Membelah Afrika Selatan Bersama Jaecoo J7 SHS

Kami sungguh beruntung bisa ikut serta dalam kegiatan Jaecoo J7 SHS South Africa Safari Drive yang berlangsung pada 21 – 27 Februari 2025 lalu di dataran Afrika Selatan.

Para peserta ditantang untuk menguji batas ketahanan mobil dengan teknologi super hybrid system (SHS) yang dimiliki Jaecoo J7 SHS. Sebanyak 41 peserta dari enam negara yang berbeda. Bukan hanya awak media saja, tapi juga dan key opinion leaders (KOLs). Selain kami dari Indonesia, juga ada peserta lainnya dari Australia, Inggris, Malaysia, Thailand, dan Afrika Selatan sebagai tuan rumah.

Perjalanan menantang dari Cape Town hingga menuju Gqeberha (Port Elizabeth) dan Addo Elephant Park merupakan bagian dari kampanye global Super Hybrid Marathon yang digaungkan oleh Jaecoo.

Ini adalah ajang pembuktian teknologi Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) yang dimiliki Jaecoo kepada dunia.

Fitur Menarik

Salah satu keunggulan yang dimiliki Jaecoo J7 SHS adalah kabinnya yang super lapang. Bukan jok saja yang besar dan nyaman, tapi ruang bagasi di belakang pun cukup besar.

Volume kargo di balik jok belakang mencapai 500 liter, dan bisa dimekarkan menjadi 1.265 liter dengan melipat jok belakang hingga rebah.

Karena baterai pack yang ada di kolong dek sasis mobil ini ukurannya sangat besar, maka Jaecoo J7 SHS tak memiliki ban serep. Hanya tersedia cairan penambal ban. Hmm…mungkin perlu jadi pertimbangan bagi Jaecoo untuk menempatkan ban serep kedepannya.

Salah satu fitur unik yang dimiliki mobil ini adalah selimut selubung mobil bisa disulap jadi layar proyektor! Fitur yang satu ini mungkin tak banyak yang mengetahuinya.

Baterai yang dimiliki Jaecoo J7 SHS pun dapat digunakan untuk perangkat kelistrikan eksternal. Fitur vehicle to load (VHL) yang dimiliki Jaecoo J7 SHS punya output daya 3.3 kW.

Yang paling kami suka adalah sistem audio lansiran Sony dengan 8 speaker. Alunan suaranya benar-benar bikin jantung berdebar… Kami suka…!

Perjalanan Menyenangkan

Hari pertama masih sebatas adaptasi. Dari Cape Town kami berkerkendara menuju Cape of Good Hope melintasi pesisir barat.

Panorama yang sangat indah dengan siluet gunung Table Mountain dan Devil’s Peak di sisi timur serta pemandangan Samudera Atlantik di sisi barat. Jarak tempuh 130 km hanya bagian dari orientasi untuk mendapat gambaran seperti apa situasi lalu lintas di seputar Cape Town.

Tantangan utama Safari Drive dimulai pada hari kedua. Kami menempuh jarak sekitar 500 km dari Cape Town menuju Mossel Bay. Kami sempat mampir ke beberapa tempat untuk berhenti sejenak hingga akhirnya sampai di Pearly Beach yang indah.

Jalan Tol Tsitsikama

Dalam perjalanan Safari Drive dengan Jaecoo J7 SHS, kami melewati ruas tol di rute N2 (jalan nasional rute nomor 2). Jalan tol Tsitsikama yang kami lewati merupakan jalur lintas penghubung dari Cape Town Metropole di wilayah barat Afrika Selatan menuju Gqeberha (Port Elizabeth) yang ada di wilayah timur.

Ruas tol Tsitsikama terbagi menjadi beberapa seksi. Tak hanya menghubungkan hingga ke perbatasan Lesotho di wilayah timur. Ruas tol ini juga menghubungkan wilayah pesisir selatan dengan kawasan daratan tengah di wilayah utara seperti Johanesburg, Bloemfountain dan Pretoria.

Untuk kendaraan pribadi ringan (kelas 1) seperti Jaecoo J7 SHS, tarifnya 67,5 Rand. Jika dikonversi ke Rupiah sekira hampir Rp 60 Ribuan (Rp 59.867). Tak terlalu mahal ternyata tarif tol di Afrika Selatan.

Harga BBM Cukup Mahal

Sepanjang perjalanan kami dari Cape Town di kawasan Western Cape menuju Gqberha (Port Elizabeth) dan Addo Elephant Park yang masuk wilayah Eastern Cape, kami hanya sekali mampir SPBU untuk beristirahat.

Yang kami sambangi adalah salah satu dari jaringan SPBU ENGEN yang mendominasi di Afrika Selatan. SPBU merek lain tentu saja ada, tapi jumlahnya tak sebanyak ENGEN.

BBM jenis bensin yang tersedia di SPBU ENGEN Gas Station hanya ada satu macam yakni Engen Primax Unleaded (bensin tanpa timbal). Nah, jenis oktan yang disediakan disesuaikan dengan letak geografis wilayah operasionalnya:

– Oktan 95, seperti yang kami isi ke tangki Jaecoo J7 SHS di awal hanya tersedia di kawasan dengan elevasi kurang dari 1.200 meter di atas permukaan laut (MDPL). BBM jenis ini banyak tersedia di kawasan pesisir barat hingga timur dan juga di daratan tengah Afrika Selatan.

– Oktan 93, hanya tersedia di SPBU yang berlokasi di kawasan dengan elevasi lebih dari 1.200 mdpl, terutama di kawasan pegunungan. Sejumlah SPBU di kawasan pesisir selatan juga ada BBM jenis ini, namun jumlahnya terbatas.

Harga BBM pun dibedakan antara wilayah pesisir seperti Cape Town dan Durban dengan wilayah daratan tengah seperti Johanesburg, Bloemfountain maupun Pretoria.

Untuk wilayah pesisir seperti Cape Town maupun Mossel Bay, Engen Primax 95 Unleaded harga perliternya 21.62 Rand (Rp 19.181). sedangkan di wilayah daratan tengah dibanderol 22.16 Rand (Rp 19.661).

Untuk BBM jenis Engen Primax 93 Unleaded, harga wilayah pesisir di angka 21.37 Rand (Rp 18.963) dan 22.41 Rand (Rp 19.883) untuk wilayah Inland (daratan tengah).

Harga BBM dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti fluktuasi harga minyak mentah dunia.

Selalu Di Posisi Teratas

Kami yang mewakili Indonesia selalu ada di peringkat pertama berturut-turut. Sebuah kebanggaan bagi kami, namun tak menjadi beban pikiran. Karena misi kami adalah bisa mencapai finish di etape terakhir. Kalau perlu hingga tetes bensin terakhir…

Saat mencapai titik singgah terakhir di Fynbos, total jarak yang telah kami tempuh sesuai trip meter adalah 1.228 km. Konsumsi BBM rata-rata selama perjalanaan etape terakhir yakni 4,2 Liter/100 km atau setara 23,8 km/liter. Sedangkan cadangan BBM dan baterai diperkirakan masih cukup untuk menempuh 168 km lagi! Yesss…!

Jika dirata-rata, selama berkendara dengan Jaeco J7 SHS konsumsi BBM mencapai sekira 4,88 liter bensin untuk jarak 100 km selama menempuh tantangan Super Hybrid Marathon di Afrika Selatan. Konsumsi BBM yang sangat ekonomis tentu saja ditunjang oleh teknologi Super Hybrid System (SHS).

Tips Berkendara Tepat Guna

Bisa berkendara mencapai 1.228 km hanya bermodalkan setangki BBM berisi 60 liter bensin adalah suatu hil yang mustahal jika bukan dengan mobil hybrid.

Selain ditunjang kemampuan yang ada pada kendaraan, teknik berkendara tepat guna juga jadi poin penting.

Karena sistem hybrid SHS pada Jaecoo J7 mengandalkan energi listrik dari baterai, maka konsumsi daya listrik harus bisa diminimalkan. Tentu saja agar bisa dialihkan untuk menambah daya jelajah.

Cukup banyak trik yang kami lakukan untuk menghemat daya listrik baterai. Perangkat kelistrikan pada kendaraan hanya kami gunakan seperlunya. Hampir tak jauh beda dengan menghemat energi listrik pada ponsel.

Mulai dari mengurangi level brightness layar head unit, wireless charging dinonaktifkan. Fungsi lampu depan otomatis dan sistem audio Sony yang merdu namun cukup banyak menyedot daya listrik baterai pun terpaksa harus kami istirahatkan dulu. Kecuali saat pemandangan membentang indah di depan kami yang membuat kami harus memadukannya dengan alunan musik yang pas di hati.

Semilir Angin Samudera Atlantik

Fungsi AC diminimalkan penggunaannya. Temperatur AC kami setel di 22°-23° C saat cuaca agak terik. Terpaan angin Samudera Hindia cukup menyegarkan saat melintasi rute pesisir selatan menuju Mossel Bay.

Sama seperti di pesisir barat nan teduh saat perjalanan dari Cape Town menuju Cape of Good Hope yang dialiri semilir angin dari Samudera Atlantik. Cukup fungsikan blower sirkulasi udara. Energi listrik baterai bisa dihemat secara maksimal.

Hanya saja, perjalanan kami tak melulu melewati jalan tol atau jalan aspal antar kota yang mulus. Beberapa lokasi kejutan yang disuguhkan merupakan trek off-road alami khas Benua Afrika. Mulai dari padang rumput savannah, trek gravel terjal, jalan tanah bercampur batu karst hingga trek tanah lempung becek yang cukup liat akibat hujan badai. Ditambah lagi hujan deras saat beroffroad ria yang menambah keserian.

Sistem Suspensi Aktif CDC

Ketangguhan kinerja suspensi adaptif CDC yang dimiliki Jaecoo J7 SHS tak hanya mampu memberi kenyamanan saat melintasi jalan aspal mulus.

Tapi justru benar-benar diuji saat melintasi trek off-road Afrika Selatan yang khas dan menakjubkan. Walau jalan yang kami lintasi berantakan (dalam artian sebenarnya), sistem suspensi aktif CDC tetap mampu meredam guncangan dengan sangat baik.

Kejadian tak terduga juga kami alami saat melintasi kawasan suaka alam (hutan) di malam hari nan gelap gulita. Mobil kami diterjang Pumba (Babi Hutan) berukuran besar yang muncul mendadak. Kaget? Tentu saja! Mungkin si Pumba juga kaget terkena sorotan lampu LED depan yang terang.

Tapi akhirnya kami tertawa sambil melihat si Pumba lari terbirit-birit. Kami benar-benar mengalami sendiri seperti yang diceritakan oleh para pemandu. Untungnya mobil ini cukup kokoh, tak ada kerusakan berarti pada bemper depan yang tertubruk si Pumba. Bemper depan Jaecoo J7 SHS tak penyok atau ‘somplak’ walau benturannya sangat keras. Hanya sedikit lecet. Semoga si Pumba tidak mengalami cidera berat.

Setidaknya kinerja sistem pengereman dan fitur ADAS terkait rem pada Jaecoo J7 SHS benar-benar terbukti. Mobil pun langsung berhenti seketika saat kami menginjak pedal rem hingga rebah. Jika rem kurang pakem, mungkin si Pumba akan terlindas.

Bersafari di Afrika Selatan benar-benar pengalaman tak terlupakan. Terlebih lagi dengan Jaecoo J7 SHS yang memang bukan mobil hybrid biasa. Kebanggaan tiada terkira bagi kami bisa membawa nama Indonesia dan selalu di posisi pertama melampaui peserta dari negara lainnya.

Review: Jetour Dashing Inspira

Satu lagi merek asal negeri bambu mengaspal di Indonesia yaitu Jetour. Merek ini memang merupakan spesialis Sport Utility Vehicle (SUV), yang masih satu keluarga dengan Chery. Meski mobil Tiongkok identik dengan teknologi listrik, Jetour masih yakin dengan mobil full ICE. Untuk membuktikan performa Jetour, kami berkesempatan menjajal Jetour Dashing dengan rute Jakarta menuju Bandung.

Ada Dua Model Yang Ditawarkan

Belum lama ini Jetour Dashing belum lama ini mendapatkan penambahan pilihan warna baru, di ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2025. Ada dua model yang ditawarkan, yaitu Journey dengan harga Rp 403,8 juta, dan Inspira seharga Rp 434,8 juta. Untuk perjalanan yang bertajuk The Dashing Experience ini, pihak Jetour menyediakan varian Inspira.

Secara desain, Dashing tampil cukup agresif di bagian depan. Terdapat lampu DRL LED pada bagian atas, dan lampu utama LED di sisi bawah. Grille berukuran cukup besar dan memberi efek tiga dimensi. Garis bodi yang tinggi, memberikan kesan tangguh dan kekar.

Namun, bagian samping terlihat ramping, berkat penggunaan handle pintu model flushed. Velg menggunakan ukuran 19 inci yang disebut sebagai terbesar di kelasnya. Sedangkan pada bagian belakang, terdapat lampu belakang LED dengan desain inverted Y, serta rear spoiler.

Bagasi Dashing Berkapasitas 486 Liter

Perjalanan dimulai dari dealer Jetour di Kelapa Gading. Impresi pertama kami sebagai penumpang adalah interior yang luas. Baik di posisi depan maupun belakang, ruang kepala maupun ruang kaki masih tergolong lapang, meski desain atapnya merebah. Jok juga memiliki desain yang cukup ergonomis, dan dilapisi bahan kulit sintetis.

Pengemudi dan penumpang punya kemudahan mengatur posisi kursi, sebab keduanya sudah dilengkapi dengan jok elektrik. Pada jok tengah terdapat armrest serta cupholder untuk penumpang baris kedua. Harus membawa barang bawaan yang banyak, Bagasi Dashing memiliki kapasitas 486 liter, yang diklaim terbesar di kelasnya.

Setir Masih Terlalu Ringan

Jetour Dashing diposisikan untuk penggunaan urban dan juga untuk berpergian. Dashing dilengkapi dengan layar infotainment berukuran 10,25 inci, yang sudah mendukung Android Auto dan Apple CarPlay secara wireless. Hal kecil yang cukup membantu adalah wireless fast charging 50W, yang banyak absen di rivalnya.

Ketika mobil mulai mengarah ke jalan tol layang MBZ, interior mobil termasuk cukup kedap dengan suara ban yang cukup minim. Pada jalan tol suspensi independen MacPherson strut di depan, dan multilink di belakang, bisa meredam guncangan dengan baik dan stabil. Sistem kemudi Dashing juga terbukti ringan. Namun, sayangnya pada kecepatan tinggi masih terasa agak ringan.

Sedap Di Putaran Tengah

Sebelum menuju ke Bandung, kami singgah di Summarecon Villagio Outlet, untuk menyelesaikan sebuah tantangan. Seluruh kaca mobil ditutup dan setiap tim harus melakukan parkir dengan sempurna. Hal ini bukan tidak mungkin, lantaran Dashing dilengkapi surround camera 540 derajat, yang merupakan satu-satunya di kelasnya. Lagi-lagi, ada sedikit kekurangannya, yakni sudut kamera yang kurang luas.

Melesat di jalan tol Cipularang, kami berharap banyak dari mesin empat silinder 1.5 liter yang berada di balik kap depan. Dengan bantuan turbocharger, maka output mampu mencapai 154 hp dan torsi 230 Nm. Penyaluran tenaga melalui transmisi DCT 6-speed menuju roda depan juga tergolong halus. Membuat Jetour Dashing terasa nyaman pada putaran menengah dan konstan seperti di jalan tol.

Memasuki wilayah kota Bandung, via Lembang, kami merasakan ada hal yang sepatutnya bisa disempurnakan. Sebab pada putaran bawah, respons mesin cukup lambat dan terkadang muncul hentakan ketika turbo mulai beroperasi. Kami menduga komunikasi antara mesin dan transmisi, masih belum ‘akrab’…

Setidaknya perjalanan kami terasa berkesan, berkat adanya panoramic sunroof berukuran 75 inci, yang diklaim terbesar di kelasnya. Dashing dilengkapi fitur safety seperti enam buah airbag, cruise control dan ADAS dengan empat sistem. Cukup disayangkan, tidak ada fitur adaptive cruise control, yang berguna di perjalan jauh.

Dengan harga mulai Rp 400 jutaan, Jetour Dashing menjadi pilihan yang menarik dengan ‘value for money’ yang bagus, terutama dengan jumlah fitur yang didapat.

First Impression: Chery Tiggo Cross

Jelang gelaran Indonesia International Motor Show (IIMS) 2025, Chery membawa pemain baru yang siap menggoda penyuka Crossover Sport Utility Vehicle (SUV). Mobil ini menyasar segmen Crossover SUV berukuran ringkas. Dimensi Chery Tiggo Cross ini memang tidak berbeda jauh dengan Chery Tiggo 5X.

Mobil yang juga punya nama Chery Tiggo 4 di beberapa negara lain, mengusung desain yang menarik. Chery sengaja menganut Tiger Philosophy, sebagai DNA khas Chery Tiggo Series. Apalagi Chery yakin bahwa segmen Crossover SUV di Indonesia masih terus tumbuh. Sehingga Tiggo Cross menjadi bagian dari ekspansi Chery di pasar Tanah Air.

Harimau mengaum

Chery Tiggo Cross punya keunikan pada lampu depannya, yang dinamakan Energy Crystal Outline Lamp. Dipadukan dengan tiga garis tegas, dengan sebutan Tiger Claw Lamp. Desain grille seolah menyerupai seekor harimau yang sedang mengaum. Karakter khas sebuah Crossover SUV, hadir melalui adanya overfender di keempat spakbornya. Velg ring 17 inci dibalut dengan ban Atlas A51 SUV berukuran 215/60 R17.

Tiggo Cross memiliki beberapa pilar keunggulan, yang dirancang untuk memikat hati konsumen. Dimulai dari tingkat keselamatan berkendara yang mumpuni. Demi keselamatan penggunanya, Chery memasang sistem ADAS dengan 15 fitur dan enam buah airbag.

Dual Screen beresolusi HD

Masuk ke interior, maka tersedia konektivitas tanpa batas, untuk smartphone penggunanya melalui Apple CarPlay dan Android Auto. Kenyamanan juga menjadi fokus utama, dengan menawarkan kabin terluas di kelasnya. Diperkaya material soft-touch dan desain ergonomis untuk seluruh penumpang.

Chery juga menyematkan Dual Screen 10,25 inci beresolusi HD, electric sunroof, dan kamera 360 derajat beresolusi tinggi, sehingga memastikan visibilitas optimal untuk pengemudi.

Jantung mekanis serupa Tiggo 5X

Chery Tiggo Cross menggunakan mesin 1.5 liter yang halus. Akselerasi responsif hadir berkat penggunaan transmisi CVT. Baik mesin maupun transmisi, memang serupa dengan Chery Tiggo 5X. Namun, ada perbedaan pada mapping program manajemen mesin dan transmisi. Sehingga luapan output terasa lebih halus.

Untuk harganya, CSI baru mengungkapkan pada gelaran IIMS 2025 nanti. Disertai dengan beberapa program benefit untuk konsumen, termasuk garansi mesin yang mencapai satu juta kilometer.

Review: Zeekr X, Bukan Crossover EV Biasa

Pabrikan mobil listrik (EV) yang mencoba beradu peruntungan di pasar otomotif Indonesia bertambah satu lagi. Namanya cukup unik dan mudah diingat, Zeekr. Satu dari dua model yang diboyong brand asal Tiongkok tersebut yakni Zeekr X tampil memukau pada pameran GJAW 2024 lalu.

Crossover atau SUV 5-seater ini dipasarkan oleh PT Premium Auto Prima selaku agen pemegang merek (APM) Zeekr di Indonesia.

Apa yang membuat Zeekr X berbeda dari model crossover EV sejenisnya?

Tampilan Eyecatching

Dari tampilan eksterior, Zeekr X memiliki gaya desain semi futuristik dan sporty. Sepintas nampak tak jauh beda dari model SUV dan crossover EV dari brand lain yang beredar di Indonesia. Rata-rata mobil jenis ini tampangnya mirip-mirip dan desainnya hanya beda tipis.

Lampu depan LED-nya jadi salah satu sisi keunikan dari Zeekr X. Sorotan lampunya bisa berjoget mengikuti irama musik.

Kebanyakan mobil memasang kamera 360 derajat pada bemper. Namun pada Zeekr X justru tersamar dan menjadi satu dengan emblem logo Zeekr yang minimalis.

Bodi bagian samping ternyata agak sedikit beda dari crossover EV sejenisnya. Zeekr X dilengkapi spion dan kaca pintu model frameless. Handle pintu dilengkapi sensor.

Uniknya, pada pilar B ternyata dilengkapi layar penampil informasi kendaraan. Siluet bodi bagian samping pun tak terlihat polos dan membosankan berkat over fender berkelir hitam glossy. Kesan sporty pun makin kental berkat sirip diffuser di bemper belakang.

Dengan panjang 4.432 mm, lebar 1.836 mm, dan tinggi 1.566 mm, bodi Zeekr X tak terlalu besar. Ground clearance 191 mm, terbilang cukup aman untuk menerabas genangan. Satu set velg alloy two-tone 19 inci berbalut ban Continental, bikin tampilan makin sempurna.

Interior Unik

Saat masuk ke dalam kabin, Zeekr X punya gaya interior yang minimalis, simple namun tetap berkesan mewah. Pada dashboardnya terpampang layar head unit 14,6 inci. Ini adalah pusat kontrol sebagian besar fitur berkendara, AC dan sistem multimedia infotainment. Pengaturan light show, pintu, serta penyejuk jok juga dari layar ini.

Karena dashboard minim tombol fisik, maka sebagian fitur berkendara diatur via layar head unit. Scrolling menu fitur pada layar sambil mengemudi memang sedikit merepotkan. Tapi itulah imbas kecanggihan teknologi. Untungnya, menu tampilan layar tidak ribet dan semua kendali fitur responnya yang cukup cepat.

Panel instrumen digital dibalik setirnya masih nyaman dilihat walau ukurannya tak terlalu besar. Tersedia pula fitur layar head up display yang menampilkan beragam informasi berkendara. Proyeksi head-Up display ke kaca depan membuat pengemudi tak perlu mengalihkan perhatian dari jalan.

Visibilitas pengendara ke arah depan, samping kiri-kanan dan belakang tak jauh beda dengan crossover sejenis. Toh, ada fitur kamera 360 derajat yang terintegrasi dengan layar head unit. Fitur ini bagaikan mata ketiga pengemudi yang membantu melihat seluruh sisi kendaraan. Kamera ini tetap aktif hingga kecepatan 30 km/jam. Cukup membantu saat bergerak di kemacetan.

Yang menarik, disematkan juga fitur Self Parking yang siap memarkirkan mobil ini secara otonom.

Joknya yang berbalut kulit lembut terbilang ergonomis. Posisi duduk bisa diatur secara otomatis, sehingga saat perjalanan jauh pun dijamin tetap nyaman.

Selebihnya, fitur remote keyless entry, ambient light, dan pintu bagasi elektrik jadi poin plus pada Zeekr X.

Performa Responsif

Zeekr X hadir di Indonesia dalam dua pilihan penggerak: AWD dan RWD. Varian AWD yang kami coba dibekali motor elektrik ganda dengan output tenaga 428 hp dan torsi puncak 543 Nm.

Kedua varian dilengkapi baterai 66 kWh. Soket fast charger CCS Type 2 terletak di sisi kiri mobil. Pengisian daya 20-80 persen dengan fast charger DC 150 kW, hanya butuh waktu kurang dari 30 menit.

Karena ini mobil listrik dengan baterai cukup besar, maka tersedia pula fitur vehicle to load (V2L) alias berbagi daya listrik. Energi baterainya bisa dipakai untuk perangkat kelistrikan eksternal dalam kondisi darurat.

Meskipun daya baterainya sama, tapi jarak jelajah antara kedua varian berbeda. Berdasarkan standar WLTP, versi RWD bisa menempuh hingga 440 km. Sedangkan versi AWD bisa mencapai 420 km. Jika mengikuti standar NEDC yang berlaku di RRC, versi AWD bisa menempuh jarak hingga 540 km. 

Terdapat tiga mode berkendara yang dapat dipilih yakni Standard, Comfort dan Sport. Akselerasi 0-100 km/jam hanya butuh 3,8 detik. Menurut kami, hasil uji akselerasi antar penguji bisa beda tipis. Bergantung respon pengemudi saat menginjak pedal.

Akselerasi Responsif

Setidaknya, tarikan awal mobil ini terbukti cukup responsif. Padahal kami pakai mode Comfort. Sensasi tenaga dan torsi cukup terasa namun tidak begitu menghentak. Muntahan performa baru terasa saat pakai mode Sport sambil injak pedal gas hingga rebah. Kami suka sensasi mode Sport.

Handling mobil ini terbilang jinak dan stabil saat diajak manuver pada mode Comfort dan Standard. Hanya saja ayunan suspensi terasa agak keras saat melewati speed bump dan jalan bergelombang. Setting suspensinya yang sedikit lebih rigid mungkin menyesuaikan karakternya yang sporty.

Soal pengereman, Zeekr X cukup responsif dan pakem walau pada kecepatan tinggi. Jarak pengereman pun terbilang pendek.

Bagi Anda yang berminat, Zeekr X harganya Rp 1,1 miliar (RWD) hingga Rp 1,3 miliar (AWD). Pemesanan kedua varian Zeekr X telah dibuka sejak November 2024 lalu.

Unit pesanan sudah mulai dikirim ke konsumen mulai Januari 2025. Cukup cepat juga, mengingat mobil listrik ini masih diimpor dari RRC dalam kondisi utuh atau CBU.

Review: Hyundai Santa Fe Calligraphy 1.6 T-GDi HEV

Hyundai membuat gebrakan baru, melalui kehadiran Santa Fe generasi terbaru. Jika Santa Fe generasi sebelumnya memiliki bentuk yang berotot, maka Santa Fe generasi terbaru malah terlihat semakin maskulin. Bahkan tidak ada aspek yang tersisa dari semua generasi Santa Fe sebelumnya. Agar tak berlama-lama penasaran, kami langsung saja pilih varian Calligraphy yang bermesin hybrid.

Dari depan, area depan Santa Fe tampak agresif karena disertai dengan lampu daytime running (DRL) berpola ‘H’ dan lampu depan LED yang menyorot tajam. Semuanya benar-benar mengusung garis lurus dan terlihat kontras dengan kaca depan yang miring. Bahkan bentuk kap mesinnya saja tampak sangat kokoh.

Secara visual saja, SUV ini pasti menawarkan ruang kabin yang lapang. Memandang Hyundai Santa Fe dari sisi samping, amat jelas bahwa SUV ini sarat akan garus lurus yang tegas. Lekuk fender yang berotot, diisi oleh velg multi-spoke 20 inci berwarna hitam, dan dibalut ban 255/45 R20. Fisiknya yang berukuran besar, memiliki wheelbase sepanjang 2.815 mm.

Assist Handle fungsional

Ada keunikan pada pilar C-nya, yakni tersedia Assist Handle. Sehingga memudahkan pengguna untuk memanjat, untuk mengakses barang-barang yang terpasang di atap. Amat fungsional buat pengguna yang menggunakan roobox atau yang gemar beraktivitas di alam terbuka.

Masuk ke kabin depan, tersedia kursi depan sendiri suportif dan nyaman. Dilengkapi pemanas dan sistem ventilasi, serta penyesuaian elektrik dengan dua pengaturan memori untuk pengemudi. Sehingga mengatur kursi ke posisi yang diinginkan menjadi mudah. Setirnya dilengkapi kontrol untuk audio, telepon, adaptive cruise control, dan untuk scrolling berbagai halaman di panel instrumen.

Seperti yang ada pada Hyundai masa kini, dua layar besar diletakkan berdampingan di dashboard. Panel instrumen ditata dengan baik dan di sampingnya terdapat sistem infotainment layar sentuh 12,3 inci, yang dilengkapi Apple CarPlay dan Android Auto. Asyiknya, tata letaknya tergolong dan mudah dimengerti. Sistem audio juga terdengar mantap, wajar saja karena didukung seperangkat speaker bikinan Bose.

Ruangan sterilisasi beragam barang

Panel kontrol AC, mempunyai kombinasi optimal antara kontrol fisik dan tombol sentuh, sehingga pengoperasinya sangat mudah. ​​Laci dashboard berukuran cukup besar, bahkan ada kompartemen untuk sterilisasi UV-C di atasnya. Pengoperasiannya? Cukup tekan tombol di sebelah layar infotainment, fitur ini dapat digunakan untuk sterilisasi ponsel, dompet, dan lain-lain.

Pada varian Calligraphy, terdapat panoramic sunroof berukuran besar, sehingga memungkinkan penumpang belakang dapat melihat langsung ke arah langit. Tirai pada sunroof tersebut juga dioperasikan secara elektris. Ada dua wireless charger pada konsol tengah, agar daya ponsel pengemudi dan penumpang depan tetap dapat terisi.

Di konsol tengah, terdapat Bilateral Multi-Console. Istilah bilateral ini berarti tutup konsol dapat dibuka dari depan dan belakang. Di baliknya ada laci yang berukuran cukup lapang dan dalam, bisa untuk menyimpan berbagai macam barang. Ventilasi AC tersedia di kedua pilar B, untuk menjaga penumpang baris kedua tetap sejuk. Sedangkan, port USB Type-C berada di sisi belakang setiap kursi depan.

Untuk masuk ke kabin belakang, cukup tekan tombol One-touch Walk-In, maka jok baris kedua pun memberikan akses untuk masuk dan keluar. Jok baris ketiga cukup untuk menampung anak-anak untuk perjalanan jarak jauh, atau untuk orang dewasa untuk perjalanan singkat. Jika perlu ruang bagasi yang besar, cukup lipat jok baris ketiga tersebut. Sehingga ruang bagasi yang awalnya memiliki kapasitas 628 liter, maka menjadi nyaris 2.000 liter.

Tersedia torsi besar

Dimensi Hyundai Santa Fe terbaru ini memang terlihat cukup besar, dengan panjang 4.830 mm, lebar 1.900 mm, dan tinggi 1.720 mm. Meski begitu, tak perlu canggung untuk mengendarainya. Sebeb pengendaliannya cukup supel dan mudah. Kaca spion samping yang besar dan kaca yang luas, memberikan visibilitas yang baik.

Sumber tenaga berasal dari mesin Smartstream 1.6 T-GDi yang dipadu dengan motor listrik 44,2 kW. Output gabungannya sebesar 235 PS dan torsi kombinasi 367 Nm. Karena SUV ini memiliki teknologi hybrid, maka akselerasi terasa mantap dan padat. Wheelbase yang panjang, membuat ayunan bodi terasa oke. Sehingga membuat perjalanan jarak jauh tetap terasa menyenangkan.

Hyundai Santa Fe terbaru dipasarkan dalam empat varian yang menarik. Mulai dari varian Prime 2.5 GDi (Rp 699 juta), Prime 1.6 T-GDi HEV (Rp 786,3 juta), Calligraphy 2.5 GDi (Rp 784,5 juta), dan tentunya Calligraphy 1.6 T-GDi HEV (Rp 869,6 juta).

Review: Toyota Raize 1.0 Turbo GR Sport CVT

Segmen Sport Utility Vehicle (SUV) kecil di pasar otomotif Indonesia, memang tidak banyak pemainnya. Hingga kini, terhitung ada Nissan Magnite dan Toyota Raize (ditambah Daihatsu Rocky tentunya). Kalau mau ‘dimelarkan’ sedikit, Anda bisa memasukkan Honda WR-V dan Kia Sonet juga. Namun, nampaknya Toyota Raize yang berhasil menjadi pilihan teratas dalam segmen tersebut. Kami pun langsung saja membesut Toyota Raize 1.0 Turbo GR Sport CVT.

Di Jepang, Toyota Raize sudah dipasarkan sejak tahun 2019. Meskipun menggunakan platform serupa dengan Daihatsu Rocky, tapi tetap ada perbedaan tersendiri. Untuk pasar Indonesia, Toyota Raize masuk pertama kali pada tahun 2021. Untuk mengakomodir selera konsumen, Toyota menghadirkan dua varian mesin, yaitu 1.0 liter dengan turbocharger dan 1.2 liter tanpa turbocharger.

Tersemat Aero Kit

Toyota membawa Raize untuk menyasar konsumen yang berjiwa muda, atau keluarga muda yang memerlukan kendaraan SUV praktis di perkotaan. Kesan modern terlihat pada tampilan eksterior, sebut saja Illuminating Headlamp with DRL & Sequential Turn Lamp. Khusus varian 1.0 Turbo GR Sport, terdapat Aero Kit yang tersebar pada sekujur bodi.

Komponen tersebut disematkan pada bumper depan, belakang, dan side skirt. Di bagian depan, terpasang GR Front Grille dengan GR Emblem. GR Side Visor dipasang untuk mereduksi sinar matahari secara langsung. Sedangkan Black Outer Mirror menambah aspek gagah SUV kecil ini. Secara eksklusif, varian 1.0 Turbo GR Sport menggunakan velg 17 inci, yang dibalut ban 205/60 R17.

Kami paham kenapa Toyota memasarkan Raize sebagai kendaraan yang cocok bagi keluarga muda. Salah satu alasannya tentu ialah dimensi. Toyota Raize memiliki panjang 4.030 mm, lebar 1.710 mm, dan tinggi 1.635 mm. Sedangkan wheelbase pada 2.525 mm, serta ground clearance 200 mm. Ini yang membuat penggunanya merasa ‘pede’, buat diajak berkendara di berbagai kondisi jalan.

Interior mumpuni

Untuk menunjang aktivitas sehari-hari, Toyota Raize memiliki interior dan bagasi yang mumpuni. Pada unit yang kami coba, terdapat Front Soft Pad Armrest untuk menambah kenyamanan saat mengemudi. Panel instrumen didukung TFT MID berukuran 7 inci, sedangkan head unit interaktifnya berukuran 9 inci.

Pada varian 1.0 Turbo GR Sport, tampilan interior tentu bernuansa sporty. Mulai dari GR Push Start Stop Button, Exclusive GR Steering Wheel, GR Floor Mat, Fabric & Leather Combination Seat with GR Headrest, Adaptable Auto A/C, Perceptive Auto Headlight, hingga Paddle Shift. Urusan kepraktisan, Toyota Raize memiliki kapasitas bagasi maksimal hingga 369 liter.

Toyota mengaplikasikan berbagai fitur keselamatan pada Raize. Seperti Anti-lock Braking System, Vehicle Stability Control, Alarm dan Immobilizer, Rear Parking Camera, serta Rear Parking Sensor. Kebetulan unit yang kami ulas kali ini, tidak menggunakan kelengkapan Toyota Safety Sense (TSS). Jadi tidak ada fitur Lane Departure Warning & Prevention, Pedal Misoperation Control, Pre-Collision Warning & Braking, Adaptive Cruise Control, Front Departure Alert, dan Rear Cross Traffic Alert.

Racikan spesial meminimalisir getaran

Nah, urusan mesin tentu menjadi hal yang menarik. Sebab di balik kap depan ada mesin bensin tiga silinder DOHC VVTi 1.0 liter turbocharger, bertenaga 97 hp. Mesin berkode 1KR-VET ini memiliki torsi 140 Nm, yang berlangsung linear dari putaran mesin 2.400 hingga 4.000 rpm. Ada dua pilihan transmisi, yaitu manual 5-speed dan CVT.

Lazimnya, karakter mesin tiga silinder ialah memiliki getaran. Hal ini terjadi karena ada kekosongan langkah pembakaran. Namun, pada mesin ini terasa begitu minim getarannya. Kami usut, ternyata ada racikan spesial pada komponen engine mounting dan engine balancer. Saat melaju, jika pedal gas langsung diinjak dalam, ada sedikit sekali momen turbo lag. Namun, setelah putaran 2.000 rpm, mesin langsung merespons dengan cepat, seiring dengan adanya boost dari turbocharger.

Mesin berkapasitas kecil dengan langkah piston yang panjang, dipadu dengan turbocharger, maka tujuannya tak lain ialah efisiensi bahan bakar, tanpa harus kompromi dengan performa. Efek positif lain untuk mendapatkan konsumsi bahan bakar yang baik, tentu dengan penggunaan transmisi CVT. Melaju konstan di kecepatan 100 km/jam, putaran mesin tidak sampai 2.400 rpm. Sedap bukan?

Setelah menelaah seluruh aspek yang ada pada Toyota Raize, kami akhirnya bisa memahami kenapa SUV kecil ini banyak digemari di Tanah Air. Uniknya, malah tipe GR Sport mendominasi angka penjualan sejak pertama kali diluncurkan. Untuk Toyota Raize 1.0 Turbo GR Sport CVT non-TSS dengan aksen Single Tone ini, harganya ialah Rp 287,2 juta (on the road DKI Jakarta).

Review: Jetour X70 Plus

Setelah tampil perdana di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2024, kami tak ingin berlama-lama untuk menjajal produk Jetour. Kali ini yang kami besut ialah Jetour X70 Plus.

Sosok SUV 7-seater ini terlihat gagah dan garang. Dua varian pun dipasarkan di Indonesia, yakni Journey dan Inspira. Meski begitu, tampilan kedua varian ini sepintas terlihat identik.

Grille semi hexagon berukuran besar diapit sepasang headlamp model lancip. Tersemat lampu DRL LED vertikal yang berada di rongga ala air intake. Lips spoiler berukuran besar di bumper depan bikin SUV ini makin bergaya ala mobil sport high performance buatan Eropa.

Lekukan bodi samping terlihat kekar berotot dengan overhang buritan yang pendek. Velg alloy berukuran 19-inci berbalut ban ukuran 235/55 R19 bikin postur Jetour X70 jadi terlihat jangkung.

Garis atapnya yang melandai ke buritan pun terlihat aerodinamis. Pada atap terpasang roof rail. Panoramic sunroof Ultra Wide berukuran 62-inci dan logo ‘lightning’ pada varian Inspira, jadi ciri pembeda dari varian Journey. Tampilan bagian belakang pun tak kalah garang dengan knalpot empat laras dan roof spoiler.

Jetour X70 Plus memiliki panjang 4.724 mm dan lebar 1.900 mm. Jarak antar sumbu roda (wheelbase) yang di angka 2.745 mm mengindikasikan kabinnya cukup lapang.

Kabin Lapang Dan Nyaman

Masuk ke dalam kabin, kami disuguhkan fitur Welcome Lighting saat membuka kedua pintu kabin depan. Terlihat sorot cahaya bulat bertuliskan JETOUR di permukaan jalan.

Kontur desain jok yang ergonomis dengan bahan yang lembut membuat duduk jadi nyaman. Jok pengemudi juga dilengkapi enam setelan posisi duduk berpengaturan elektrik, dengan tiga memori setting posisi duduk.

Posisi mengemudi pun dapat diatur sesuai keinginan pengemudi. Terdapat fitur 4-Way Tilt & Telescopic Steering untuk setting posisi setirnya yang berlapis kulit.

Meskipun ini kategori SUV 7-seater dengan tiga baris jok, tapi posisi duduk hingga baris belakang tak terasa sempit. Panoramic sunroof-nya pun ternyata memang lebar, mencakup kabin depan dan baris kedua.

Untuk fitur infotainment, kedua varian X70 Plus dilengkapi layar touchscreen 10,25 inci dengan koneksi nirkabel Android Auto dan Apple Carplay.

Untuk mengisi daya baterai ponsel pintar pun tersedia fitur Wireless Rapid Charging berdaya 50W. Fitur pengisian daya cepat ini dilengkapi pengaturan pembuangan panas, sehingga tak perlu khawatir baterai ponsel mengalami overheat.

Fitur lain yang terdapat pada Jetour X70 Plus antara lain filter udara CN95 yang dapat secara efektif menyaring bakteri dan zat alergen. Selain itu juga dilengkapi fitur Keyless Entry dan One-Touch Start yang membuat SUV ini makin user friendly.

Salah satu kelebihan dari kabin Jetour X70 Plus yakni volume bagasinya yang bisa dimekarkan hingga 1.680 liter dengan melipat jok baris kedua dan ketiga.

Membuka pintu bagasi pun bisa dilakukan melalui fitur Electric Tailgate with Memory Function yang diaktifkan via layar head unit.

Settingan Dwi Bahasa

Posisi sudut bukaan pintu bagasi bisa diatur dan disimpan. Mulai dari pintu terbuka 50 derajat, 70 derajat, hingga terbuka penuh. Hal ini memudahkan pengguna jika area di belakang mobil terlalu sempit atau terbatas.

Fitur modern yang masih belum banyak diaplikasikan yakni perintah suara. Jetour X70 Plus dilengkapi fitur perintah suara atau Voice Command dengan setting dwi bahasa, yakni Indonesia dan Inggris.

Cukup dengan perintah suara, Anda dapat mengaktifkan radio, koneksi bluetooth, hingga membuka dan menutup sunroof.

Fitur keselamatan ADAS yang dibekalkan pun cukup lengkap, antara lain Blind Spot Monitoring, Tire Pressure Monitoring, Rear Collision Traffic Alert, hingga Multi-angle Security (Camera 360).

Jetour X70 Plus nampaknya dirancang sebagai mobil harian keluarga. Tak hanya tampil keren dengan kabin yang nyaman. Kualitas interior dan fitur yang dibekalkan pada Jetour X70 Plus tak kalah dari SUV dengan harga di atas Rp 500 jutaan.

Berkendara Menyenangkan

Jetour X70 Plus dibekali mesin bensin 1.5 liter turbocharger, dengan output 154 hp dan torsi puncak 230 Nm. Transmisi pakai jenis DCT 6-speed. Tak ada perbedaan antara varian Inspira maupun Journey. Mesin yang digunakan pun sama seperti pada Jetour Dashing.

Sensasi berkendaranya sekilas cukup menyenangkan. Meskipun respon setirnya terasa lebih ringan bila dibandingkan SUV sekelasnya, tapi handling kemudinya masih bisa dikendalikan saat berkendara di jalan yang kurang mulus.

Jika tarikan awal agak sedikit melambat, harap maklum karena bodinya terbilang bongsor dan mesinnya tak terlampau besar. Ketika sudah melaju, kurva tenaga mulai terasa tapi kenaikan kurva tenaganya tetap halus dan tidak menyentak.

Bagi yang kerap berkutat di kemacetan dalam kota, pilihan yang pas adalah Mode Eco dengan kurva performa yang landai. Jika kerap melintasi jalan tol yang lengang atau ingin tarikan performa yang lebih terasa, maka pilihannya adalah Mode Sport.

Bagi yang kurang terbiasa berkendara dengan SUV ukuran agak besar, mobil ini punya settingan suspensi yang cenderung keras saat melintasi trek semi off-road atau jalan berlubang. Meski begitu, redaman suspensinya masih terbilang wajar untuk di jalan aspal. Justru setting suspensi seperti ini cocok untuk diajak bermanuver.

Rakitan Indonesia, Harga Lebih Kompetitif 

Jetour X70 Plus sudah dirakit di Indonesia dengan skema Completely Knocked Down (CKD), dengan PT Handal Indonesia Motor.

Jetour X70 Plus hadir dalam dua varian, yakni Journey yang dibanderol Rp 414,8 juta dan Inspira Rp 444,8 juta. (Harga OTR Jakarta).

Jetour memberi garansi mesin hingga 10 tahun atau satu juta km (mana yang tercapai lebih dulu). Sedangkan garansi kendaraan secara keseluruhan berlaku selama 6 tahun, tanpa batasan jarak tempuh.

Menurut kami, mobil ini sangat ideal untuk jadi alternatif pertimbangan dalam mencari mobil harian keluarga. Fitur yang ada pada Jetour X70 Plus terbilang melampaui harga yang ditawarkan. Ditambah lagi faktor gaya tampilan, kenyamanan, serta kabinnya yang lapang. 

First Impression: Citroën ë-Berlingo 2024

Perjalanan kami ke Prancis beberapa waktu silam, tidak hanya untuk mengunjungi Paris Motor Show 2024 saja. Namun juga berkesempatan untuk mencoba produk Citroën yang bebas emisi, yakni ë-Berlingo. Wajar jika Anda yang belum akrab dengan Berlingo, karena mobil ini memang tidak pernah masuk ke pasar Indonesia. Tapi di negara tetangga, seperti Singapura maupun Malaysia, Anda bisa menjumpai Citroën Berlingo. Sebenarnya, generasi awal Citroën Berlingo merupakan kembaran dari Peugeot Partner.

Oke, unit kendaraan Citroën yang disediakan oleh pihak Stellantis, untuk perjalanan nyaris 100 km kali ini memang beragam. Namun, kami sukses ‘mendapatkan’ ë-Berlingo. Walaupun Citroën menyebut mobil ini sebagai leisure van, Berlingo lahir sebagai mobil untuk kebutuhan niaga. Seiring perjalanan waktu, Berlingo pun digunakan sebagai Multi Purpose Vehicle (MPV) keluarga. Wajar saja jika kini ada yang versi listrik alias EV.

Varian M terasa pas untuk harian

Unit Citroën ë-Berlingo yang kami gunakan ialah varian M, dengan trim Ambiance XTR dan berkelir Backpacker Khaki. Karena varian M, maka tempat duduknya hanya dua baris. Citroën ë-Berlingo juga tersedia dalam varian XL dengan jok tiga baris. Perbedaan terbesar ialah pada panjang bodinya. Jika varian M memiliki panjang 4.400 mm, maka varian XL punya panjang 4.750 mm.

Karena kami hanya berdua saja dalam MPV ini, maka varian M terasa pas untuk perjalanan. Titik awal bermula dari Quai de Grenelle, tepat pada jantung kota Paris. Sajian kemacetan dan suara klakson yang khas di pagi hari, sudah harus kami maklumi. Usai menembus sejumlah persimpangan kusut, ternyata kami terpisah dari iring-iringan dari mobil media yang lain.

Karena Citroën ë-Berlingo ini terasa menyenangkan, kami memutuskan untuk mencari rute sendiri menuju titik selanjutnya, yakni di Abbaye des Vaux-de Cernay. Lokasi ini terletak di antara kota Auffargis dan Cernay-la-Ville. Jika saja tidak tertinggal dari rombongan, kami akan tiba di titik tersebut melalui kota Cernay-la-Ville. Apa yang terjadi malah kami melalui kota Trappes, Les Essarts-le-Roi, dan Auffargis.

Tetap yakin dibesut di jalanan sempit

Sebagai pelengkap, sinyal Wi-Fi kami turut hilang saat berada di area cagar alam Sablière de Pont Grandval, pinggiran kota Auffargis. Untuk mencari sinyal, kami putar balik kembali menuju ke kota Auffargis. Setelah sinyal kembali penuh, kami hanya terpaut sekitar beberapa menit dari rombongan.

Untuk mengejar ketinggalan, kami pun membesut Citroën ë-Berlingo di jalanan pedesaan yang tergolong ‘ngepas’, penuh tikungan, ditambah dengan tingkat elevasi yang beragam. Kami sangat terkesan dengan karakter MPV ini. Setirnya terasa komunikatif, karakter suspensinya begitu supel, minim body roll, namun tidak kaku. Buat apa pakai mobil sport, kalau Citroën ë-Berlingo saja sudah bisa begini. Heran…

Akhirnya kami re-grouping di halaman depan Abbaye des Vaux-de Cernay, untuk selanjutnya beriringan menuju Maison Jaune, di Boulogne-Billancourt. Kini waktunya memperhatikan apa saja yang dimiliki Citroën ë-Berlingo ini.

Fisik luarnya merepresentasikan desain baru Citroën. Bagian depannya didesain ulang dengan mengadopsi identitas visual Citroën terkini. Banyak garis vertikal yang memperlihatkan kesan modern. Tak ketinggalan ada aksen detil kebanggaan Citroën, yakni pola chevron. Pada lampu depan terdapat satu garis vertikal dan dua garis horizontal.

Jok nyaman khas Citroën

Roof rail hanya tersedia pada trim teratas saja. Garis atap terlihat harmonis dengan sisi bodi, hingga ke panel pintu kargo. Pintu geser memudahkan akses penumpang untuk masuk dan keluar, sayangnya agak butuh tenaga ekstra untuk membuka atau menutupnya. Sepertinya karakter ‘mobil kerja’ masih terasa. Pada unit yang kami gunakan, memakai velg 17 inci dan dibalut ban Bridgestone Turanza 6 Enliten ukuran 205/55 R17.

Untuk memberikan kenyamanan bagi pengemudi dan penumpang, ë-Berlingo dilengkapi dengan jok Citroën Advanced Comfort. Sepasang jok depan dilengkapi dengan armrest, sehingga memanjakan pengemudi dan penumpang depan.

Dashboard menjadi salah satu fitur andalan pada Citroën ë-Berlingo, dilengkapi dengan instrument cluster digital dan layar sentuh 10 inci. Di bagian atas dashboard, terdapat Top Box untuk menyimpan beragam barang. Sedangkan, tombol start/stop, tuas transmisi, fungsi mode berkendara, dan tuas rem parkir, diposisinya pada console tengah.

Ada fitur unik Modutop, sebagai atap multifungsi. Terdiri dari panel transluen, lampu ruang kabin, kompartemen atap, hingga panoramic glass roof. Jika dihitung secara teliti, Citroën ë-Berlingo memiliki 27 ruang penyimpanan barang yang tersebar di dalam kabin. Kalau ditotal, kapasitasnya mencapai 186 liter.

Jarak tempuh mencapai 320 km

Citroën ë-Berlingo terasa ringan saat berakselerasi dan meluncur tenang di jalan bebas hambatan. Tentu saja berkat peran motor listrik 100kW (setara 136 hp), dengan baterai LFP 50kWh. Jarak tempuhnya mencapai 320 km (menurut pengujian WLTP). Prestasi ini tentu cocok untuk penggunaan kendaraan secara harian.

Baterai MPV ini dapat diisi ulang secara penuh melalui wall charger 7,4 kW selama 7,5 jam. Jika menggunakan wall charger 11 kW, maka pengisian penuhnya hanya selama 5 jam. Selain itu, untuk mengisi daya baterai dengan menggunakan charger 100 kW, dari kondisi kosong hingga 80 persen, cukup memakan waktu 30 menit saja.

Lebih lanjut, untuk pasar Eropa hanya dipasarkan Citroën ë-Berlingo. Sedangkan untuk pasar di luar Eropa atau pasar spesifik lainnya, Citroën Berlingo punya pilihan mesin bensin, diesel, maupun versi listrik.

Mitsubishi All New Triton HDX Tangguh Di Medan Off-road

PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) mengajak puluhan awak media termasuk Motomobinews untuk menjajal langsung All New Triton, di antaranya ialah Mitsubishi Triton HDX, pada Senin (9/9/).

Sebuah trek off-road sepanjang 650 meter disiapkan di kawasan Desa Pelangi (Depes), Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat. Simulasi off-road mulai dari jalan tanah datar, kubangan lumpur, trek menanjak dan menurun hingga side ramp alias trek miring sudah tersedia.

Tampilan Simpel

Dari beragam varian yang ada, kami pilih Triton HDX 4×4. Pickup yang tersedia dalam versi single cab dan double cab ini adalah pekerja keras yang terjun langsung di area hutan, perkebunan maupun pertambangan.

Karena itulah varian HDX lebih fokus pada ketangguhan di medan off-road. Eksterior lebih simple dari varian GLX maupun Ultimate. Interiornya pun minimalis namun tetap memberikan kenyamanan optimal.

Layout panel interior tak banyak perbedaan dari dua varian trim lainnya. Hanya saja tata letak setiap elemen kabin dirancang lebih simpel untuk memudahkan akses dan penggunaan.

Pada dashboard terpampang layar head unit touchscreen 7 inci sebagai pusat kontrol utama sejumlah fitur. Mulai dari fungsi radio, media player, Bluetooth hingga sistem navigasi mudah dioperasikan. Mobil ini pun dilengkapi AC, jadi kabin tetap sejuk.

Walau tak semewah varian trim di atasnya, namun jok dan panel interior menggunakan material yang tahan segala cuaca.

Posisi duduk di kabin depan dan belakang tetap nyaman. Posisi mengemudi juga tak jauh beda dari varian yang lebih mewah. Kompartemen penyimpanan tersedia cukup banyak, termasuk bottle dan cup holder.

Revisi Sasis Dan Suspensi

Karena pickup Triton HDX masuk kategori kendaraan niaga ringan, maka ketangguhan menghadapi medan berat lebih diutamakan.

Sebelum dipasarkan di Indonesia, mobil ini telah menjalani pengujian medan ekstrem yang ada di Indonesia.

Sasis ladder frame dikatakan mengalami peningkatan bending rigidity hingga 60 persen dan torsional rigidity hingga 40 persen.

Kinerja sistem peredam kejut All New Triton pun mengalami peningkatan, terutama suspensi Double Wishbone Independent with Coil Spring di bagian depan.

Suspensi depan terbukti mampu meredam guncangan dan menanggulangi beragam kondisi permukaan trek off-road.

Sedangkan suspensi Rigid Leaf Spring alias per daun di bagian belakang dirancang untuk menopang beban muatan pada bak pickup Triton HDX yang bervolume 943 liter.

Torsi Bermain Di RPM Rendah

Saat melihat spek, ternyata Mitsubishi Triton pakai mesin diesel 4-silinder commonrail 2.4-liter berkode 4N16 untuk seluruh varian. Berbeda dengan versi terdahulu. Triton HDX tak lagi menggunakan mesin versi 4D15, dan mesin 4N15 untuk varian Ultimate.

Mesin 4N16 sudah berstandar emisi Euro 4. Variable Geometry Turbocharger (VGT) membuat performa lebih responsif pada rpm rendah yakni mulai 1.000 rpm! Ibarat mesin baru idle, tapi sudah terasa tarikan performanya dan langsung tancap gas.

Rasio final gear pun direvisi jadi lebih besar. Dari sebelumnya 4.0:1 sekarang jadi 4.6:1. Ini yang bikin hentakan torsi jadi lebih terasa di rpm rendah. Hanya saja ternyata ada tiga versi output performa walau mesin sama.

Output tenaga mesin 4N16 pada Triton HDX hanya 110 PS (108,5 hp)/4.000 rpm. Torsi puncak sebesar 200 Nm bermain di rentang 1.000-3.750 rpm.

Triton GLX output tenaganya 150 PS (148 hp)/3.500 rpm, dengan torsi 350 Nm/1.500-3.000 rpm. Sedangkan varian Triton Ultimate dan Exceed bertenaga 184 PS/3.500 rpm dengan torsi 430 Nm yang bermain di rentang 2.250-2.500 rpm.

Walau Triton HDX torsinya cuma 200 Nm, tapi sudah terasa sejak 1.000 rpm hingga 3.750 rpm. Rentang nafasnya jauh lebih panjang dibanding varian lainnya.

Mesinnya dipadukan menggunakan transmisi manual 5-speed. Perpindahan mode penggerak 2WD (2H) hingga 4WD (4H, 4L) dioperasikan secara manual menggunakan tuas.

Sebagai ‘kuda pekerja’, Triton HDX butuh torsi maksimum pada putaran serendah mungkin untuk memikul beban muatan berat maupun melibas trek yang ekstrem.

Selain itu, dengan torsi maksimum pada rentang putaran mesin yang lebih lebar membuat momentum mobil lebih terkendali saat melaju dengan muatan berat.

Output tenaga memang lebih kecil, tapi justru kerja mesin lebih ringan. Pasalnya, mesin jadi tak perlu menjangkau rpm tinggi untuk mencapai tenaga puncak. Sebagai kendaraan niaga, usia kerja mesin yang lebih panjang alias awet jauh lebih penting.

Tangguh Di Trek Off-road

Saat di trek off-road, masuk gigi 1 dan posisi transfer case di 4L, Mitsubishi Triton HDX 4×4 bisa merayap perlahan setelah kopling dilepas. Tak ada gejala mesin tersendat atau mati walau pedal gas dilepas.

Kemampuan crawling (merayap) pada mode 4×4 di gigi gardan rendah pun terbukti. Saat melewati tanjakan yang cukup curam pun mobil tetap merayap tanpa mati mesin. Kemampuan crawling ini bekerja dengan baik berkat fitur Active Stability and Traction Control (ASTC) dan Hill Start Assist (HSA).

Rear Differential Lock pada Triton HDX 4×4 mampu mencegah roda selip karena kehilangan traksi saat menanjak atau melintasi turunan yang terjal dan licin.

Bobot putaran setirnya juga cukup ringan meski sedang melintasi medan yang berat. Tangan jadi tidak terlampau pegal menahan kendali setir agar arah roda tetap stabil.

Ground clearance dengan tinggi 222 mm serta Approach dan Departure Angle yang lebih tinggi daripada model sebelumnya kian memudahkan melibas trek off-road.

Kubangan lumpur sepanjang 3 meter dengan kedalaman sekira 30 cm dapat dilibas dengan mudah.

Simulasi off-road yang kami cicipi bersama Mitsubishi Triton HDX 4×4 memang belum sepenuhnya menuntaskan rasa penasaran kami. Namun setidaknya fitur penunjang yang dibekalkan terbukti membuat pickup Triton HDX 4×4 mampu melibas trek off-road. Tak heran jika pickup Triton HDX laris manis dan jadi pilihan armada kendaraan niaga ringan di kawasan perkebunan dan pertambangan.

Pickup Mitsubishi Triton HDX terbaru ini dibanderol mulai dari Rp 377,15 juta untuk bodi single cab. Sedangkan untuk versi double cabin (D-Cab) dibanderol mulai dari Rp 426,65 juta.

Mitsubishi New Pajero Sport 2024

Mitsubishi New Pajero Sport: Usaha Meningkatkan Kenyamanan Ladder Frame

Mitsubishi Pajero Sport, love it or hate it mungkin jadi ungkapan yang pas untuk mobil ini. Desain ganteng, posturnya gagah, tenaganya badak daan kenyamanan pasti punya andil untuk membuat orang jatuh hati. Sayang, generasinya belum berubah juga sejak 2016.

Tapi itu cerita untuk lain waktu. Di depan kami sudah ada Mitsubishi Pajero Sport 2024 varian Dakar 4×2, yang mengalami facelift. Diperkenalkan di GIIAS 2024, Juli lalu, perubahannya memang tidak banyak. Tapi cukup untuk mendatangkan penyegaran. 

Tidak ada yang berubah di bagian teknis. Baik mesin, transmisi maupun kaki-kaki. Tapi kami merasa, kenyamanannya agak lebih baik dibanding sebelumnya. 

Kenyamanan Berubah

Pajero Sport 2024

Mitsubishi Pajero Sport dibuat untuk menaklukkan beratnya mobilitas pemilik. Makanya, ladder frame, mesin turbo diesel, ground clearance tinggi jadi modal utama. Biarpun tenaganya hanya disalurkan ke roda belakang. 

Tapi, modal utama itu juga membuat engineer putar otak untuk memberikan kenyamanan yang mumpuni. Seperti diketahui, ladder frame sulit untuk dibuat nyaman, karena aslinya tersedia untuk mobil angkut barang. Kuat memang.

Namun sepertinya Mitsubishi semakin bisa memberikan kenyamanan di mobil ini. Kami merasakan tingkat Noise, Vibration, Harshness (NVA) lebih baik dari sebelumnya. Meski suara mesin diesel 2,5 liter  di depan jelas terdengar saat meraung melewati 2.500 RPM.

Dashboard Pajero Sport baru

Getaran mesin bisa diredam dengan baik, dan yang membuat kami cukup terkejut adalah suara luar yang bisa diredam dengan baik. Bahkan saat melewati permukaan jalan beton. 

Selain itu, tidak ada yang berubah. Ruang kaki dan kepala tetap lega, meskipun desain jok kulit agak berubah. Baris ketiga seperti biasa, sempit tapi masih bisa menampung dua orang, dengan ruang bahu yang cukup.

Lipat baris ketiga dan Anda akan disuguhi bagasi dengan lantai yang rata, cukup untuk menampung berbagai barang.  Tidak lupa, setir berdesain baru. Meninggalkan bentuk rumit di versi lama. Ditambah ada kemampuan wireless charging di konsol tengah. 

Bantingan Suspensi

Pajero SPort 2024 perubahannya minim.

Kemampuan peredaman juga sepertinya ditingkatkan. Anda akan bisa merasakannya di kecepatan rendah, dimana kaki-kaki sang Pajero Sport terasa cukup halus. Tapi jangan bayangkan halusnya sebuah sedan. Ini untuk ukuran SUV tinggi.  

Pada kecepatan di atas 100 km/jam, rasanya akan sama seperti SUV sasis tangga yang lain: Keras. Meski harus diakui New Pajero Sport cukup stabil. Ini berkat penggunaan kaki model double wishbone di depan dan multi-link di buritan. Setup yang mumpuni untuk meladeni mobil yang perlu kestabilan. 

Tikungan parabolik di tol bisa kami tuntaskan dengan percaya diri dengan kecepatan kurang lebih 60 km/jam. Gejala limbung pasti ada mengingat posturnya yang tinggi. Tapi roda dan setir mampu memberikan feedback yang jelas untuk kami. Bobot setir juga tidak terlalu ringan di kecepatan ini. Itulah beberapa hal yang membuat Pajero Sport baru terasa menyenangkan untuk bermanuver. 

Performa

Mitsubishi masih membekali New Pajero Sport dengan mesin 4N15 dengan konfigurasi empat silinder segaris. Imbuhan turbocharger membuat mobil ini mampu mengeluarkan 178,4 hp pada 3.500 RPM. Sedangkan torsi puncaknya muncul pada putaran 2.500 RPM sebesar 430 Nm. 

Angka yang menyenangkan memang. Meski kami harus menyoroti transmisi otomatis 8-speed yang sepertinya agak lambat merespon lontaran torsi. Terutama saat sedang merayap melewati kepadatan lalu lintas kota. Tapi coba larikan di tol, kinerjanya patut diacungi jempol. Halus dan responsif. 

Kesimpulan

Tidak ada perubahan yang mumpuni selain tampilan visual di eksterior dengan grill dan pelek 18 ini baru. Kenyamanan memang meningkat, terutama soal kekedapan dan kesenyapan kabin.

MMKSI tidak mengatakan mereka telah merubah geometry suspensi. Tapi kami yakin, ada yang mereka tingkatkan di bagian ini. Entah itu peredam kabin yang lebih mumpuni, atau memang bushing yang lebih baik. 

Varian Dakar 4×2 yang kami coba adalah tipe tengah yang sepertinya sudah cukup untuk melayani penumpangnya. Jok kulit, meski bukan two-tone seperti pada varian Dakar Ultimate, tapi cukup nyaman untuk diduduki.

Sunroof, head unit multimedia dengan kemampuan koneksi Bluetooth bisa mengakomodir prestise yang dibutuhkan pengguna Pajero Sport. 

Overall, varian Dakar 4×2 seharga Rp 651.700.000 ini sudah cukup untuk mengakomodir kebutuhan mobilitas dalam dan luar kota. Kalau ingin lebih, tersedia Dakar Ultimate yang berpenggerak 4×2 ataupun 4×4. 

Spesifikasi & Harga Mitsubishi New Pajero Sport 2024

  • Mesin: 4N15, 2,5 liter MIVEC Turbocharged
  • Tenaga: 178,4 hp/3.500 RPM
  • Torsi: 430 Nm/2.500 RPM
  • Transmisi: 8-speed otomatis
  • Dimensi (p xl x t mm) : 4840 x 1815 x 1835 mm
  • Wheelbase: 218 mm 
  • Harga: Rp 651.700.000 (Dakar 4×2)

 

 

 

 

 

 

 

BYD M6

BYD M6, Sudah Tepat Bagi Konsumen MPV Tanah Air?

Kehadiran M6 di pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2024 silam, memang menjadi magnet kuat bagi pengunjung untuk ‘melipir’ ke booth BYD. Ya, BYD M6 seperti menjadi sosok baru di pasar yang cukup digemari oleh konsumen Tanah Air, yakni Multi Purpose Vehicle (MPV) dengan tempat duduk tiga baris. Apalagi mampu memuat enam hingga tujuh penumpang.

BYD M6 ini sukses membuat ‘sakit gigi’ sejumlah produsen lain di pasar tersebut. Sudah MPV dengan tempat duduk tiga baris, kapasitas penumpang mencapai tujuh orang, bertenaga listrik pula. Singkat kata, memang disesuaikan dengan kebutuhan mobilitas keluarga di Indonesia. Saat GIIAS 2024 lalu, kami sempat mencoba BYD M6 secara singkat di area test drive. Namun, untuk merasakan rasa berkendaranya, memang harus di perjalanan jarak jauh.

Hadir dengan tiga varian

Rasa penasaran kami terhadap BYD M6 terbayarkan saat menempuh perjalanan dari Jakarta menuju Bandung, dan sebaliknya. Rute sejauh lebih dari 330 km, kami lalui dengan melewati berbagai variasi medan jalan. BYD M6 hadir dalam tiga varian, yaitu M6 Standard, M6 Superior, dan M6 Superior Captain Seat. 

Panjang bodi 4.710 mm dengan wheelbase 2.800 mm, membuat BYD M6 menawarkan kenyamanan berkendara. Desain bagian depan yang aerodinamis, mampu mengoptimalkan aliran udara saat melaju. Mengisi keempat ruang spakbor ialah velg 17 inci dengan balutan ban 225/55 R17. Khusus pada varian Superior dan Superior Captain Seat, terdapat panoramic glass roof serta roof rail pada bagian atap.

Layar tengah bisa diputar

Masuk ke kabin, BYD M6 memiliki layar tengah berukuran 12,8 inci dan mampu diputar secara 90 derajat. Sistem infotainment didukung Apple Carplay dan Android Auto, termasuk fitur bluetooth memungkinkan pengemudi mengintegrasikan ponsel dengan mudah. Sedangkan joknya dibalut dengan material kulit sintetis. Lagi-lagi, fitur ventilated seat hanya ada pada varian Superior dan Superior Captain Seat saja.

BYD M6 varian Standard ditenagai oleh Blade Battery berkapasitas 55,4 kWh, yang menghasilkan tenaga 120 kW (setara 161 hp) dengan jarak tempuh sejauh 420 km. Sedangkan varian Superior dan Superior Captain, ditenagai Blade Battery berkapasitas 71,8 kWh. Sehingga menghasilkan tenaga 150 kW (setara 201 hp) dan jarak tempuhnya mencapai 530 km.

Sprint 0-100 km/jam cukup 8,6 detik

Kami membesut BYD M6 Superior, dengan torsi maksimum 310 Nm. Akselerasi 0-100 km/jam diklaim hanya 8,6 detik. Oke juga untuk sebuah kendaraan keluarga… Top speed dibatasi pada 180 km/jam. Kami membuktikan nikmatnya torsi besar mobil ini. Tanjakan curam di sekitar wilayah Ciater, Cikole, hingga Ciburial, semua dilibas dengan mudah tanpa harus bersusah payah.

Aksi suspensi juga memiliki karakter yang kami anggap unik. Di saat menghajar polisi tidur ukuran kecil maupun lubang di jalanan, meskipun di kecepatan rendah, maka akan terasa kurang nyaman. Tapi, ketika melewati jalanan bergelombang maupun ketika menikung di kecepatan sedang, BYD M6 malah terasa oke. Settingan suspensi macam apa ini, heran… Setidaknya, kaki-kaki menggunakan McPherson strut pada bagian depan dan Multi-link untuk bagian belakang.

Kesimpulannya, BYD M6 menjadi senjata baru untuk meraih simpati masyarakat Indonesia, terutama yang sedang mengincar MPV listrik untuk aktivitas keluarga. Lagipula, harganya mulai dari Rp 379 juta hingga Rp 429 juta. PT BYD Motor Indonesia mengakui sudah punya lebih dari 1.600 Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) untuk M6, sejak GIIAS 2024 lalu. Keren juga…

Haval Jolion 2024

First Impression GWM Haval Jolion, Semua Terasa Pas

Great Wall Motor (GWM) Indonesia secara resmi meluncurkan Haval Jolion HEV di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2024 lalu. Model ini juga mengukuhkan strategi GWM dalam menyuguhkan kendaraan yang rendah emisi di Indonesia.

Selain memiliki teknologi yang modern dan desain yang segar, Haval Jolion juga menjadi produk GWM pertama yang dirakit secara lokal melalui fasilitas perakitan Inchcape, di Wanaherang, Jawa Barat.

Saudara dekat Haval H6 ini cukup menggoda untuk dijajal. Meskipun belum bisa berlama-lama mencobanya, paling tidak kami sudah tidak terlalu penasaran lagi dengan Haval Jolion. Secara sekilas, desain fisiknya memang masih serupa dengan H6 HEV.

Interior Tak Berlebihan

Interior Haval Jolion 2024

Namun, jika disimak lebih teliti, perbedaan signifikan terdapat pada dimensinya. Haval Jolion memiliki panjang 4.472 mm, lebar 1.841 mm, dan tinggi 1.626 mm. Urusan lampu, memang atraktif. Untuk depan, lampunya bergaya T-Shaped Dagger Axe LED, dan disertai dengan grille Star Matrix. Sedangkan lampu belakangnya bergaya Boomerang LED.

Masuk ke interiornya, memang bukan yang kelas premium papan atas, namun jauh dari kesan cukupan. Bahkan kami merasa nyaman-nyaman saja. Memang ada bagian yang menggunakan material lembut, tapi ada juga bagian yang memakai plastik keras.

Buat kami yang punya tinggi tubuh di 170 cm, posisi mengemudi tergolong ergonomis. Lingkar kemudinya juga cukup oke saat digenggam. Tersedia layar sentuh berukuran 10,25 inci yang intuitif, untuk menampilkan beragam informasi maupun pengaturan personalisasi berkendara.

Waktu kami uji jalan, ternyata rasa suspensinya memang mumpuni. Apalagi menjajalnya dengan sejumlah penumpang lain. Hasilnya, guncangan tidak terlalu heboh saat menghajar gundukan maupun polisi tidur. Manuver pun terasa mudah, sebab bobot setirnya tergolong luwes. Entah bagaimana rasanya kalau dikendarai sendiri.

Suspensi Mumpuni

Haval Jolion akan jadi bintang GIIAS 2024

Salah satu hal yang diutamakan dalam mobil bertipe SUV ialah suspensinya yang nyaman. GWM berhasil merancang mobil ini dengan suspensi empuk ketika melewati area gundukan atau polisi tidur.

Ketika melewati berbagai rintangan seperti tanjakan, suspensinya bekerja dengan baik sehingga pengemudi maupun penumpang masih merasakan kenyamanan.

Sementara itu, bantingan setirnya juga cukup nyaman dan tidak terlalu ringan sehingga pengemudi dapat dengan mudah merasakan rasa berkendara dengan sangat baik ketika berbelok atau bermanuver.

Seperti lazimnya mobil hybrid, Haval Jolion HEV dapat melaju di mode EV ketika di kisaran kecepatan 20-40 km/jam. Namun, saat kami ketika berada di atas kecepatan 40 km/jam, maka mesin bensin 1.5 liter di balik kap depannya mulai beraksi, dan memberikan respons yang mantap.

Kami akan melakukan review lebih dalam lagi untuk Haval Jolion. Tunggu update selanjutnya. 

Tak Hanya di Kota, Chery Tiggo 5X Mau Diajak Pergi Jauh

PT Chery Sales Indonesia belum lama ini menyatakan secara resmi, bahwa Tiggo 5X akan resmi diluncurkan. Estimasinya ialah di akhir bulan Mei atau awal bulan Juni 2024 ini. Sebagai catatan, Chery Tiggo 5X melakukan debutnya di pameran Indonesia International Motor Show 2024 (IIMS) lalu.

Mobil lima penumpang sudah mulai ditawarkan dengan sistem pre-booking. Harga khusus yang berlaku untuk pre-booking dimulai dari Rp 249 juta untuk varian Classic. Sedangkan untuk varian Champion, dibanderol Rp 279 juta. Selain itu, fitur Chery Tiggo 5X yang lengkap dibandingkan produk sejenis di kelasnya, berpotensi bakal memberikan pengalaman berkendara yang berbeda.

“Kehadiran Chery Tiggo 5X dengan harga yang menarik ini menjadi kesempatan kami untuk menjangkau konsumen yang berbeda dari model-model lainnya,” kata Rifkie Setiawan, Head of Brand Department PT Chery Sales Indonesia. Penjelasan tersebut menggambarkan bahwa target pasar bagi Chery Tiggo 5X ialah konsumen berusia muda, yang banyak beraktivitas di perkotaan.

Namun, ternyata Chery Tiggo 5X tidak hanya mumpuni untuk penggunaan dalam kota saja. Sebab, hari ini (27/05/2024) kami menggunakan mobil ini untuk melahap perjalanan lebih dari 400 km, dari Jakarta menuju Semarang.

ADAS Paling Lengkap?

Mesin bensin empat silinder 1.5 liter yang punya tenaga 112 hp dan torsi 138 Nm, mampu menghadirkan performa yang halus. Seperti yang kami rasakan selama perjalanan dengan rute tol. Apalagi dipadu transmisi CVT, dengan 9-step ‘virtual gears’.

Karena unit yang kami gunakan ialah varian Champion yang paling lengkap, maka sudah dilengkapi dengan fitur premium. Mulai dari kamera 360 derajat, multi color pada ambient light dan power sunroof. Di bawahnya, ada versi bernama Classic. 

Sedangkan untuk teknologi canggih pendukung hiburan, disematkan layar sentuh berukuran 10.25 inci, instrument cluster digital 7 inci, dan sistem voice assistant.

Mobil ini juga dilengkapi dengan enam airbag dan ADAS (Advanced Driving Assistance Systems) yang diklaim paling lengkap di kelasnya.

Perjalanan kami belum usai, karena masih ada rute seru lain yang masih ingin ditempuh bersama mobil ini. Bagaimana rasanya? Tunggu saja . 

Tapi kalau penasaran sama harga Chery Tiggo 5X, versi Classic adalah Rp 269 juta. Champion harganya Rp 299 juta. Keduanya OTR Jakarta. 

Hyundai Palisade 2.2 D Signature AWD, Nyamannya Bikin Nagih

Momen libur Hari Raya Idul Fitri tahun ini waktunya cukup panjang. Jadi kami pun memanfaatkannya untuk melakukan sesi #PerjalananMotomobiMudikKemana. Kami mudik sambil jalan-jalan. Mobilnya? Sebuah SUV terbaru Hyundai yang bikin penasaran para penyuka mobil 7-seater: New Palisade 2.2 D Signature AWD AT. Ya, ini mobil SUV bermesin diesel dengan sistem penggerak AWD (all-wheel drive).

Tampilan American Style

Tatapan mata para pemudik ehm.. pengendara selama perjalanan terutama saat melaju perlahan ketika kami terjebak kemacetan di jalan tol tertuju pada Palisade. Mungkin mereka heran dan penasaran. Dari depan mirip Hyundai Creta, tapi bodinya kok bongsor…?

Nama dan gaya tampilan Palisade memang sesuai… sangat American style. Tak hanya bodi saja yang bongsor. Grille yang besar membuat wajahnya terlihat garang seperti SUV yang banyak beredar di Amerika.

Palisade yang kami bawa merupakan versi facelift. Hyundai memperbarui tampilan wajah Palisade dengan Parametric Shield dan Parametric Hidden-Type DRL yang mengintegrasikan grille serta lampu depan.

Lounge On Wheels

Bodinya yang cukup bongsor memang terbukti mampu membawa tujuh orang plus barang bawaan yang lumayan banyak. Kabin mobil ini dirancang sesuai ergonomi postur tubuh konsumen AS dan Eropa yang rata-rata tinggi besar. Jadi kabin tetap terasa lapang meskipun kami bertujuh memiliki postur yang kurang lebih. ‘American size’.

Untuk sebuah SUV, interior mobil ini bagai lounge berjalan. Tak hanya sebatas jok model Captain Seat di baris kedua. Jok kulit yang lembut pada baris belakang pun sangat empuk dan nyaman. Jok baris pertama dan kedua pun dilengkapi dengan penghangat. Persis seperti di spa.

Kemasan interior pun terlihat mewah dan berkelas. Plafon, door trim, dasbor dan setir yang bernuansa kelabu nampak kontras dengan jok berkelir merah maroon.

Panoramic sunroof? Tentu saja ada. Bahkan tak hanya satu, tapi ada dua yakni pada kabin baris depan dan belakang.

Tujuan pertama perjalanan kami yakni dari Jakarta menuju kota Bandung. Saat masuk tol MBZ, lalu lintas sudah dipadati oleh para pemudik dan pelancong dengan beraneka jenis mobil…dan bus.

Kegerahan saat macet? Tentu tidak, karena mobil ini dilengkapi ventilasi AC yang melebar di sepanjang dashboard dan juga blower AC di kabin belakang. Ditambah lagi dengan fitur automatic climate control, sehingga kabin tetap sejuk dan nyaman.

Fitur multimedia infotaintment terpadu tersaji pada layar touchscreen berukuran 12,3 inci pada dashboard. Pengaturan fitur pada layar pun cukup mudah. Nah, yang paling kami sukai adalah sistem audionya. Infinity Premium Audio dengan 12 speaker. Kualitas suaranya tak perlu diragukan. Kenyamanan kabin mobil ini bahkan membuat kami tak terasa kalau sudah sampai di Bandung hanya dalam waktu 3 jam. Cukup cepat untuk kondisi lalu lintas padat musim liburan.

Mesin Diesel Tetap Nikmat

Di antara mobil sejenisnya yang sebagian besar dibekali mesin hybrid yang kini tengah trend, Hyundai tetap percaya pada mesin diesel.

New Hyundai Palisade dibekali mesin diesel 4-silinder 2,2-liter CRDI e-VGT (electronic Variable Geometry Turbocharger) dengan transmisi automatic 8-speed.

Tenaga maksimum sebesar 197 hp dicapai pada 3.800 rpm. Tenaga putaran tengah memang ciri khas mesin diesel Hyundai. Sedangkan torsi puncaknya yang sebesar 440 Nm bermain di putaran bawah yakni kisaran 1.750 – 2.750 rpm. Jadi tak heran jika mobil ini cukup gesit meski berpenggerak AWD (all-wheel drive) yang membagi torsi dan tenaga ke seluruh poros roda. Soal respon tenaga hanya sedikit lebih lamban dari Palisade versi 4×2.

Untuk mengakomodir gaya mengemudi yang beragam, Palisade dibekali mode berkendara atau Drive Mode: Eco, Comfort, Smart, dan Sport.

Saat berkendara di tol maupun seputar kota Bandung yang padat merayap, kami coba pakai mode Eco. Mode berkendara yang satu ini terintegrasi dengan fitur Engine Start/Stop, sehingga konsumsi BBM tetap irit walau terjebak kemacetan cukup lama.

Hanya ada sedikit hal yang bikin kami penasaran. Saat melaju pada kecepatan rendah, terasa sedikit getaran pada area kolong dek sasis. Hal ini entah disebabkan oleh getaran kopel yang merambat ke lantai kabin via sasis monokoknya, atau ada penyebab lain seperti lapisan peredam dek kabin yang kurang tebal. Saat melaju di atas kecepatan 60 km/jam, getaran tidak terasa.

Bodi Bongsor Tapi Tetap Gesit

Setelah puas berkeliling kota Bandung, kami pun lanjut menuju Semarang. Saat masuk ruas tol Cisumdawu (Cileunyi-Sumedang-Dawuan) kami coba pakai mode Comfort karena lalu lintas terbilang ramai lancar. Laju berkendara tak terlalu ngegas, tapi justru mode Comfort menyuguhkan setting suspensi yang nyaman sesuai namanya. Redaman suspensi terasa empuk layaknya mobil mewah buatan Eropa.

Kami masuk tol Palikanci (Palimanan-Kanci). Saatnya kita ‘keluar main’. Mode Sport kami aktifkan di ruas tol yang lengang dan memiliki spot tikungan melebar. Handling kemudi cukup presisi. Redaman suspensi pun mampu mengimbangi aksi manuver dan melahap tikungan. Respons performa benar-benar kami rasakan. Ini mobil diesel tapi gesit diajak bermain.

979 km Dalam Kondisi Tangki Full Tank

Karena bodinya yang bongsor, gejala limbung tetap ada walau sedikit. Setidaknya dapat diimbangi oleh redaman suspensi serta sistem penggerak AWD yang membagi torsi serta traksi ke seluruh roda secara berimbang.

Tak terasa kami sudah sampai di tol Pejagan dan perjalanan berlanjut menuju Semarang via kota Pemalang. Lalu lintas mulai ramai, jadi kami coba pakai mode Smart. Mode berkendara yang satu ini merupakan hasil kombinasi gaya mengemudi yang terekam dengan mengintegrasikan beragam fitur bantu berkendara yang ada.

Perjalanan Motomobi Mudik Kemana yang kami tempuh totalnya sekira 1000 km dari Jakarta-Bandung-Semarang hingga kembali ke Jakarta. Konsumsi BBM mobil ini tak terlalu boros dengan kombinasi tol/dalam kota rata-rata sekira 13.8 km/liter. Tak perlu khawatir kehabisan BBM saat bepergian ke luar kota. Kapasitas tangki BBM nya cukup besar yakni 71 liter. Dengan konsumsi BBM rata-rata 13,8 km/liter, Hyundai Palisade dapat menempuh jarak hingga sekira 979 km dalam kondisi tangki full tank. Isi tangki BBM masih sisa lebih dari separuh jika hanya menempuh perjalanan Jakarta-Semarang yang sejauh 450an km.

 

Secara keseluruhan, kami suka dengan performa mesin dieselnya yang responsif, serta handlingnya yang gesit dan presisi. Kinerja suspensi pun tetap mampu memberi rasa nyaman meskipun melintasi jalan yang kurang mulus.

Jika ditanya mengapa harga varian termahalnya mencapai Rp 1,044 milyar? Bukan lantaran kemasannya saja yang terbilang mewah. Fitur berkendara yang dibekalkan sangat lengkap.

Mulai dari sensor dan kamera parkir plus kamera 360°, Hill-Start Assist Control, Downhill Assist Control, hingga fitur keselamatan berkendara terpadu ADAS (Advanced Driver Assistance Systems) canggih Hyundai SmartSense. Ditambah lagi dengan fitur terpadu Hyundai Bluelink yang terkoneksi dengan ponsel pintar. Ini adalah SUV yang tak sekadar tampil mewah, tapi juga sarat teknologi tinggi. Tak kalah dari SUV sejenis buatan brand asal Eropa yang harganya jauh lebih mahal.

#PerjalananMotomobiMudikKemana

Chery Tiggo 5X, ‘Mainan’ Baru Untuk Perkotaan

Usai diperkenalkan di event Indonesia International Motor Show (IIMS) 2024 lalu, Chery tak ingin menunggu lama untuk menjaring konsumen Tiggo 5X. Pasar Sport Utility Vehicle (SUV) memang masih ‘seru’, apalagi di segmen Compact SUV masih belum banyak pemain.

Hal tersebut sepertinya menggoda PT Chery Sales Indonesia untuk menghadirkan Tiggo 5X. Menurut kami, formula yang digunakan Chery pada Tiggo 5X ini tergolong tidak neko-neko. Tapi Chery tidak begitu saja melupakan sejumlah fitur berkendara yang optimal.

Menjangkau berbagai kelas konsumen

Tiggo 5X menjadi produk Chery untuk lebih menjangkau berbagai kelas konsumen. Jika Tiggo Pro 7 dan Tiggo Pro 8 mengisi kelas premium, maka Tiggo 5X juga mengusung reputasi dari kedua produk tadi, namun dengan dimensi yang lebih ringkas, serta harga yang lebih kompetitif.

Setidaknya, Chery punya target konsumen yang jelas. Konsumen yang disasar ialah kalangan muda perkotaan, tentu saja berkarakter technology-savvy dan dinamis. Lagipula, mayoritas konsumen Compact SUV lebih banyak beraktivitas di perkotaan.

Ada sunroof untuk varian Champion

Chery menerapkan desain yang memadukan aksen klasik dan modern. Hal ini diperlihatkan melalui grille depan berhiaskan berlian, lampu depan LED matriks, dan garis bodi yang tegas. Posturnya juga sedikit tinggi, sehingga memungkinkan untuk melalui jalanan kurang mulus.

Kabinnya tergolong lega untuk lima orang. Hadir teknologi canggih seperti layar sentuh 10.25 inci, instrument cluster digital 7 inci, dan sistem voice assistant. Khusus pada varian Champion, terdapat fitur sunroof.

Potongan harga Rp 20 juta

Urusan keselamatan berkendara, Chery menyematkan enam buah airbag dan fitur ADAS (Advanced Driving Assistance Systems) paling banyak di kelasnya. Sebagai sumber tenaga, Chery memasang mesin bensin empat silinder berkapasitas 1.5 liter, dengan tenaga 112 hp dan torsi 138 Nm. Mesin ini dipadukan dengan transmisi CVT.

Ketika kami menjajal Tiggo 5X ini, Chery sudah membuka pre-booking dengan harga khusus. Untuk varian Classic dijual dengan harga Rp 249 juta. Sedangkan varian Champion, harganya ialah Rp 279 juta. Chery juga menawarkan program cashback sebesar Rp 20 juta. Diharapkan produksinya dimulai pada kuartal kedua tahun 2024.

Mazda MX-5 RF

Mazda MX-5 RF, Roadster Ringkas Dan Menyenangkan

Mobil sport roadster yang beredar di Indonesia sejak dahulu hingga kini populasi dan ragamnya tak banyak. Penyuka mobil jenis ini pun sangat segmented. Salah satu yang terbilang unik dan menarik adalah Mazda MX-5 Miata RF model terbaru. PT Eurokars Motor Indonesia (EMI) selaku agen pemegang merk (APM) Mazda di Indonesia tak ragu memboyong mobil ini ke Indonesia.

Alasannya, pangsa pasar penyuka roadster di Indonesia cukup potensial dan peminat mobil ini cukup banyak. Lantas, apa yang jadi pemikat dari sport roadster 2-seater ini?

Eksterior Khas

Mazda mengemas ulang gaya khas MX-5 Miata yang timeless dengan memadukan bahasa desain KODO dan teknologi modern Skyactiv.

Tampilan MX-5 RF yang mempesona jadi pusat perhatian semua pandang mata para pengguna jalan yang melihatnya. Grille trapezoid lebar, dan headlamp LED berdesain unik dengan fitur auto leveling jadi ciri khas MX-5 RF.

Siluet lekuk bodi dari depan hingga ke belakang seolah mengalir dan terlihat sexy. Atap aluminium MX-5 RF dapat dibuka-tutup secara elektrik. Dalam posisi atap terlipat, Anda akan benar-benar menikmati sensasi berkendara dengan sebuah sport roadster yang dijamin bikin pengendara lain iri…

Simpel Dan Berkelas

Interior MX-5

Interior MX-5 RF mungkin terlihat sederhana dengan kelengkapan yang penting saja. Namun tetap terlihat gaya dan berkelas.

Bagian dashboard dilengkapi layar head unit berukuran 7-inci, tapi dilengkapi konektivitas smartphone. Panel instrumen semi analog bergaya konvensional menguatkan kesan sebuah mobil sport.

Jok semi sport berbalut Nappa leather terlihat sangat mewah. Setir dan shift knob (transmisi manual) berlapis kulit nan lembut.

Sejumlah tombol pengaturan pada mobil ini sangat praktis dan mudah dioperasikan. Mulai dari bluetooth handsfree, sistem audio hingga idle system dapat dijangkau dengan mudah. Oh ya, sistem audio premium lansiran BOSE yang dibekalkan punya kualitas suara yang tak diragukan.

Pengendaraan Meyakinkan

Sejak dahulu hingga saat ini MX-5 Miata dikenal sebagai sport roadster yang sangat menyenangkan untuk dikendarai. Demikian pula halnya Mazda MX-5 RF dengan konsep Jinba-Ittai. Sebuah filosofi yang menggambarkan ikatan kuat antara pengendara dengan mobilnya.

Rancang bangun bodi dan sasis Skyactiv yang ringan pada MX-5 RF memiliki distribusi bobot 50:50. Ditambah lagi dengan teknologi KPC (Kinematic Posture Control) yang dibekalkan. Aksi bermanuver pun jadi lebih lincah dan menyenangkan.

Fitur stability control, i-Activsense dan differential pada mobil ini menghasilkan dinamika berkendara yang lebih sempurna. Tak hanya di jalan raya, tapi juga di sirkuit balap. Tapi ingat, ini mobil sport, jangan bandingkan dengan mobil biasa.  Dan karena mobil sport, suspensi akan lebih keras dari mobil biasa, untuk menunjang pengendalian. 

Seperti halnya di Jepang, MX-5 RF yang beredar di Indonesia dibekali mesin bensin 4-silinder Skyactiv G berkapasitas 2.0-liter. Output tenaga 181 hp dikail pada 7.000 rpm. Torsi maksimumnya yang 204 Nm bermain di putaran cukup rendah yakni 4.000 rpm. Tarikan mesin yang cukup greget untuk diajak bermanuver cepat.

Dengan rasio kompresi 13:1, maka disarankan minimal menggunakan BBM oktan 95 agar mesin tidak knocking alias ngelitik.

Untuk pilihan transmisi tersedia versi automatic dengan paddle-shift dan manual. Keduanya dengan 6-speed.

Pengendaraan dalam kota yang stop and go membuat konsumsi BBM rata-rata di kisaran 12 km/liter. Sedangkan di tol dan luar kota justru lebih irit. Bisa mencapai hampir 20 km/liter.

Penasaran berapa harganya? Versi transmisi manual dibanderol mulai Rp 849,9 juta. Sedangkan versi transmisi automatic dipasarkan mulai Rp 859,9 juta. OTR Jakarta. Ini bukan mobil sport yang pasaran dan kami yakin bakal jadi incaran kolektor di masa mendatang.

Review Wuling Almaz RS Pro: Usaha Merebut Hati

Akhirnya cita cita kami sekeluarga untuk mencicipi mobil Wuling SUV kesampaian. Akhir tahun lalu, sebagai bagian dari krew Motomobi, kami ditugaskan untuk mengeksplorasi mobil SUV yang boleh dibilang sukses dan berhasil merebut hati pasar SUV di Indonesia. Ya, kami kebagian mencicipi dan merawat Wuling Almaz RS Pro terbaru. 

Eksterior

Perubahan yang paling mencolok dari penyegaran desain Wuling Almaz ini adalah grill depan yang lebar. Dilengkapi aksen bentuk berlian chrome dan DRL tipis yang membuat tampilan mobil ini lebih kekinian, gagah dan sangar. 

Dari samping, bagian roda mendapat sentuhan pelek berukuran 18 inci. Lingkar roda ini membuat Wuling Almaz Pro terlihat necis melibas jalanan ibu kota. Artinya, Wuling Almaz Pro ini akan irit sektor modifikasi pelek karena tidak perlu mengeluarkan dana tambahan untuk upgrade ke 18 inch. Tapi itu masalah selera masing-masing.

Di  belakang, logo lima berlian yang cukup besar diganti dengan tulisan Wuling yang lebih bersahaja. Menurut kami, memberikan kesan lebih berkelas dibanding sebelumnya. Secara keseluruhan penyegaran tampang eksterior Wuling Almaz versi baru ini  berhasil memberikan citra yang lebih baik dibandingkan dengan versi sebelumnya. SUV kekinian.

Interior

Bagian yang paling menyenangkan adalah suguhan interior.  Pertama kali membuka kabin, aura sporty yang didominasi warna hitam dengan aksen chrome langsung terasa. Desain interior keseluruhan membuat duduk di kursi pemgemudi maupun penumpang terasa “naik kasta”. Dengan jok kulit serasa duduk di dalam mobil SUV Eropa. Dengan sentuhan Asia, tentunya.  

Pengaturan untuk sisi supir pun sudah menggunakan tombol elektrik untuk menemukan posisi duduk yang pas. Ada banyak tombol tombol yang membantu membuat hidup lebih mudah. Kami disuguhi setir dengan fasilitas tombol tombol untuk senam jari. Kontrol MID, audio, adaptive cruise control, semua tersedia. Jempol kami merasa puas.

Namun yang lebih penting dari sekedar tombol tombol, adalah pengaturan tilt dan telescopic steering yang tersedia. Hal ini penting, karena membuat proses pengaturan kenyamanan posisi mengemudi menjadi maksimal untuk semua postur tubuh. Termasuk badan kami yang tidak langsing.

Menurut kami salah satu kekuatan Wuling adalah sistem multimediadengan OS yang dilokalisasi untuk negara kita. Contoh, interaksi perintah suara dengan Bahasa Indonesia. Tanpa uji coba yang serius, kami sebagai pengguna android auto dan apple car play, paham betul tidak mudah untuk mengkonversi teknologi ini menjadi versi Bahasa Indonesia. Untuk bagian ini, kami angkat jempol untuk Wuling.

Kenikmatan mengendarai Wuling Almaz RS Pro didukung speaker Infiniti. Tidak mengecewakan untuk audio bawaan pabrik.  Sayang pada saat uji coba, kami tidak berhasil untuk memaksimalkan Spotifiy seperti di Apple Car Play atau di Android Auto. Mungkin harus login terlebih dulu ke My Wuling.  Audio yang baik ditambah dengan kekedapan kabin yang cukup, rasanya sudah memenuhi syarat untuk jadi mendukung perjalanan jauh.

Semakin lengkap pula kenikmatan duduk di kabin Wuling Almaz Pro RS, karena kabin menjadi terasa luas, lega dan terang dengan disediakannya electric panoramic Sun Roof.  Kalau malas tekan tombol utnuk membuka, tinggal memberikan perintah suara.  

Fitur Kekinian

Konfigurasi tempat duduk 3-baris dengan kursi belakang yang dapat diubah menjadi bagasi menambah nilai plus untuk kami. Ditambah, perintah suara di mobil Wuling Almaz RS Pro yang kami coba ini terkesan fitur yang sederhana, tapi memberikan dampak ke keamanan berkendara yang sangat signifikan.

Walaupun di kemudi tersedia tombol untuk mengontrol aspek berkendara, sebegian control dapat dilakukan dengan lebih mudah. Misalkan mengecilkan volume audio, menaikkan menurunkan suhu AC, dan banyak lagi, tanpa mata harus beralih dari jalanan.

Selain fitur terkait kenyamanan sektor interior, Advance Driver Assistance System (ADAS) di Wuling ini juga terbilang lengkap, mulai dari Lane Keeping Assistance, Safe Distance Warning, Forward Collision Warning, Automatic Emergency Braking dan masih banyak lagi. Harus diakui, ini nilai jual terbesar Almaz. Dengan Rp 402 jutaan (OTR Jakarta), Anda mendapatkan SUV dengan fitur bantu berkendara dan kenyamanan yang sangat lengkap. 

Buat kami yang paling terasa membuat hidup lebih mudah, adalah fitur kamera 360. Fitur ini membuat manuver dalam berkendara menjadi sangat amat mudah. Blind spot yang selama ini tidak terlihat menjadi transparan. Parkir dipinggir selokan dengan body mobil Wuling Almaz RS Pro yang cukup bongsor menjadi sangat mudah, tanpa ada rasa takut ban kejeblos masuk selokan. Tidak hanya sekedar bermanfaat untuk parkir, dalam kondisi kemacetan pun fitur ini sangat menolong kami bermanuver membelah kemacetan lalu lintas.

Hampir semua fitur ke kinian yang menjadi syarat keamanan dan kenyamanan mobil modern tersedia di mobil Wuling Almaz RS Pro ini. Ditambah lagi fitur Wuling Remote Control (IOV) yang menghubungkan mobil Wuling yang kita miliki dengan handphone. Lengkap sudah. Rasanya untuk fitur dengan harga yang ditawarkan Wuling di angka 402.000 juta membuat mobil ini menjadi sebuah pilihan yang sulit untuk diabaikan.  

Mesin

Di sektor mesin, Wuling Almaz RS Pro ini menggunakan mesin 1500cc (1451cc). Konfiguraswinya macam mobil pada umumnya,  4 silinder DOHC. Ditambah Dual Variable Valve Timing (DVVT) dan Turbocharger. Daya yang dihasilkan sebesar 140 hp pada 5.200 rpm, dengan torsi puncak 250 Nm yang muncul di 1.600 sampai 3.600 rpm.

Dan terus terang, sepertinya ini adalah kelemahan terbesar Almaz sejak dulu. Kami terasa agak kedodoran menggendong body berpelat tebal plus fitur fitur interior yang ada.  Di mode ECO, konsumsi bahan bakar menurut kami masih di bawah ekspektasi.

Meski begitu, transmisi mampu menterjemahkan lemparan daya dari mesin dengan baik. Dan pastinya menjadi lebih responsive ketika masuk mode sport. dengan konsekuensi penggunaan bahan bakar menjadi lebih boros.

Kesimpulan

Kekurangan di sektor pengereman yang terasa kurang halus menurut kami, dan kekurangan disektor mesin yang terasa kurang mumpuni menggendong bobot mobil ini, serta konsumsi bahan bakar yang cukup boros terobati oleh kelebihan yang tersedia.

Buat kami, Wuling Almaz Pro RS ini punya tempat yang unik di belantara mobil SUV sekelasnya. Unik karena kelebihan fiturnya, build quality yang baik dan kemewahan interior yang  rasanya sulit ditemukan pada merek lain dengan harga yang ditawarkan Wuling.

Jujur, Wuling berhasil merebut hati kami sekeluarga. Tidak lagi kami memandang merek ini sebelah mata. Wuling Almaz RS Pro adalah mobil yang menurut kami layak dijadikan partner keluarga.

 

 

 

 

Review Isuzu mu-X 4×4, Mesin CC Kecil Tapi Kapabilitasnya Oke

Menyebut nama Isuzu, biasanya langsung terlintas ialah Panther yang legendaris atau truk Elf. Namun, jalan lupa bahwa Isuzu punya produk sport utility vehicle (SUV) yang gagah, yakni mu-X. PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) pertama kali menghadirkan mu-X di Tanah Air pada tahun 2014. Seingat kami PT IAMI rasanya tidak pelit dalam memberikan fitur pada mu-X, tapi sayangnya respons pasar masih ‘adem ayem’ saja…

Kami pun penasaran dengan sosok Isuzu mu-X ini, apalagi yang generasi kini sudah menggunakan mesin turbodiesel baru. Selain itu, fitur dan kenyamanan berkendara yang ditawarkan SUV ini pun dirasa juga oke. PT IAMI juga hanya menghadirkan satu varian, yakni 4×4 bertransmisi otomatis. Lagipula, PT IAMI lebih fokus mendorong Isuzu mu-X menjadi kendaraan operasional bagi perusahaan.

Disiapkan sebagai ‘mobil lapangan’

Dimensi SUV ini memiliki panjang 4.850 mm, lebar 1.870 mm, tinggi 1.815 mm, dan wheelbase 2.855 mm. Sedangkan bobotnya mencapai 2,8 ton. Isuzu mu-X punya cukup banyak ubahan dibandingkan model sebelumnya. Khususnya, pada bagian eksteriornya yang menjadi lebih keren. Karena dipersiapkan untuk ‘mobil lapangan’, maka bannya pun menggunakan tipe M/T.

Di bagian interior, tidak terlalu banyak mengalami ubahan, yang penting tidak mengurangi kenyamanan dan fungsi. Bagi kami, posisi berkendara tergolong cukup mumpuni, sehingga untuk mencari sudut ergonomis pun mudah, meskipun pengaturan joknya masih manual. Untuk setir, memiliki fitur tilt dan telescopic.

Kubikasi mesin tidak terlalu besar

Isuzu mu-X menggunakan mesin turbodiesel empat silinder RZ4E-TC 1,9 liter bertenaga 148 hp dan torsi puncaknya sebesar 350 Nm. Transmisi otomatisnya menggunakan unit AWR6B45-II 6-speed dengan fitur Tiptronic. Sistem penggerak empat roda menganut sistem Shift on The Fly dan dibekali fitur Rough Terrain Mode. Fitur ini berfungsi membaca kondisi permukaan jalan dan akan menyesuaikan output mesin menuju roda.

Meski tampilannya bongsor, kami tak ragu menggunakannya di lalu lintas perkotaan. Respons dari posisi diam hingga kecepatan menengah, kami tidak pernah merasa ‘keteteran’. Namun, jika mau berakselerasi sampai 100 km/jam, maka perlu waktu ekstra.

Harganya kompetitif

Karakter suspensi Isuzu mu-X berada di settingan yang moderat. Tidak terlalu kaku, tapi tidak terlalu lembut juga. Walaupun di kecepatan rendah dan melibas jalanan kurang rata, masih terasa guncangannya. Lain cerita saat kami menggiringnya ke jalan tol, maka kinerja suspensinya terasa lebih mantap.

Kesimpulannya, Isuzu mu-X punya kemampuan yang mumpuni, meski kelengkapannya lebih menonjolkan aspek fungsionalitas. Mesin berkapasitas 1.9 liter, bukan berarti tidak mampu menghasilkan performa yang baik. Untuk penggunaan medan offroad saja cukup, apalagi jika untuk aktivitas di perkotaan. Hanya ada dua pilihan warna, yaitu Splash White dan Onyx Black Mica. Rasanya banderol Rp 599,54 juta terdengar begitu kompetitif…