Test Drive Leapmotor B10: Harga 500 Jutaan dengan Rasa Eropa

Persaingan SUV listrik di Indonesia akan semakin panas dengan kehadiran Leapmotor B10. Menjelang peluncuran resminya di GIIAS 2026, kami berkesempatan menjajal langsung SUV listrik terbaru ini dalam perjalanan dari Jakarta menuju Bandung.

Selama beberapa tahun terakhir, sebagian konsumen masih mempertanyakan kualitas mobil listrik asal China. Keluhan yang sering muncul mulai dari sistem infotainment yang lambat, kualitas material interior yang kurang memuaskan, hingga suara motor listrik yang masih terdengar masuk ke dalam kabin.

Namun pengalaman tersebut justru berbeda saat kami mencoba Leapmotor B10. SUV listrik ini menawarkan kesan premium yang bahkan terasa mendekati karakter mobil Eropa.

Interior Premium dengan Teknologi Modern

Begitu memasuki kabin, nuansa modern langsung terasa. Dashboard dirancang minimalis tanpa ornamen berlebihan sehingga tampil elegan dan mudah dipahami.

Perhatian langsung tertuju pada layar sentuh horizontal berukuran 14,6 inci yang menggunakan prosesor Qualcomm Snapdragon 8155 dan sistem operasi Leap OS 4.0. Seluruh menu berjalan sangat responsif, perpindahan antarmuka berlangsung mulus layaknya menggunakan smartphone kelas premium.

Fitur kamera 360 derajat juga menjadi salah satu nilai jual utama. Resolusi gambar sangat tajam dengan pilihan tampilan panorama dan bird view yang memudahkan saat parkir maupun bermanuver di area sempit.

Leapmotor turut menyediakan dua wireless charging pad di konsol tengah sehingga pengemudi dan penumpang dapat mengisi daya smartphone secara bersamaan.

Kualitas material interior juga patut diapresiasi. Permukaannya terasa lembut dengan finishing yang rapi. Seluruh material bahkan telah memenuhi standar Oeko-Tex Standard 100 sehingga minim kandungan zat kimia berbahaya dan aman bagi keluarga, termasuk anak-anak.

Menariknya lagi, kabin tidak mengeluarkan aroma menyengat seperti mobil baru pada umumnya karena penggunaan perekat berbasis air.

Struktur Canggih, Handling Lebih Stabil

Keunggulan utama Leapmotor B10 sebenarnya berada pada teknologi Cell-to-Chassis (CTC) 2.0. Berbeda dengan konstruksi mobil listrik konvensional, paket baterai menjadi bagian dari struktur bodi sehingga menghasilkan pusat gravitasi lebih rendah dan ruang kabin lebih lega.

Teknologi tersebut juga meningkatkan kekakuan struktur kendaraan. Leapmotor mengklaim rigiditas torsional mencapai 36.300 Nm/derajat, angka yang biasa ditemui pada SUV premium dengan harga jauh lebih tinggi.

Saat melintasi Tol Cipularang, karakter handling terasa stabil. Suspensi yang dikembangkan bersama tim engineering Maserati di Balocco, Italia, mampu meredam permukaan jalan beton dengan baik tanpa mengorbankan kenyamanan.

Respon kemudi juga terasa presisi, sementara kabin tetap senyap bahkan saat kendaraan melaju pada kecepatan tinggi. Dengung motor listrik hampir tidak terdengar sehingga kualitas NVH (Noise, Vibration, Harshness) menjadi salah satu keunggulan yang paling terasa selama pengujian.

Dirakit di Indonesia, Siap Bersaing di Segmen SUV Listrik

Leapmotor B10 juga telah dirakit secara lokal di fasilitas PT National Assembler (Indomobil Group) di Purwakarta, Jawa Barat, dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 40 persen.

Fasilitas produksi tersebut memiliki kapasitas sekitar 800 unit per bulan sehingga diharapkan mampu memenuhi permintaan pasar tanpa waktu inden yang panjang.

Meski harga resminya belum diumumkan, Leapmotor Indonesia memberi sinyal bahwa B10 akan dipasarkan di kisaran Rp500 jutaan. Dengan spesifikasi tersebut, SUV listrik ini diprediksi akan bersaing langsung dengan BYD Atto 3, Geely EX5, MG S5 EV, hingga Aion V.

Jika seluruh spesifikasi dan kualitas berkendara yang kami rasakan dipertahankan hingga peluncuran resmi di GIIAS 2026, Leapmotor B10 berpotensi menjadi salah satu penantang paling serius di segmen SUV listrik menengah Indonesia.

Leapmotor Siap Boyong Teknologi Cell-to-Chassis ke Indonesia

Produsen kendaraan listrik global Leapmotor telah menandatangani  perjanjian kerjasama dengan PT Indomobil National Distributor (IND).

Meskipun belum diumumkan kapan peluncuran resminya, namun Leapmotor akan segera hadir di Indonesia tahun ini. Lantas, apa yang jadi pembeda Leapmotor dari brand lainnya?

Teknologi Cell-to-Chassis

Yang menjadi daya tarik pada produk buatan Leapmotor adalah inovasi arsitektur baterai Cell-to-Chassis (C2C). Blok baterai yang ada di bawah dek kabin berfungsi sebagai sasis yang menyatu dengan struktur kendaraan.

Teknologi tersebut membedakan Leapmotor dari produsen lainnya yang menggunakan struktur cell-to-module-to-pack, alias baterai ditumpangkan pada struktur sasis.

Teknologi C2C menjadikan baterai tak hanya berfungsi sebagai sumber energi, tetapi juga menjadi bagian dari struktur kendaraan itu sendiri. Hasilnya, pemanfaatan ruang baterai lebih efisien dan optimal, bahkan mencapai sekitar 91%.

Selain itu, teknologi C2C juga memberikan keuntungan pada aspek struktur kendaraan. Baterai yang menjadi bagian langsung dari rangka kendaraan turut meningkatkan kekakuan torsional bodi kendaraan atau torsional rigidity. Dampaknya, stabilitas berkendara dan aspek keselamatan kendaraan listrik kian meningkat. Aspek proses produksi dan penggunaan komponen pun jauh lebih efisien.

Teknologi yang digunakan saat ini adalah generasi terbaru C2C 2.0. Tingkat integrasi sistem kendaraan jauh lebih tinggi serta didukung oleh sistem manajemen baterai cerdas untuk memantau performa dan keamanan baterai secara real-time.

Pengembangan teknologi yang dilakukan oleh Leapmotor telah memikat Stellantis untuk menjalin kerjasama global. Kolaborasi yang dilakukan bersama salah satu grup otomotif terbesar di dunia ini akan semakin memperluas sumber daya pengembangan serta transfer teknologi, dan tentunya termasuk pula distribusi kendaraan listrik Leapmotor di berbagai negara.

Bakal Boyong Mobil Apa?

Untuk saat ini belum diungkap model mobil apa yang akan diboyong Leapmotor ke Tanah Air. Namun di situs Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) DKI Jakarta sudah ada dua model Leapmotor yang terdaftar, yakni B10 dan C10. Bahkan keduanya sudah ada harga NJKB atau Nilai Jual Kendaraan Bermotor sebagai patokan harga dasar sebelum pajak.

Yang pertama adalah Leapmotor B10, terdiri dari versi BEV (Battery Electric Vehicle), dengan NJKB Rp 390.000.000, dan versi REEV (Range Extender Electric Vehicle), dengan NJKB Rp sebesar 234.000.000.

Kemudian yang kedua yakni Leapmotor C10 BEV dengan NJKB Rp 450.000.000.

Sebagai catatan, model kendaraan listrik Leapmotor lainnya yang menggunakan C2C 2.0 yakni sedan listrik Leapmotor C01 dan SUV listrik Leapmotor C11.

Hanya saja, selain model mobil yang telah terdaftar masih belum dapat dipastikan model mana saja yang juga akan diboyong oleh Leapmotor ke Tanah Air.

Inovasi teknologi Cell-to-Chassis menjadi salah satu bagian evolusi desain kendaraan listrik. Pastinya bikin penasaran, seperti apa keunggulan lain yang dimiliki oleh produk dari Leapmotor. Jadi, kita tunggu saja kabar kejutan dari Leapmotor…