Honda S+ Shift, Bikin Mobil Hybrid Terasa Lebih Sporty

Mobil hybrid identik dengan efisiensi dan respons yang halus. Honda mencoba menghadirkan karakter berbeda melalui teknologi S+ Shift pada sistem e:HEV.

Teknologi ini menghadirkan simulasi perpindahan gigi yang lebih tajam dan terasa realistis. Putaran mesin, suara, hingga torsi deselerasi dikontrol untuk menciptakan sensasi berkendara yang lebih sporty.

Honda mengembangkan S+ Shift sebagai Virtual Stepped Transmission di dalam sistem e:HEV. Ketika diaktifkan, sistem mensimulasikan perpindahan gigi untuk memberikan respons seperti mobil dengan transmisi manual.

Teknologi tersebut dikembangkan dengan mengambil inspirasi dari motorsport. Tujuannya bukan mengubah karakter hybrid menjadi mobil balap, tetapi menghadirkan kembali sensasi berkendara yang lebih emosional.

Hideki Kakinuma, lead engineer pengembangan Honda Civic e:HEV terbaru, mengatakan teknologi tidak seharusnya menghilangkan kesenangan berkendara.

Justru, perkembangan teknologi harus membuat pengalaman mengemudi semakin menarik. Prinsip tersebut menjadi dasar pengembangan Honda S+ Shift.

Simulasi Perpindahan Gigi Lebih Realistis

S+ Shift mengandalkan dua teknologi utama. Salah satunya adalah Step Shift Control yang mengatur simulasi perpindahan gigi ketika akselerasi maupun deselerasi.

Sistem juga mengatur putaran mesin dan engine braking. Pada saat yang sama, suara mesin dibuat mengikuti karakter perpindahan putaran seperti ketika mobil digunakan di lintasan balap.

Hasilnya, pengemudi tidak hanya merasakan perubahan respons. Telinga dan sensasi tubuh juga mendapatkan umpan balik yang membuat proses akselerasi terasa lebih hidup.

S+ Shift kemudian bekerja bersama Sports Adaptive Control. Sistem ini menyesuaikan distribusi tenaga dan waktu perpindahan gigi berdasarkan input pengemudi serta kondisi jalan.

Saat keluar dari tikungan, misalnya, respons tenaga dapat diberikan secara cepat dan presisi. Karakter tersebut menjadi bagian penting dari upaya Honda mempertahankan DNA sporty Civic.

Diuji Langsung di Sirkuit

Honda tidak hanya mengembangkan teknologi ini untuk penggunaan sehari-hari. S+ Shift juga diuji di Chang International Circuit, Buriram, Thailand.

Pengujian tersebut melibatkan pembalap profesional untuk memastikan karakter berkendaranya sesuai dengan DNA sporty Honda.

Thanasiwanat Pongsinnachachan, juara Honda One Make Race 2024, menilai respons S+ Shift terasa dekat dengan pengalaman balap.

Menurutnya, suara mesin dan respons yang konsisten membuat pengalaman semakin menarik. Respons ketika memasuki tikungan juga dinilai membantu meningkatkan kontrol dan kepercayaan diri.

Pengalaman serupa disampaikan Piyawadee Prutsasan. Pembalap Thailand yang menjadi juara Honda One Make Race 2026 Honda City Challenge tersebut menilai teknologi ini mampu menghadirkan kesenangan berkendara yang lebih mudah dinikmati.

Koji Iwanami, President and CEO Honda Automobile (Thailand), mengatakan perubahan karakter terasa jelas ketika S+ Shift diaktifkan.

Respons kendaraan menjadi lebih cepat. Simulasi suara mesin, perpindahan gigi, dan tampilan pada panel instrumen bekerja secara bersamaan.

Bagi Honda, pendekatan ini menunjukkan bahwa teknologi hybrid tidak harus identik dengan pengalaman berkendara yang datar.

Melalui S+ Shift, Honda e:HEV mencoba menggabungkan efisiensi elektrifikasi dengan sensasi mengemudi yang lebih emosional. Teknologi tersebut menjadi cara Honda menjaga prinsip The Fun of Driving di era elektrifikasi.

Honda dan IBM Kerjasama Buat Riset Cip Semikonduktor

Honda dan IBM mengumumkan penandatanganan kerjasama untuk penelitian bersama jangka panjang, serta pengembangan teknologi komputer generasi mendatang. Hal tersebut diperlukan untuk menghasilkan kemampuan proses, konsumsi daya, dan kompleksitas desain untuk kendaraan di masa depan.

Penerapan teknologi intelijen artifisial/AI diperkirakan akan meningkat pesat pada tahun 2030 dan seterusnya, sehingga menciptakan peluang baru untuk pengembangan perangkat lunak. Honda dan IBM mengantisipasi bahwa perangkat lunak bakal mengalami peningkatan yang lebih kompleks. Baik dari sisi desain, kinerja pemrosesan, dan konsumsi daya semikonduktor dibandingkan dengan produk mobilitas konvensional.

Untuk mewujudkan perangkat lunak baru, sangat penting untuk mengembangkan kemampuan dalam penelitian dan pengembangan teknologi untuk generasi mendatang. Berdasarkan pemahaman ini, kedua perusahaan mempertimbangkan penelitian dan pengembangan bersama untuk waktu jangka panjang.

Nota kesepahaman kedua belah pihak menguraikan bidang-bidang penelitian bersama yang potensial mengenai teknologi khusus seperti komputasi semikonduktor dan teknologi chiplet. Tujuannya untuk meningkatkan kinerja pemrosesan sekaligus pada saat bersamaan dapat mengurangi penggunaan daya.

Optimalisasi perangkat keras dan perangkat lunak penting untuk memastikan kinerja serta waktu pemasaran yang cepat. Untuk mencapai hal tersebut, kedua perusahaan juga berencana untuk mengeksplorasi solusi perangkat lunak yang terbuka dan fleksibel. Melalui kolaborasi ini, kedua perusahaan akan berupaya mewujudkan perangkat lunak yang yang lebih canggih lagi, serta kinerja yang hemat daya.

2021 Honda Legend

Honda Siapkan Teknologi Autonomous Level 3 Untuk 2029

Honda dikabarkan sedang mempersiapkan dengan serius, teknologi autonomous level 3 yang dicanangkan akan hadir di produk mobilnya pada tahun 2029 mendatang. Kemampuan gerak sendiri tersebut akan mencakup berbagai tingkat kecepatan.

Meski demikian, pabrikan Jepang ini sebetulnya sudah mulai memasarkan secara terbatas produk yang memiliki kemampuan tersebut. Honda Legend generasi terbaru, muncul tahun lalu, adalah mobil pertama mereka yang menerapkan autonomous level 3. Tidak banyak, hanya 100 unit yang dilengkapi fitur ini.

Honda Legend 2021

Untuk diketahui autonomous driving atau kemampuan pengendaraan otonom tingkat ketiga adalah teknologi dimana pengendara tidak perlu terlalu memperhatikan proses mengemudi. Dalam arti, mereka akan bisa berkendara sambil melakukan aktifitas lain, secara terbatas.

Honda Traffic Jam Pilot

Kemampuan fitur canggih yang dinamai Honda Traffic Jam Pilot ini bisa mulai berfungsi pada kecepatan 30 km/jam. Akan terus bekerja hingga kecepatan 50 km/jam. Setelah itu pengendara harus fokus mengemudi.

Untuk gambaran, saat jalan tol macet yang setiap saat terjadi di Jakarta, Traffic Jam Pilot akan mengambil alih pengendaraan. Anda yang di balik kemudi bisa sedikit rileks dan melakukan aktivitas lain seperti baca email, balas pesan di handphone dan sebagainya.

Honda Autonomous level 3

Saat kondisi lalu lintas memungkinkan untuk berkendara diatas 50 km/jam, sistemnya akan memberikan peringatan. Jadi kalau Anda ketiduran pun, yang mana hampir pasti akan terjadi, bisa langsung sadar dan berkendara kembali.

Motivasi yang mendorong Honda untuk segera mengembangkan dan menerapkan teknologi itu adalah, target zero fatality akibat kecelakaan yang melibatkan mobil dan motor Honda paling lambat 2050 nanti.

“Kami yakin dengan mengejar teknologi autonomous driving level 3 ini, bisa mengurangi tingkat kecelakaan. Esensinya adalah membuat mobil yang tidak bisa tabrakan,” kata Honda engineer Mahito Shikama, seperti dikutip dari Reuteurs. Namun Shikama menolak menjawab sesegera apa fitur ini akan tersedia di mobil masal Honda.

Sebetulnya, fitur ini meski mungkin punya Honda akan lebih detail dan spesifik, sudah ada di beberapa mobil. Contoh yang pernah kami coba adalah Wuling Almaz. Kemampuan menjalankan dan menghentikan mobil saat mengalami kemacetan sudah ada. Tapi pasti akan ada kemajuan yang signifikan nanti.