Sang Maestro Desain Marcello Gandini Berpulang di Usia 85 Tahun

Dalam perjalanan sejarah otomotif dunia, Marcello Gandini selalu diingat sebagai perancang mobil yang ikonik. Pria kelahiran kota Turin, Italia, ini menjadi salah satu desainer mobil yang mampu menginspirasi banyak hal. Sang maestro desain ini menghembuskan nafas terakhirnya pada 13 Maret 2024, di usia 85 tahun.

Marcello Gandini yang lahir pada 26 Agustus 1938, meraih puncak karirnya saat bekerja di studio milik Nuccio Bertone. Di studio tersebut, namanya menjadi terkenal berkat goresan tangannya dalam mendesain sosok sejumlah Lamborghini. Mulai dari Miura, Countach, hingga Diablo.

Selalu berinovasi

Dirinya pertama kali memperkenalkan ide mengenai pintu gunting (scissor door), pada mobil konsep Alfa Romeo Carabo di tahun 1968. Beberapa tahun sebelum akhirnya diterapkan pada Lamborghini Countach, lalu dilanjutkan pada Diablo. Pintu gunting ini lalu menjadi ciri khas dari beberapa model supercar Lamborghini.

“Saya membangun identitas sebagai seorang desainer, terutama saat menggarap supercar Lamborghini. Setiap model yang saya rancang, harus berupa inovasi baru, dan harus berbeda dengan apa yang telah sebelumnya,” ujarnya di tahun 2021 silam.

Tak melulu mobil Italia

Meski namanya seolah lekat dengan brand berlogo ‘banteng mengamuk’ itu, Marcello Gandini juga sibuk merancang sejumlah mobil Italia ngetop lainnya. Sebut saja Ferrari Dino 308 GT4, Fiat X1/9, Lancia Stratos, Maserati Quattroporte II dan IV, Maserati Shamal/Ghibli II, serta Alfa Romeo Montreal.

Talentanya tidak selalu tertuang pada mobil Italia saja. Sebab masih ada sederet mobil Eropa lain yang lahir berkat goresan pena Marcello Gandini. Mulai dari Volkswagen Polo generasi pertama, Renault 5 Turbo, Citroën BX, Bugatti EB110 concept, dan tak lupa BMW Seri 5 generasi pertama (E12).

Pernah merancang bodi helikopter

“Ayah saya seorang konduktor orkestra dan menginginkan saya menjadi seorang pianis. Namun, saya akhirnya memilih jalan hidup yang ingin saya lalui sendiri,” ungkapnya.

Sosoknya yang berani dan memiliki kemampuan untuk mendesain sesuatu yang baru, tanpa harus melihat kesuksesan mobil pendahulu, menjadi karakter keras yang dipegang teguh selama hidupnya.

Marcello Gandini tak hanya merancang mobil saja, karena ia sempat mendesain sejumlah properti rumah, interior nightclub, furnitur industrial, sampai bodi helikopter Heli-Sport CH-7.

Lamborghini Miura P400 SV

Lamborghini Miura, Didesain Oleh Bocah Jadi Supercar Pertama

Lamborgini Miura adalah cerita nyata bagaimana kebebasan berkreasi menghasilkan sebuah kesuksesan.

Pasti penyuka mobil paham, Lamborghini Miura adalah mobil dengan desain indah, yang didaulat sebagai mobil pertama yang bertitel supercar. Tidak salah, memang. Namun yang lebih penting dari itu adalah, Miura lahir dari tangan para jenius yang, pada saat mengerjakan proyek ini umurnya tidak ada yang lebih dari 29 tahun!

Ditambah lagi dengan Ferruccio Lamborghini yang seolah lepas lepas tangan dan hanya memberikan instruksi spesifik di awal. Lamborghini Miura adalah kreasi yang memadukan imajinasi, waktu dan yang paling penting, kebebasan.

Diawali Engineer Bajakan

Empat engineer dan desainer yang ditunjuk oleh Lamborghini adalah anak kemarin sore yang punya pengetahuan teknis dan desain jempolan. Mereka beruntung karena Lambo sangat memberi kebebasan untuk menghasilkan mobil. Sebetulnya ada lima, tapi satu dipecat. 

Terinspirasi oleh Ford GT dan pertarungannya di balap ketahanan Le Mans bersama Ferrari, Ferruccio Lamborghini merasa perlu punya produk macam itu. Masalahnya, mobil tersebut akan bertolak belakang dengan filosofi mobil yang (pada waktu itu) fokus pada kemampuan untuk punya tenaga besar dan nyaman dibawa jarak jauh dan tahan banting. Istilahnya, mobil Grand Touring (GT). Jadi, keinginan seadanya untuk bikin mobil macam Ford GT dipendam dulu. Tapi produk baru harus ada.

Ferruccio mulai dari mesin. Harus V12 dan bertenaga besar. Daripada pusing cari engineer jagoan, ia bajak Giotto Bizzarrini dari Ferrari. Bizzarrini adalah orang yang bertanggung jawab membuat penggerak mobil legendaris macam Ferrari 250 GTO. Iming-imingnya tidak tanggung. Giotto akan dapat bonus besar kalau mesinnya bisa punya tenaga lebih besar dari mesin Ferrari.

Itu instruksi spesifik Lamborghini untuknya. Merasa diberi kebebasan, Bizzarrini keluar dengan mesin V12 kapasitas 3,5 liter. Teknologi barunya adalah quadcam (empat camshaft) dan menghasilkan 358 hp. Pada 9.800 RPM! Putaran mesin setinggi itu ranahnya mobil pacuan. Lamborghini tidak suka. Ingat, Lamborghini adalah pembuat mobil GT, bukan mobil balap. Bizzarrini diberhentikan.

Kiprah Insinyur Muda

Lantas, ia memerintahkan dua insinyur muda bernama Paolo Stanzani (29 tahun) dan Giampaolo Dallara (29 tahun) untuk merekayasa ulang mesin V12 itu untuk mobil turing. Selesai, kemudian dipasang pada 350 GT. Sayang, mobil kencang dan nyaman ini tidak berhasil di pasaran. Penerusnya, 400 GT juga senasib.

Sementara itu, Stanzani dan Dallara yang gatal untuk membuat mobil kencang mulai berangan-angan. Bersama insinyur muda lainnya, Bob Wallace yang berusia 27 tahun yang dipekerjakan sebagai engineer sekaligus Chief Test Driver untuk memastikan kualitas produk Lambo. Mereka kemudian coba mengutarakan ide untuk bikin mobil balap kepada bosnya. Di luar dugaan, Ferruccio tidak menolak, tapi juga tidak mau ikut campur dalam proses desainnya. Dan ini harus dikerjakan sebagai proyek sampingan. Bagaimanapun, Ia menyadari ketiga insinyur ‘bau kencur’ ini punya talenta dan minat yang luar biasa.

Chassis Bolong

Wallace, Stanzani dan Dallara kemudian berjalan dengan proyek sampingan ini. Inspirasinya seperti disebutkan, datang dari Ford GT40 dengan posisi mesin di tengah. Dallara yang punya gelar aeronautical engineering, keluar dengan chassis berukuran compact, bolong-bolong untuk menghemat bobot. Berat chassis ini hanya 70 kg! Persis seperti yang digunakan untuk rangka pesawat.

Mesin V12 diatas harus dibawa. Potensinya besar untuk jadi jantung mobil ‘balap’ mereka. Problem pertama yang mereka temui adalah, mesin ini ukurannya masif. Dengan panjang 1.092 mm, tidak bisa masuk di sasis Dallara kecil. Bertiga kemudian keluar dengan ide, “Ya sudah, putar saja mesinnya.” Dari posisi membujur, jadi melintang. Dan muat. Meskipun benar-benar mepet dengan chassis Dallara.

Hasilnya adalah rolling chassis (chassis yang sudah dipasangi mesin dan sistem penggerak, termasuk roda) tanpa body yang terlihat menakjubkan. Mereka pamerkan di Turin Auto Show 1965. Ferruccio tetap bersikap masa bodoh. “Ok, lah. Benda ini bisa jadi alat marketing agar Lamborghini bisa menjual mobil-mobil GT,” mungkin begitu pikirannya saat melihat pertama kali. Dan Ferrucio benar. Ada sepuluh order masuk. Masalahnya bukan untuk mobil GT yang sudah ada. Tapi untuk chassis yang belum berbentuk mobil itu.

Kreasi Desainer Kemarin Sore

Terpaksa ia bergerak cepat. Masih di Turin Auto Show yang sama, ia mencari coach builder (perusahaan karoseri), dan yang ‘nyangkut’ Bertone. Desainer muda bernama Marcello Gandini ditugaskan untuk mengakomodir keinginan Lamborghini. Yang menarik, Gandini adalah anak kemarin sore. Turin Auto Show itu adalah hari kedua Gandini bekerja di Bertone. Umurnya baru 27 tahun. Dua hari setelah ditugaskan, ia sudah keluar dengan sketsa. Gila.

Sesi desain berjalan singkat saja. Dalam satu bulan, sudah ada prototype yang bisa jalan. Coba tanya Toyota, berapa lama mereka mendesain mobil sekarang sampai pada masa prototype begitu. Seminggu kemudian, prototype bernama Miura P400 ini ditampilkan di booth Bertone di Geneva Auto Show. Dan di tempat itu juga Ferruccio Lamborghini pertama kali melihat mobilnya. Ini perusahaan apa, sih? Yang order baru lihat setelah mobilnya tampil ke publik.

Masih pesimis, pengusaha traktor ini berpikir, “Paling 10 sampai 20 unit setahun bisa terjual.” Tapi seperti sebelumnya, pesanannya banjir. 30 unit dipesan langsung hanya di Geneva! Sampai akhir tahun itu, 75 SPK diterima. Hasil yang luar biasa untuk sebuah mobil yang didesain oleh anak-anak. Belum sempurna pula.

Anak-anak itu bekerja siang malam menyempurnakan kreasi mereka agar siap untuk masuk lini produksi. Baru setahun kemudian Lamborghini bisa delivery Miura ke konsumennya. Setelah itu, semua seperti tidak tertahankan. Meski ada saja kekurangannya, seperti gampang terbakar, tapi mereka sukses meraih hati penggemar otomotif dunia. Berbagai versi digelontorkan. Miura dengan mesin V12, chassis bolong-bolong dan desain indah dari Gandini jadi tolok ukur mobil kencang. Gelar supercar pun disematkan.

Foto: Car Revs Daily