Review: Jetour Dashing Inspira

Satu lagi merek asal negeri bambu mengaspal di Indonesia yaitu Jetour. Merek ini memang merupakan spesialis Sport Utility Vehicle (SUV), yang masih satu keluarga dengan Chery. Meski mobil Tiongkok identik dengan teknologi listrik, Jetour masih yakin dengan mobil full ICE. Untuk membuktikan performa Jetour, kami berkesempatan menjajal Jetour Dashing dengan rute Jakarta menuju Bandung.

Ada Dua Model Yang Ditawarkan

Belum lama ini Jetour Dashing belum lama ini mendapatkan penambahan pilihan warna baru, di ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2025. Ada dua model yang ditawarkan, yaitu Journey dengan harga Rp 403,8 juta, dan Inspira seharga Rp 434,8 juta. Untuk perjalanan yang bertajuk The Dashing Experience ini, pihak Jetour menyediakan varian Inspira.

Secara desain, Dashing tampil cukup agresif di bagian depan. Terdapat lampu DRL LED pada bagian atas, dan lampu utama LED di sisi bawah. Grille berukuran cukup besar dan memberi efek tiga dimensi. Garis bodi yang tinggi, memberikan kesan tangguh dan kekar.

Namun, bagian samping terlihat ramping, berkat penggunaan handle pintu model flushed. Velg menggunakan ukuran 19 inci yang disebut sebagai terbesar di kelasnya. Sedangkan pada bagian belakang, terdapat lampu belakang LED dengan desain inverted Y, serta rear spoiler.

Bagasi Dashing Berkapasitas 486 Liter

Perjalanan dimulai dari dealer Jetour di Kelapa Gading. Impresi pertama kami sebagai penumpang adalah interior yang luas. Baik di posisi depan maupun belakang, ruang kepala maupun ruang kaki masih tergolong lapang, meski desain atapnya merebah. Jok juga memiliki desain yang cukup ergonomis, dan dilapisi bahan kulit sintetis.

Pengemudi dan penumpang punya kemudahan mengatur posisi kursi, sebab keduanya sudah dilengkapi dengan jok elektrik. Pada jok tengah terdapat armrest serta cupholder untuk penumpang baris kedua. Harus membawa barang bawaan yang banyak, Bagasi Dashing memiliki kapasitas 486 liter, yang diklaim terbesar di kelasnya.

Setir Masih Terlalu Ringan

Jetour Dashing diposisikan untuk penggunaan urban dan juga untuk berpergian. Dashing dilengkapi dengan layar infotainment berukuran 10,25 inci, yang sudah mendukung Android Auto dan Apple CarPlay secara wireless. Hal kecil yang cukup membantu adalah wireless fast charging 50W, yang banyak absen di rivalnya.

Ketika mobil mulai mengarah ke jalan tol layang MBZ, interior mobil termasuk cukup kedap dengan suara ban yang cukup minim. Pada jalan tol suspensi independen MacPherson strut di depan, dan multilink di belakang, bisa meredam guncangan dengan baik dan stabil. Sistem kemudi Dashing juga terbukti ringan. Namun, sayangnya pada kecepatan tinggi masih terasa agak ringan.

Sedap Di Putaran Tengah

Sebelum menuju ke Bandung, kami singgah di Summarecon Villagio Outlet, untuk menyelesaikan sebuah tantangan. Seluruh kaca mobil ditutup dan setiap tim harus melakukan parkir dengan sempurna. Hal ini bukan tidak mungkin, lantaran Dashing dilengkapi surround camera 540 derajat, yang merupakan satu-satunya di kelasnya. Lagi-lagi, ada sedikit kekurangannya, yakni sudut kamera yang kurang luas.

Melesat di jalan tol Cipularang, kami berharap banyak dari mesin empat silinder 1.5 liter yang berada di balik kap depan. Dengan bantuan turbocharger, maka output mampu mencapai 154 hp dan torsi 230 Nm. Penyaluran tenaga melalui transmisi DCT 6-speed menuju roda depan juga tergolong halus. Membuat Jetour Dashing terasa nyaman pada putaran menengah dan konstan seperti di jalan tol.

Memasuki wilayah kota Bandung, via Lembang, kami merasakan ada hal yang sepatutnya bisa disempurnakan. Sebab pada putaran bawah, respons mesin cukup lambat dan terkadang muncul hentakan ketika turbo mulai beroperasi. Kami menduga komunikasi antara mesin dan transmisi, masih belum ‘akrab’…

Setidaknya perjalanan kami terasa berkesan, berkat adanya panoramic sunroof berukuran 75 inci, yang diklaim terbesar di kelasnya. Dashing dilengkapi fitur safety seperti enam buah airbag, cruise control dan ADAS dengan empat sistem. Cukup disayangkan, tidak ada fitur adaptive cruise control, yang berguna di perjalan jauh.

Dengan harga mulai Rp 400 jutaan, Jetour Dashing menjadi pilihan yang menarik dengan ‘value for money’ yang bagus, terutama dengan jumlah fitur yang didapat.

Hyundai Santa Fe Hybrid

Review: Hyundai All New Santa Fe Hybrid 2024

Setelah resmi diluncurkan bulan Oktober 2024 lalu, PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) mengajak sejumlah awak media untuk merasakan sensasi All New Santa Fe.

Acara media drive yang berlangsung pada 4-5 Desember 2024 ini memang telah kami nantikan. Pasalnya, lokasi yang akan dituju adalah kawasan pegunungan. Jelas sangat pas untuk mengulik tuntas kemampuan SUV terbaru dari Hyundai ini.

Rombongan awak media bertolak dari Jakarta menggunakan wahana kereta cepat Woosh menuju Stasiun Padalarang. Nah, dari sinilah perjalanan dimulai. Kami pun menjelajah area seputar Kawah Kamojang di Garut, Jawa Barat.

Performa Hybrid Tak Kalah Greget

All new Hyundai Santa Fe yang dipasarkan di Indonesia terdiri dari dua versi, bermesin bensin non-hybrid (ICE) dan mesin hybrid.

Masing-masing versi Santa Fe tersedia dalam dua varian, Prime dan Calligraphy.

Versi ICE dibekali mesin bensin 4-silinder Smartstream G2.5 GDi (Gasoline Direct Injection). Kinerja mesin kian sempurna dan efisien, berkat teknologi katup Continuously Variable Valve Duration (CVVD). Transmisinya automatic 8-speed yang dipadukan dengan sistem penggerak roda depan (FWD). Output tenaganya yang sebesar 300 hp dicapai pada 6.100 rpm. Sedangkan torsi puncak sebesar 421 Nm bermain di rentang 1.650-4.000 rpm. Sangat greget bukan?

Versi kedua yakni Santa Fe Hybrid dibekali mesin Smartstream G1.6T-GDi HEV. Mesin bensin empat silinder 1.598 cc turbochargerm menghasilkan tenaga maksimum sebesar 177 hp yang dicapai pada 5.500 rpm. Sedangkan torsi puncak sebesar 265 Nm bermain di rentang 1.500-4.500 rpm. Tak heran tarikannya cukup gesit dan responsif.

Modul hybrid HEV-nya memanfaatkan motor elektrik berdaya 44,2 kW (59 hp) dengan torsi 264 Nm yang bekerja mulai 1.700 rpm. Kombinasi mesin dan sistem hybrid menghasilkan tenaga 230 hp dengan torsi 367 Nm. Transmisinya automatic 6-speed dengan sistem penggerak roda depan (FWD). Nah, versi hybrid inilah yang kami kendarai.

Rute yang dilewati sangat beragam, mulai dari jalan tol hingga jalur pegunungan yang banyak tanjakan dan berkelok. Ini momen yang pas untuk membuktikan kemampuan Santa Fe Hybrid dalam menunjang beraneka aktivitas dan mobilitas penggunanya.

Fun To Drive

Mulai dari titik start di Stasiun Padalarang kami ambil rute via tol Purbaleunyi hingga keluar Cileunyi. Santa Fe Hybrid dilengkapi sejumlah opsi mode berkendara yang dapat dipilih pada Drive Mode yakni Eco, Sport, dan My Drive. Pilihan mode berkendara dapat menyesuaikan dengan kebutuhan pengendara serta kondisi jalan.

Meskipun di tol, tak ada salahnya mencoba mode berkendara ECO. Kecepatan berada di kisaran 100 km/jam sesuai rambu tol dan ritme laju konvoi. Tuas transmisi model putar pada Santa Fe tak beda dengan Kona, Ioniq 5 dan model Hyundai lainnya. Lebih mudah dan praktis dalam pengoperasiannya.

Sesuai labelnya yakni ECO, respon performa cenderung halus dan tak terlalu ngegas atau bermain di RPM tinggi. Konsumsi BBM di kisaran 20 km/liter pada mode ECO pun terbilang irit.

Sistem Hybridnya Beroperasi Secara Senyap

Memasuki kawasan Kamojang, jalan mulai menanjak dan menikung. Tentunya butuh tenaga dan torsi extra. Konsumsi BBM pun lebih banyak. Tak heran jika konsumsi BBM berada di kisaran 13 km/liter.

Berkat kurva tenaga dan torsi yang cukup memadai pada RPM relatif rendah, Santa Fe tak kehabisan nafas di tanjakan.

Berkendara makin menyenangkan berkat setting suspensi Santa Fe Hybrid yang mampu meredam gejala body roll saat bermanuver di jalan menanjak dan berkelok.

Sistem bantu berkendara terpadu Hyundai Smart Sense yang ada pada Santa Fe Hybrid Calligraphy pun sangat lengkap dan canggih.

Teknologi hybrid bisa kami katakan tak kalah canggih dibanding SUV hybrid lainnya. Sistem akan menentukan sendiri kapan harus beralih dari kinerja mesin bensin ke mode EV.

Perpindahan kinerja sistem hybridnya pun mulus dan senyap. Tanpa hentakan maupun suara meraung atau berdengung.

Oh ya, Santa Fe Hybrid juga dilengkapi sistem pengereman regeneratif yang akan mengubah energi pengereman menjadi daya listrik. Ketika melintasi jalan menurun yang cukup curam sekalipun, kemudi dan laju Santa Fe Hybrid bisa tetap terkendali dan tidak nyelonong.

Tentu saja ada tips dan trik yang harus dilakukan. Pada setir terdapat pengaturan sistem regeneratif. Saat level pengereman regeneratif ditingkatkan, laju kecepatan Santa Fe Hybrid akan berkurang lebih signifikan dan sistem rem bekerja lebih aktif. Hasilnya, respon kemudi lebih terprediksi dan mudah dikendalikan. Jadi tak perlu khawatir saat melintasi jalan menurun yang cukup curam.

Interior Nyaman dan Menyenangkan

Dengan postur yang tergolong besar, Santa Fe Hybrid sangat ideal sebagai kendaraan harian keluarga.

Kabinnya yang berkonfigurasi tiga baris bangku penumpang terbilang cukup lapang. Untuk varian Prime bisa mengangkut tujuh penumpang. Sedangkan varian Calligraphy dilengkapi bangku model Captain Seat dan bisa memuat enam penumpang.

Kemasan interior pada varian Calligraphy pun jauh lebih mewah dibanding Prime. Selain interiornya berlapis kulit, pada kaca bagian samping juga dilengkapi tirai.

Pada dashboard terpampang sepasang layar digital berjajar yang berfungsi sebagai panel instrumen dan penampil sistem multimedia. Masing-masing layar berukuran 12,3 inci.

Untuk kelengkapan fitur pada kabin pun cukup lengkap, canggih dan kekinian. Soket untuk pengisian daya ponsel tersedia pada setiap baris bangku. Jadi penumpang tak perlu saling berebutan. Pada konsol tengah di kabin depan terdapat dua unit charger nirkabel Qi Standard untuk smartphone.

Aspek kepraktisan pada kabin juga patut diacungi jempol. Di setiap sudut kabin terdapat cukup banyak kompartemen penyimpanan. Bahkan pada laci dashboard dilengkapi fungsi UV-C sterilization multi tray. Fitur yang satu ini tergolong mewah dan jarang ditemui.

Di Indonesia, Hyundai Santa Fe hadir dalam dua versi yakni hybrid dan non-hybrid (ICE). Masing-masing tersedia dalam varian Prime dan Calligraphy. Ingin tahu harganya?

Hyundai All New Santa Fe ICE
Prime: Rp 699 juta.
Calligraphy: Rp 784,5 juta.

Hyundai All New Santa Fe Turbo Hybrid
Prime: Rp 786,3 juta.
Calligraphy: Rp 869,6 juta.

Review: Haval Jolion Hybrid 2024

Gempuran kendaraan asal China yang masuk ke pasar otomotif Tanah Air memang terasa masif. Tidak hanya produk bermesin konvensional (Internal Combustion Engine atau ICE) saja, namun yang berteknologi hybrid maupun bermotor listrik juga saling berebut kue pasar. Great Wall Motors (GWM) merasa pasar Indonesia masih punya peluang untuk memasarkan beberapa produk mereka. Salah satunya ialah Haval Jolion, yang melangsungkan debutnya di Indonesia pada ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2024 silam. 

Desain eksterior Haval Jolion memiliki gaya yang dinamis, tapi masih ada aksen tegas di bodinya. Fascia mobil ini dengan grill yang unik, desainnya tergolong berbeda dengan mobil sekelasnya. Jadi, sebenarnya Haval Jolion pasti mudah dikenali dari bagian depannya. Apalagi desain lampu depannya juga punya desain futuristik.

Kontur tegas

Bodi sampingnya punya kontur yang tegas, disertai garis melengkung yang menampilkan kesan dinamis. Menuju ke buritan, lampu belakangnya punya desain yang spesial. Sayangnya, kami kurang ‘sreg’ dengan emblem GWM yang agak terlalu besar pada pintu bagasi. Di bagian bawah bumper belakang, ada aksen sporty yang punya beberapa diffuser. Velg 18 incinya dibalut dengan ban 225/55 R18.

Lanjut masuk ke interiornya, langsung saja disambut oleh bahan kulit sintetis yang membalut sekujur joknya. Desain kursinya memiliki kontur yang baik, namun perlu beberapa waktu untuk menyesuaikan posisi mengemudi yang tepat, supaya saat melakukan perjalanan tetap terasa nyaman.

Melihat ke bagian atap, terdapat panoramic roof yang membentang dari bagian depan sampai ke belakang. Di bagian depan, kursi pengemudi sudah memiliki pengaturan elektrik, sedangkan kursi penumpang depan masih model pengaturan manual. Haval Jolion punya layar sentuh multimedia 10,25 inci yang mendukung Apple CarPlay dan Android Auto. Sistem hiburan ini juga mendukung pengaturan dual zone AC. Selain itu, ada juga beberapa port USB untuk mengisi daya perangkat elektronik.

Rasa berkendara yang halus

Haval Jolion hadir dengan mesin bensin berkapasitas 1.5 liter dipadukan dengan motor listrik. Kombinasi ini menghasilkan output sebesar 187 hp dan torsi maksimal 375 Nm. Menariknya, ada penggunaan transmisi DHT (Dedicated Hybrid Transmission) yang memberikan rasa berkendara lebih halus.

Memang, untuk urusan pengereman perlu beradaptasi selama beberapa saat. Jika diinjak terlalu dalam, maka bakal mengejutkan. Tapi kalau pedalnya diinjak ‘menggantung’, seperti kurang menggigit. Meliuk di lalu-lintas padat atau di area parkiran yang kurang lapang, bukan masalah bagi SUV ini, sebab radius putarnya tergolong kecil.

Harga kompetitif

Haval Jolion sudah dilengkapi dengan fitur ADAS (Advanced Driver Assistance System). Mencakup berbagai teknologi seperti Adaptive Cruise Control, Lane Keeping Assist, dan Automatic Emergency Braking. Proses parkir mundur juga menjadi mudah, karena ada kamera belakang dan sensor parkir. Kapasitas bagasi tidak bisa dikatakan lapang, karena kapasitasnya ‘hanya’ 390 liter.

Terkait harganya, memang tergolong kompetitif. Ketika diluncurkan pertama kali, harganya dipatok Rp 448 jutaan. Namun, beberapa bulan kemudian malah turun jadi Rp 405 jutaan. Ternyata karena sudah dirakit secara lokal di Wanaherang, Jawa Barat. Apakah mobil ini layak dibeli? Jawabannya memang layak menjadi salah satu pilihan. Apalagi jika Anda sedang mencari SUV hybrid dengan fitur lengkap.