Honda City Facelift 2026 Debut di Thailand, Raih 10.000 SPK!

Honda kembali membuktikan bahwa sedan kompak masih memiliki tempat istimewa di hati konsumen. Setelah menjalani debut global di India beberapa waktu lalu, Honda City Facelift 2026 kini resmi meluncur di Thailand sebagai negara pertama di kawasan ASEAN yang mendapat model terbaru tersebut.

Sambutan pasar pun langsung melampaui ekspektasi. Dalam hitungan hari sejak peluncuran, Honda berhasil mengantongi lebih dari 10.000 surat pemesanan kendaraan (SPK).

Antusiasme tersebut bukan tanpa alasan. Selain membawa tampilan yang lebih modern, Honda juga memberikan pembaruan menyeluruh pada sektor fitur, teknologi, hingga pilihan sistem penggerak yang semakin efisien.

Desain Lebih Sporty dan Modern

Penyegaran paling mudah dikenali hadir pada bagian eksterior. Wajah Honda City kini tampil lebih agresif berkat desain grille baru yang dipadukan dengan bumper depan berkarakter tegas. Lampu utama Projector LED juga mengusung desain terbaru dengan integrasi LED Daytime Running Light (DRL) yang membuat tampilannya semakin premium.

Di bagian belakang, desain lampu kombinasi dan bumper ikut diperbarui sehingga memberikan kesan lebih futuristis. Velg alloy two-tone berukuran 16 inci serta emblem “H” bergaya monokrom semakin mempertegas identitas modern sedan andalan Honda ini.

Seperti sebelumnya, Honda menawarkan dua pilihan bodi, yakni Sedan dan Hatchback. Varian Sedan memiliki panjang 4.553 mm, sedangkan Hatchback hadir lebih ringkas dengan panjang 4.369 mm. Keduanya menggunakan wheelbase 2.589 mm yang tetap menjanjikan kabin lega untuk penggunaan sehari-hari.

Interior Naik Kelas, Teknologi Lebih Lengkap

Masuk ke dalam kabin, nuansa modern langsung terasa berkat hadirnya layar infotainment floating berukuran 10 inci yang telah mendukung Apple CarPlay dan Android Auto secara nirkabel.

Honda juga menambahkan sejumlah fitur yang sebelumnya hanya ditemui pada mobil kelas di atasnya, seperti wireless charger, ambient light, kaca spion tengah auto-dimming, hingga kamera 360 derajat untuk memudahkan manuver di area sempit.

Paket keselamatan aktif Honda Sensing pun semakin lengkap. Teknologi seperti Collision Mitigation Brake System (CMBS), Adaptive Cruise Control (ACC), Lane Keeping Assist System (LKAS), Road Departure Mitigation (RDM), Auto High Beam (AHB), Lead Car Departure Notification (LCDN), hingga LaneWatch kini menjadi nilai jual utama Honda City Facelift 2026.

Pilihan Mesin Turbo dan Hybrid e:HEV

Untuk pasar Thailand, Honda tetap menawarkan dua pilihan sistem penggerak.

Varian bermesin bensin menggunakan mesin 1.0 liter tiga silinder turbo yang menghasilkan tenaga 122 hp dan torsi 173 Nm. Seluruh tenaga disalurkan ke roda depan melalui transmisi CVT yang terkenal halus dan efisien.

Sementara itu, varian e:HEV mengombinasikan mesin bensin 1.5 liter Atkinson Cycle dengan motor listrik bertenaga 109 hp dan torsi 253 Nm. Pada kondisi normal, motor listrik menjadi sumber penggerak utama sehingga memberikan karakter akselerasi yang responsif sekaligus konsumsi bahan bakar yang sangat irit.

Honda mengklaim konsumsi BBM varian hybrid mampu mencapai 27,8 km/liter, menjadikannya salah satu sedan paling efisien di kelasnya.

Harga Lebih Kompetitif, Penjualan Langsung Melejit

Honda City Facelift 2026 dipasarkan di Thailand dengan harga mulai 569.000 hingga 749.000 baht atau sekitar Rp308 juta hingga Rp405 jutaan.

Menariknya, harga varian termurah justru turun sekitar 30.000 baht dibanding model sebelumnya. Strategi tersebut terbukti efektif karena hanya dalam beberapa hari setelah peluncuran, Honda berhasil membukukan lebih dari 10.000 SPK, sebuah pencapaian yang menunjukkan tingginya minat konsumen terhadap model terbaru ini.

Melihat respons positif di Thailand, peluang Honda City Facelift 2026 untuk segera menyapa pasar ASEAN lainnya, termasuk Indonesia, tentu semakin besar. Kini tinggal menunggu langkah PT Honda Prospect Motor (HPM) untuk membawa sedan andalan tersebut ke Tanah Air. Jika benar hadir, Honda City terbaru berpotensi menjadi salah satu sedan kompak paling menarik dengan kombinasi desain segar, fitur modern, dan teknologi hybrid yang semakin efisien.

Tren EV Naik, PLN Ajak Negara ASEAN Kolaborasi Bisnis SPKLU

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-43 ASEAN baru saja usai, dalam gelaran tersebut PT PLN (Persero) turut mengajak semua negara ASEAN dan Mitra ASEAN untuk berkolaborasi dalam pembangunan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Langkah ini dipilih sebagai upaya mempercepat transisi peralihan dari kendaraan konvensional menuju kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV).

Sejauh ini, terdapat 846 SPKLU di seluruh Indonesia. Di antaranya 620 SPKLU milik PLN, sedangkan sisanya milik Agen Pemegang Merk (APM) yakni Hyundai sebanyak 157 SPKLU, Mitsubishi sejumlah 17 SPKLU, dan 52 titik SPKLU dari mitra lainnya. Hadirnya SPKLU dan infrastruktur pendukung lain tentu berperan penting dalam mengakselerasi ekosistem EV di Tanah Air.

Proyeksi populasi EV sebanyak 335 ribu unit di 2030 

“PLN berkomitmen mendukung tumbuhnya ekosistem kendaraan listrik dengan terus menambah jumlah SPKLU menjadi 1.715 pada tahun 2023. Diproyeksikan pada tahun 2030 pertumbuhan populasi EV sebesar 335 ribu. Dengan jumlah itu, maka dibutuhkan sekitar 22.339 SPKLU untuk memenuhi pengisian mobil listrik di tempat umum,” kata Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo.

PLN tidak bisa bekerja sendiri dalam memenuhi kebutuhan SPKLU tersebut. Karena itu, PLN menawarkan skema bisnis menarik kepada berbagai mitra untuk ikut membangun infrastruktur stasiun pengisian kendaraan listrik di Indonesia.

SPKLU dengan skema franchising

Mengingat kebutuhan yang besar, akan sangat baik jika kerja sama ini dapat terjalin dengan langkah ikut mendukung penambahan infrastruktur kendaraan listrik. Dalam mengajak kemitraan tersebut, PLN mengembangkan model bisnis SPKLU skema franchising dengan biaya investasi lebih terjangkau, komersial dan feasible. Diyakini skema bisnis franchising bisa menjadi opsi menarik bagi kedua pihak.

Hal ini karena para mitra nantinya akan mendapatkan lebih banyak keuntungan, mulai dari memberikan hak kepada mitra untuk menggunakan brand PLN, hingga menyediakan izin lingkungan. Selain itu, untuk pembagian keuntungan, para mitra akan mendapatkan pembagian secara realtime yang dapat dikontrol langsung.

Pembagian keuntungan secara realtime

“Mitra yang bergabung dalam kemitraan SPKLU PLN, akan mendapatkan pembagian keuntungan secara realtime, berbasis komposisi investasi dari masing-masing mitra. Keuntungan di SPKLU diperoleh dari total penjualan energi listrik untuk pengisian ulang kendaraan listrik. Sedangkan tambahan biaya layanan yang dikenakan pengguna untuk pengisian di SPKLU Fast Charging dan Ultra-Fast Charging,” tambahnya.

Lebih lanjut, emisi karbon EV hanya separuh dari kendaraan Internal Combustion Engine (ICE). Di sisi lain, EV diklaim mampu menghemat biaya energi per kilometer (km) hingga 6 kali lipat dari kendaraan ICE.

Logo Yamaha

Yamaha Mulai Gunakan Material Daur Ulang

Penggunaan bahan baku daur ulang nampaknya tak hanya dilakukan oleh pabrikan mobil dan truk. Pembuat sepeda motor pun menyiasati mahalnya harga bahan baku produksi, memanfaatkan material hasil daur ulang. Salah satunya yakni Yamaha.

Pabrikan berlogo Garpu Tala ini pada Maret 2023 lalu mengumumkan akan mulai menggunakan material ramah lingkungan yakni ‘green aluminium’. Dalam memproduksi material tersebut menggunakan energi ramah lingkungan. Hal tersebut guna mengurangi emisi karbon dioksida (CO2).

Yamaha Grand Filano

 

Tak sebatas menggunakan ‘green aluminium’. Pada 11 April lalu Yamaha memperkenalkan material polypropylene daur ulang. Polypropylene yang lebih dikenal sebagai plastik merupakan salah satu bahan baku yang nantinya akan digunakan body sepeda motor.

Pabrikan asal Jepang tersebut mengklaim plastik daur ulang ini mutunya lebih bagus dan jauh lebih kuat, serta tampilannya lebih menarik. Sebelumnya, bahan baku yang digunakan adalah plastik berbahan resin.

Bahan baru ini akan digunakan pada sepeda motor yang diproduksi dan dipasarkan oleh Yamaha di kawasan ASEAN mulai tahun ini. Tak dijelaskan model mana yang akan menggunakan material jenis baru tersebut. Namun produk yang bakal menggunakan diutamakan jenis skuter matic yang jumlah produksinya terbilang cukup banyak.

Sebagai tahap awal, komposisi penggunaannya berkisar 50% dari komponen body sepeda motor. Lantas, seperti apa proses pembuatan material polypropylene daur ulang ini? Sayangnya, tak dijelaskan secara rinci. Namun Yamaha menyatakan bahwa sumber bahan baku berasal dari sepeda motor Yamaha bekas pakai. Komponen yang akan didaur ulang dijamin bebas dari kategori limbah bahan beracun dan berbahaya atau B3.

Kedepannya, komposisi penggunaan material polypropylene recycle ini akan ditingkatkan jumlahnya. Penggunaan material daur ulang dan ramah lingkungan merupakan bagian dari visi Yamaha menuju era karbon netral pada tahun 2050 mendatang.