CATL Ning Service, Reparasi Baterai EV di 100 Kota Dunia

CATL mengambil langkah besar dengan menyiapkan jaringan layanan purnajual baterai kendaraan listrik di 100 kota di seluruh dunia hingga akhir 2026.

Melalui layanan bernama Ning Service, produsen baterai asal China ini ingin mengubah paradigma perbaikan baterai EV yang selama ini cenderung berujung pada penggantian satu paket baterai secara keseluruhan.

CATL Ning Service menargetkan proses perbaikan dapat diselesaikan dalam waktu maksimal 72 jam melalui pusat layanan yang dioperasikan langsung perusahaan dan memanfaatkan teknologi robotik.

Dari Ganti Satu Pack Menjadi Perbaikan Sel

Persoalan baterai menjadi salah satu kekhawatiran calon konsumen mobil listrik. Kerusakan akibat benturan, kebocoran, maupun gangguan komponen tertentu dapat membuat satu unit battery pack harus diganti, meskipun kerusakannya sebenarnya hanya terjadi pada bagian tertentu.

CATL Ning Service mencoba menawarkan pendekatan berbeda melalui teknologi cell-to-pack repair. Alih-alih mengganti seluruh baterai, teknisi dapat melakukan penggantian pada sel atau komponen yang mengalami kerusakan.

Pendekatan ini diklaim mampu memangkas biaya perbaikan secara signifikan. CATL Ning Service sebelumnya menargetkan biaya perbaikan dapat ditekan dari sekitar 100.000 yuan menjadi 10.000 yuan, atau turun hingga 90 persen.

Langkah tersebut berpotensi menjadi perubahan penting dalam biaya kepemilikan mobil listrik, terutama ketika kendaraan memasuki usia penggunaan yang lebih panjang.

10 Pusat Layanan Sudah Beroperasi

Dalam acara Ning Day 2026 di Haikou, CATL mengungkapkan delapan Ning Service yang dioperasikan langsung telah berjalan di China. Dua pusat layanan internasional juga telah beroperasi di Norwegia dan Istanbul.

Secara keseluruhan, Ning Service saat ini memiliki 1.376 pusat layanan waralaba di 84 negara. Jaringan tersebut juga menangani sekitar 1.505 stasiun battery swap dalam ekosistem Choco-SEB milik CATL.

CATL menyatakan fasilitas terbaru kini dapat menangani 76,8 persen model kendaraan energi baru yang dijual di China, meningkat dari sebelumnya 47 persen.

Menariknya, layanan terbaru tidak lagi hanya ditujukan untuk kendaraan yang menggunakan baterai CATL. Namun, mekanisme penanganan kendaraan dengan baterai dari produsen lain masih belum dijelaskan secara rinci.

Reparasi Baterai Dikerjakan Robot

Teknologi menjadi salah satu pembeda Ning Service. CATL mengembangkan lini reparasi otomatis yang memungkinkan robot melakukan sejumlah pekerjaan, mulai dari memotong, mengecat hingga mengaplikasikan perekat pada battery pack.

CATL juga memperkenalkan mobile repair truck berbasis kendaraan listrik dengan jarak tempuh hingga 800 km. Kendaraan ini diklaim mampu melakukan 30 jenis diagnosis dan sekitar 50 jenis perbaikan.

Untuk kasus yang tidak membutuhkan pembongkaran baterai secara mendalam, layanan bergerak tersebut diklaim dapat memangkas waktu pengerjaan dari 72 jam menjadi sekitar 48 jam.

Sementara pekerjaan kompleks seperti penggantian sel, pembongkaran level sel, maupun rekondisi battery pack kemungkinan tetap membutuhkan fasilitas khusus.

Purnajual Jadi Senjata Baru Industri EV

Langkah CATL Ning Service menunjukkan bahwa persaingan industri kendaraan listrik mulai memasuki babak baru. Setelah teknologi baterai, kapasitas produksi, dan kecepatan charging menjadi medan persaingan, layanan purnajual baterai berpotensi menjadi faktor penting dalam keputusan membeli EV.

Bagi konsumen, jaringan reparasi yang semakin matang berarti kekhawatiran terhadap biaya baterai rusak dapat ditekan. Terutama CATL merupakan salah satu produsen baterai terbesar dunia dengan basis pelanggan yang mencakup berbagai merek otomotif global.

Jika target 100 kota berhasil direalisasikan hingga akhir 2026, CATL Ning Service bukan hanya menjadi jaringan reparasi baterai, namun juga dapat menjadi fondasi baru ekosistem kepemilikan mobil listrik jangka panjang.

Mudah-mudahan segera hadir di Indonesia…

BYD Luncurkan Blade Battery 2.0 dan Teknologi Flash Charging

Sejak pertamakali diperkenalkan oleh BYD pada tahun 2020, Blade Battery menjadi barometer dalam aspek keamanan baterai, usia pakai dan jarak jelajah.

Dengan teknologi lithium iron phosphate (LFP) Blade Battery generasi pertama mampu menyaingi densitas energi yang dihasilkan oleh baterai ternary lithium. Blade Battery bahkan terbukti jauh lebih aman.

Kini produsen kendaraan listrik asal China, BYD, resmi memperkenalkan Blade Battery generasi kedua (Blade Battery 2.0) yang mampu melakukan pengisian daya ultra cepat.

Pengecasan Cepat Pada Suhu Minus

Pengecasan daya dari 10 hingga 70 persen dikatakan hanya butuh waktu lima menitan. Sedangkan dari 10 hingga 97 persen waktu yang dibutuhkan sekira sembilan menitan.

BYD pun melakukan uji pengecasan baterai Blade generasi kedua ini pada sejumlah model mobil listrik terbarunya. Kemampuan pengisian daya cepat tersebut bahkan tetap dapat dipertahankan dalam kondisi suhu di bawah titik beku.

Dalam uji pengecasan pada suhu −20°C, baterai ini mampu mengisi daya dari 20 hingga 97 persen dalam waktu 12 menit. Sedangkan pada suhu -30°C, waktunya cuma 3 menit lebih lama. Peningkatan pada efisiensi sistem manajemen termal baterai Blade generasi kedua ini sangat signifikan dibandingkan generasi sebelumnya.

Teknologi Blade Battery 2.0 menjadi bagian dari strategi baru BYD untuk meningkatkan performa dan daya jelajah serta kecepatan waktu pengecasan yang selama ini menjadi tantangan utama pada mobil listrik.

Selain peningkatan kecepatan pengisian, Blade Battery 2.0 juga memiliki kepadatan energi sekitar 5 persen lebih tinggi dari versi terdahulu. Siklus usia pakai pun dikatakan jauh lebih panjang. Standar keselamatan kini lebih ketat dibanding generasi sebelumnya.

Performa baterai terbaru ini telah diuji pada sejumlah model seperti Denza Z9 GT. Blade Battery terbaru ini jarak jelajahnya dikatakan mampu mencapai lebih dari 1.000 km dalam sekali pengisian daya berdasarkan standar pengujian CLTC.

Segera Digunakan Pada Model Terbaru

Tak hanya mendemonstrasikan kemampuan teknologi baterai generasi kedua ini, BYD bahkan segera mengaplikasikannya pada lebih dari 10 model kendaraan dari berbagai merek di bawah BYD, termasuk Denza dan Yangwang.

Pada saat acara peluncuran Blade Battery 2.0 di Shenzhen, China pada 5 Maret 2026, Yangwang memperkenalkan Yangwang U7. Mobil listrik terbaru ini bahkan jadi salah satu model perdana yang dibekali baterai tersebut. Berdasarkan siklus uji CLTC, jarak jelajah Yangwang U7 dikatakan mampu menembus hingga 1.006 km!

Dalam keterangan resminya di sosial media Weibo, Hu Xiaoqing, General Manager of Yangwang’s Sales Division, menegaskan tantangan “segitiga kemustahilan” yang selama ini dihadapi produsen mobil listrik kelas mewah mulai dapat teratasi.

“Performa energi? Tentu bisa ditingkatkan, tapi akan mengurangi durabilitas baterai. Jarak jelajah? Itu pun bisa ditingkatkan, tapi aspek akselerasi akan terkompromi. Fast charging? Jelas sangat memungkinkan, yapi saat ini hanya untuk baterai berdaya kecil”, ungkap Hu Xiaoqing.

Yangwang U7 merupakan jawaban nyata dari ketiga aspek yang selama ini menjadi keterbatasan utama pada mobil listrik.

Dengan teknologi sistem penggerak “Super Quad-Motors” dan Blade Battery 2.0, semua hambatan dapat teratasi. Tak hanya mampu menjelajah hingga menembus batasan 1.000 km tanpa mengorbankan performa. Baterai berdaya 150 kWh yang diusung Yangwang U7 mampu menunjukkan jarak jelajah yang fantastis dan kemampuan pengecasan daya dalam waktu yang relatif sangat cepat.

BYD Bangun Jaringan SPKLU Megawatt Flash Charging

Salah satu lompatan besar yang saat ini menjadi sorotan adalah teknologi Megawatt Flash Charging. Teknologi pengisian daya ultra cepat termutakhir BYD ini akan segera diaplikasikan ke seluruh penjuru China.

Guna memperluas akses pengguna mobil listrik dalam menjangkau teknologi “Flash Charging”, BYD saat ini sudah membangun jaringan SPKLU Flash Charging.

Setiap unit SPKLU Flash Charging memiliki output daya 1.500 kW yang beroperasi pada tegangan listrik 1.000 V. BYD menargetkan pembangunan sekitar 20.000 stasiun pengisian daya flash charging di China. Sebanyak 18.000 SPKLU Flash Charging akan terintegrasi dengan jaringan SPKLU yang telah ada.

Bahkan sekitar 2.000 unit SPKLU Flash Charging akan ditempatkan di sepanjang ruas jaringan jalan tol seantero China. Dalam setiap radius 100 km akan terdapat titik jaringan SPKLU Flash Charging. Diharapkan proyek awal pembangunan 2.000 titik jaringan SPKLU Flash Charging di jalan tol akan selesai pada akhir tahun ini.

Saat ini BYD telah membangun sebanyak 4.239 titik jaringan SPKLU Flash Charging di berbagai kota di China.

BYD CEO Wang Chuanfu menyatakan bahwa SPKLU dengan kemampuan ultra-fast charging tentu akan berisiko membebani pasokan daya dari jaringan listrik utama.

Sebagai antisipasi, BYD akan menempatkan power bank penampung daya di setiap  titik jaringan SPKLU Flash Charging. Selain agar kinerja pengisian daya tetap terjaga, juga tidak membebani jaringan listtik utama.

Nantinya, setiap kendaraan listrik yang punya kemampuan menggunakan SPKLU Flash Charging akan menggunakan tanda khusus agar lebih mudah dikenali.

Catatan waktu dapat dilihat pada daftar berikut:

Pengecasan 10% – 70%:

Yangwang U7 4m 54s

Denza N9 4m 58s

Fang Cheng Bao 3 4m 59s

Seal 07 5m 01s

Great Tang 5m 02s

Sealion 06 5m 02s

Song Ultra 5m 03s

Fang Cheng Bao Ti7 5m 09s

Denza Z9GT 5m 11s

Yangwang U8L 5m 11s

Pengecasan 10% – 97%:

Fang Cheng Bao 3 8m 45s

Song Ultra 8m 47s

Sealion 06 8m 47s

Seal 07 8m 47s

Denza N9 9m 03s

Fang Cheng Bao Ti7 9m 05s

Yangwang U8L 9m 07s

Denza Z9GT 9m 08s

Yangwang U7 9m 23s

Great Tang 9m 24s

Wuling Rayakan Tiga Pencapaian Istimewa Dalam Industri Otomotif

PT SGMW Motor Indonesia (Wuling) merayakan tiga pencapaian istimewa dalam sejarah industri otomotif, dengan angka produksi tiga juta unit electric vehicle (EV) secara global. Di mana sebanyak 40 ribu unit merupakan kontribusi dari pabrik Wuling di Cikarang, Jawa Barat. Pencapaian ini mencatatkan sejarah baru bagi Wuling sebagai produsen otomotif Tiongkok pertama yang mencapai angka produksi tiga juta unit EV.

“Kami merayakan tiga pencapaian Wuling sekaligus secara bersamaan. Dengan pencapaian yang diraih, telah menjadi bukti atas kemampuan Wuling dalam mendorong inovasi teknologi. Mendukung keberlanjutan dan konsistensi kualitas secara global untuk segmen EV,” ujar Arif Pramadana, Vice President Wuling Motors.

Dua Buah MAGIC Battery

Perayaan di pabrik Wuling Cikarang ini turut dihadiri jajaran manajemen SAIC Motor, SAIC-GM-Wuling, SAIC International, SAIC-GM-Wuling, dan PT SGMW Motor Indonesia. Prosesi seremoni diawali dengan pembukaan selubung unit Wuling EV ke 40 ribu di Indonesia yang dilakukan Wang Xiaoqiu (Chairman of SAIC Motor), dan Dr.Yao Zuoping (Deputy General Manager of SAIC-GM-Wuling).

Dilanjutkan membuka selubung dua buah MAGIC battery, yang dirakit secara lokal oleh Piao Chunxu (Assistant General Manager of SAIC International), Tang Wensheng (President Director of PT SGMW Motor Indonesia), Wei Yong (Vice President of SAIC Motor), dan Zhao Xiaobin (Deputy General Manager of SAIC-GM-Wuling).

Mampu Produksi Jutaan Unit EV

Kemampuan Wuling untuk memproduksi jutaan unit EV adalah hasil dari kepemimpinannya di industri otomotif global selama lebih dari 20 tahun. Selama kurun waktu itu, Wuling turut mencatat sebanyak 1,5 juta penjualan secara global. Atau setara dengan 50 persen penjualan new electric vehicles (NEV) di dunia.

Tak bisa dipungkiri, jika Indonesia turut andil besar dalam pencapaian ini, dari total produksi global EV dari pabrik Cikarang. Pabrik ini berperan sebagai sentra produksi, hub, pasar lokal dan ASEAN, serta negara-negara dengan setir kanan.

Teknologi MUST Inspiratif

Selain itu, Wuling juga memperkenalkan MAGIC Battery rakitan lokalnya. MAGIC Battery merupakan baterai inovatif yang mengintegrasikan berbagai teknologi terkini untuk menghasilkan performa tinggi dan keamanan maksimal. MAGIC Battery menyandang lima aspek utama. Mulai dari Multifunction Unitized Structure Technology (MUST), Advanced Cell Safety, Greater Performance, Intelligent Management, dan Combustion Free.

Teknologi MUST terinspirasi dari desain sayap pesawat. Mengintegrasikan struktur baterai menjadi satu bagian fungsional yang ringan, kuat, dan modular. Sehingga meningkatkan kekuatan struktural hingga 60 persen. Berkat Advanced Cell Safety, baterai ini memiliki sel dengan perlindungan ekstra. Keunggulan ini didukung dengan High Precision Battery Management System untuk memantau kondisi baterai.

Baterai Aegis ‘Short Blade’ Diklaim Lebih Tangguh

Industri teknologi baterai mobil listrik di RRC saat ini didominasi oleh CATL dan BYD. Namun sejumlah pabrikan otomotif di negara tersebut juga memproduksi baterai sendiri. Salah satunya adalah Geely. Mereka memperkenalkan teknologi baterai terbarunya, Aegis Short Blade.

Persaingan Baterai Blade

Teknologi baterai Blade saat ini jadi acuan berbagai pabrikan mobil listrik. Demikian pula dengan lithium-iron-phosphate (LFP).

Kemunculan baterai Aegis Short Blade bikinan Geely, akan jadi kompetitor dengan baterai Shenxing buatan CATL, dan baterai Blade buatan BYD. Bahkan saat ini baterai Blade telah memasuki versi 2.0.

Persaingan antar baterai, dari sisi durabilitas dan performa untuk menghasilkan daya jelajah maksimum.

Pemerintah China saat ini kian menggenjot penggunaan baterai dengan sel LFP untuk menggantikan sel bersenyawa nikel.

Baterai Aegis Lebih Awet?

Baterai buatan Geely ini menggunakan elemen sel berdesain tabung berukuran nano. Densitas energi baterai bersel LFP ini pun dikatakan berada di angka 192 Wh/kg.

Geely bahkan mengklaim baterai terbaru mereka bisa digunakan hingga 3.500 kali pengisian ulang. 

Waktu Pengisian Lebih Cepat

Jika rata-rata perjalanan untuk sekali isi ulang daya di kisaran 250-300 km, maka daya tahan siklus isi ulang baterai ini masih cukup masuk akal.

Melalui fast charging, Geely mengklaim hanya butuh waktu 17 menit, untuk isi ulang daya dari 10 persen hingga 80 persen.

Pengujian Suhu Minus

Pada suhu minus 30° Celsius, baterai Blade biasa mengalami penurunan kapasitas daya menjadi 78,96 persen. Sedangkan baterai Aegis Short Blade kapasitas hanya anjlok menjadi 90,54 persen. 

Soal daya tahan, Geely telah melakukan serangkaian pengujian. Mulai dari uji suhu tinggi, ketahanan terhadap gesekan, benturan, bahkan tusukan.

Baterai Aegis ‘Short Blade’ baru ini nanti akan dipakai pada Geely Galaxy E5, mulai Agustus 2024. Konsumen dapat memilih salah satu dari dua opsi baterai.

Untuk versi 50 kWh, mampu menjelajah hingga 440 km. Sedangkan, versi 60 kWh bisa sampai 530 km.

BYD Mau Beralih ke Teknologi Baterai Prismatik

Baterai merupakan perangkat yang sangat penting bagi mobil listrik dan hybrid. Sebagai penyimpan energi listrik, teknologi baterai saat ini telah mengalami perkembangan pesat. Tak hanya materialnya, tapi juga desain dan kapasitas dayanya.

BYD adalah salah satu pabrikan yang menjadi barometer perkembangan teknologi baterai di dunia saat ini.

Belakangan muncul berbagai kejadian malfungsi dan kebocoran baterai pada mobil listrik buatan BYD dan sejumlah brand otomotif lain. BYD pun memutuskan untuk beralih dari baterai jenis selubung ke prismatik guna meningkatkan keamanan.

Sel Baterai Selubung Kurang Aman

Saat ini terdapat tiga jenis baterai yang digunakan yakni selubung, silindris dan prismatik. Baterai jenis selubung telah ada cukup lama dan paling banyak digunakan dalam berbagai industri. Desainnya yang sederhana dan praktis membuat biaya produksi jauh lebih murah dibanding dua jenis baterai lainnya.

Kekurangannya, sel baterai jenis ini rentan mengalami kebocoran cairan elektrolit. Tak hanya itu, durabilitas dan daya tahan sel baterai selubung terbilang rendah. Risiko perambatan panas tinggi antar sel yang dapat menimbulkan kebakaran pun jauh lebih besar. Hal ini jelas berbahaya.

Berbeda dengan sel baterai jenis prismatik. Sel baterai terlindungi oleh rangka cangkang model prisma yang kokoh dan kedap. Risiko kebocoran pada baterai pun dapat diminimalisir. Desain cangkang berbentuk prisma mempermudah penyusunan sel pada paket baterai. Biaya produksi sel prismatik memang sedikit lebih mahal, namun jauh lebih aman.

Hingga tahun 2022, BYD telah melakukan penarikan (recall) pada 60 ribu unit mobil hybrid Tang DM-I berkaitan dengan adanya malfungsi dan indikasi cacat produksi pada baterai sel selubung yang digunakan.

BYD saat ini masih menggunakan sel baterai jenis selubung untuk mobil hybrid dan plug-in hybrid (PHEV) yang dipasarkan di China. Jumlahnya sekira 98 persen dari total unit kendaraan yang diproduksi.

Masa Transisi Ke Sel Baterai Prismatik

Tentunya BYD tak bisa langsung serta merta menghentikan penggunaan baterai jenis ini. Perlu konversi lini produksi dan masa transisi.

Pabrik baterai di provinsi Qinghai sementara ini masih memproduksi sel baterai jenis selubung. Rencananya BYD tak akan lagi menggunakan sel baterai jenis selubung mulai tahun 2025 mendatang.

Di saat yang sama, BYD tengah melakukan konversi lini produksi pada pabrik manufaktur baterai yang ada di provinsi Shaanxi dan Zhejiang. Kedua pabrik ini akan memproduksi baterai jenis sel prismatik.

Tak hanya BYD, sejumlah pabrikan otomotif dunia masih menggunakan sel baterai jenis selubung. Meskipun sudah menggunakan teknologi baterai jenis bilah (Blade), namun isinya masih menggunakan sel jenis selubung. Paket baterainya memang kokoh, tapi sel baterainya masih berisiko mengalami kebocoran.

Berdasarkan catatan yang kami peroleh dari sejumlah sumber, sekira 48 persen mobil PHEV yang beredar di pasar global pada tahun 2023 lalu masih menggunakan sel baterai jenis selubung. Jumlah yang masih sangat banyak. Ke depannya, isi dari baterai Blade pada mobil PHEV dan hybrid akan menggunakan sel jenis prismatik seperti yang digunakan mobil listrik. Hal ini telah dilakukan Volkswagen dan Tesla sejak tahun 2021.

Tingkat keamanan teknologi baterai yang digunakan bukan hal yang bisa dianggap sepele. Keselamatan para konsumen jauh lebih utama dan jangan sampai tersisihkan.