Mercedes-Benz Ajak Geely Mengembangkan Platform “Phoenix”?

Sejumlah media berita lokal China antara lain Carnewschina, CnEVPost dan 36Kr memberitakan bahwa Mercedes-Benz saat ini tengah mengembangkan platform baru untuk kendaraan elektrifikasi dengan kode proyek “Phoenix”. Dikabarkan, platform ini akan menjadi basis rancang bangun untuk kendaraan elektrifikasi segmen entry level Mercedes-Benz yang akan dipasarkan secara global.

Beberapa model yang kemungkinan akan menggunakan platform baru tersebut antara lain generasi terbaru dari Mercedes-Benz GLA, GLB, hingga CLA-Class.

Jika berjalan sesuai rencana, platform Phoenix diperkirakan bakal mulai digunakan sekitar tahun 2030 untuk menggantikan arsitektur Mercedes Modular Architecture (MMA) yang saat ini dipakai Mercedes untuk mobil listrik kompak.

Phoenix Berbasis GEEA Dari Geely?

Satu hal yang menarik, platform Phoenix ini dikabarkan memanfaatkan platform GEEA (Geely Electronic & Electrical Architecture) 4.0 dari Geely. Sistem tersebut merupakan fondasi penting dalam mobil berteknologi elektrifikasi karena mengatur seluruh sistem kendaraan seperti software, konektivitas, hingga fitur bantuan mengemudi. Platform ini tak hanya digunakan pada mobil listrik, tapi juga pada mobil hybrid.

Arsitektur elektronik seperti GEEA saat ini memegang peranan penting sebagai “otak” dari kinerja sistem kendaraan elektrifikasi modern. Mulai dari fitur ADAS, cockpit digital, hingga integrasi software yang kian kompleks dikendalikan oleh arsitektur elektronik yang pintar. Sebagai produsen kendaraan elektrifikasi kelas dunia, Geely cukup berpengalaman dalam bidang ini.

Teknologi sebelumnya yakni arsitektur GEEA 3.0 sudah digunakan pada model seperti Geely Galaxy E5 sejak 2024. Platform ini bahkan digunakan pada lebih dari satu juta unit kendaraan elektrifikasi yang diproduksi Geely dan sub-brand yang dinaunginya.

Tak dapat dipungkiri jika pabrikan otomotif China memiliki kemampuan produksi yang besar namun biaya produksinya efisien. Jadi jangan heran jika harga jual mobil listrik buatan China sangat kompetitif dan sulit dilawan oleh brand asal Jepang maupun Korea Selatan yang jadi rival terkuat. Tesla dari AS dan sejumlah brand Eropa termasuk Mercedes-Benz pun kewalahan menahan gempuran mobil listrik dan mobil hybrid Made In RRC di pasar global maupun di pasar domestik China.

Penggunaan teknologi rancang bangun dari Geely mungkin menjadi langkah strategis yang dilakukan Mercedes-Benz untuk dapat menekan biaya produksi mobil listrik secara signifikan.

Sejumlah pabrikan besar sejak beberapa tahun terakhir sudah mulai mengandalkan teknologi platform dari China. Mulai dari Volkswagen yang bekerja sama dengan Xpeng, kemudian Stellantis yang bermitra dengan Leapmotor. Mercedes-Benz nampaknya mengikuti jejak Renault yang telah lebih dulu berkolaborasi dengan Geely.

Mercedes-Benz China R&D Center di Beijing, China dikabarkan menjadi pusat riset dan pengembangan platform Phoenix berikut desain mobil compact yang akan diproduksi nantinya. Di tempat ini terdapat 2.000 tenaga ahli yang akan menggarap proyek tersebut.

Jika hal tersebut benar terjadi, maka untuk pertamakalinya Mercedes-Benz melakukan pengembangan teknologi rancang bangun kendaraan di luar Jerman dalam 130 tahun perjalanan sejarahnya.

Sanggahan Mercedes-Benz

Terkait kabar yang beredar, pihak Mercedes menyanggah informasi yang diberitakan oleh 36Kr. Juru bicara dari kantor pusat di Sindelfingen, Jerman bahkan mengklarifikasi kepada CnEVPost bahwa kabar yang kini beredar perihal platform Phoenix akan digunakan pada tahun 2030 adalah rumor yang dibuat-buat dan tidak benar.

Di bawah kepemimpinan CEO Ola Källenius, Mercedes-Benz telah merombak rancang bangun segmen ‘Entry Level’ menggunakan platform Mercedes Modular Architecture (MMA). Platform ini mulai digunakan pada model new CLA, CLA Shooting Brake, dan new GLB. Selurunnya menggunakan tenaga baterai. Untuk model bermesin bensin mild hybrid 48-volt akan menyusul dalam waktu dekat. Generasi baru pengganti GLA juga akan menggunakan platform MMA.

Keempat model ‘Entry Level’ inilah yang akan beredar di pasaran global hingga beberapa tahun mendatang, menggantikan model A-Class dan B-Class yang dipensiun.

Platform MMA mulai digunakan model CLA versi EV pada versi tahun 2025, sehingga masih terbilang sangat baru. Dengan basis platform MMA berarsitektur pengisian daya 800 volt, CLA bisa menempuh jarak hingga 792 km. Selain itu, sistem operasi MB.OS terbaru yang digunakan telah dilengkapi dengan teknologi software dari Nvidia.

Jadi, agak kurang logis jika Mercedes-Benz pada tahun 2030 akan mengganti platfrom MMA yang pada saat itu baru berjalan 5 tahun. Bahkan jika alasannya efisiensi biaya produksi. Mana fakta yang benar seputar proyek “Phoenix” tersebut?

Mercedes-Benz S-Class

EQS Selesai, Halo Mercedes-Benz S-Class EV!

Mercedes-Benz S-Class generasi mendatang akan hadir dalam format penggerak mesin konvensional dan full EV. Ini artinya, pabrikan Jerman tersebut tidak akan mengeluarkan EQS baru.

EQS, seperti diketahui, merupakan model tertinggi di jajaran mobil listrik buatan mereka. Namun seperti dikutip dari Autocar Inggris, Mercedes-Benz memutuskan untuk menggabungkan EQS ke keluarga S-Class. Ini merupakan pembalikan keputusan yang sebelumnya mengatakan S-Class akan digantikan oleh EQS gen.2 di akhir dekade ini.

Mercedes-Benz EQS Gen 1

Hal tersebut juga diamini oleh Ola Kallenius, CEO Mercedes-Benz yang mengatakan, “Akan ada dua varian S-Class, yaitu ICE dan elektrik.” Ola juga menyebutkan, keduanya akan punya bentuk eksterior dan interior yang serupa.

Soal kesamaan bentuk versi ICE dan EV ini bukan hal baru. Kalau Anda ingat, hal serupa dilakukan Mercedes-Benz untuk G-Class konvensional dan listrik.

Pakai Platform Mana?

Mercedes-Benz S-Class terbaru.

Nah, dari sisi desain boleh saja sama. Tapi hampir bisa dipastikan kalau platform yang dipakai akan berbeda. Laporannya agak simpang siur soal platform. Satu-satunya basis untuk mobil listrik besar, MB.EA Large yang disiapkan, sudah diputus tidak akan diteruskan pengembangannya. Platform ini yang tadinya dipoles untuk EQS generasi berikut.

Platform MB.EA ini tadinya ada dua, satu Large untuk mobil-mobil mewah, satunya lagi adalah MB.EA Medium yang jadi basis EQE. Tapi belakangan beredar kabar, karena Medium sepertinya kurang cocok, Mercedes-Benz dikabarkan mendorong pengembangan platform EVA2, yang digunakan oleh EQS dan EQE saat ini.

Salah satu yang diterapkan adalah arsitektur kelistrikan 800V, menggantikan 400V yang ada.

Nah, apapun keputusannya, diperkirakan, generasi kedelapan Mercedes-Benz S-Class akan hadir mulai 2030 mendatang.

Mercedes-Benz EQE SUV Meluncur, Siap Diajak Off-road?

Hari ini Inchcape Indomobil Distribution Indonesia meluncurkan The New All-Electric Mercedes-Benz EQE SUV terbaru di Jakarta. Peluncuran ini sekaligus melengkapi keseluruhan seri EQ Mercedes-Benz dan juga simbol peningkatan gaya hidup sebuah mobil listrik Mercedes-Benz.

“Seri EQ Mercedes-Benz dan EQE SUV adalah bentuk dedikasi kami yang tak tergoyahkan terhadap mobilitas listrik, menghadirkan pengalaman berkendara yang menyenangkan sekaligus ramah lingkungan,” ujar Roelof Lamberts, CEO PT Inchcape Indomobil Distribution Indonesia yang menaungi Mercedes-Benz di Indonesia.

Performa Tangguh

Desain luarnya dikerjakan oleh desainer eksterior Mayya Markova. Terllihat dinamis dengan minimnya lekukan tegas. 

EQE SUV mengusung motor istrik dengan daya baterai 90 kWh yang dapat melakukan perjalanan nonstop dari Jakarta-Yogyakarta.

Yang menarik, penggerak 4MATIC All-Wheel Drive ini juga dielngkapi sistem kemudi yang bisa membelokkan poros roda belakang hingga 10 derajat. Sangat berguna untuk parkir atau putar balik. 

Kenyamanan mewah

karena ini Mercedes-Benz, interiornya terlihat mewah dan solid. Sekaligus high-tech. Suasana kabin dengan 64 pilihan warna ambient light, jok kulit Nappa dan 15 speaker berkapasitas 3D surround sound system dari Burmester.

Oya, tak ketinggalan hadirnya panoramic sunroof tentu makin menambah suasana segar dalam kabin.

EQE SUV juga dilengkapi dengan teknologi keselamatan seperti digital light headlamps, PRE-SAFE System, PRE-SAFE Impulse sensor untuk penumpang, dengan tujuh lokasi airbag termasuk di bagian lutut dan jendela.

Garansi Menempel

EQE SUV dilengkapi dengan StarService 5 tahun layanan ini mencakup pemeliharaan kendaraan gratis selama lima tahun. Ditambah garansi resmi Mercedes-Benz selama tiga tahun tanpa batasan jarak tempuh.

Kemudian ada layanan StarTire selama dua tahun yang meliputi penggantian ban rusak selama 24 bulan pertama. Nah, yang terakhir adalah 10 tahun garansi baterai mobil listrik Tegangan Tinggi (HV). 

Garansi ini mencakup perbaikan atau penggantian baterai HV hingga total 10 tahun sejak pengiriman hingga jarak maksimum 250.000 km.

EQE SUV dipasarkan dengan harga Rp 2.850.000.000 off-the-Road, dan dijual di dealer resmi Mercedes-Benz seluruh Indonesia mulai hari ini.

 

EQA 250

Mercedes-Benz Akui, Target EV Mereka Terlalu Tinggi

Mercedes-Benz mengakui, mereka terlalu bersemangat dalam proses transisi kendaraan elektrifikasi (xEV). Target mereka, PHEV dan EV akan mendominasi hingga 50 persen penjualan mobil Mercedes-Benz di 2025. Tapi ternyata tidak.

Pabrikan mobil mewah ini memundurkan target 50 persen itu, ke tahun 2023. Atau lima tahun lebih lambat dari sebelumnya. Meskipun begitu, hampir semua kalangan, termasuk kami, tidak terlalu terkejut dengan pengumuman tersebut.

Tahun 2023 lalu, penjualan PHEV dan EV Mercedes-Benz hanya naik 20,5 persen dibanding 2022. Atau setara 401.943 unit di seluruh dunia. Kalau didetailkan lagi, penjualan PHEV justru turun 12,5 persen menjadi 161.275 unit. Yang mendorong kenaikan justru penjualan mobil listrik murni yang terkatrol sebsear 61,3 persen. Setara 240.688 unit.

Mercedes-Benz EV target

EV dan PHEV tersebut mencakup 19,7 persen dari total penjualan produk Mercedes-Benz. Naik 3,4 persen dari tahun sebelumnya. Tahun ini, mencoba realistis, mereka hanya mentargetkan mobil elektrifikasi akan meraih 19 hingga 21 persen dari total penjualan. Masih jauh dari 50 persen, kan?

Ke depannya, mereka menaruh harapan pada platform MMA. Ini adalah platform mobil listrik yang bisa digunakan untuk mobil konvensional. Bukan untuk konvensional tapi dipakai EV. MMA akan dipakai pada EV mobil entry level seperti GLA, GLB, CLA, CLA Shooting Brake. Ditambah mobil baru yang masih dijuluki ‘Baby G’. Versi lebih kecil dari G-Class.

Diklaim, platform ini memungkinkan produk EV murni Mercedes-Benz menempuh hingga 750 km. Aristektur kelistrikannya memiliki kemampuan menerima kecepatan pengisian ulang hingga 300 kW.

Tahun ini juga menandai akan dimulainya penjualan mobil komersial Mercedes-Benz eSprinter. Diharapkan, mobil ini bisa menyumbang 6 hingga 8 persen untuk penjualan xEV.

Sumber: Mercedes-Benz

Mercedes-benz EQS

Mercedes-Benz Akan Perkenalkan EQS di Indonesia?

Itulah kabar yang kami terima dari salah satu sumber terpercaya. Mercedes-Benz EQS diperkirakan akan segera hadir di Indonesia bulan depan. Meski waktu tepatnya belum terkuak. Ini menarik karena di kelas mobil premium, Mercedes-Benz mendahului BMW i7 di pasar tanah air.

Selain itu, Mercedes-Benz EQS memang mobil yang sangat menarik. Mercedes-Benz menghabiskan banyak uang untuk riset dan pengembangan sedan/hatchback/coupe ini. EQS adalah mobil pertama pabrikan Jerman itu, yang berdiri diatas basis yang memang dibuat untuk mobil listrik. Namanya platform MEA. Bukan seperti EQB, EQV dan lainnya yang memakai platform yang ada kemudian dimodifikasi dan dijejali baterai.

Jadi, sah kalau dibilang EQS adalah mobil sedan EV dengan kemampuan setara S-Class. Bukan S-Class yang dijadikan EV. Desainnya futuristik, meski kami kurang yakin dengan lengkungan atap di belakang. Ruang kepala di bagian itu bisa jadi pertanyaan. Namun dengan wheelbase 3.210 mm dan panjang body 5.265 mm, hampir bisa dipastikan ruang kakinya lega.

Menurut review beberapa media luar, hampir semua sepakat kalau mobil ini menjanjikan. Interiornya dirancang untuk mengakomodir perjalanan jarak jauh. Mewah dengan beragam gimmick yang tersedia seperti layar super lebar (Hyperscreen) di dashboard untuk penumpang dan pengemudi, ambient light yang cerdas serta tentunya kualitas material ala S-Class.

Mercedes-Benz EQS di pasar global tersedia dalam beberapa varian. EQS 350, 450, 450+, 500, 580 dan tertiniggi EQS 53 AMG 4MATIC). Akan masuk semua? Mungkin. jarak tempuhnya juga beragam tergantung varian. Paling pendek 638 km. Terjauh 785 km.

Tapi kami belum mengetahui apakah yang akan dijual nanti berpenggerak dua roda belakang (RWD) atau All-Wheel Drive. Karena dua opsi ini tersedia di pasar luar negeri. Kami akan memberitakan lebih lanjut soal Mercedes-Benz EQS yang akan hadir di Indonesia. Tunggu saja.