahan Bakar Nabati (BBN) dapat menjadi salah satu langkah untuk mengganti peran Bahan Bakar Minyak (BBM). Perlu dicatat, hingga saat ini sebagiam dari kebutuhan Indonesia terhadap BBM masih diimpor.

Hal itu seperti yang diungkapkan oleh Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati. Upaya mengurangi impor BBM, bisa dilakukan dengan meningkatkan ketahanan, keterjangkauan, aksesibilitas, hingga keberlanjutan energi. Salah satu cara yang didorong oleh perseroan, bisa melalui pengembangan program bioenergi seperti biodiesel, biogasoline, dan bioavtur.

Ada potensi keberlanjutan di Tanah Air

“Masih banyak potensi keberlanjutan di Indonesia, kami dapat meningkatkan program bioenergi, biodiesel, biogasoline, bahan bakar penerbangan berkelanjutan, termasuk carbon offsetting seperti natural base solution dan Carbon Capture Utilization Storage,” kata Nicke, dalam acara Indonesian Petroleum Association (IPA) Convex (14/5/2024).

Saat ini Pertamina mendorong penggunaan bahan bakar berbasis nabati untuk jenis bahan bakar diesel, melalui pencampuran antara BBM dengan bahan bakar basis sawit sebesar 35 persen (B35). Pencampuran olahan sawit dengan BBM tersebut akan terus dikembangkan hingga sebesar 60 persen pada BBM (B60).

“Salah satu program prioritas Pertamina adalah biofuel. Saat ini kami mulai dengan B35 dan kami akan menambahkan pencampuran hingga B60. Dan dari B25 saja, sebenarnya kita sudah mengurangi emisi karbon sekitar 32,7 juta ton CO2 per tahun,” imbuhnya.

Pakai basis tetes tebu

Untuk jenis biogasoline, Pertamina saat tengah mengembangkan campuran bioetanol atau bahan bakar basis tetes tebu (molase) dengan BBM. Saat ini, perusahaan telah menjual secara komersial BBM dengan campuran bioetanol sebesar 5 persen (E5), pada Pertamax Green 95.

Nantinya, bioetanol akan mencapai E40 atau pencampuran hingga 40 persen pada BBM. “Bioetanol, sekarang dimulai dari bahan bakar non subsidi dengan nama E5 dan E7, yaitu Pertamax Green 92 dan 94. Kami akan tambahkan blending-nya hingga E40 untuk semua bahan bakar,” lanjut Nicke.

Pertamina kini sudah mulai memproduksi bahan bakar penerbangan melalui SAF (Sustainable Aviation Fuel), dengan mencampurkan bioavtur basis sawit sebesar 2,4 persen.

“Hal ini juga mematuhi kebijakan energi nasional dan sudah mulai memproduksi SAF dengan 2,4 persen pencampuran CPO pada bensin serta avtur kami,” tutupnya.

Solar B35_a

Solar B35 Mulai Mengucur di Januari 2023

Pemerintah siap melaksanakan kewajiban penggunaan bahan bakar nabati jenis B35 pada 1 Januari 2023. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Dadan Kusdiana mengatakan hal tersebut sesuai arahan Presiden Joko Widodo dalam keputusan sidang kabinet tanggal 6 Desember 2022.

“Penggunaan B35 sudah diputuskan dalam sidang kabinet 6 Desember 2022 lalu. Setelah keputusan tersebut kita langsung melakukan berbagai persiapan dan koordinasi dengan pihak terkait diantaranya dengan Dirjen Migas, Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BU BBN), Badan Usaha BBM dan stakeholder lain,” ujarnya dalam kegiatan Kick off Implementasi B35 tahun 2023, beberapa waktu silam.

Tidak Ada Penurunan 

Ia menuturkan, keputusan untuk menerapkan program B35 ini diambil dengan berbagai pertimbangan. Diantaranya ketersedian pasokan bahan baku terutama crude palm oil (CPO), kapasitas produksi BU BBN dan standar spesifikasi yang harus dipenuhi.

“Memang secara kapasitas cukup besar, di sisi lain kita juga selalu meminta setiap peningkatan pencampuran harus bisa memastikan tidak ada pengurangan spesifikasi blending-nya. Biodiesel itu jangan jadi pengotor dalam campuran ini, maka harus dilakukan pengawasan secara volume dan spesifikasi terpenuhi,” jelasnya.

Menurut Dadan, di akhir tahun 2022 ini merupakan masa transisi penggunaan bahan bakar B30 ke B35, untuk melihat dan mengevaluasi persiapan program B35 ini dapat berlangsung dengan baik atau tidak.

Hingga kini Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) terus melakukan uji coba penerapan biodiesel sawit yang dicampur dengan bahan bakar minyak solar, sampai akhir Desember 2022 ini.

Perubahan Rencana

Rencananya penerapan campuran itu di 2023 akan melakukan campuran biodiesel 40 persen, namun rencana itu akhirnya berubah. “Pemerintah sudah melakukan uji coba pada B40 dan menunjukkan hasil yang positif, baik dari hasil uji laboratorium maupun uji jalan. “Kita memang melakukan uji coba B40, dan ada hasil positif, baik di uji laboratorium maupun uji jalan,” kata Dadan.

Kebijakan penentuan menjadi B35 tentunya mempertimbangkan hal-hal seperti kesiapan suplai, kesiapan infrastruktur dan juga antisipasi besaran insentif biodiesel. Dadan memastikan, pemerintah siap mengimplementasikan B35 pada awal tahun depan. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil uji coba yang tidak terdapat kendala signifikan.