Arus Lalu lintas. Foto: Thejakartapost

Usia Kendaraan di Jakarta Mau Dibatasi, Memang Bisa?

Padatnya lalu lintas di Jakarta seperti tidak pernah ada ‘obatnya’. Terlebih lagi tingkat polusi udara yang turut meningkat, dari hari ke hari. Ketua Komisi B DPRD Provinsi DKI Jakarta, Ismail, mengusulkan diadakannya pembatasan usia kendaraan sebagai upaya untuk mengatasi kedua masalah tersebut.

Ia menjelaskan bahwa pembatasan usia kendaraan bisa menjadi opsi lain dari kebijakan pembatasan kendaraan pribadi, sesuai Undang-Undang Daerah Khusus Jakarta (DKJ) bagian kewenangan khusus perhubungan.

“Kebijakan itu ujung-ujungnya mengurangi jumlah kendaraan yang beredar berdasarkan usia kendaraan. Nanti puncaknya adalah mengurangi emisi kendaraan,” ujarnya.

Ia mencontohkan, beberapa negara lain sudah menerapkan pembatasan terkait mobilisasi kendaraan yang tidak layak berdasarkan emisi gas buang. Salah satunya yaitu Singapura, pembatasan usia kendaraannya diatur lewat Certificate of Entitlement (COE), yang menunjukan kepemilikan kendaraan dan batas waktu penggunaannya selama 10 tahun.

Meski begitu, Ismail menyadari tujuan dari pembatasan kendaraan pribadi yaitu agar terciptanya satu lingkungan yang lebih baik. Terutama untuk kualitas udara dan kondisi lalu lintas.

Namun, usulan tersebut tentu amat diperlukan kaji yang sangat matang. Sebab, jika pembatasan kendaraan pribadi diterapkan, maka berpotensi berkurangnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari pajak kendaraan bermotor, yang merupakan salah satu kontributor penyumbang pajak terbesar.

“Jadi ini harus imbang. Satu sisi kita ingin ciptakan lingkungan yang baik, tapi sisi yang lain jangan sampai menimbulkan adanya potensi berkurangnya PAD,” tutur Ismail.

Kalau peredaran jumlah kendaraan ‘expired’ di Jakarta dibatasi, lantas bagaimana nasibnya di masa depan dan mau disingkirkan ke mana?

Perlu dicatat pula, masih banyak kendaraan pribadi di Jakarta yang berusia lebih dari 10 tahun. Tidak sedikit pula yang sudah melakukan uji emisi gas buang, dan terbukti lulus.

Sumber: DPRD PRovinsi DKI Jakarta

Gas Buang Kendaraan Terasa Pedih? Banyak Penyebabnya!

Hasil pembakaran dari kendaraan menjadi salah satu hal penting yang menjadi indikator kesehatan mesin. Biasanya, akan muncul asap atau aroma gas buang yang membuat pedih di mata. Hal ini merupakan sebuah tanda adanya kendala pada sistem pembakaran mesin kendaraan. Asap yang muncul pun biasanya diiringi aroma tertentu.

Masalah pada pembakaran juga bisa bisa ditandai oleh beberapa gejala yang terlihat atau bisa dirasakan langsung. Jika dibiarkan maka berpotensi menimbulkan kerusakan mesin yang lebih berat. Berikut ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, terkait penyebab hasil gas buang mesin yang terasa pedih di mata.

Komponen Sistem Pembuangan

Salah satu penyebab utama gas buang terasa pedih di mata yakni komponen pada sistem pembuangan yang sudah berusia lama. Saat sistem pembuangan mengalami kerusakan, gas buang yang seharusnya terbuang malah tidak keluar dengan sempurna. Ini dapat menyebabkan adanya aroma menyengat menjadi tercium di dalam kabin kendaraan.

Sistem Pasokan Bahan Bakar Terganggu

Gangguan pada sistem bahan bakar yang dapat menyebabkan gas buang terasa pedih. Saat terjadi kerusakan pada sistem ini, kandungan yang terdapat pada bahan bakar tidak dapat terbakar dengan sempurna. Sehingga ketika terkena mata, maka akan terasa sangat pedih.

Modifikasi Sistem Manajemen Mesin

Engine Control Unit (ECU) sebenarnya sudah mengatur cara kerja sistem pembakaran, termasuk mengatur perbandingan akurat bahan bakar dan udara. Jadi, modifikasi yang dilakukan khususnya pada ECU pada akhirnya akan menyebabkan perbandingan bahan bakar dan udara menjadi tidak normal. Hal inilah  yang mengakibatkan proses pembakaran menjadi tidak sempurna dan asap knalpot menjadi perih di mata.

Busi Mobil Bermasalah

Busi memiliki peranan yang sangat penting dalam siklus pembakaran pada mesin kendaraan. Masalah yang terjadi pada sistem busi ini yang kemudian memberi pengaruh terhadap gas buang yang terasa pedih di mata. Masalah pada busi ini pun beragam, seperti busi yang mulai melemah, busi yang kotor dan penuh kerak karbon, atau bahkan ada masalah pada komponen pengapian yang sudah tidak layak pakai.

Kualitas Bahan Bakar

Penggunaan bahan bakar yang kurang bagus dapat mengakibatkan munculnya gejala gas buang menjadi lebih pedih. Bahan bakar dengan oktan dan cetane yang rendah dapat menyebabkan masalah pada sistem pembakaran. Untuk itu, penting untuk menggunakan bahan bakar dengan kualitas terbaik buat kendaraan.

Catat, Tilang Uji Emisi Jakarta Berlaku Lagi per 1 November!

Bagi Anda yang kendaraannya belum lolos uji emisi gas buang, mari segera benahi. Sebab Polda Metro Jaya yang berkoordinasi dengan Pemprov DKI Jakarta, kembali memberlakukan tilang uji emisi pada 1 November 2023. Pengadaan tilang emisi kendaraan mengacu pada Pasal 285 dan 286 Undang-Undang (UU) Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan.

“Kami juga sudah berkoordinasi dengan rekan-rekan dari Polda Metro Jaya. Dengan Pak Dirlantas per 1 November kita akan kembali melaksanakan tilang terhadap pelanggaran uji emisi,” kata Kadishub DKI Jakarta Syafrin Liputo di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, kemarin (8/10/2023).

Masyarakat sudah sadar uji emisi

Seperti yang sebelumnya diketahui, tilang uji emisi sempat dihentikan karena dianggap kurang efektif. Namun Syafrin pun menjelaskan pertimbangan diberlakukannya tilang uji emisi lagi. “Kemarin datanya sudah ada 1,2 juta yang melakukan uji emisi untuk roda 4 dan kemudian jumlah roda 2 juga cukup masif. Artinya secara keseluruhan masyarakat sudah sadar melakukan uji emisi. Sehingga pada saat kita melakukan penilangan, itu populasi sudah sepenuhnya melakukan uji emisi,” imbuhnya.

Dalam mekanisme pelaksanaannya, masih sama seperti yang pernah dilakukan beberapa waktu lalu. Pihak Dishub bekerjasama dengan Dinas LH (Lingkungan Hidup) dan Polri. Sedangkan terkait lokasi, masih dalam pembahasan internal. Yang jelas, titik lokasinya akan berpindah-pindah.

Sanksi biaya parkir mahal

Kendaraan yang tidak lolos uji emisi akan dikenakan denda sebesar Rp 250 ribu untuk kendaraan roda dua, dan Rp 500 ribu untuk kendaraan roda empat. Pemprov DKI Jakarta juga telah menyiapkan 107 bengkel uji emisi untuk kendaraan roda 2 dan 333 bengkel untuk roda empat. Selain itu, di beberapa terminal bus juga tersedia alat uji emisi yang bisa digunakan oleh pengendara.

Apabila kendaraan tetap nekat digunakan padahal tidak lulus uji emisi, maka salah satu sanksi adalah biaya parkir mahal yang berlaku di hampir 155 lokasi di Jakarta. Biaya parkir tinggi bagi kendaraan tidak lulus uji emisi, akan mulai beroperasi bulan Oktober 2023 ini.

Bioaditif Berbasis Minyak Atsiri Berpotensi Turunkan Emisi Knalpot

Kementerian Perindustrian secara berkesinambungan mencari solusi penurunan emisi gas buang pada mesin pembakaran internal (Internal Combustion Engine atau ICE), salah satunya dengan penggunaan bioaditif bahan bakar minyak (BBM) berbasis minyak atsiri.

“Bioaditif berfungsi untuk menyempurnakan pembakaran BBM di dalam ruang bakar mesin sehingga dapat mengurangi emisi gas buang dengan menstabilkan kepadatan dan memperbaiki atomisasi bahan bakar sehingga menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna, lebih bersih, efisien, serta mengurangi konsumsi BBM,” kata Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika.

Dirjen Industri Agro menegaskan bahwa pihaknya telah memfasilitasi penyusunan standar mutu produk bioaditif melalui SNI Nomor 8744:2019 Bioaditif berbasis minyak atsiri untuk bahan bakar motor diesel.

Sudah diuji pada mesin diesel

“Ini adalah langkah penting dalam memastikan bahwa produk bioaditif berbasis minyak atsiri memenuhi standar mutu dan kompatibilitas sesuai yang ditetapkan,” tambahnya, saat menerima audiensi ketua dan pengurus Perkumpulan Bioaditif Berbasis Minyak Atsiri Indonesia beberapa waktu lalu.

Ketua Perkumpulan Bioaditif Berbasis Minyak Atsiri Indonesia, Raeti menyampaikan data hasil pengujian produk bioaditif BBM minyak atsiri oleh laboratorium pengujian (Trakindo, Petrolab dan LEMIGAS) masing-masing untuk alat berat, mesin diesel statis (genset) dan kendaraan bermotor diesel.

Hasil uji menunjukkan bahwa penggunaan bioaditif mampu menurunkan emisi karbon (COx) hingga 83,78 persen, emisi nitrogen (NOx) hingga 85,22 persen, kadar pengotor partikel (4 mikron, 6 mikron, dan 10 mikron) hingga 80-85 persen, dan penurunan kadar air (moisture) pada bahan bakar hingga 10,52 persen.

Penggunaannya praktis dan hemat

Sebenarnya produk Bioaditif BBM telah dikembangkan sejak tahun 1990an dan telah dijual secara ‘business-to-business’ sejak tahun 2006 untuk sektor industri, pertambangan, termasuk sektor komersial lainnya dengan kinerja yang baik. Produk bioaditif BBM berasal dari bahan organik minyak atsiri yang 100 persen dibudidayakan oleh petani lokal dan diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi.

“Penggunaan Bioaditif BBM hanya sebanyak 1 per mili (1 per seribu) bagian dari volume BBM, dengan cara diteteskan ke dalam tangki bahan bakar tanpa proses atau peralatan blending khusus,” tutur Raeti.

Putu menambahkan bahwa produk aditif BBM bukanlah hal baru. Beberapa negara seperti Jerman, Amerika, dan Australia telah mengembangkan produk aditif BBM berbasis petroleum. Sehingga Indonesia sangat potensial untuk mengembangkan aditif BBM berbasis bahan baku organik dengan harga yang kompetitif dan berkelanjutan.

BBM Pertalite Mau Diganti Pertamax Green 92, Sudah Siap?

Polemik antara emisi gas buang dengan kualitas bahan bakar seolah tidak pernah usai dibahas. Terlebih jika dikaitkan dengan dengan kondisi udara di kawasan Jakarta yang semakin memburuk, akibat polusi dari gas buang hasil pembakaran. Dalam hal ini emisi gas buang kendaraan pun terkena sorotan tajam dari banyak pihak. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pun memberikan pernyataan terkait spesifikasi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang boleh dikonsumsi kendaraan bermotor.

“Kendaraan yang diproduksi sejak Oktober 2018 tidak boleh menggunakan bensin dengan nilai oktan (Research Octane Number/RON) di bawah 91,” kata Sigit Reliantoro, Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)

Sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 20 tahun 2017 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori M, N, dan O. Sehingga kendaraan yang diproduksi sejak Oktober 2018 seharusnya tidak diperbolehkan mengisi BBM jenis Pertalite (RON 90).

Pertalite mau digantikan Pertamax Green 92

PT Pertamina (Persero) telah menetapkan standar dan mutu BBM yang ramah lingkungan, dengan merilis BBM RON 95 dicampur bahan nabati bioetanol 5 persen atau E5. Langkah selanjutnya ialah mengganti Pertalite menjadi Pertamax Green 92 pada 2024 mendatang.

Etanol yang digunakan Pertamax Green 95 tersebut merupakan hasil molases tebu dan menjadi bahan bakar nabati terbarukan. Sedangkan Pertamax Green 92 merupakan produk pengganti Pertalite yang dibuat dengan campuran 7 persen etanol.

Pertamax Green 92 ini dinilai memiliki kadar oktan yang memenuhi syarat ramah lingkungan. Itu berarti, produk ini bisa menekan emisi karbon dan menekan jumlah impor gasoline (bensin) dari luar negeri. Dengan begitu, produk ini diproyeksikan dapat menjadi solusi pemakaian bahan bakar yang ramah lingkungan. Pertamina rencananya merilis Pertamax Green 92 pada 2024, sejalan dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), dengan nilai oktan bensin minimal 91.

Kandungan nabati bioetanol bisa tekan emisi gas buang

Saat ini, Pertamina tengah melakukan kajian untuk meningkatkan kadar oktan bensin Pertalite (RON 90) menjadi RON 92 atau setara Pertamax. Dengan mencampur bensin Pertalite dengan etanol 7 persen (E7), sehingga dapat menjadi Pertamax Green 92. Diharapkan kandungan nabati di dalamnya dapat membuat produk bahan bakar ini menjadi lebih ramah lingkungan.

Tantangan berikutnya ialah ketersediaan etanol di dalam negeri. Hal ini harus turut diperhatikan, sebab produksi etanol di dalam negeri saat ini masih cukup terbatas. Sebagai catatan, saat ini baru ada satu perusahaan penghasil bioetanol di Indonesia, dengan total produksi sebesar 160 ribu kiloliter per tahun.

Namun dari jumlah tersebut, sekitar 115 ribu kiloliter dikonsumsi sendiri dan sisanya 45 ribu kiloliter baru dapat digunakan untuk produksi etanol. Sedangkan untuk penggunaan sebagai campuran bahan bakar, tentu diperlukan jumlah yang jauh lebih banyak. Jadi menurut Anda, siapkah negara ini menghapus Pertalite?

Dukung Pemerintah, Toyota Gelar Uji Emisi Gratis

PT Toyota-Astra Motor (TAM) gelar uji emisi gratis di jaringan bengkel resmi Toyota dan Lexus di wilayah DKI Jakarta. Kegiatan ini sudah dimulai  hingga 31 Desember 2023.

Dalam mendukung program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, program gratis ini dikhususkan bagi kendaraan Toyota yang telah berusia di atas 3 tahun. Anda disarankan untuk melakukan reservasi di bengkel resmi Toyota dan Lexus terdekat demi kenyamanan dan layanan aftersales yang maksimal.

“TAM memfasilitasi uji emisi gratis di semua bengkel resmi Toyota dan Lexus wilayah DKI Jakarta, pada 4–31 Desember 2023. Langkah ini untuk mendukung program pemerintah terkait pengendalian level emisi gas buang kendaraan di ibukota,” jelas Vice President Director PT Toyota-Astra Motor (TAM), Henry Tanoto.

Periksa Komponen

Uji emisi pada mesin bensin difokuskan pada kadar air, udara dan gas yang meningkat akibat pembakaran kurang sempurna. Sedangkan untuk diesel, difokuskan pada tingkat kepekatan (opasitas) gas buang yang dihasilkan. Semakin pekat, artinya ada masalah dengan sistem pembakaran mesin.

Selain itu, juga dilakukan pemeriksaan komponen kendaraan terkait produksi emisi. Kesesuaian bahan bakar dengan anjuran pabrikan juga dilakukan demi menjaga kadar emisi tetap berada di level yang aman.

Uji emisi di bengkel resmi Toyota dan Lexus dilakukan menggunakan alat Gas Analizer yang tersertifikasi oleh Pemprov DKI Jakarta. Bila mobil lulus uji emisi, maka akan didaftarkan ke sistem informasi melalui situs uji emisi. Jika belum, jaringan bengkel resmi akan menyarankan perbaikan berdasarkan kondisi kesehatan mesin mobil Anda.

Bagian Dari Rutinitas

Aktivitas uji emisi sejatinya dapat dilakukan bersamaan dengan servis berkala di bengkel resmi Toyota (termasuk GAZOO Racing) dan Lexus di seluruh Indonesia. TAM pun merekomendasikan servis berkala di bengkel resmi setiap 6 bulan atau 10.000 km, tergantung mana yang tercapai lebih dahulu.

Pengujian hanya bisa dilakukan di bengkel resmi dan tidak menggunakan fasilitas Mobile Service.

 

Langkah Mudah Rawat Kendaraan Untuk Kurangi Polusi

Pemerintah kembali akan melakukan uji emisi kendaraan bermotor sebagai salah satu solusi mengatasi memburuknya polusi udara di kawasan DKI Jakarta. Seperti diketahui, uji emisi kendaraan bermotor merupakan upaya pengecekan kelayakan kinerja mesin kendaraan dengan memakai alat khusus. Dengan pengecekan ini, maka kadar buangan mesin yang memengaruhi tingkat polusi udara dapat diperoleh.

Untuk persyaratan kendaraan lulus uji emisi untuk mobil bensin dengan tahun pembuatan di bawah 2007, maka kadar karbondioksida (CO2) harus memenuhi standar 3 persen, dengan HC 700 ppm. Sedangkan mobil yang pembuatannya di atas tahun 2007, maka harus memenuhi standar CO2 1,5 persen dengan HC 200 ppm.

Untuk kendaraan bermesin diesel dengan pembuatan di bawah tahun 2007 dan berbobot kurang dari 3,5 ton, maka kadar timbalnya sebesar 50 persen. Kendaraan bermesin diesel berbobot di atas 3,5 ton, harus memenuhi kadar timbalnya harus 60 persen.

Lain halnya dengan kendaraan bermesin diesel dengan tahun pembuatan 2010 dan berbobot kurang dari 3,5 ton, maka harus memenuhi kadar timbal sebesar 40 persen. Bagi kendaraan diesel yang memiliki bobot lebih dari 3,5 ton, maka kadar timbalnya harus 50 persen.

Selain mobil, sepeda motor juga harus memenuhi syarat lulus uji emisi kendaraan. Sepeda roda dua berjenis mesin 2 tak dengan tahun pembuatan di bawah 2010 harus memiliki kadar CO2 di bawah 4,5 persen dengan HC 12.000 ppm. Sedangkan motor mesin 4 tak dengan tahun pembuatan di bawah 2010 harus memenuhi standar karbondioksida tertinggi 5,5 persen dengan HC 2.400 ppm.

Kondisi tersebut tentu membuat kendaraan harus memenuhi syarat lulus cek emisi gas buang. Untuk memenuhinya, Anda bisa mengecek emisi gas buang dengan membawa kendaraan ke bengkel yang menyediakan fasilitas tersebut.

Rajin Servis Mesin Secara Berkala

Selain untuk menjaga performa kendaraan, servis berkala juga dapat membuat emisi gas buang mesin kendaraan tetap baik. Sehingga aman saat digunakan.  Servis berkala membuat komponen masuk dan keluarnya bahan bakar terawat, sehingga bisa menjaga pembakaran maksimal. Mesin yang dirawat secara berkala juga lebih hemat BBM.

Cek Saluran dan Jenis BBM yang Dipakai

Pastikan saluran masuk bahan bakar tidak dalam keadaan kotor, sehingga aliran udara ke mesin selalu aman. Sebab, angka HC atau kadar emisi lain dari hasil pembakaran akan semakin tinggi jika saluran terhambat. Gunakan bahan bakar sesuai rekomendasi pabrikan, dengan pemakaian bahan bakar yang tepat, pembakaran di mesin jadi lebih baik dan sempurna.

Perhatikan Oli dan Komponen Pengapian

Sebagai bagian pelumas mesin, oli berperan penting untuk menjaga mesin agar kondisinya selalu optimal dan prima. Pastikan kondisi komponen pengapian mesin tidak aus, karena pengapian yang aus akan membuat kadar gas karbondioksida jadi tinggi.

Cek Filter Udara

Jika filter udara kotor, maka akan menyumbat udara yang masuk ke mesin dan proses pembakaran menjadi kurang optimal, sehingga gas buang yang keluar dari knalpot semakin tinggi.

Dengan beberapa langkah mudah di atas, kami yakin bahwa kendaraan Anda dapat beroperasi lebih optimal dan tentunya kadar polusi gas buangnya pun dapat diminimalisir. Selain itu, secara tidak langsung Anda pun berkontribusi terhadap perbaikan kondisi udara dan lingkungan di Jakarta.

Regulasi Emisi EURO 7 Mendapat Tentangan Dari 8 Negara Uni Eropa

Standar emisi gas buang kendaraan bermotor EURO telah lama dijadikan sebagai tolok ukur di sebagian besar negara di dunia. Kini malah sedang dipersiapkan skema rancangan regulasi EURO 7…

Standar emisi EURO 5 dan EURO 6 yang saat ini diberlakukan baru berjalan beberapa tahun. Akan tetapi masih belum sepenuhnya diterapkan, khususnya di sejumlah negara berkembang.

Seolah tak sabaran untuk mengejar target langit biru bebas emisi gas buang kendaraan, Dewan Uni Eropa kembali menggulirkan rancangan standar emisi EURO 7.

Regulasi EURO 7 Ditentang Banyak Pihak

Tentangan dan kritik terhadap rancangan pemberlakuan regulasi EURO 7 pun muncul dari banyak pihak. Tak hanya dari pabrikan otomotif, namun juga dari sejumlah negara anggota Uni Eropa.

“Rancangan regulasi EURO 7 tak sepenuhnya tepat dan memberi manfaat terhadap lingkungan hidup,” papar Menteri Transportasi Italia, Matteo Salvini dalam sebuah pertemuan dengan pihak pabrikan otomotif di Verona, Italia pada 16 Mei 2023 lalu.

Pemimpin liga koalisi partai sayap kanan di pemerintah Italia tersebut pun menyatakan bahwa regulasi pembatasan emisi EURO 7 berikut syarat uji emisi yang ada di dalamnya akan sangat memberatkan. Tak hanya bagi konsumen, namun pabrikan otomotif akan sangat merasakan dampaknya.

Biaya Produksi Membengkak, Pabrikan Pun Teriak

Untuk mengakomodir standar baru ini, pihak pabrikan otomotif akan ‘dipaksa’ untuk berinvestasi lebih besar lagi guna menghasilkan emisi gas buang kendaraan bermotor bakar yang diproduksi saat ini agar lebih rendah lagi. Biaya produksi akan membengkak dan berimbas pada harga kendaraan yang bakal menjadi kian mahal. Investasi miliaran dolar bukanlah nilai yang sedikit.

Hal senada pun diungkapkan oleh Carlos Tavares, CEO Stellantis. Petinggi raksasa industri otomotif tersebut pun berpendapat bahwa dana investasi tersebut justru akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk pengembangan teknologi mobil listrik.

Pihak pabrikan asal Republik Ceko, Skoda bahkan menyatakan bahwa jika regulasi EURO 7 benar-benar dipaksakan, maka Skoda dengan terpaksa harus ‘merumahkan’ 3000 pekerja guna mengatasi defisit anggaran produksi yang bakal membengkak jika regulasi tersebut benar-benar diterapkan.

Dengan pembatasan emisi gas buang yang kian ketat, tentu saja arahnya adalah untuk menggenjot percepatan peralihan ke moda transportasi bertenaga listrik. Akan tetapi saat ini kendaraan bermotor bakar masih menjadi tulang punggung penopang pendapatan dari pabrikan otomotif. Sungguh dilematis.

Sebuah petisi penolakan terhadap rancangan regulasi EURO 7 pun ditandatangani oleh 8 negara yakni, Perancis, Italia, Republik Ceko, Bulgaria, Hungaria, Polandia, Romania dan Slovakia. Petisi tersebut pun dilayangkan kepada para petinggi di Dewan Uni Eropa.

Seperti halnya Jerman yang akhirnya berhasil mempersuasi penggunaan teknologi e-fuel sebagai jalan alternatif selain listrik. Negosiasi alot dan tarik ulur pun bakal kembali terjadi perihal rancangan regulasi baru yang terkesan dipaksakan penerapannya.

Banyak hal yang dipertaruhkan hanya demi melihat langit biru terbebas dari emisi gas buang….

Rupert Stadler Bakal ‘Buka Mulut’, Babak Baru Skandal Diesel Gate

Perjalanan skandal manipulasi data uji emisi Diesel Gate yang terjadi sejak tahun 2015 silam akan segera memasuki babak baru. Kasus menghebohkan yang terjadi di kubu Volkswagen Group dan Audi ini telah menjalani proses persidangan yang panjang dan melelahkan. Mantan petinggi Audi, Rupert Stadler pun terseret dalam kasus ini.

Usai menjalani sidang perkara di Pengadilan Munich pada Rabu (3/5) lalu, Thilo Pfordte dan Ulrike Thole-Groll, tim pembela dan penasehat hukum dari Rupert Stadler melakukan pembicaraan dengan hakim Stefan Weickert dan tim jaksa penuntut.

Pihak pengadilan menawarkan keringanan hukuman bila Stadler bersedia untuk ‘buka mulut’. Pasalnya, Stadler menyangkal segala tuduhan yang ditujukan kepadanya sejak kasus ini naik ke persidangan pada tahun 2020 lalu.

Jalan Panjang Kasus “Diesel Gate”

Berdasarkan bukti yang diperoleh tim penyidik Tindak Pidana Ekonomi, Stadler seharusnya telah mengetahui adanya manipulasi hasil uji emisi tersebut pada Juli 2016. Alih-alih melakukan upaya pencegahan dan investigasi, ia justru ‘membiarkan’ penjualaan seluruh kendaraan terkait terus berlanjut hingga awal tahun 2018.

Saat kasus ini terkuak, Volkswagen mengakui adanya pemasangan software manipulasi data emisi pada 11 juta mobil diesel dari berbagai merek yang berada di bawah naungan Volkswagen AG. Jumlah yang tak sedikit dan seluruhnya tersebar ke berbagai negara.

Software manipulator data emisi yang terpasang telah disesuaikan dengan standar emisi yang berlaku di negara penguji. Hasil dari uji emisi pun akan lebih rendah dari kondisi sebenarnya di jalan raya.

Buka Mulut, Atau Menjalani Kurungan Badan

Pihak jaksa penuntut dalam tuntutannya mengharuskan Stadler untuk membayar denda sebesar €1,1 juta dan hukuman masa percobaan selama 3 tahun. Namun hakim pengadilan menyatakan bahwa jika Stadler tetap enggan untuk bersaksi, maka ia akan berada di balik jeruji besi antara 1,5 – 2 tahun dan tetap harus membayar denda jutaan Euro.

Melalui tim penasehat hukumnya, Stadler pun akhirnya setuju untuk memberi kesaksian paling lambat pada 16 Juni 2023 mendatang. Berkenaan dengan hal tersebut, pihak Wolfsburg enggan berkomentar.

Tak hanya Stadler, sejumlah engineer termasuk mantan pejabat eksekutif di Audi dan Porsche, Wolfgang Hatz turut menjadi tersangka. Sementara, Zaccheo Giovanni Pamio, mantan engineer Audi yang terlibat dalam perancangan software manipulasi hasil uji emisi telah didakwa atas keterlibatannya.

Sejumlah tuntutan hukum dari Departemen Kehakiman AS pun dilayangkan pada beberapa tersangka dalam kasus “Diesel Gate”. Akan tetapi sidang berjalan in absentia, karena yang bersangkutan berada di Eropa dan tidak dapat diekstradisi ke Amerika Serikat

Kecurangan Yang Harus Dibayar Mahal

Volkswagen terbukti dan mengakui adanya penjualan hampir 600.000 unit mobil yang terindikasi dicurangi ke AS. Pada tahun 2017, Volkswagen bersedia membayar denda yang diputuskan oleh Departemen Kehakiman AS pada sidang di Washington DC. Nominalnya sekitar $4,3 miliar!

Kompensasi sebesar $15 miliar pun harus dibayar kepada para konsumen pemilik kendaraan VW, Porsche dan Audi di AS yang dirugikan atas perbuatan manipulasi data uji emisi tersebut. Itu baru di Amerika Serikat, belum termasuk di benua Eropa dan negara lainnya.

Tak hanya nama baik serta reputasi yang tercoreng dan sulit untuk dipulihkan. Nilai saham Volkswagen AG pun anjlok drastis di pasar bursa. Harga yang amat sangat mahal. Bagaimana kelanjutan dari kasus ini? Kita nantikan fakta apa yang akan diungkap oleh Rupert Stadler.

Bahaya Tertidur Dalam Mobil_1

Bahaya Tertidur Saat Mesin Mobil Menyala

Sebagai pengendara mobil, Anda pasti pernah mengalami kantuk berat saat perjalanan jauh. Banyak dari kita terkadang lupa kalau berkendara saat mengantuk amat berbahaya. Bila rasa kantuk sudah tak tertahan, sebaiknya Anda segera cari tempat istirahat di sekitar perjalanan. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan jika Anda ingin tidur di dalam mobil. Tertidur di dalam mobil saat mesin masih menyala, bisa bahaya akibatnya untuk nyawa manusia.

Sebenarnya menggunakan AC di dalam mobil tidak selamanya membuat nyaman. AC justru dapat menimbulkan risiko fatal, terutama sekali pada AC yang dinyalakan di dalam mobil yang tidak bergerak. AC mobil tergolong berbahaya bagi kesehatan terutama jika dinyalakan saat mobil dalam keadaan diam atau mobil yang baru saja dijalankan. Penyebab utamanya ialah keracunan dari gas buang.

Saat menyalakan mobil beserta AC dalam waktu lama sementara mobil tidak dijalankan, kondisi tertutup di dalam mobil menyebabkan sirkulasi udara menjadi tidak berfungsi. Hal ini kemudian menyebabkan penumpukan gas karbon monoksida (CO) di dalam mobil.

Karbon monoksida yang terserap ke dalam tubuh menyebabkan kadar oksigen di dalam tubuh berkurang. Akibatnya haemoglobin kesulitan untuk mendapatkan pasokan oksigen yang cukup untuk bisa diedarkan ke seluruh tubuh.

Akibatnya, tubuh pun menjadi kekurangan oksigen termasuk organ paru-paru dan otak. Badan yang kekurangan oksigen akan menjadi lemas, lama-kelamaan akan menyebabkan kematian pada sel. Dalam keadaan demikian, biasanya manusia tidak akan sanggup lagi untuk mencari pertolongan karena dapat dikatakan bahwa keadaannya sudah sekarat hingga kehilangan kesadaran. Hal inilah yang kemudian dapat menyebabkan risiko kematian.

Bahaya Lain

Selain kandungan karbon monoksida, di dalam mobil sendiri terdapat senyawa toksin Benzene yang dapat menyerang organ-organ penting di dalam tubuh seperti hati, jantung, paru-paru, ginjal, bahkan sampai ke otak. Menyebabkan kerusakan pada struktur makromolekul (kromosom). Tingkat Benzene akan semakin meninggi apabila suhu ruangan di dalam mobil meningkat.

Berikut beberapa cara yang dapat Anda lakukan dalam mencegah keracunan di dalam mobil:

  • Periksalah secara berkala sistem gas buang (knalpot) mobil untuk menghindari kebocoran, karena sedikit saja ada bocor pada sistem pembuangan dapat menyebabkan gas beracun karbon monoksida masuk ke dalam mobil yang membuat Anda dan seluruh yang berada di dalam keracunan.
  • Jangan menyalakan AC pada saat mobil berada di ruang tertutup dan semua jendela ditutup.
  • Setelah mobil dijalankan jangan langsung menyalakan AC, akan tetapi bukalah terlebih dahulu jendela mobil agar udara di dalam bisa tergantikan dengan udara yang lebih segar. Setelah itu, barulah tutup jendela dan Anda pun bisa menyalakan AC.
  • Jangan beristirahat di dalam mobil dalam keadaan AC masih menyala dan semua jendela mobil tertutup rapat.

Dalam kasus orang yang masih sempat diselamatkan, biasanya sudah terjadi kerusakan pada otak dan sistem syaraf serta menyebabkan korban merasa sakit kepala, mual, dan muntah. Hal itu akan berpengaruh pada sikap dan tingkat kecerdasan, menyebabkan terjadinya keterlambatan pertumbuhan. Oleh sebab itu, jarang sekali orang yang terpapar karbon monoksida bisa terselamatkan.