Dua Legenda Modifikasi Jepang Siap Hadir di IMX 2026

IMX 2026 bakal menjadi panggung istimewa bagi pencinta modifikasi Indonesia. Dua nama besar dari Jepang dipastikan hadir dalam gelaran tahun ini. Mereka adalah Hironao Yokomaku, pendiri VeilSide, dan Kei Miura, sosok di balik TRA Kyoto, Pandem, serta Rocket Bunny.

Keduanya memiliki karakter desain berbeda. Namun, pengaruh mereka terhadap kultur modifikasi dunia sama-sama sangat besar.

Ajang IMX 2026 akan mengusung tema “Next Gen Culture”. Acara ini akan segera digelar di Hall 1, 2, dan 3 ICE BSD pada 9–11 Oktober 2026 mendatang. Tentunya, kehadiran dua maestro ini menjadi kesempatan langka bagi builder, kolektor, dan penggemar otomotif Tanah Air.

Hironao Yokomaku, Otak di Balik VeilSide

Hironao Yokomaku mendirikan VeilSide pada tahun 1990 silam. Nama ini diambil dari permainan arti kata nama belakangnya (Yoko = Side, Maku = Veil)

Kecintaannya terhadap kecepatan menjadi fondasi perjalanan VeilSide. Pada era 1990-an, Yokomaku bahkan mencatat sejumlah rekor drag race dan top speed Jepang. Salah satu pencapaiannya adalah catatan 0–300 km/jam dalam 13,72 detik. Rekor tersebut diraih menggunakan R-1 StreetDrag R32 Skyline.

Namun, VeilSide tidak hanya berbicara mengenai performa. Yokomaku memperkenalkan konsep complete package dalam membangun sebuah mobil.

Menurut pendekatan tersebut, performa mesin harus seimbang dengan handling dan desain aerodinamika.

VeilSide Mendunia Lewat Fast & Furious

Nama VeilSide semakin dikenal setelah karya Yokomaku masuk industri film Hollywood. Beberapa mobil ikonik dalam franchise Fast & Furious menggunakan sentuhan VeilSide. Salah satunya Mazda RX-7 merah yang tampil dalam film pertama.

VeilSide juga menggarap Honda S2000 milik Suki di 2 Fast 2 Furious. Mazda RX-7 Fortune yang digunakan Han dalam Tokyo Drift bahkan menjadi salah satu karya paling dikenali.

Hingga kini, Yokomaku tetap aktif melahirkan proyek baru. Salah satunya adalah lini mobil mewah kustom PREMIER4509LIMITED.

Kei Miura Membawa Revolusi Widebody

Jika Yokomaku dikenal melalui VeilSide, Kei Miura punya pengaruh besar melalui TRA Kyoto. Miura mengembangkan bahasa desain widebody yang kemudian melahirkan nama besar Pandem dan Rocket Bunny.

Perjalanannya juga tidak biasa. Sebelum dikenal sebagai desainer, Miura pernah bekerja sebagai kontraktor di Tokyo Disneyland. Dari sana, ia mengenal teknologi CAD. Pengalaman tersebut kemudian dikombinasikan dengan pemindaian 3D laser dan mesin CNC multi-axis.

Tahun 2010 menjadi titik penting dalam kariernya. Nissan S13 hasil karyanya membawa inspirasi NASCAR era 1980-an ke dunia modifikasi jalanan.

Box fenders, overfender lebar, dan ducktail menjadi ciri yang kemudian melekat pada desainnya.

Dua Gaya, Satu Pengaruh Besar

Miura mengembangkan desain berdasarkan kultur otomotif Kyushu. Ia memadukan estetika retro dengan karakter motorsport seperti Time Attack dan Group B Rally.

Katalog TRA Kyoto kini juga semakin luas. Berbagai mobil Jepang, Eropa, muscle car, hingga kendaraan niaga telah mendapat sentuhannya. Di Indonesia, karya Pandem dan Rocket Bunny juga semakin populer. Toyota GR Yaris Pandem “Mad Taxi” menjadi salah satu contohnya.

Kini, dua sosok yang membentuk wajah modifikasi modern tersebut akan hadir di IMX 2026.

Bagi Andre Mulyadi selaku Project Director IMX, kehadiran Yokomaku dan Miura menjadi bukti meningkatnya perhatian dunia terhadap industri modifikasi Indonesia.

IMX 2026 akhirnya bukan hanya tempat memamerkan mobil modifikasi. Gelaran ini menjadi ruang bertemunya dua legenda dunia dengan komunitas otomotif Tanah Air.

 

Naoko Nishimoto Bersama Mazda RX-7, Sahabat Selama Seperempat Abad

Seringkali sebuah mobil berperan sebagai sahabat terdekat bagi pemiliknya. Hal ini tergambar jelas pada kehidupan seorang nenek yang kini berusia 80 tahun. Ia bernama Naoko Nishimoto, yang selama 25 tahun terakhir menggunakan Mazda RX-7 sebagai mobil kesayangannya.

Awal mula ia menyukai Mazda RX-7 dengan kode bodi FD3S ini, ketika sedang menonton film anime Initial D, bersama putranya di tahun 2000. Kebetulan ia juga sedang kebingungan dalam memilih mobil baru yang ingin dibeli. Naoko yang saat itu berusia 55 tahun, langsung saja pergi ke dealer Kyushu Mazda Akasako Store, di kota Nagasaki. Unit warna biru seperti pada halaman depan brosur Mazda RX-7, menggoda Naoko. Tapi pihak dealer menganjurkan warna silver, dan Naoko langsung menyetujui rekomendasi tersebut.

Bukan Garage Queen

Statusnya sebagai mobil kesayangan, bukan berarti hanya sebagai ‘Garage Queen’ saja. Namun, benar-benar digunakan di segala aktivitasnya. Mulai dari berbelanja ke pasar, mengunjungi teman, hingga menempuh perjalanan jauh lebih dari 100 kilometer. Selama seperempat abad, Naoko selalu merawat Mazda RX-7 ini secara telaten. Tidak pernah lalai ke bengkel resmi, dan tidak pernah lupa memoles bodinya dengan wax.

Hari demi hari, tahun demi tahun, Mazda RX-7 ini tidak pernah mengecewakan. Sampai satu momen di tahun 2022, Naoko berpikir bahwa ia tidak akan mungkin mengendarai mobil sport ini selamanya. Jika ia memaksakan kehendaknya untuk terus mengendarai mobil, terlalu besar risiko yang harus dihadapi. Tidak hanya bagi dirinya saja, tapi juga bagi pengendara lainnya.

Diberondong Lebih Dari 400 Email

Keputusan berat harus diambil, seiring momen ulang tahunnya yang ke-80 tahun di bulan Desember 2024 silam. Naoko melepas Surat Izin Mengemudi (SIM) miliknya, sekaligus ingin melepas Mazda RX-7 yang telah menjadi sahabatnya. Ia menerima lebih dari 400 email masuk, dari banyak orang yang ingin membeli mobilnya. Namun, hanya satu pihak yang membuat hati Naoko merasa ‘sreg’. Pihak tersebut ialah Mazda. Ya, Mazda. Produsen mobil kesayangannya itu.

Momen serah terima dilakukan di Kyushu Mazda Akasako Store. Selama bertahun-tahun, Naoko telah menjadi pelanggan setia dari tempat ini. “Berkat perawatan yang dilakukan oleh tempat ini, saya mampu mengendarai mobil saya selama 25 tahun,” ujarnya.

Tidak Akan Direstorasi

“Mobil ini menjadi sahabat saya, yang selalu ada untuk saya. Saya merasa sedih karena harus berpisah dengannya. Di saat yang sama, saya juga merasa iri, karena mobil ini terlihat semakin muda dan semakin cantik,” imbuh Naoko.

Seusai pindah tangan, mobil tersebut langsung diperiksa secara menyeluruh oleh Mazda. Namun, bukan untuk direstorasi ulang, agar kondisinya tetap orisinal. Jika Naoko melanjutkan kesehariannya sebagai ibu rumah tangga, maka si RX-7 menjadi ‘staf humas’ dari Mazda. Tugas utamanya untuk membagikan cerita mengenai hubungan erat tentang kenikmatan berkendara, sekaligus berinteraksi dengan banyak orang.

Cerita mengenai Naoko Nishimoto bersama Mazda RX-7 ini, tentu akan memberikan inspirasi kepada banyak orang di dunia, mengenai hubungan istimewa antara mobil dengan pemiliknya. Beruntung kami dapat berjumpa dengan Mazda RX-7 tersebut dalam gelaran Japan Mobility Show 2025.