Honda e:N1

Honda, Isuzu, Toyota, Mitsubishi Investasi Besar di Thailand

15 Desember lalu, Honda mengumumkan mereka telah sukses melakukan perakitan mobil listrik Honda e:N1 di Thailand.  Isuzu siap menghadirkan pickup elektrik tahun 2025 nanti. Toyota sudah siap uji coba mobil komersial listrik, yang kami perkirakan bentuknya macam Hilux Champ/Rangga. Tapi itu hanya secuil kabar.

Berita besarnya adalah, empat pabrikan otomotif Jepang itu melakukan penanaman modal besar-besaran di Thailand. Total 150 milyar Baht (setara Rp 66,9 trilyun) akan mengucur dalam jangka waktu lima tahun ke depan. Ini diungkap resmi oleh pemerintah Thailand, melalui Chai Watcharong, juru bicara perdana menteri.

Menurut Chai, perdana menteri Thailand Settha Thavisin telah melakukan diskusi dengan tujuh pabrikan Jepang, saat berlangsungnya peringatan 50 tahun kerjasama Thailand-Jepang pada 14-18 Desember lalu. Dalam diskusi tersebut tujuh pabrikan berkomitmen untuk menjadikan Thailand sbeagai pusat produksi mereka.

Sementara itu, empat diantaranya berjanji akan memperluas produksi EV di negara itu. Investasi Toyota dan Honda masing-masing sebesar 50 milyar baht, Isuzu yang menguasai setengah pasar pikap di negara itu mengucurkan 30 milyar baht dan Mitsubishi menanamkan 20 milyar Baht.

“Perdana Menteri menegaskan kembali bahwa produsen mobil Jepang telah memainkan peran penting dalam pengembangan dan promosi industri kendaraan listrik di Thailand untuk menjadi pemimpin dalam produksi kendaraan listrik di kawasan ASEAN,” kata Chai Watcharong.

Investasi Toyota cs di segmen EV ini akan memuluskan jalan menuju target 750.000 kendaraan listrik di Thailand pada 2030 yang akan datang. Di Indonesia, target produksi mobil listrik adalah 600.000 unit di tahun yang sama, mulai 2024. Tentunya, di Indonesia ada syarat harus memenuhi TKDN 40 persen. Ketentuan itu harus dipenuhi oleh produsen kalau mau mendapatkan insentif pajak.

Sumber: Thaigov.go.th

Ekspor TMMIN

Tiga Negara Yang Punya Investasi Besar di Sektor Otomotif Indonesia

Indonesia masih dipandang ‘seksi’ untuk sektor otomotif. Dan hal itu memicu gelontoran dana investasi otomotif Indonesia dari berbagai negara yang merasa mampu berkiprah di pasar kendaraan bermotor di negara ini. Gaikindo mencatat, tahun ini (Januari-September 2023) tiga besar investor berasal dari negara-negara Asia.

Dikutip dari situs Gaikindo, Jepang masih tetap yang paling besar di tahun 2023 ini, dengan nilai investasi yang terealisasi sebesar US $804,35 juta. Posisi kedua ditempati oleh Korea Selatan dengan US $73,05 juta. Dan ketiga, ada Singapura dengan nilai investasi US $32,04 juta. Lalu, di mana posisi China?

Secara mengejutkan, dengan segala gebrakan produk yang ada, ternyata realisasi investasi Tiongkok baru US $3,4 juta, atau setara Rp 54,3 milyar tahun ini. Meski begitu, angka tersebut adalah sebuah kenaikan yang signifikan dibanding periode sama di tahun sebelumnya. Waktu itu, mereka ‘hanya’ menggelontorkan US $1,54 juta.

Wuling Air ev

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, realisasi investasi total otomotif di Indonesia mencapai Rp 47,14 trilyun dari Januari hingga September 2023. Persentase kenaikannya menyentuh 80,98 persen dibanding tahun lalu, periode yang sama. Di dalamnya, termasuk penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp 15,62 trilyun.

Menurut Jongkie Sugiarto, Ketua Umum 1 Gaikindo, pihaknya menyambut baik investasi dari mana saja. Termasuk dari pabrikan China. Menurut mantan petinggi Hyundai Indonesia itu, yang diuntungkan adalah konsumen karena pilihan jadi makin beragam.

Daftar Panjang CKD

Tidak kalah menarik adalah, tahun depan sepertinya mobil Tiongkok yang dirakit di Indonesia akan makin banyak. Paling dekat, Great Wall Motor (GWM) yang beroperasi di Indonesia di bawah bendera Inchcape dan Indomobil. Pabrik mereka akan operasional di kuartal pertama 2024. Tidak hanya itu, Mercedes-Benz juga akan dirakit di pabrik yang sama. Wajar, karena pabrikan Jerman ini di Indonesia, berada di bawah payung usaha yang sama dengan GWM. Untuk pertama kalinya di dunia, GWM dan Mercedes-Benz bekerja sama.

Showroom Neta di Shanghai

Kemudian pabrikan Neta juga akan melakukan assembly mobilnya di Pondok Ungu, Bekasi. Bekerja sama dengan PT Handal Motor Indonesia (HMI), yang dulu pernah merakit Hyundai. Kemungkinan besar akan operasional mulai kuartal kedua 2024. Tidak tanggung, target mereka memproduksi 10.000 unit kendaraan.

Yang akan dirakit adalah Neta V untuk tahap pertama. Kemudian, sepenelusuran kami di markas mereka di Shanghai beberapa waktu lalu, kemungkinan besar SUV listrik Neta X akan dibuat di Indonesia. Namun masalahnya, versi setir kanan Neta X masih dalam pengembangan.

Sumber: Gaikindo