Review Mobil Bekas: Mercedes-Benz A-Class W169

Di pertengahan tahun 2004, Mercedes-Benz A-Class generasi kedua diperkenalkan di atas kapal pesiar yang sedang berada di perairan Yunani. Mobil dengan kode bodi W169 itu dijadwalkan mulai dijual pada September 2024. Untuk pertama kalinya, A-Class ada dua varian bodi, yakni tiga pintu dan lima pintu. Uniknya, jarak wheelbase serupa, yakni 2.568 mm.

Desain awal dari W169 ini masih menganut konsep yang mirip dengan W168. Mesin dan transmisi berada di balik kap depannya, dengan posisi kemiringan 59 derajat. Jika terjadi benturan frontal, maka mesin dan transmisi akan jatuh ke bawah, bukan menghujam firewall. Karena ruang mesin yang pendek, maka Mercedes-Benz bisa memaksimalkan dimensi kabin.

Transmisi CVT yang baru dikembangkan

Ketika diluncurkan, W169 punya enam pilihan mesin. Tiga mesin bensin dan tiga mesin diesel. Untuk pasar Indonesia dan yang kebetulan kami jumpai ini ialah A 150 bermesin bensin 1.5 liter 95 hp. Mesin ini dipadukan dengan transmisi CVT yang baru dikembangkan. Mercedes-Benz menamakannya AUTOTRONIC, dan dapat digandengkan dengan semua mesin yang ada pada W169.

Walaupun versi bodi lima pintu memiliki dasar teknis yang serupa dengan bodi tiga pintu, tapi tampilan bodinya memiliki sedikit perbedaan. Sebagai pelengkap, kaca belakang W169 kini berukuran lebih besar dari W168. Sehingga memperlihatkan aspek lapang pada interiornya. Pada saat yang sama, memungkinkan pengemudi memiliki visibilitas yang optimal.

Ada tiga pilihan trim

W169 dengan trim Classic, menggunakan velg besi 15 inci dengan dop. Untuk trim Elegance, memakai velg alloy 7-hole 15 inci. Sedangkan trim Avantgarde, disematkan velg alloy 5-spoke 16 inci. Di luar ketiga tadi, konsumen juga punya opsi velg berdiameter 17 inci maupun 18 inci. Khusus pada trim Elegance dan Avantgarde, terdapat lis bodi berbahan karet.

Seolah mirip dengan A-Class generasi sebelumnya, mobil ini sebenarnya punya dimensi yang lebih besar. Sebab bodinya lebih panjang 232 mm dan lebih lebar 45 mm. Penambahan ukuran ini tentu berujung pada kabin yang lebih luas.

Dalam mengembangkan W169, para desainer melengkapi interior dengan material yang premium, agar senada dengan segmen Mercedes-Benz lainnya. Joknya dirancang agar menghasilkan posisi duduk yang ergonomis. Lingkar setir menggunakan multi-button sebagai kontrol berbagai fitur.

Kepraktisan maksimal

Kapasitas ruang bagasi juga meningkat 15 persen dari generasi sebelumnya, yakni menjadi 435 liter. Jok belakang yang dapat dilipat, memungkinkan ruang barang bawaan menjadi 1.370 liter. Jadi A-Class W169 menawarkan kepraktisan maksimal bagi penggunanya.

Sekitar 540 ribu unit Mercedes-Benz A-Class W169 yang diproduksi. A 150 menjadi varian bermesin bensin yang paling laris di generasi tersebut. Dengan catatan, W169 ada yang versi pre-facelift (2004-2008) dan versi facelift (2008-2012).

Review Mobil Bekas: Volvo S90

Saat ini, bahasa desain produk Volvo memang sudah tidak terlalu banyak garis tegas yang kaku. Tapi selama puluhan tahun, pabrikan asal Swedia ini selalu dikenal dengan produk kendaraan yang berbentuk kaku dan kokoh seperti tumpukan batu bata. Karakter fisik tersebut bukanlah sebuah nilai minus, sebab di mata penggemarnya, bentuk tersebut merupakan keindahan tersendiri. Meskipun pada akhirnya Volvo harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Salah satu produk yang berada di era ‘peralihan’ tersebut ialah Volvo S90.

Volvo S90 menjadi versi penyempurnaan dari Volvo seri 900 (baik 940 maupun 960). Di Indonesia, posisinya memang ‘nyelip’ di antara segmen pasar yang diisi oleh Mercedes-Benz E-Class dan BMW Seri 5. Bahkan mengganggu segmen lebih premium, yang menjadi habitat Mercedes-Benz S-Class serta BMW Seri 7.

Tersedia dua varian bodi

Untuk pasar Indonesia, Volvo S90 meneruskan tongkat estafet yang sebelumnya dipegang oleh Volvo 960 versi KTT Non-Blok dan Volvo 960 Royal. Volvo S90 dipasarkan di Indonesia mulai tahun 1997 dan dipasarkan dengan dua varian bodi, yaitu normal (short wheelbase) dan Executive (long wheelbase).

Jika pada 960, eksteriornya didominasi dengan aspek mengotak, maka pada eksterior 960 Royal dan S90 sudah menganut gaya melengkung. Mulai dari handel pintu, lampu depan, lampu sein depan, grille, kap mesin, hingga bumper depan dan belakang. Singkat kata, fisik S90 sudah banyak mengalami desain yang semakin aerodinamis.

Interior Volvo S90 tak hanya terlihat mewah, tapi juga punya tampilan yang lebih modern. Bahkan pada varian Executive, tersedia dengan pilihan jok belakang untuk tiga penumpang, dan untuk dua penumpang (2+2). Selain itu, interiornya juga ada dua pilihan warna, baik abu-abu maupun beige (coklat muda).

Per daun komposit

Aspek kenyamanan berkendara didukung oleh suspensi depan independen McPherson strut dengan lower wishbone dan anti-roll bar. Sedangkan suspensi belakang independen Multilink dengan per daun melintang bermaterial komposit, termasuk sokbreker teleskopik serta anti-roll bar. Tersedia juga opsi fitur self-levelling untuk suspensi belakang.

Volvo S90 yang dijual di Tanah Air, mengusung mesin B6304 berkapasitas 3.0 liter. Mesin enam silinder ini mampu menghasilkan tenaga sekitar 181 hp dan torsi 270 Nm. Sebagai penyalur daya ialah transmisi otomatis AW30-43LE 4-speed, dengan tiga mode berkendara (Sport, Economy, dan Winter). Performanya tergolong cukup baik, dengan akselerasi 0-100 km/jam dalam tempo 9,1 detik. Sedangkan top speed mampu mencapai 210 km/jam.

Pada era akhir 1990an hingga awal 2000an, Volvo S90 banyak menjadi alternatif bagi konsumen yang menyukai kemewahan dan kenyamanan berkendara, tanpa terlihat mencolok di jalanan. Tidak mengherankan jika Volvo S90 juga banyak menjadi pilihan sebagai kendaraan kabinet pemerintahan negara, maupun kendaraan korps diplomatik. Hingga kini, Volvo S90 tetap memancarkan aura gagahnya. Terutama jika bodinya berwarna gelap…

Review Mobil Bekas: Suzuki Jimny JB43, Langka Dan Makin Mahal

Semua generasi Suzuki Jimny punya penggemarnya masing-masing. Beberapa tahun terakhir, Suzuki Jimny menjadi sorotan bagi banyak car enthusiast, terutama di Indonesia. Uniknya, Suzuki Jimny generasi ketiga dengan kode bodi JB43 ialah yang paling sedikit populasinya di Tanah Air.

Suzuki Jimny JB43 atau dikenal juga sebagai Jimny wide

Beruntung kami sukses ‘menangkap’ satu spesies langka yang ada di Indonesia, yakni Suzuki Jimny Wide alias Jimny generasi ketiga. Ya, sport utility vehicle (SUV) ringkas ini, bentuknya lebih modern dari dua generasi sebelum. Namun, tidak menghilangkan karakter aslinya.

Lahir 1998

Aspek kepraktisannya jauh lebih baik dari generasi sebelumnya. Pembaruan dilakukan oleh Suzuki untuk tetap bisa menaklukkan medan off-road.

Walaupun mulai dipasarkan pada tahun 1998, tapi PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) baru mengimpor Jimny Wide JB43 pada tahun 2017.

Saat itu, harganya Rp 285 juta dan hanya berjumlah 88 unit saja. Oleh karenanya, SUV ini terjual habis untuk menjadi barang koleksi, bukan untuk kerja keras di medan off-road.

Di Indonesia hanya transmisi otomatis

Bodi Suzuki Jimny Wide lebih terkesan dinamis. Bentuk bodi yang disertai lengkungan, menghasilkan tampilan yang lebih modern. Desain lampu yang lebih besar, over fender lebar dengan side body moulding, serta roof rail, menjadi beberapa ciri khas SUV fungsional yang disematkan.

Dimensi tergolong ringkas, dengan panjang 3.675 mm, lebar 1.600 mm, tinggi sekitar 1.700 mm. Wheelbase-nya 2.250 mm.

Mesin yang digunakan Suzuki Jimny Wide JB43 ialah M13A 1.3 liter DOHC bertenaga 83 hp dan torsi 110 Nm.

Penggerak tersebut dipadu dengan transmisi otomatis 4-speed. Transmisi manual 5-speed memang ada, tapi tidak tersedia untuk Indonesia. Aktivasi mode 4WD dapat dilakukan cukup dengan menekan tombol. Terdapat tiga pilihan mode sistem penggerak roda, yaitu 2WD, 4WD dan 4WD-L.

Rasa suspensi lebih baik

Kebetulan unit yang kami pakai ialah buatan tahun 2011 dan versi Inggris yang dipasarkan oleh importir umum.

Ada sedikit perbedaan fitur dengan unit yang dibawa oleh PT SIS. Sebut saja panel instrumen dashboard, setir, headunit audio, handel pintu dalam, material jok, bumper, kap mesin, hingga velg.

Dashboard Jimny wide versi importir umum beda dengan jualan Suzuki Indomobil.

Rasa berkendara Suzuki Jimny Wide memang jauh lebih baik dari Jimny generasi pertama dan kedua. Memang terasa rigid, namun bukan keras ‘gronjalan’. Kami sama sekali tidak komplain dengan performa suspensinya.

Konsol tengah jimny jb43

Suspensi depan dan belakang menggunakan 3-link rigid axle dengan per keong, sehingga ground clearance mencapai kisaran 190 mm. Kombinasi tersebut mampu menghasilkan approach angle 34 derajat, departure angle 46 derajat, serta ramp break over angle 31 derajat.

Harga bekas lebih mahal

Untuk berpindah mode dari 2WD ke 4WD atau sebaliknya, dapat dilakukan saat melaju tidak lebih dari 20 km/jam. Sedangkan akses menuju atau dari 4WD-L, harus dilakukan dengan kondisi mobil berhenti dan transmisi pada posisi netral (N).

Untuk sebuah Suzuki Jimny yang populasinya sedikit di Indonesia, wajar kalau saat ini harganya jadi mahal.

Tahun 2017 harganya Rp 285 jutaan, sekarang jangan kaget kalau sudah melewati Rp 350 juta. Apalagi kalau unit versi importir umum dengan spesifikasi unik, harganya pasti lebih ‘gelap’. Suzuki Jimny memang selalu bikin heran…

Toyota Corolla Cross_1

Review Mobil Bekas: Toyota Corolla Cross 1.8, Mengesankan Meski Bukan Hybrid

Menyebut nama Corolla, pasti yang langsung terlintas di benak setiap orang ialah sedan populer buatan Toyota. Memang tak salah, sebab produk ini begitu dikenal oleh konsumen global sejak lebih dari setengah abad silam. Berbekal ketenaran nama tersebut, maka Toyota pun menciptakan produk Sport Utility Vehicle (SUV) kompak dengan DNA Corolla tersebut. Ya, namanya ialah Corolla Cross.

Alasan utama Toyota tetap membidik segmen tersebut ialah besarnya jumlah konsumen yang masih mengidolakan kendaraan SUV penunjang aktivitas kesehariannya. Oleh karenanya, PT Toyota Astra Motor (TAM) memboyong Corolla Cross ke Indonesia pada tahun 2020 silam. TAM langsung menyuguhkan dua varian Toyota Corolla Cross, yakni versi mesin bensin dan versi hybrid.

Toyota Corolla Altis berbaju SUV kompak

Konsumen Indonesia yang sudah ‘meraba’ keunggulan kendaraan hybrid, tentu lebih banyak memilih Toyota Corolla Cross Hybrid. Sayangnya, TAM menghentikan penjualan Toyota Corolla Cross 1.8 ini pada bulan Agustus 2021, sebab angka penjualan yang tergolong minim.

Namun, bukan berarti yang versi mesin bensin tidak menyenangkan dikendarai. Corolla Cross bermesin bensin tak ubahnya seperti Corolla Altis yang ‘berbaju’ bodi SUV kompak. Secara fisik, mobil ini hadir dengan desain bodi yang terkesan dinamis. Toyota menyebutnya dengan konsep Simple & Stylish with Urban Sleek Look.

Ruang kabin memadai

Toyota Corolla Cross dengan platform Toyota New Global Architecture C-segment (TNGA-C) ini, memiliki panjang 4.460 mm, lebar 1.825 mm, tinggi 1.620 mm, serta wheelbase sejauh 2.640 mm. Sehingga memberikan ruang yang memadai antara bangku baris pertama dan kedua. Ditambah lagi dengan volume bagasi seluas 487 liter dengan ketinggian lantai yang optimal.

Rasa berkendara yang nyaman dan cekatan juga didukung oleh ground clearance setinggi 165 mm, ditambah lagi dengan radius putar 5,2 meter. Performanya dihasilkan dari mesin 2ZR-FE 1.8 liter dengan tenaga maksimum 138 hp dan torsi puncak 171 Nm. Output tersebut mengalir halus dan didistribusikan menuju roda depan melalui transmisi Super CVT-i berkode K311.

Tidak pelit fitur

Toyota Corolla Cross juga tak pelit fitur, mulai dari steering switch, ac digital dual zone, panel instrumen dengan MID 4,2 inci, head unit 9 inci IPS display terintegrasi dengan radio, Bluetooth, NFC, Miracast, dan voice command. Bahkan SUV kompak ini dilengkapi dengan glass moonroof serta rain sensor di kaca depan.

Urusan keselamatan berkendara tidak luput dari perhatian Toyota. Oleh karenanya, Corolla Cross dilengkapi dengan pengereman ABS+EBD, 3-point seatbelt with pretensioner and force limiter, 7 airbag, Hill Start Assist (HSA), Vehicle Stability Control (VSC), Emergency Brake Signal (EBS), sensor parkir di depan dan belakang, kamera parkir di belakang, termasuk immobilizer dan alarm.

Anda tertarik memiliki Toyota Corolla Cross 1.8 seperti ini? Di bursa mobil bekas biasanya dipasarkan dengan rentang harga mulai dari Rp 355 juta hingga Rp 395 juta (untuk keluaran tahun 2020), tergantung kondisi dan jarak tempuh. Karena unitnya tidak terlalu banyak terjual antara tahun 2020 hingga 2021, maka inilah salah satu produk Toyota di Indonesia yang cukup langka di pasaran.

Review Mobil Bekas: Suzuki XL7 Alpha, Gabungan Seru LSUV dan LMPV

Di kuartal tahun 2020 silam, PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) meluncurkan Suzuki XL7 sebagai penantang anyar di segmen Low Sport Utility Vehicle (LSUV). Karena banyak konsumen yang menginginkan kendaraan yang praktis serta fungsional, maka Suzuki XL7 langsung berada di posisi atas dalam penjualan mobil LSUV secara wholesales sepanjang bulan April, Mei, dan Juli 2020.

Berbekal nama besar Suzuki di pasar otomotif Tanah Air, tentu saja penerimaan pasar yang positif juga tidak terlepas dari sejumlah nilai keunggulan yang ditawarkan PT SIS di dalam mobil ini. Di awal peluncuran Suzuki XL7, tipe Alpha bertransmisi otomatis menjadi varian paling atas. Kini, sudah banyak Suzuki XL7 yang berada di pasar mobil bekas. Apalagi di pertengahan bulan Juni 2023 akan ada varian baru dari Suzuki XL7.

Desain khas kendaraan SUV

Pertanyaannya, apakah Suzuki XL7 Alpha masih patut dipertimbangkan sebagai mobil bekas yang berkualitas? Oke, kami sempat menghabiskan waktu beberapa hari bersama LSUV berkelir Rising Orange Metallic ini, dengan menempuh rute dalam dan luar kota. Secara umum, kesan yang diberikan oleh mobil ini memang tergolong positif.

Secara penampilan, mobil ini memiliki desain khas kendaraan SUV di bagian depan, terutama kombinasi dari LED headlamp dan grille depan dengan aksen chrome. Begitu juga di bumper bagian bawah dengan garnish ‘berotot’, termasuk sepasang foglamp dengan cover plastik berkelir hitam.

Identitas sebagai LSUV urban

Selanjutnya menuju bagian samping hingga belakang, lagi-lagi kesan SUV masih diperlihatkan melalui hood side slit, roof rail, over fender, dan panel tahan benturan di bodi bagian bawah. Panel tersebut tak hanya untuk menunjang tampilan macho saja, namun juga bertugas ‘menangkis’ bebatuan yang terbang menuju bodi Suzuki XL7.

Namun penampilannya tidak melulu mencerminkan kendaraan SUV yang siap melibas jalanan buruk, sebab sejatinya mobil 7-seater ini memiliki identitas sebagai LSUV urban yang penggunaannya lebih banyak di jalan perkotaan. Oleh karenanya, disematkan velg alloy 16 inci yang dibalut ban 195/60 R16.

Pilar A bikin kagok

Memasuki interiornya, maka akan disambut dengan interior yang cukup lapang (layaknya pada Suzuki All New Ertiga). Perbedaan paling terlihat antara Suzuki XL7 dan Suzuki Ertiga ialah aksen warna interior. Jika Ertiga memiliki warna coklat, maka XL7 punya aksen warna hitam. Aura modern semakin kentara melalui hadirnya panel a/c digital, tombol Engine Start/Stop, layar sentuh 8 inci, dashboard dengan panel berpola karbon di bagian tengah, tak ketinggalan multi-information display (MID) dengan bermacam fitur.

Dengan postur yang cukup tinggi (ground clearance 200 mm), maka visibilitas ke depan mobil pun cukup baik. Namun, pilar A akan membuat sudut pandangan ke samping mobil sedikit terganggu. Sehingga Anda perlu memastikan kondisi sekitar saat ingin melakukan manuver. Sedangkan visibilitas ke belakang cukup terbantu dengan adanya rear parking camera yang terintegrasi dengan Smart E-Mirror (khusus pada tipe Alpha).

Respons mesin K15B cukup oke

Karakter mesin K15B yang halus dan tenang, bakal membuat rasa berkendara terasa nyaman. Meski begitu, respons mesin pun tergolong baik, terutama di putaran bawah. Perpindahan gigi dari transmisi otomatis 4-speed pun terasa halus. Satu hal lagi yang membedakan karakter Suzuki XL7 dan Suzuki Ertiga ialah rasa settingan dari suspensinya. Agaknya, Ertiga masih terasa lebih lembut dari XL7.

Walaupun sudah berusia 3 tahun, terbukti Suzuki XL7 belum terasa ketinggalan zaman. Dan bisa jadi pilihan bagi Anda yang menginginkan kendaraan 7-seater bergaya SUV. Namun praktis layaknya MPV. Kini, Suzuki XL7 tipe Alpha bertransmisi otomatis lansiran 2020 dapat ditemui di pasar mobil bekas dengan kisaran harga Rp 210 juta hingga Rp 225 juta, tergantung kondisi. Anda berminat meminangnya?

Mazda 2 Hatchback_1

Review Mobil Bekas: Mazda 2 Hatchback, Tampilan Oke dan Bertaburan Fitur

Mazda 2 Hatchback ialah sebuah hatchback lansiran Mazda yang pertama kali hadir di Indonesia pada tahun 2009. Desain menarik dan dinamis, disertai dengan aneka fitur yang cukup lengkap di segmennya. Hal tersebut membuat Mazda 2 Hatchback memiliki banderol sedikit di atas para kompetitor terdekatnya.

Walaupun harganya tergolong tinggi untuk hatchback 1.500 cc, penjualan Mazda 2 dapat dikatakan cukup sukses. Apalagi kalau bukan karena desain yang manis, fitur lengkap, mesin yang bertenaga, dan efisien bahan bakar. Rival terdekat Mazda 2 Hatchback saat itu ialah Honda Jazz, Toyota Yaris, Suzuki Swift, dan Ford Fiesta. Lalu muncul generasi kedua pada akhir 2014, seperti yang ada di halaman ini. 

Eksterior Mazda 2 Hatchback memang menggabungkan beberapa aspek, terkesan elegan tapi tetap terlihat sporty. Mengusung desain KODO dengan lekukan bodi yang dinamis. Ini terlihat melalui lekukan bodi samping dan shark fin antenna yang bertengger pada atap. Diiringi headlamp dengan LED projector dan DRL melingkar. Tak ketinggalan sepasang foglamp untuk mendukung visibilitas pengendara ketika hujan lebat atau berkabut.

Mazda 2 Hatchback memiliki panjang bodi sekitar 4 meter. Tingginya tidak sampai 1,5 meter dan lebarnya nyaris 1,7 meter. Sedangkan ground clearance 152 mm membuat mobil ini tetap nyaman dipakai di perkotaan. 

Khusus pada versi GT yang kami review kali ini, menggunakan velg alloy 16 inci yang dibalut ban berukuran 185/60 R16. Lampu belakang yang memiliki desain seperti mata burung hantu menjadi salah satu keunikan produk Mazda ini. Garnish pada bagian bawah bumper belakang dan rear roof spoiler ikut menambah kesan sporty.

Masuk ke bagian interior, maka Anda akan menemui atmosfer yang didominasi kelir hitam. Namun ada kesan modern, berkat tombol dan instrumen pada dashboard. Khusus pada tipe GT, sudah dilengkapi dengan paddle shift, Active Driving Display, dan Mazda Navigation System. Active Driving Display merupakan fitur berupa head-up display yang menampilkan kecepatan serta navigasi dengan cara dipantulkan ke kaca depan, sehingga tidak mengganggu konsentrasi pengemudi.

Fitur unik lainnya adalah Commander Control, yaitu switch multifungsi yang terletak di bagian console tengah untuk mengatur fitur multimedia dengan mudah. Aneka fitur canggih lain juga dihadirkan seperti Mazda Connect, TFT Touchscreen berukuran 7 inci, Steering Wheel Audio Control, Drive Selection Mode, dan sebagainya.

Kabin hatchback ini banyak mengakomodir pengemudi dan penumpangnya. Ruang kaki dan ruang kepala pada baris pertama maupun kedua, dirasa cukup baik sehingga nyaman untuk dikendarai dalam perjalanan jauh. Fleksibilitas pengemudi juga maksimal dengan fitur tilt dan teleskopik steering pada lingkar setir.

Di balik kap depannya, terdapat mesin SKYACTIV-G 1.5 liter yang mampu memberikan tenaga maksimal sebesar 109 hp dan torsi puncak 144 Nm. Tenaga mesin disalurkan ke roda depan melalui transmisi otomatis 6-speed, namun ada juga yang dilengkapi dengan transmisi manual 6-speed. Dukungan teknologi SKYACTIV-BODY dan SKYACTIV-CHASSIS memberi andil kepada performa Mazda 2 Hatchback ini.

Settingan suspensinya memang mengedepankan unsur fun to drive dan kedinamisan berkendara, karena nyaris tidak ada gejala bodyroll ketika bermanuver. Kestabilan juga tetap terjaga ketika mobil ini dibesut di kecepatan tinggi. Jika Anda menginginkan sebuah hatchback berkarakter dinamis dan mampu digunakan sehari-hari, maka Mazda 2 Hatchback bisa jadi pilihan. Namun, Anda harus bisa kompromi dengan aspek kenyamanannya.

Harga mobil bekas Mazda 2 Hatchback seperti ini, mulai dari Rp 150 jutaan hingga Rp 200 jutaan. Tergantung tahun dan kondisinya. 

Toyota Previa 2007

Toyota Previa, Untuk Anda Yang Bosan Lihat Alphard

MPV ini bisa jadi pilihan menarik selain Toyota Alphard untuk mereka yang berjiwa muda.

Ini merupakan mobil yang cukup jarang di Indonesia. Namanya Toyota Previa. Atau dikenal juga dengan nama Toyota Estima di Jepang dan Tarago di Australia. Previa sendiri diposisikan di bawah Toyota Alphard sebagai mobil keluarga yang fungsional.

Sedikit sejarah, Toyota Previa/Estima lahir pertama Januari 1990. Bentuknya benar-benar MPV. Tidak ada lekukan yang tidak perlu. Lengkung atapnya seperti dibuat dalam satu kali tarikan pensil dari depan hingga belakang. Bentuknya aerodinamis, punya lebar 1.800 mm dan panjangnya 4.750 mm. Wheelbase 2.865 mm. Besar, kan? Pintunya sudah sliding door, tapi hanya sebelah. Di bagian kiri. Sesuai dengan jamannya.

Mesinnya ada tiga pilihan. Dua mesin bensin dengan kapasitas 2,4 liter. Salah satunya diimbuhi supercharger. Lalu satu mesin turbo diesel 2,2 liter. Ketiganya diposisikan di bawah kursi depan. Hampir jadi mesin tidur karena dimiringkan hingga 75 derajat supaya muat. Penggeraknya RWD atau AWD. Mobil ini terakhir diproduksi Desember 1999. Beberapa sempat dijual di Indonesia melalui importir umum.

Lalu generasi kedua (XR30) lahir Januari 2000. Ini yang banyak masuk ke Indonesia. Namanya masih sama, Previa untuk pasar luar Jepang, Estima di tanah kelahirannya dan Tarago di Australia.

Dimensinya membesar? Tidak juga. Panjang sama, lebar jadi 1.790 mm tinggi 1.745 mm. Tapi wheelbase-nya memanjang jadi 2.900 mm. Selain itu, Previa berubah jadi gerak roda depan, sembari tetap memberikan opsi AWD. Kenapa? Karena Toyota menggunakan sedan gerak roda depan Camry sebagai basisnya.

Mesin yang terpasang 2AZ 4-silinder berkapasitas 2,4 liter atau 1MZ berkonfigurasi V6. Keduanya bisa ditemukan juga di Toyota Camry. Dan Alphard seangkatannya yang juga menggunakan Camry sebagai platform. Di generasi ini pertama kalinya ada Previa Hybrid. XR30 tutup produksi akhir tahun 2005.

Lalu muncul generasi ketiga (XR50) seperti yang Anda lihat di sini. Toyota PRevia XR50 muncul pertama Januari 2006. Dibuat hingga akhir 2019 dan belum ada gantinya. Perubahannya cukup signifikan meski secara mendasar, bentuknya tetap mempertahankan garis desain ‘satu tarikan’ seperti sebelumnya. Panjang 4.795 mm, lebar 1.800 mm, tinggi 1.750 mm. Wheelbase makin panjang jadi 2.950 mm.

Platform-nya bernama New MC Platform. Serupa dengan Harrier, Alphard, Prius (gen. 3) dan sebagainya. Jadi, kalau Anda ingin punya mobil ini, mesin masih sama dengan Camry empat silinder (2AZ-FE) atau V6 dengan kode 2GR-FE berkapasitas 3,5 liter. Kaki-kakinya mirip dengan Toyota Alphard AH20, alias Alphard generasi kedua.

Toyota Previa di halaman ini mengusung mesin 2,4 liter empat silinder dengan transmisi otomatis 4-speed. Harus kami sebut karena mulai tahun 2010 akhir, transmisinya sudah CVT.

Sebagian Toyota Previa, masuk melalui jalur importir umum. Namun Toyota Astra Motor juga pernah memboyong secara resmi meski tidak lama. Sepertinya, Previa kalah pamor oleh Alphard yang sejak 2004 memantapkan status sebagai mobil ‘orang berhasil’.

Belakangan nama Previa mulai menanjak lagi. Terutama untuk mereka yang mencari mobil keluarga yang fungsional. Tapi melihat Alphard sebagai mobil yang terlalu besar. Atau mobil orang tua. Tidak salah, karena Previa memberikan semua yang ada di Alphard, dengan desain yang cocok untuk keluarga muda.

Kabin Toyota Previa

Yang Anda lihat di sini adalah Toyota Previa 2007. Punya pintu geser elektrik di kedua sisi. Panoramic roof di tengah serta sunroof di depan. Jok baris kedua bisa maju-mundur dengan leluasa tanpa mengorbankan ruang kaki deret ketiga. Ada foot rest pula. Dan sandaran tangan. Jok depan diatur secara elektrik.

Konsol tengah antara pengemudi dan penumpang depan bisa juga bisa maju dan mundur untuk menyesuaikan kebutuhan. Tidak lupa baris ketiga bisa menampung orang dewasa dengan semestinya.

Bagaimana dengan bagasi? Tegakkan semua baris, dan Anda masih diberikan ruang untuk tiga koper kecil plus barang lainnya. Praktis. Yang kurang oke adalah cara pelipatan kursi paling belakang yang agak rumit. Banyak tuas yang harus ditarik.

Ruang penyimpanan ada banyak. Benar-benar banyak. Di dashboard ada tiga laci. Termasuk satu di depan pengemudi. Konsol tengah tadi masih tersedia laci di bawahnya. Cup holder di bawah head unit untuk dua gelas, asbak. Di pintu depan belakang ada ruang penyimpanan plus bottle holder. Juga di baris ketiga. Tapi belum ada power outlet selain di dashboard depan.

Pengendaraan

Di balik kemudi, Anda akan merasa familiar. Secara mengejutkan, mobil ini terasa berbeda dengan mobil Toyota modern lain. Genggaman kemudi terasa kecil, perputarannya tidak terlalu ringan. Sehingga tidak terasa kosong.

Kaki-kaki senyap adalah wajib untuk sebuah MPV premium. Dan itu bisa disuguhkan dengan baik. Namun usia memang tidak bisa berbohong. Pintu geser mengeluarkan sedikit bunyi saat melewati jalanan tidak rata.

Kestabilannya juga cukup baik, mengingat ini mobil tinggi. Namun platform monokok dan kaki-kaki yang sehat membuatnya meyakinkan untuk bermanuver.

Posisi mesin yang jauh di depan dan firewall tebal, membuat teriakan mesin teredam dengan baik. Akselerasinya juga bisa dibilang mumpuni untuk sebuah mobil MPV. Kami menguji mobil ini dengan mengangkut tujuh orang menuju dari Jakarta ke Bandung pulang pergi. TIdak ada yang mengeluh.

Konsumsi BBM yang kurang oke. Antara karena ini mobil dengan kapasitas mesin besar, kaki kami yang kurang lihai, muatan penuh atau memang boros. Tercatat 11,2 km/liter untuk rute pulang pergi tadi.

Fitur

Fitur kenyamanan didukung oleh CD player double DIN di depan. Ada juga monitor plafon yang bisa terlipat saat tidak dipakai. Untuk pengemudi, tersedia cruise control tapi jangan berharap ada kemampuan adaptive. Itu tersedia di Previa generasi tiga tahun muda (2013 keatas).

Lampu depannya sudah dibekali HID dengan proyektor. Yang unik, ada fitur pengaturan sorot secara otomatis. Anda belok kiri, lampu akan menyesuaikan, demikian juga ke arah sebaliknya. Untuk memastikan kualitas sorotan, ada wiper lampu.

Menarik Untuk Dibeli?

Tentu. Punya budget kurang dari Rp 200 jutaan untuk mobil bekas? Ini bisa jadi pertimbangan. Apalagi kalau bosan lihat Alphard. Pengaturan kursi kurang lebih serupa dengan MPV bongsor itu. Bagasi dan kabinnya luas.

Mesin memang serupa dengan Toyota Camry yang seangkatan (XV40) tapi kakinya lebih mirip dengan Alphard. Dan itulah yang bisa jadi ganjalan. Suku cadangnya lebih mahal dari Toyota kebanyakan.

Secara keseluruhan, mobil ini sangat layak dipinang. Apalagi kalau Anda penyuka mobil impor langsung dari Jepang. Praktis, mesin oke, daya angkut dan kenyamanan patut diacungi jempol. Dengan catatan, Anda mendapatkan mobil Previa bekas yang sehat. Hati-hati dalam membeli mobil bekas.