Lamborghini Sudahi Transmisi Manual, Teknologi Hybrid Alasannya

Di tengah tren kebangkitan transmisi manual pada sejumlah mobil sport, Lamborghini justru memilih berjalan ke arah berbeda. Pabrikan supercar asal Italia ini memastikan belum memiliki rencana menghadirkan kembali transmisi manual pada model-model mendatang.

Bagi Lamborghini, tiga pedal dan tuas persneling manual bukan lagi bagian dari masa depan. Brand berjuluk Raging Bull ini lebih memilih mengembangkan performa melalui kombinasi mesin pembakaran internal dan motor listrik.

Keputusan ini mungkin mengecewakan para penikmat yang merindukan sensasi perpindahan gigi secara mekanis. Terlebih, transmisi manual pernah menjadi bagian dari perjalanan Lamborghini, sebelum akhirnya menghilang dari jajaran model produksinya.

Kini, arah pengembangan produknya semakin jelas. Elektrifikasi dan kemampuan menghasilkan performa tinggi menjadi prioritas, sementara nostalgia terhadap transmisi manual tidak cukup kuat untuk mengubah strategi tersebut.

Lamborghini Temerario Jadi Gambaran Arah Baru

Direktur lini produk Lamborghini Temerario, Paolo Racchetti, menjelaskan bahwa keputusan tersebut berkaitan dengan tuntutan teknis dan karakter sistem penggerak modern.

Dalam wawancara dengan CarExpert di Milan, Racchetti mengakui bahwa sebagian konsumen masih menginginkan transmisi manual. Namun, Lamborghini menilai pengembangan teknologi dan peningkatan performa lebih sesuai dengan arah masa depan merek.

Pernyataan itu sejalan dengan pandangan CEO Lamborghini, Stephan Winkelmann, yang sebelumnya menyebut transmisi manual tidak lagi relevan bagi merek tersebut.

Temerario menjadi contoh paling jelas. Supercar ini menggabungkan mesin V8 twin-turbo berputaran tinggi dengan tiga motor listrik. Tenaganya disalurkan melalui transmisi dual-clutch otomatis yang dirancang untuk menangani karakter sistem penggerak hybrid.

Kombinasi tersebut membutuhkan koordinasi presisi antara mesin bensin, motor listrik, dan perpindahan gigi. Transmisi otomatis memungkinkan sistem mengatur perpindahan rasio secara cepat tanpa mengandalkan pengoperasian kopling oleh pengemudi.

Sistem Hybrid Membuat Transmisi Manual Lebih Rumit

Tantangan transmisi manual pada mobil hybrid bukan sekadar persoalan memasang pedal kopling dan tuas persneling.

Sistem plug-in hybrid harus mengoordinasikan sumber tenaga listrik dan mesin pembakaran dalam berbagai kondisi. Pengaturan torsi, putaran mesin, serta perpindahan gigi perlu berlangsung selaras agar akselerasi tetap responsif.

Menambahkan sistem perpindahan gigi manual berpotensi memperumit integrasi tersebut. Kemasan komponen juga menjadi tantangan, terutama ketika motor listrik, baterai, dan perangkat penggerak harus ditempatkan dalam ruang terbatas.

Meski bukan berarti transmisi manual mustahil dipadukan dengan elektrifikasi, Lamborghini tampaknya tidak melihat kombinasi tersebut sebagai prioritas pengembangan produknya.

Pendekatan serupa juga terlihat pada Revuelto yang memadukan mesin V12 naturally aspirated dengan tiga motor listrik. Sementara itu, Urus kini mengandalkan sistem plug-in hybrid dengan mesin V8.

Ketiganya menunjukkan bagaimana Lamborghini membangun karakter kendaraan melalui kombinasi tenaga, respons, dan teknologi penggerak, bukan semata-mata pengalaman mengoperasikan transmisi.

Penggemar Manual Harus Menerima Kenyataan

Keputusan Lamborghini terasa kontras dengan minat sebagian penggemar terhadap transmisi manual yang menawarkan keterlibatan pengemudi secara langsung.

Bagi kelompok puritan, menginjak kopling dan menentukan perpindahan gigi sendiri merupakan bagian penting dari pengalaman mengemudi mobil sport. Sensasi tersebut menghadirkan hubungan mekanis yang sulit digantikan sepenuhnya oleh sistem otomatis.

Namun, bagi Lamborghini, masa depan performa ditentukan oleh kemampuan teknologi menyatukan tenaga, kecepatan respons, dan efisiensi sistem penggerak.

Pada akhirnya, pabrikan Italia ini memilih mempertahankan transmisi otomatis sebagai bagian dari strategi produknya. Bukan karena transmisi manual kehilangan nilai emosional, melainkan karena prioritas teknis Lamborghini kini bergerak menuju performa hybrid.

Bagi pecinta tiga pedal, keputusan ini mungkin terasa seperti kehilangan satu bagian dari romantisme otomotif. Namun, bagi Lamborghini, masa depan supercar tampaknya bukan lagi tentang menginjak kopling, melainkan bagaimana mesin dan motor listrik bekerja bersama menghasilkan performa maksimal.

Lamborghini Temerario, pengganti Huracan akhirnya diperkenalkan.

Lamborghini Temerario: Pengganti Huracan Yang Lebih Brutal

Inilah Lamborghini Temerario, produk terbaru dari pabrikan supercar Italia, yang menggantikan Huracan. Mengandalkan mesin V8 twin turbocharger, sistem hybrid dengan tiga motor listrik, serta punya tenaga 920 hp. Kehadirannya diumumkan semalam (16/08/2024).

Rilis Automobili Lamborghini mengatakan kalau Temerario adalah super sportscar yang mengedepankan performa, kenyamanan, serta kepuasan berkendara. Mobil ini adalah produk kedua yang menggunakan Lamborghini High Performance Electrified Vehicle (HPEV), setelah Revuelto yang fenomenal.

Temerario akan mulai dijual awal 2025.

Lamborghini Temerario juga tidak kalah fenomenal. Sistem hybrid-nya punya tiga motor listrik. Dua dipasang di roda depan, satu dijepit diantara mesin dan transmisi. Ini jadi menarik karena saat dalam mode full EV, Temerario jadi Lamborghini pertama yang berpenggerak roda depan (FWD).

Motor listrik yang terpasang di mesin, menurut Lamborghini adalah yang paling menantang untuk dibuat. Mereka harus menghasilkan satu kesatuan penggerak yang ringkas supaya tidak memakan tempat. Hasilnya, motor listrik disatukan dengan mesin dan transmisi tanpa kopling. Artinya, saat mesin berputar, alat ini mengikuti putaran yang dihasilkan. Keuntungan yang didapat adalah, mengurangi efek turbo lag dan siap melontarkan tambahan torsi sebesar 300 Nm, kapan saja.

Lamborghini Temerario jadi pengguna kedua sistem hybrid high performance Lamborghini.

Sementara mesin V8 twin-turbo dikatakan dibangun dari nol oleh tim Sant ‘Agata, Italia itu. Mampu menghasilkan 800 hp saat menyentuh 9.000-9.750 rpm. Dengan torsi puncak 730 Nm pada putaran 4.000-7.000 rpm. Ini bukan performa yang main-main. Mesinnya yang mampu berputar sampai 10.000 rpm saja sudah ‘mind blowing’. Belum lagi dua turbocharger tersebut bekerja memberikan tekanan hingga 2,6 bar! Akselerasi 0-100 km/jam dituntaskan dalam 2,7 detik, sebelum menyentuh kecepatan puncak 340 km/jam.

Lebih Aerodinamis

Di balik bentuknya, terpasang rangka baru. Tidak seperti Huracan yang mengkombinasikan carbon fiber dan alumunium, Temerario sepenuhnya menggunakan alumunium. Penggunaan bahan metal ini dikatakan menambah kekuatan dan kekakuan, sekaligus menghemat bobot.

Bentuknya seperti yang bisa Anda lihat, sangat Lamborghini dan masih menyisakan aura Huracan. Tapi bersamaan dengan bentuk itu, tim desain Lamborghini juga menerapkan aerodinamika yang mumpuni. Air dam besar di depan, bersinergi dengan peranti aerodinamika lain, termasuk pelek 20 dan 21 inci (depan dan belakang). Hasilnya, diklaim daya tekan yang timbul, 103 persen lebih baik dibanding Huracan Evo.

Interior Lamborghini Temerario lebih lega dibanding Huracan.

Di kabin, tim Lamborghini mengatakan telah sukses membuat mobil super sport dengan kabin yang lega. Ruang kepala meningkat sebesar 33 mm. Sedangkan ruang kaki bertambah hingga 45 mm. Ini dibandingkan Huracan tentunya.

Lamborghini Temerario akan mulai dipasarkan awal tahun 2025, namun harga belum dibunyikan oleh pembuatnya. Kita tunggu saja.