Indonesia Jadi Lokasi Uji ASEAN NCAP, Fasilitas Sudah Memadai?

Lolos uji laik jalan serta uji sertifikasi tipe dan spesifikasi teknis kendaraan bermotor adalah salah satu prasyarat yang harus dipenuhi oleh seluruh jenis kendaraan yang ada di Indonesia.

Pengujian dilakukan Balai Pengujian Laik Jalan dan Sertifikasi Kendaraan Bermotor (BPLJSKB). Fasilitas yang berlokasi di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat tersebut tak hanya berbenah dan meningkatkan mutu sarana serta alat uji yang dimiliki. Pengujian tipe dan sertifikasi kendaraan pun kini semakin diperketat guna menjamin aspek teknis serta kelaikan jalan.

Langkah ini diambil untuk memastikan setiap unit kendaraan yang diproduksi maupun diimpor memenuhi standar keamanan sebelum digunakan oleh masyarakat luas.

Fasilitas Terlengkap di Asia Tenggara

Sebagai catatan, fasilitas pengujian yang merupakan unit pelaksana teknis di bawah Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan ini merupakan salah satu yang terlengkap di kawasan Asia Tenggara.

Seluruh parameter pengujian telah mengacu pada integrasi regulasi domestik dan global. Penyesuaian ini bertujuan agar standar mutu kendaraan di Indonesia setara dengan kualitas internasional.

Landasan hukum nasional yang digunakan mencakup Peraturan Pemerintah serta berbagai Peraturan Menteri Perhubungan terkait pengujian tipe fisik kendaraan konvensional maupun berbasis listrik. Selain itu, sejumlah regulasi dari dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengenai ambang batas kebisingan dan baku mutu emisi gas buang juga menjadi acuan.

Guna kian meningkatkan mutu standarisasi, BPLJSKB mengadopsi regulasi homologasi dari United Nations Economic Commission for Europe (UNECE). Fasilitas uji ini pun telah memenuhi standar kompetensi ISO/IEC 17025 guna menjamin validitas setiap hasil pengujian kendaraan bermotor kategori M, N, dan O.

Pengujian kualitas dan kelaikan kendaraan yang dilakukan di tempat ini sesuai standar uji ASEAN Mutual Recognition Arrengement (ASEAN MRA). Seluruh produk kendaraan di Indonesia yang telah lolos uji dan memenuhi standar tersebut bisa diakui di seluruh negara ASEAN. Dengan demikian, produk yang diekspor tak perlu lagi diuji di negara tujuan, terutama untuk negara di kawasan Asia Tenggara sebagai pasar ekapor utama.

Lantas, bagaimana dengan uji keselamatan berkendara dan uJi benturan ASEAN NCAP yang selama ini jadi acuan pabrikan otomotif di Asia Tenggara?

Indonesia Bisa Jadi Penyelenggara Uji ASEAN NCAP?

Uji kelaikan dan keselamatan berkendara jadi salah satu bagian dari proses pasca produksi yang tak boleh diabaikan. Kualitas kendaraan yang diproduksi baik kebutuhan pasar domestik maupun ekspor harus selalu terjaga.

Salah satu acuan utama dan barometer kualitas produk kendaraan di kawasan Asia Tenggara adalah uji ASEAN NCAP (New Car Assessment Program for Southeast Asia).

ASEAN NCAP merupakan program penilaian keselamatan kendaraan baru yang berlaku di negara-negara Asia Tenggara. Lembaga ini bertujuan untuk memberikan informasi keselamatan yang transparan kepada konsumen, mendorong produsen meningkatkan standar keselamatan kendaraan, serta menekan angka kecelakaan dan fatalitas di jalan raya

Penilaian ASEAN NCAP didasarkan pada beberapa kategori utama, yaitu:

Adult Occupant Protection (AOP): Menilai perlindungan terhadap penumpang dewasa saat terjadi tabrakan depan dan samping.

Child Occupant Protection (COP): Mengukur tingkat perlindungan untuk penumpang anak-anak, termasuk kompatibilitas child seat dan sistem ISOFIX.

Safety Assist Technologies (SAT): Menilai fitur keselamatan aktif, seperti: ABS (Anti-lock Braking System), ESC (Electronic Stability Control), Forward Collision Mitigation, Lane Departure Warning, Seatbelt Reminder, dll

Motorcyclist Safety (MS): Aspek tambahan untuk melindungi pengendara motor yang sangat relevan di kawasan ASEAN.

Beberapa syarat sebuah mobil bisa meraih Bintang 5 ASEAN NCAP, yang artinya harus memenuhi beberapa ketentuan penting. Di antaranya:

•Struktur bodi kuat dan stabil saat uji tabrak.
Skor tinggi pada AOP dan COP.

•Dilengkapi fitur keselamatan aktif yang lengkap.

•Memiliki sistem pengingat sabuk pengaman di semua kursi utama.

•Performa airbag dan sistem keselamatan pasif yang optimal.

Mobil yang dinilai akan melakukan uji tabrak depan, samping dan fungsional perangkat keselamatan. Penilaian dilihat dari dampak terhadap dummy yang terpasang di dalam mobil. Selain kuat menahan efek tabrakan, mobil juga harus mampu mencegah kecelakaan sejak awal melalui teknologi keselamatan aktif.

Selama ini uji ASEAN NCAP dilakukan di laboratorium Provisional Crase Crash Centre (PC3) milik Malaysian Institute of Road Safety Research (MIROS). Dua fasilitas uji lainnya yakni Japan Automobile Research (JARI) di Tokyo, Jepang dan China Automotive Technology & Research Center (CATARC) di Tianjin, China.

Namun pada prakteknya, pengujian tidak harus selalu dilakukan di lokasi tersebut. Pengujian bisa dilakukan di lokasi lain bila memang diperlukan. Hal tersebut untuk menghemat biaya yang dikeluarkan oleh pihak pabrikan.

Bagaimana dengan di Indonesia? Pengujian sebenarnya juga bisa dilakukan dilakukan di Indonesia, karena fasilitasnya saat ini sudah tersedia yakni Balai Pengujian Laik Jalan dan Sertifikasi Kendaraan Bermotor (BPLJSKB).

Dengan fasilitas dan sarana yang lengkap, rangkaian pengujian untuk menilai kelayakan keselamatan sebuah kendaraan sesuai protokol standar ASEAN NCAP di BPLJSKB tentu sangat memungkinkan.

Jika uji ASEAN NCAP dapat dilakukan di Indonesia, maka mobil produksi Indonesia yanh akan diuji tak perlu harus dikirim ke Jepang atau Malaysia. Biaya pengujian jadi lebih hemat, dan hasil penilaian dapat lebih cepat diakses oleh pihak pabrikan sebagai bahan koreksi untuk ditindaklanjuti.

Sangat ironis jika Indonesia yang merupakan negara dengan industri otomotif terbesar di kawasan Asia Tenggara tapi harus menguji kendaraan di negara lain.

Tentu saja perlu sinergitas dan dukungan penuh dari para pemangku kepentingan termasuk pemerintah dan GAIKINDO agar uji ASEAN NCAP bisa dilakukan di Indonesia secara penuh. Fasilitasnya ada, SDM pun tersedia. Hanya perlu effort yang lebih serius untuk dapat mewujudkannya.

Mitsubishi Destinator Raih Predikat 5 Bintang ASEAN NCAP

Salah satu barometer kualitas keselamatan berkendara dari sebuah mobil adalah hasil uji tabrak. SUV terbaru Mitsubishi Destinator pun menjalani uji tabrak ASEAN NCAP sebagai pembuktian kualitas. Bagaimana hasilnya?

Predikat Lima Bintang

ASEAN NCAP adalah evaluasi uji tabrak pada kendaraan bermotor produksi terbaru yang berlaku untuk kawasan regional Asia Tenggara (ASEAN). Pengujian ASEAN NCAP berlangsung di laboratorium Provisional Car Crash Centre (PC3) milik Malaysian Institute of Road Safety Research (MIROS) yang berlokasi di Kajang, Selangor, Malaysia.

Di tempat ini tersedia beragam jenis simulasi uji tabrakan serta pengujian fitur penunjang keselamatan berkendara.

Model yang diuji adalah SUV Mitsubishi Destinator tipe GLS model tahun 2026. Uji tabrakan pada Destinator dilakukan jelang berakhirnya protokol penilaian ASEAN NCAP periode 2021-2025, Tahun 2025 menjadi tahun terakhir penggunaan protokol penilaian 2021-2025, karena mulai Januari 2026, ASEAN NCAP akan mulai menerapkan protokol baru 2026-2030. Destinator menjadi salah satu model mobil pabrikan Jepang terakhir yang diuji tahun ini.

Fitur penunjang keselamatan berkendara yang dibekalkan pada Destinator terbilang lengkap. Seluruh varian dibekali empat airbag, Electronic Stability Control (ESC), Anti-lock Braking System (ABS) Seatbelt Reminder System untuk penumpang depan dan belakang,fitur ISOFIX, serta Pedestrian Protection.

Teknologi bantuan pengemudi seperti AEB City, AEB Inter-Urban, Forward Collision Warning (FCW), Blind Spot Detection (BSD) di kedua sisi pintu, Auto High Beam (AHB), dan Lane Departure Warning (LDW) jadi pelengkap. Sebagian besar fitur tersebut menjadi kelengkapan standar, namun ada pula yang merupakan paket opsional.

Ada serangkaian pengujian yang dilakukan pada Mitsubishi Destinator yang terbagi menjadi empat parameter: Adult Occupant Protection (AOP), Child Occupant Protection (COP), Safety Assist (SA), dan Motorcyclist Safety (MS). Empat kategori ini merupakan pilar utama dalam penilaian ASEAN NCAP. Bobot poin penilaian tertinggi di protokol 2021-2025. yakni Adult Occupant Protection (AOP).

Dari hasil uji serta evaluasi yang dilakukan, Mitsubishi Destinator mengantongi total skor 77,27 poin. Rinciannya: Adult Occupant Protection (AOP) 34,69 poin, Child Occupant Protection (COP) 16,54 poin, Safety Assist (SA) 15,02 poin dan kategori Motorcyclist Safety (MS) meraih 11,02 poin. Hasilnya, Mitsubishi Destinator meraih predikat 5 bintang.

Mitsubishi menutup protokol evaluasi lama dengan pencapaian hasil uji yang amat memuaskan. Predikat 5 bintang bukan hal yang mudah untuk diraih.

Dalam keterangan resminya, ASEAN NCAP menyatakan bahwa hasil yang dicapai oleh Destinator merupakan bukti dari komitmen Mitsubishi dalam menerapkan standar kualitas keselamatan berkendara yang tinggi untuk pasar Asia Tenggara. Upaya tersebut tak hanya menguntungkan konsumen, tetapi juga meningkatkan persaingan positif antar produsen dalam menghadirkan mobil yang lebih aman di kawasan.

 

Hasil Uji Tabrak Hyptec HT Dinilai Baik Oleh C-IASI

Uji tabrak menjadi hal yang mutlak bagi pabrikan kendaraan. Tak terkecuali GAC AION, yang baru saja melakukan uji tabrak untuk Hyptec HT. Pengujian ini diselenggarakan oleh China Insurance Automotive Safety Index (C-IASI). Hasil dari pengujian tersebut dinyatakan baik atau mendapatkan peringkat Good.

Pencapaian ini tentu membanggakan bagi GAC, mengingat uji tabrak ini merupakan salah satu prosedur evaluasi keselamatan paling ketat dan destruktif di dunia otomotif. Pengujian dilakukan di fasilitas R&D milik GAC di Guangzhou. Dengan menerapkan skenario uji tabrak 25 persen bagian depan kanan pada kecepatan 64 km/jam, dan menghantam dinding keras. Ini bukan sekadar tes biasa, tapi simulasi nyata dari kecelakaan paling berisiko yang bisa terjadi di jalan.

Struktur Bodi Tetap Kokoh

Dalam simulasi, pilar A, B, dan C tetap utuh tanpa deformasi. Sedangkan pintu yang terkena benturan tetap dapat dibuka secara normal. Dari hasil uji tabrak terlihat, sub-frame tetap kokoh, sistem baterai tidak terganggu, dan keseluruhan bodi tetap terjaga. Hal ini membuktikan bahwa desain struktur rangka Hyptec HT mampu menyerap, dan mendistribusikan energi hasil tabrakan secara efisien. Tanpa kompromi dengan keselamatan penumpang.

“Gaya akibat benturan dapat disalurkan secara longitudinal ke zona penyerapan benturan (crumple zone). Sedangkan struktur lateral kabin, mengarahkan tekanan ke berbagai titik, untuk menghindari kerusakan langsung pada kabin,” jelas Gu Zongqiang, Insinyur Analisa Struktur GAC.

Pilar A Jadi Proteksi Ekstra

Dapat dilihat, bagian pilar A pengemudi diberikan lapisan proteksi tambahan. Menjadikan struktur bodi Hyptec HT ialah salah satu yang paling tahan tabrak, dalam kategori SUV listrik murni. Hal ini tentu tidak terlepas berkat adanya sabuk pengaman 3 titik dengan pre-tensioner, serta airbag pada 6 sisi mengembang ketika benturan terjadi. Seluruh penumpang mendapat perlindungan optimal.

Sistem kemudi dirancang agar turun ke bawah saat terjadi benturan, dan roda depan secara otomatis dapat terlepas dari bodi, guna menghindari cedera pada bagian kaki penumpang depan. Inilah sebuah detail kecil yang mencerminkan perhatian besar GAC pada keselamatan penumpangnya.

GAC Bangun Laboratorium Uji

Hyptec HT jaga menjadi SUV listrik murni pertama yang berhasil meraih sertifikasi keselamatan 3G+ dari China Insurance Research Institute (CIRI). Lebih lanjut, GAC membangun fasilitas laboratorium uji tabrak khusus dengan tiga fokus utama: pengujian komponen struktural (seperti sasis), sistem elektronik dan komputasi, serta simulasi tabrakan penuh kendaraan. Setiap langkah pengujian adalah bagian dari filosofi GAC: menghargai keselamatan setiap jiwa dalam kendaraan GAC.

Audi Vehicle Safety Centre, Fasilitas Uji Senilai Rp 1,63 Triliun

Kian ketatnya standar keselamatan berkendara membuat pabrikan otomotif harus terus melakukan adaptasi dan penyesuaian. Lolos uji benturan adalah salah satu syarat kelayakan yang ditetapkan sejumlah negara bagi sebuah kendaraan untuk bisa dipasarkan. Fasilitas uji keselamatan yang lengkap dan modern pun dibangun Audi. Selengkap apa fasilitas uji terbaru yang ada di pabrik Ingolstadt, Jerman ini?

Fasilitas Uji Keselamatan Berkendara Terlengkap

Pembangunan fasilitas Vehicle Safety Centre yang memakan waktu selama tiga tahun. Fasilitas uji benturan yang lama tak lagi digunakan.

Dengan panjang 130 m dan lebar 110 meter, serta tinggi 20 m, bangunan seluas 1,43 hektar ini ukurannya benar-benar sangat besar.

Terdapat area kosong berukuran 50 ×50 meter dan lintasan ganda sepanjang 250 meter untuk melakukan simulasi uji benturan dengan batas kecepatan sesuai standar uji Euro NCAP maupun NHTSA.

Sebagai perbandingan, standar keselamatan Euro NCAP yang berlaku di Eropa melakukan uji benturan terhadap dinding beton berlapis pada seluruh sisi bodi mobil dengan kecepatan 50 km/jam.

Sedangkan standar NHTSA yang berlaku di AS hanya melakukan uji benturan bagian depan mobil terhadap dinding beton dengan kecepatan 56 km/jam.

Untuk uji benturan, terdapat blok beton seberat 100 ton yang siap menahan benturan dari beragam jenis kendaraan dengan beraneka bobot.

Blok beton ini bahkan bisa digeser atau diputar sesuai sudut dan arah serta sisi benturan yang diinginkan.

Tak hanya blok beton, terdapat pula simulasi mobil terguling, terlempar atau melintir. Benturan antar dua mobil yang berlawanan arah hingga sudut 90 derajat dengan kecepatan tinggi juga dilakukan di tempat ini.

Tak hanya untuk mobil setir kiri saja, namun juga untuk mobil setir kanan.

Lab Riset Keselamatan Berkendara

Tak hanya berfungsi sebagai fasilitas uji keselamatan berkendara. Di sini juga terdapat laboratorium riset teknologi keselamatan berkendara.

Untuk saat ini baru ada 100 orang spesialis keselamatan berkendara yang dipekerjakan di sini, dan seiring waktu jumlahnya akan bertambah.

Audi saat ini tengah mengembangkan teknologi sabuk pengaman dan airbag yang lebih efektif dan efisien. Pengembangan fitur keselamatan pasif dan aktif juga dilakukan di sini.

Untuk kebutuhan riset dan pengujian, Audi menggunakan lebih dari 60 boneka uji benturan. Bentuknya mulai dari balita usia 18 bulan hingga penumpang dewasa dengan bobot sampai 102 kg.

Seluruh boneka uji ini dilengkapi 150 sensor yang akan memberikan data simulasi efek benturan terhadap seluruh anggota tubuh penumpang.

Guna memperoleh data uji simulasi yang akurat, Audi memanfaatkan kamera berkecepatan tinggi serta pendeteksi gerakan. Untuk data deformasi konstruksi bodi dan sasis pasca benturan, Audi memanfaatkan teknologi scanner 3D dan X-Ray canggih yang sangat presisi. Persis seperti yang digunakan oleh Bugatti.

Para ahli dan spesialis keselamatan berkendara di Audi melakukan sekitar 10.000 simulasi uji benturan setiap bulannya sebelum mobil prototype pra produksi dibuat.

Mobil prototipe yang sudah jadi nantinya tetap akan menjalani serangkaian uji benturan. Bahkan setiap batch produksi tetap diuji dengan sampel yang diambil secara acak.

Seluruh data simulasi dan pengujian ditempat ini dianalisa sebagai bahan evaluasi dan riset litbang.

“Keselamatan berkendara adalah prioritas utama bagi Audi. Fasilitas uji terbaru ini adalah wujud komitmen kami untuk menghasilkan mobil yang aman dikendarai,” papar Oliver Hoffman, salah satu anggota Dewan Manajemen Audi untuk Bidang Pengembangan Teknis.

Audi sangat serius dalam hal standar keselamatan berkendara pada setiap mobil yang diproduksi.

Maka tak heran jika Audi Vehicle Safety Centre terbaru ini menelan dana investasi sebesar €100 juta atau sekitar Rp 1,63 triliun.

Honda BR-V 2022

Ini Hasil Uji Tabrak Honda HR-V Dan BR-V Terbaru

Honda HR-V dan BR-V melakukan uji tabrak. Hasilnya cukup menarik. 

SUV Honda yaitu All New Honda HR-V dan All New Honda BR-V sukses meraih nilai 5 bintang tingkat keselamatan tertinggi dari program ASEAN NCAP (New Car Assessment Program for Southeast Asia). Ini diraih melalui pengetesan uji tabrak dari bagian depan, samping serta fitur-fitur keselamatannya.

Dari hasil uji tabrak tersebut, All New Honda HR-V meraih skor 81.38 dari 100 karena berhasil melewati serangkaian tes uji tabrak dari bagian depan, samping serta fiturnya. Tak hanya itu, All New Honda HR-V juga meraih skor 28.00/32 untuk kategori Adult Occupant Protection (AOP), skor 45.31/51 untuk Child Occupant Protection (COP). Lalu skor 19.50/21 untuk Safety Assist Technologies (SATs) dan 8.00/16 for Motorcyclist Safety (MS). Ya, ini sangat bagus meski skor untuk uji tabrak dengan motor sepertinya biasa saja. 

Model lainnya yaitu All New Honda BR-V berhasil meraih skor 77.02 dari 100 untuk tes uji tabrak dari bagian depan, samping serta fitur keselamatannya. Dan All New Honda BR-V berhasil meraih skor 26.98/32 untuk kategori Adult Occupant Protection (AOP) kemudian 44.53/51 untuk Child Occupant Protection (COP), skor 16.50/21 untuk Safety Assist Technologies (SATs) dan 8.10/16 for Motorcyclist Safety. 

Bantuan Fitur Honda SENSING

Kedua model ini memang sudah dilengkapi dengan berbagai fitur keselamatan yang mumpuni. Juga sudah memanfaatkan teknologi Honda SENSING dengan front wide view camera yang terletak pada bagian dalam kaca depan mobil. Peranti ini untuk memberikan kewaspadaan dalam kondisi berkendara terhadap keadaan di sekitar kendaraan seperti mobil, sepeda motor hingga pejalan kaki.

Teknologi tersebut juga memberikan peringatan serta mendukung pengemudi dalam menghindari dalam mengurangi tingkat resiko kecelakaan. Keduanya juga telah didukung berbagai fitur keselamatan lainnya seperti; Honda LaneWatch, Multi-angle Rearview Camera, Walk Away Auto Lock, Front Passenger & Rear Seat Belt Reminder, serta Rear Seat Reminder.

Soal Keselamatan Honda

Direktur Jenderal MIROS (Malaysian Institute of Road Safety Research), Dato’ Dr. Khairil Anwar Abu Kassim mengatakan, “Honda adalah salah satu produsen kendaraan yang konsisten memastikan model mereka memiliki teknologi keselamatan pasif dan aktif. Honda juga berinisiatif untuk melengkapi SUV mereka dengan teknologi yang mampu menghindari tabrakan dengan pengguna jalan yang rentan seperti pengendara sepeda motor.”

Salah satu teknologi tersebut adalah collision mitigation system yang mampu mendeteksi keberadaan halangan seperti pejalan kaki, motor atau kendaraan lain untuk menghindari tabrakan secara otomatis. Biasanya, fitur ini hanya ada di mobil mahal, tapi kini sudah semakin mudah didapat karena mobil menengah juga punya.

Rizky Vox