De Tomaso Pantera, Sukses Bikin Kesal Elvis

Kata hybrid dalam dunia otomotif kini identik dengan kendaraan yang menggabungkan mobil bensin dan mobil listrik. Jika ditarik mundur setengah abad yang lalu, kata hybrid memiliki arti yang berbeda. Biasanya dikonotasikan dengan mobil desain Eropa dengan mesin dari Amerika. Salah satu mobil hybrid yang cukup populer dimasanya adalah De Tomaso Pantera.

Meski tidak terlalu ngetop seperti Ferrari, Lamborghini, atau Maserati, De Tomaso sempat menjadi salah satu produsen sports car asal Italia yang cukup terkenal. Didirikan pada tahun 1959 di Modena, oleh Alejandro de Tomaso. Pria tersebut merupakan kelahiran Argentina, namun akhirnya menetap di Italia.

Awalnya de Tomaso adalah seorang pembalap dan berlaga di berbagai kejuaraan termasuk F1. Ketika bergabung di tim OSCA, de Tomaso bereksperimen membuat mobil sendiri dan akhirnya mendirikan De Tomaso Automobili tahun 1959. Di tahun 1963, de Tomaso menciptakan produk pertamanya, yakni Vallelunga.

Awal mula pakai mesin Ford

Vallelunga sendiri awalnya dibuat sebagai konsep oleh De Tomaso Automobili, untuk dijual ke brand lain. Karena tidak ada yang mau membeli desain tersebut, maka akhirnya mobil ini diproduksi sendiri saja. Mesinnya diambil dari Ford Cortina dan diproduksi sebanyak 59 unit saja.

Selanjutnya, pada tahun 1967 lahir Mangusta, menariknya nama mobil ini diambil dari hewan Mongoose (atau cerpelai). De Tomaso Mangusta menggunakan mesin V8 dari Ford dengan bodi rancangan Giorgetto Giugiaro, saat masih berada di rumah desain Ghia. Walaupun Mangusta diproduksi sebanyak 401 unit, namun Alejandro de Tomaso belum puas. Ia sadar bahwa perusahaannya butuh mitra besar jika ingin melakukan produksi massal.

Lee Iacocca, salah satu eksekutif di perusahaan Ford, melihat kesuksesan Chevrolet Corvette di pasar mobil sport. Ia melihat peluang bagi Ford untuk masuk ke segmen tersebut. Dibanding mengembangkan mobil dari awal, Iacocca ingin menghemat waktu dan biaya, dengan menjalin kerjasama dengan pabrikan lain.

Tom Tjaarda merancang bodi Pantera

De Tomaso Automobili maju sebagai mitra kerjasama Ford dalam membuat mobil sport bermesin tengah. Ford akhirnya setuju membeli saham De Tomaso, disusul dengan debut Pantera pada tahun 1970. Dibandingkan mobil De Tomaso sebelumnya, Pantera menggunakan chassis monokok. Bodinya merupakan hasil rancangan Tom Tjaarda, desainer asal Amerika.

Di bagian depan terdapat lampu pop up, sehingga tampilan mobil lebih eksotis. Bentuk bodinya yang serba tajam dan ‘gepeng’, tentu mendongkrak nilai aerodinamika. Pada bagian belakang terdapat lampu belakang milik Alfa Romeo 2000 Berlina.

Interiornya menggunakan bahan vinyl. Sedangkan panel instrumen memiliki desain yang unik. Spidometer dan tachometer berada di depan pengemudi, sedangkan instrumen lainnya ditaruh secara vertikal di konsol tengah. Karena menyasar pasar Amerika, maka Pantera dilengkapi fitur power window dan AC.

Dapur pacu Pantera menggunakan mesin Ford V8 351 Cleveland berkapasitas 5,8 liter yang diletakkan di bagian tengah. Tenaganya sebesar 330 hp dan torsi puncak 515 Nm. Output mesin disalurkan melalui transmisi manual 5 percepatan buatan ZF menuju roda belakang. Aspek engineering mobil ini dibawah pengawasan Giampaolo Dallara.

Build quality kurang mumpuni

De Tomaso Pantera mampu berakselerasi 0-100 km/jam dalam waktu 5,5 detik. Top speed menyentuh 260 km/jam. Kala itu, harganya mulai dari USD 10 ribu atau sekarang setara dengan USD 82 ribu. Seketika Ford mendapatkan banyak pesanan dan produksi Pantera dimulai pada tahun 1971. Sayangnya De Tomaso yang baru memulai produksi massal menghasilkan mobil dengan kualitas tidak optimal. Mulai dari kurangnya anti karat membuat bodi mobil cepat berkarat, gap antara panel yang besar, hingga penggunaan dempul yang tidak rata.

Pada tahun 1972 mesin Pantera dimodifikasi untuk memenuhi regulasi emisi baru, tenaganya melorot jadi 296 hp. Kemudian pada tahun 1972 De Tomaso meluncurkan Pantera L yang berarti Lusso. Kemudian ada Pantera GTS yang hanya dijual di Eropa.

Penjualan Pantera jauh dari target 5.000 unit per tahun. Karena kasus kualitas pembuatan yang kurang apik, terbukti mempengaruhi reputasi Pantera. Bahkan Elvis Presley sempat kesal karena Pantera miliknya tidak mau distarter. Karena super kesal, Elvis akhirnya menembak mobil ini.

Perang Yom Kippur yang terjadi di tahun 1973, berujung embargo minyak ke negara Barat. Akibatnya harga bahan bakar meningkat dan pasar mobil premium jadi melemah. Keapesan terakhir adalah regulasi keselamatan kendaraan untuk tahun 1974, membuat Pantera harus dimodifikasi dan Ford enggan membiayai proses ini.

Ford bubar jalan dengan De Tomaso

Akhirnya pada tahun 1974, Ford menyetop Pantera setelah 5.000 unit terjual di Amerika. Namun cerita Pantera tidak berakhir, sebab Alejandro de Tomaso membeli kembali seluruh saham De Tomaso dan melanjutkan produksi Pantera L dan GTS terutama untuk pasar Eropa. Pada tahun 1980, De Tomaso meluncurkan versi GT5 dengan ciri khas overfender dan wing besar.

De Tomaso meluncurkan GT5-S dengan bodi yang lebih lebar di tahun 1985. Pada tahun 1990, hadir Pantera Si yang dirombak total. Mulai dari chassis spaceframe, bodi yang didesain ulang oleh Marcello Gandini, hingga mesin V8 302 5,0 liter injeksi dari Ford.

Model ini menjadi varian Pantera terlangka dengan hanya 41 unit yang diproduksi, sebelum jalur produksi Pantera ditutup pada tahun 1993. De Tomaso sendiri mengganti Pantera dengan model baru bernama Guara. Karena Alejandro de Tomaso berpulang pada tahun 2003, maka perusahaan De Tomaso hanya sanggup bertahan hingga tahun 2004.

BYD Han PHEV Dan EV Alami Facelift Tahap Dua

BYD yang baru saja meluncurkan versi facelift sedan Han untuk pasar domestik China. BYD Han yang pertama kali diluncurkan pada tahun 2020 mengalami penyegaran perdana pada tahun 2022. Tahun 2024 ini BYD Han PHEV dan EV kembali mengalami upgrade.

Dapat dikatakan BYD punya program upgrade dan facelift paling cepat setiap dua tahunan. Apa saja yang dibenahi oleh BYD kali ini?

Upgrade Kemasan

Upgrade tampilan eksterior adalah langkah pertama yang dilakukan pada setiap model facelift. Sebelumnya tampilan sedan BYD Han EV dan PHEV dibedakan. Namun kini gaya tampilan BYD Han DM-i (PHEV) dibuat identik dengan versi EV. Hal ini nampaknya untuk memudahkan pembuatan komponen bodyparts serta menekan biaya produksi.

Tak sekadar mengalami ubahan tampilan. Ada dua opsi warna baru yang ditawarkan pada BYD Han DM-i, yaitu Fashion Gray dan paket Black Sports.

Area interior pun turut dibenahi. Yang paling terlihat adalah panel dashboard. Layar head unitnya ganti baru dengan digital touschcreen 15.6-inci. Resolusi tampilannya lebih tinggi dari versi sebelumnya.

Material Interior Berkelas

Pasalnya, tak hanya fitur infotaintment saja tapi sebagian besar kendali fitur berkendara dioperasikan via layar head unit. Layout menu tampilan pada layar juga mengalami pembenahan.

Kemasan tampilan interior pun kini semakin mewah dengan balutan Nappa leather. Aksen garnish aluminium dan panel kayu pada panel interiornya pun asli, bukan imitasi dari bahan plastik.

Jok depan berlapis kulit dilengkapi fitur penghangat dan pemijat dengan 10 titik pemijatan. Tak ubahnya seperti kursi massage di spa eksklusif.

BYD Han sedan kini dilengkapi sistem audio premium lansiran Dynaudio sebagai pemanja telinga. Alunan suara musik dipancarkan via 12-speaker dengan total output daya 735 Watt.

Upgrade Fitur

Paket fitur berkendara pada sedan BYD Han turut mengalami upgrade. Yang paling terlihat adalah antena sensor radar LiDAR yang terpasang di atap.

Sensor radar LiDAR adalah salah satu bagian dari fitur keselamatan berkendara ADAS pada sistem terbaru BYD DiPilot 300.

Terdapat 31 sensor pendeteksi yang digunakan pada sejumlah fitur ADAS – termasuk LiDAR. BYD Han juga dibekali dengan chip Orin-X lansiran Nvidia untuk fitur Artificial Intelligence (AI).

Sektor kenyamanan berkendara pun turut mengalami peningkatan. Setup suspensi kini diperbaharui dengan sistem suspensi model five-link pada bagian belakang. Kinerja suspensi juga ditunjang dengan sistem peredaman variabel.

Optimalisasi Performa

Sektor performa pada BYD Han PHEV dan EV tak luput dari optimalisasi dan upgrade. Pada versi PHEV kini dibekali sistem penggerak hybrid DM-i generasi kelima yang memadukan mesin bensin 1.5-liter turbo dengan motor elektrik hybrid tunggal.

Output totalnya 310 kW atau sekira 410 hp. Catatan waktu akselerasi 0-100 km/jam pun lumayan gesit yakni sekitar 6,9 detik.

Jarak jelajah maksimum dalam mode EV mengandalkan daya baterai bisa mencapai 125 km. Cukup untuk bisa mencapai SPBU atau SPKLU terdekat. Sedangkan pada mode hybrid jarak jelajah maksimumnya diklaim bisa mencapai 1.350 km, dalam kondisi daya baterai dan tangki BBM penuh

BYD Han versi EV juga mengalami upgrade. Baterai Blade 400V kini diganti jenis baru yang bervoltase 800V. Dengan baterai bervoltase tinggi, waktu pengisian ulang daya listrik menggunakan fast charger DC menjadi jauh lebih cepat. Cukup melakukan charging selama 10 menit, jarak jelajah pun bertambah hingga sejauh 160 km.

Kapasitas daya baterai BYD Han EV pun kini beragam. Berdasarkan siklus uji CLTC, jarak tempuh maksimumnya bervariasi mulai dari 506 km, 605 km hingga 701 km.

Sudah Bisa Dipesan

Motor elektrik tunggal penggerak roda depan pada BYD Han EV tersedia dalam tiga versi, yaitu 150 kW (201 hp), 168 kW (225 hp), dan 180 kW (241 hp).

Uniknya, catatan akselerasi 0-100 km/jam pada seluruh varian BYD Han EV sama yakni 7,9 detik meskipun output motor elektrik dan baterainya berbeda.

Tak perlu menunggu lama, para konsumen di China sudah bisa memesan sedan BYD Han model tahun 2025. Pengiriman unit pesanan konsumen paling cepat dimulai pada awal tahun depan.

Versi PHEV label harganya mulai dari 165.800 hingga 225.800 Yuan atau setara Rp 356,3 jutaan hingga Rp 485,2 jutaan. Lebih murah 4.000 Yuan atau sekira Rp 8,6 jutaan dibanding versi sebelumnya.

Sedangkan untuk BYD Han EV dibanderol mulai dari 179.800 hingga 235.800 Yuan atau setara Rp 386,4 jutaan hingga Rp 506,7 jutaan. Belum termasuk pajak dan insentif pembelian mobil listrik.

Haval Jolion 2024

First Impression GWM Haval Jolion, Semua Terasa Pas

Great Wall Motor (GWM) Indonesia secara resmi meluncurkan Haval Jolion HEV di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2024 lalu. Model ini juga mengukuhkan strategi GWM dalam menyuguhkan kendaraan yang rendah emisi di Indonesia.

Selain memiliki teknologi yang modern dan desain yang segar, Haval Jolion juga menjadi produk GWM pertama yang dirakit secara lokal melalui fasilitas perakitan Inchcape, di Wanaherang, Jawa Barat.

Saudara dekat Haval H6 ini cukup menggoda untuk dijajal. Meskipun belum bisa berlama-lama mencobanya, paling tidak kami sudah tidak terlalu penasaran lagi dengan Haval Jolion. Secara sekilas, desain fisiknya memang masih serupa dengan H6 HEV.

Interior Tak Berlebihan

Interior Haval Jolion 2024

Namun, jika disimak lebih teliti, perbedaan signifikan terdapat pada dimensinya. Haval Jolion memiliki panjang 4.472 mm, lebar 1.841 mm, dan tinggi 1.626 mm. Urusan lampu, memang atraktif. Untuk depan, lampunya bergaya T-Shaped Dagger Axe LED, dan disertai dengan grille Star Matrix. Sedangkan lampu belakangnya bergaya Boomerang LED.

Masuk ke interiornya, memang bukan yang kelas premium papan atas, namun jauh dari kesan cukupan. Bahkan kami merasa nyaman-nyaman saja. Memang ada bagian yang menggunakan material lembut, tapi ada juga bagian yang memakai plastik keras.

Buat kami yang punya tinggi tubuh di 170 cm, posisi mengemudi tergolong ergonomis. Lingkar kemudinya juga cukup oke saat digenggam. Tersedia layar sentuh berukuran 10,25 inci yang intuitif, untuk menampilkan beragam informasi maupun pengaturan personalisasi berkendara.

Waktu kami uji jalan, ternyata rasa suspensinya memang mumpuni. Apalagi menjajalnya dengan sejumlah penumpang lain. Hasilnya, guncangan tidak terlalu heboh saat menghajar gundukan maupun polisi tidur. Manuver pun terasa mudah, sebab bobot setirnya tergolong luwes. Entah bagaimana rasanya kalau dikendarai sendiri.

Suspensi Mumpuni

Haval Jolion akan jadi bintang GIIAS 2024

Salah satu hal yang diutamakan dalam mobil bertipe SUV ialah suspensinya yang nyaman. GWM berhasil merancang mobil ini dengan suspensi empuk ketika melewati area gundukan atau polisi tidur.

Ketika melewati berbagai rintangan seperti tanjakan, suspensinya bekerja dengan baik sehingga pengemudi maupun penumpang masih merasakan kenyamanan.

Sementara itu, bantingan setirnya juga cukup nyaman dan tidak terlalu ringan sehingga pengemudi dapat dengan mudah merasakan rasa berkendara dengan sangat baik ketika berbelok atau bermanuver.

Seperti lazimnya mobil hybrid, Haval Jolion HEV dapat melaju di mode EV ketika di kisaran kecepatan 20-40 km/jam. Namun, saat kami ketika berada di atas kecepatan 40 km/jam, maka mesin bensin 1.5 liter di balik kap depannya mulai beraksi, dan memberikan respons yang mantap.

Kami akan melakukan review lebih dalam lagi untuk Haval Jolion. Tunggu update selanjutnya. 

GWM Tank 300 Sengaja Pakai Gaya Unik dan Desain Retro

Setelah Tank 500, GWM memperkenalkan Tank 300 untuk pasar Indonesia, di pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2024. Sport Utility Vehicle (SUV) hybrid ini sepertinya terinspirasi dari desain klasik tahun 1970an dan 1980an. Meski begitu, GWM Tank 300 telah dilengkapi dengan teknologi modern dan fitur yang canggih. 

Tank 300 memiliki perpaduan desain dari elemen retro dan modern, terlihat dari grill depan dan lampu bulat. Desainnya menampilkan elemen bergaris tegas, agak berbeda dengan Tank 500 yang sudah dijual terlebih dahulu di Indonesia. Dimensi SUV ini mencakup panjang 4.760 mm, lebar 1.930 mm, tinggi 1.903 mm, dan jarak sumbu roda 2.750 mm.

Tank 300 menggunakan chassis ladder frame, dengan ground clearance minimum sekitar 224 mm. Sehingga memungkinkannya untuk melibas genangan air sedalam 700 mm dan melewati sudut tanjakan hingga 70 derajat. Posisi bumper depan yang cukup tinggi, memungkinkan adanya approach angle sebesar 33 derajat. 

Di bagian belakang, pintu bagasi dengan bukaan samping ke arah kanan, disertai dengan pegangan ban cadangan. Lagi-lagi GWM ingin menyampaikan kesan sebuah SUV yang tangguh. Uniknya, GWM Tank 300 punya interior yang menyuguhkan aspek kenyamanan dan kesan elegan. Bagaimana tidak, joknya saja dibalut bahan kulit asli Nappa.

GWM Tank 300 menggunakan mesin bensin empat silinder 2.0 liter turbocharger, yang menghasilkan 342 hp dan 648 Nm. Dilengkapi dengan motor listrik dan baterai berukuran besar, yakni 37,11 kWh terbuat dari baterai ternary-lithium.

Penyalur daya ialah transmisi otomatis 9-speed. Ketika baterai dalam kondisi penuh, mobil ini dapat berjalan tanpa mesin pembakaran internal menyala sampai jarak 105 km. Keren!

Ada empat pilihan warna yang dapat konsumen GWM pilih untuk Tank 300 ini. Lalu harganya? Kemungkinan besar Anda harus berpisah dengan saldo rekening sebesar nyaris Rp 834 juta.

Haval Jolion 2024

Haval Jolion HEV, Produk GWM Pertama Rakitan Indonesia

Beberapa waktu silam, Great Wall Motors (GWM) Indonesia memperlihatkan sosok Haval Jolion HEV. Tapi pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2024 menjadi peluncuran resmi dari Sport Utility Vehicle (SUV) hybrid tersebut.

GWM Haval Jolion HEV ditenagai oleh mesin bensin empat silinder 1.5 liter, tapi tanpa turbocharger. Ditambah sistem hybrid yang canggih. Haval Jolion HEV memiliki dimensi panjang 4.472 mm, lebar 1.841 mm, tinggi 1.619 mm, dan wheelbase 2.700 mm.

SUV hybrid ini dipasarkan di Tanah Air dengan harga yang cukup menggoda, yakni sedikit di bawah Rp 449 juta. Tersedia sejumlah pilihan warna yang atraktif. Mulai dari Hamilton White, HB Blue, Light Ayers Gray, Mars Red, Sun Black, HR Blue.

Asyiknya lagi, inilah produk GWM perdana yang keluar dari lini produksi Inchcape, group usaha bersama Indomobil, di Wanaherang, Bogor, Jawa Barat. GWM Indonesia memanfaatkan fasilitas pabrik Inchcape yang ada di Wanaherang.

Fasilitas ini tadinya kepunyaan Mercedes-Benz, yang merakit kendaraan penumpang dan komersial. Karena operasional kendaraan penumpang Mercedes-Benz di Indonesia dicomot oleh Inchcape, wajar jika fasilitas perakitannya pun ikut diakuisisi.

Haval Jolion akan jadi bintang GIIAS 2024

Haval Jolion HEV Resmi Diperlihatkan Oleh GWM Indonesia

Great Wall Motors (GWM) Indonesia memaparkan rencana mereka untuk ajang GIIAS 2024 yang akan berlangsung 18-28 Juli 2024. Pemaparan tersebut dilaksanakan Rabu (10/07/2024) di Jakarta. Salah satu yang menarik adalah, kami berkesempatan langsung melongok sosok Haval Jolion (baca: Jolayen) HEV.

Dipastikan, mobil ini akan dipajang di GIIAS 2024 di ICE BSD nanti. Beserta dengan delapan mobil lainnya.

Tentunya, akan bersanding dengan Haval H6 HEV, Tank 500 serta satu Tank yang tidak disebutkan. Namun kami yakin ini adalah Tank 300 yang sudah lama rumor kehadirannya beredar. GWM juga akan menampilkan deretan aksesoris dan modifikasi untuk Tank 500.

Hybrid Entry Level

Mesin Jolion HEV 2024 Indonesia

Haval Jolion adalah SUV berpenggerak hybrid dengan mesin 1,5 liter tanpa turbo. Spesifikasi ini meleset dari perkiraan kami, yang sebelumnya akan berpenggerak turbo. Tenaganya belum disebutkan, tapi melihat spek Haval Jolion HEV di luar negeri, mampu menghasilkan 188 hp.

Tapi dipastikan, inilah mobil pertama yang keluar dari lini produksi Inchcape, group usaha yang menaungi GWM bersama Indomobil, di Wanaherang, Bogor. Soal pabrik ini, bisa Anda baca di bawah.

Perkiraan spesifikasi lainnya, Jolion memiliki ukuran yang lebih kecil. Panjangnya 4.472 mm, lebar 1.841 mm dengan tinggi 1.619 mm. Wheelbase yang tersedia sebesar 2.700 mm.

Selain Jolion, GWM Indonesia juga memaparkan program garansi dan servis yang mereka bawa. Mulai dari free maintenance hingga tiga tahun atau 30.000 km, ERA (Emergency road Assistance) kalau terjebak dalam keadaan darurat. “Bahkan kalau kehabisan bensin juga bisa kami bantu,” tegas Putra Samiaji, Aftersales & Customer Service Director GWM Indonesia.

Pabrik Wanaherang

Khusus untuk perakitan di Wanaherang, GWM Indonesia memanfaatkan fasilitas pabrik Inchcape yang ada di Wanaherang. Pabrik ini tadinya milik Mercedes-Benz, yang merakit kendaraan penumpang dan komersial.

Kini, operasional passenger car Mercedes-Benz di Indonesia diambil alih Inchcape dan Indomobil. Makanya, pabrik pun sekalian diakuisisi.

Karena kapasitasnya besar, Inchcape tidak hanya memanfaatkannya untuk GWM. Menurut beberapa informasi, ada beberapa merek lain yang akan keluar dari Wanaherang. Termasuk Mercedes-Benz sendiri.

MG VS HEV Selesaikan Road Trip 880 km, Sekali Full Tank Saja!

Morris Garages (MG), melakukan uji coba perjalanan dari Jakarta hingga ujung tol Trans Jawa dengan MG VS HEV hanya dengan satu kali pengisian bahan bakar. Hal ini menunjukkan kehandalan teknologi dan kualitas MG VS HEV dalam menghadapi perjalanan jarak jauh dengan efisiensi yang tinggi.

Perjalanan dimulai dari Jakarta (Slipi) dengan kondisi mobil full tank 48 liter dengan bensin RON 98. Selama perjalanan ini, MG VS HEV ini hanya menggunakan Mode Normal, dengan sistem pendinginan diatur pada kecepatan satu guna mendukung operasional mesin. Memboyong tiga penumpang dewasa dan terdapat muatan di bagasi, perjalanan pun berakhir di gerbang tol Gending, Probolinggo, Jawa Timur dengan angka speedometer menunjukkan 879,9 kilometer.

Perjalanan ratusan kilometer Tol Trans Jawa ini dilakukan dengan standar rata-rata kecepatan berkendara di tol luar kota, yaitu minimal 60 km/jam dan maksimum mencapai 100km/jam. 

Selain itu, teknologi transmisi E-CVT dan sistem KERS (Kinetic Energy Recovery System) terus menjaga penggunaan bahan bakar secara efisien.

Mobil ini juga didukung fitur canggih seperti Energy Flow Display dan tiga mode berkendara yang dapat disesuaikan. Begitu juga dengan teknologi MG i-SMART yang cerdas dalam menjaga pengendalian, pemantauan, dan hiburan.

Fitur-fitur canggih seperti SMART Check dan SMART Command terus memberikan akses real-time terhadap kondisi kendaraan dan navigasi yang mudah. Kemudian SMART Connect memperluas konektivitas dengan layanan seperti navigasi cerdas dan streaming musik online.

Mesin 1.5 liter yang dipadukan dengan motor listrik dari baterai 2,13 kWh, sehingga mampu mencapai tenaga 175 hp dan torsi 200 Nm.

Donald Rachmat, Chief Operating Officer MG Motor Indonesia mengatakan, “Dengan terus mengembangkan teknologi dan inovasi, MG bertekad untuk memberikan pengalaman berkendara yang superior dan dapat diandalkan”.

MG VS HEV ditawarkan dengan harga Rp 389 juta (on the road Jakarta).

 

Road Trip ke Bandung Bersama GWM Tank dan Haval

Jalan-jalan singkat ke luar kota Jakarta, biasanya kota Bandung yang jadi tujuannya. Ya, hal tersebut sepertinya yang menginspirasi Great Wall Motor (GWM) Indonesia, untuk menggelar GWM Media Drive menuju Bandung, Jawa Barat. GWM pun menyediakan dua jenis sport utility vehicle (SUV) untuk acara ini, yaitu Tank 500 dan Haval H6.

Kedua mobil SUV ini bukan yang pertama kali kami temui, sebab keduanya telah tampil di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2023 silam. Kedua model tersebut juga merupakan mobil dengan paduan mesin pembakaran internal dan motor listrik, alias hybrid. GWM yakin bahwa kendaraan hybrid lebih mudah diterima di pasar Indonesia.

Penasaran kemampuan off-road 

Varian Tank yang masuk Indonesia adalah Tank 500. Full-size SUV ini diposisikan sebagai SUV kelas premium dengan kelengkapan fitur dan kenyamanan yang oke. Penerapan chassis model ladder frame membuat SUV ini suka dibandingkan dengan Toyota Land Cruiser oleh sebagian orang. Namun, dimensinya memang cukup besar, dengan panjang bodi mencapai lima meter.

Kemampuan on-road, tidak mengecewakan. Mesin bensinnya berkapasitas 2.0 liter dan dilengkapi turbocharger. Jika dipadukan dengan tenaga motor listriknya, maka outputnya mencapai 346 hp dan torsi puncak 615 Nm. Tapi sebenarnya kami lebih penasaran dengan kemampuan off-road Tank 500 ini.

Setibanya di kota Bandung, ternyata GWM telah menyiapkan sejumlah ‘tantangan’ di kawasan Pusat Kesenjataan Kavaleri. Mulai dari Side Sloping, Side Wheelie, Hill Climb, Water Wading, hingga Tank Turn. Sederet tantangan tersebut, dikhususkan untuk unit Tank 500. Setiap tantangan dilalui dengan metode merayap, sedikit bantuan pedal gas jika memang diperlukan.

Pangkas radius putar

Bahkan ketika ‘nyemplung’ di kubangan air sedalam nyaris 50 cm pun tak perlu risau. Tank 500 melaju santai tanpa kesulitan. Saat berada di area Side Sloping, SUV bongsor ini seolah santai saja, walaupun ada roda yang tidak kontak dengan tanah. Sebab torsi mesin tersalurkan secara optimal menuju roda yang masih memiliki traksi penuh.

Ujian selanjutnya adalah Tank Turn. Dalam kondisi normal, Tank 500 memiliki radius putar sebesar 5,6 meter. Namun, berkat fitur Tank Turn maka radius putarnya dapat dipangkas menjadi 4,4 meter. Hal ini sangat berguna saat pengguna harus bergerak memutar atau melakukan manuver di kondisi jalur yang sempit. Akhirnya semua obstacle dilahap tanpa kendala oleh Tank 500. Perlu dicatat bahwa unit yang digunakan masih dalam kondisi standar pabrik.

Selanjutnya ialah mencoba Haval H6, tapi kalau yang ini seperti lebih tepat untuk penggunaan on-road, tanpa medan berat. SUV berpenampilan atraktif ini dibekali mesin bensin empat silinder 1.5 liter dan dilengkapi turbocharger. Kalau dipadukan dengan tenaga motor listriknya, maka outputnya mencapai 323 hp dan torsi puncak 530 Nm. Wajar saja jika Haval H6 begitu luwes di lalu lintas yang padat.

Ada keunikan Haval H6 yang membuat kami kagum, yakni bisa mencari dan memarkir kendaraan sendiri, baik secara paralel maupun seri. Fitur parkir otomatis ini diaktifkan dengan sentuhan di layar ketika kamera telah menangkap ada lahan yang cukup. Pengemudi tak perlu memutar setir ataupun menginjak pedal apa pun. Heran…

Saat kembali menuju Jakarta, kami pun mencari tahu harga yang disematkan pada kedua SUV andalan GWM untuk pasar Indonesia saat ini. Tank 500 dibanderol dengan harga Rp 1,196 milyar, sedangkan Haval H6 ditawarkan dengan harga Rp 595,8 juta. Harga tersebut sudah dalam kondisi on-the-road. Jadi bingung mau beli yang mana…

BMW i4 dan 4 Series Gran Coupe Alami Pembugaran Luar Dalam

Memasuki penghujung kwartal pertama di tahun 2024, BMW meluncurkan versi facelift dari i4 dan 4 Series Gran Coupe. Mobil yang dipasarkan sebagai model tahun 2025 ini mengalami sejumlah sentuhan penyegaran.

Apakah i4 dan 4 Series Gran Coupe versi facelift hanya sekadar mendapat polesan kosmetik? Atau merambah hingga sektor performa?

Penyegaran Eksterior

Pada bagian wajah, lampu depan LED mengalami desain ulang. Kini nampak menyatu dengan lampu siang hari (DRL) berbentuk bumerang. Para desainer BMW memanfaatkan aksen garnish sehingga tampilan depan terlihat lebih segar.

Frame grille pun tak luput dari polesan dengan nuansa matte chrome. Tak hanya pada varian reguler, tapi juga untuk paket opsional M Sport. Tersedia pula opsi grille berwarna gloss black bagi yang tak suka kemilau chrome.

Area buritan juga mengalami sentuhan. Lampu belakang model ‘Laserlight’ ala BMW M4 CSL limited-edition kini terpasang pada i4 dan 4 Series Gran Coupe facelift.

Bagi konsumen yang memilih paket M Sport pada i4 maupun 4 Series Gran Coupe, akan mendapat sirip diffuser belakang berwarna high-gloss black. Jika ingin pipa exhaust sewarna sirip diffuser, konsumen harus memesan dalam paket opsional. Oh ya, ukuran laras pipa exhaust 4 Series Gran Coupe kini kian besar dari 3.5 inci jadi 4 inci.

BMW mengimbuhkan dua opsi warna eksterior baru. Nuansa hijau kemilau Cape York Green metallic dan merah merona Vegas Red metallic. Pelek 19 dan 20-inci yang dibekalkan pun tampil dengan desain baru nan eyecatching.

Tombol Fisik Perlahan Mulai Dihilangkan

Update yang kini dibekalkan pada i4 dan 4 Series Gran Coupe menyusul jejak 4-Series Coupe dan M4 yang telah lebih dulu diupgrade.

Ubahan paling terlihat pada interior i4 dan 4 Series Gran Coupe adalah kian minimnya jumlah tombol fisik pengendali fitur pada kabin. Ya, kontrol fitur kini terintegrasi pada sistem digital terpadu BMW iDrive dengan software OS 8.5 terbaru.

Seluruh kendali fitur dilayani via menu QuickSelect. Tak ubahnya pengoperasian menu pada ponsel pintar. Cukup dengan sentuhan jemari pada layar touchscreen Curved Display.

Para penyuka sentuhan tombol fisik nampaknya harus mulai beradaptasi dan membiasakan diri dengan menu Quickselect. Sedikit merepotkan memang bagi yang belum terbiasa, terutama yang agak gaptek.

Untuk kemasan interior, material kulit sintetis Sensatec yang digunakan kini lebih halus dan lembut. Ingin tampilan interior terlihat lebih eksklusif? Tersedia paket opsional bernuansa brushed chrome dan panel kayu untuk dashboard dan konsol tengah.

Untuk tuas selektor iDrive Controller dan tombol Start/Stop, tersedia opsi tampilan bernuansa Galvanic.

Kabar yang cukup menggembirakan adalah i4 dan 4 Series Gran Coupe kini dilengkapi jok sport. Makin keren bukan?

Racik Ulang Mesin Hybrid

Untuk varian 430i dibekali mesin 4-silinder 2.0-liter turbo plus modul mild hybrid 48-volt. BMW menggarap ulang lubang saluran intake serta ruang bakar. Setting ulang pun dilakukan pada camshaft control, sistem injeksi dan pengapian. Alur pipa header dan exhaust pun diracik ulang.

Di atas kertas, tak ada perubahan output performa. Tenaga tetap 255 hp dan torsi puncak pun masih 400 Nm. Namun pihak pabrikan mengatakan bahwa respon output performa lebih terasa saat dipacu di jalan raya maupun sirkuit balap.

Versi paling menggairahkan yakni M440i Gran Coupe masih dengan mesin 6 piston berkapasitas 3.0-liter. Sama seperti 540i xDrive dan X5 xDrive40i.

Modul mild hybrid 48-volt juga diimbuhkan pada M440i seperti halnya varian 430i. Tentu saja output performa jadi kian menggairahkan. Boost suplemen tenaga extra sebesar 11 hp plus torsi tambahan sebesar 200 Nm dapat diaktifkan selama 10 detik. Ya, cukup 10 detik.

Pasalnya, total output tenaga kini jadi 386 hp. Torsi maksimum pun terdongkrak jadi 539 Nm. BMW mengatakan bahwa akselerasi 0-100 km/jam kini lebih gesit.

Cukup 4,7 untuk versi rear-wheel drive (RWD) dan hanya 4,3 detik untuk versi berpenggerak xDrive all-wheel drive.

BMW i4 dan 4 Series Gran Coupe model tahun 2025 ini akan diproduksi di Munich, Germany. Resmi dipasarkan di Eropa paling cepat pada Juli 2024 mendatang. Amerika Serikat dan Indonesia? Harap bersabar…

Penjualan Toyota meningkat

Penjualan Toyota 2023 Dan Misteri Mobil Hybrid Baru Tahun Ini

Di luar kabar miring soal ketidak sesuaian spesifikasi Toyota Global, Toyota Astra Motor (TAM) mengumumkan pencapaian yang cukup cerah di pasar Indonesia. Penjualan mereka secara wholesales (dari produsen ke dealer) dikatakan meningkat di tahun 2023 lalu.

Penjualan Toyota dan Lexus meningkat dari 332.443 unit di tahun 2022 menjadi 339.292 mobil di tahun 2023. Artinya, pabrikan Jepang ini memiliki market share yang meningkat dari 31,7 persen menjadi 33,7 persen. Yang menarik, peningkatan tersebut salah satunya dipicu oleh mobil dengan imbuhan elektrifikasi (xEV).

Kijang Innova Zenix Hybrid (HEV) berhasil menjadi yang terdepan dalam penjualan xEV Toyota di 2023. Mencetak total whole sales 27.705 unit sepanjang 2023. Di belakangnya mengekor Yaris Cross HEV sebanyak 5.476 unit. Posisi ketiga ada Corolla Cross HEV 1.217 unit, yang saat ini statusnya masih impor utuh.

“PT Toyota-Astra Motor (TAM) mengucapkan terima kasih atas kepercayaan pelanggan kepada mobility solution Toyota sehingga whole sales 2023 dapat meningkat,” kata Vice President Director PT. Toyota-Astra Motor (TAM), Henry Tanoto.

“Launching All New Kijang Innova Zenix serta Yaris Cross mendapatkan animo positif masyarakat, khususnya model HEV yang langsung memimpin penjualan kendaraan elektrifikasi kami,” tambahnya.

Selain Hybrid, Toyota bZ4X yang merupakan mobil listrik murni berbasis baterai, penjualannya telah mencapai 479 unit di tahun 2023. Mobil seharga Rp 1.190.000.000 ini menggunakan all new platform e-TNGA khusus BEV. BEV ini juga dipercaya oleh pemerintah Indonesia dalam berbagai event bertaraf internasional seperti Konferensi G20, ASEAN Summit, dan AIS Summit.

Mobil HEV Baru

Tidak kalah menarik adalah, pernyataan Henry Tanoto soal rencana mereka menghadirkan mobil hybrid lagi tahun ini.

Ia hanya mengatakan,” Ditunggu saja,” saat didesak mobil yang mana. Namun melihat peta persaingan sekarang, segmen low MPV perlu penyegaran. Mitsubishi telah memperkenalkan keluarga Xpander HEV di Thailand. Mobil ini juga telah menjalani sesi uji coba di wilayah Jawa Barat. Tentu, Toyota perlu menyiapkan pesaingnya.

Bukan hal sulit bagi Toyota, yang pelopor mobil hybrid dunia, memasangkan teknologi ini di Avanza atau Veloz. Lebih spesifik, Veloz yang dirakit oleh Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN). TMMIN sudah mampu merakit komponen mobil hybrid di fasilitas mereka di Karawang, Jawa Barat. Masuk akal, kan? Tapi itu baru spekulasi. Kita tunggu saja tanggal mainnya.

Mitsubishi Xpander dan Xpander Cross Hybrid Menguak Tabirnya!

Hari ini (01/02/2024), Mitsubishi Motors Corporation melakukan debut global Xpander dan Xpander Cross versi hybrid (Hybrid Electric Vehicle). MPV unggulan Mitsubishi ini diperkenalkan dan langsung dijual di Thailand. Keduanya diproduksi di fasilitas Laem Chabang Mitsubishi Motors (Thailand) Co., Ltd.

Xpander HEV dan Xpander Cross HEV dikatakan menghadirkan aspek elektrifikasi serta teknologi kendali pada semua roda. Sistem HEV menghadirkan pengalaman berkendara ramah lingkungan yang unik. Active Yaw Control dan teknologi pengaturan kendali, melengkapi berkendara yang aman sesuai keinginan pengemudi.

Pengendalian optimal

Mitsubishi juga menyiapkan berbagai mode berkendara memberikan pengendalian yang optimal di berbagai medan dan  cuaca. Selain itu, pengemudi dapat secara aktif memilih berkendara EV sesuai situasi.

Sistem HEV baru ini dikembangkan untuk menghadirkan fitur berkendara EV, hybrid dan dibekali sistem pengereman regeneratif. Efisiensi bahan bakar dihasilkan melalui kinerja sistem secara otomatis, karena mampu beralih ke mode berkendara optimal. Sesuai kondisi berkendara dan sisa daya baterai.

Mitsubishi Xpander Hybrid

Sekarang didukung mesin MIVEC 1.6 liter

Sistem HEV baru menghadirkan akselerasi mulus namun bertenaga selayaknya kendaraan listrik. Generator dan motor elektrik dengan output maksimum 85 kW (setara 113 hp). Dipadukan mesin bensin baru berteknologi MIVEC 1.6 liter DOHC Atkinson-cycle. Bersama dengan baterai penggerak yang dikembangkan secara khusus. 

Demi mencapai tingkat efisiensi pembakaran yang lebih tinggi, pertama kalinya Mitusbishi Motors menggunakan pompa air (water pump) elektris pertama pada mesin buatannya. Gunanya, menjaga dan mempercepat pencapaian suhu mesin optimal. Hal ini diklaim mampu meningkatkan penghematan bahan bakar mesin sekitar 10 persen.

Xpander Cross Hybrid

Konstruksi bodi disesuaikan

Mengakomodir sistem HEV, baterai penggerak diposisikan di bawah lantai jok depan. Sehingga MPV ini tetap memiliki kabin yang lapang untuk tujuh penumpang. Lantai kompartemen mesin dan sekitar baterai telah diubah. Konstruksi crossmember depan dimodifikasi untuk memberikan untuk perlindungan serta meningkatkan kekokohan bodi. Settingan suspensi pun disesuaikan demi menghasilkan stabilitas pengendalian, sekaligus tetap memberikan kenyamanan berkendara.

Identitas HEV terlihat pada grille dan pintu bagasi. Sedangkan emblem HYBRID EV disematkan di pintu depan. Tentu saja ada aksen warna biru yang bertebaran di banyak titik eksterior. Ada warna bodi baru untuk Mitsubishi Xpander hybrid ini, yakni White Diamond. Khusus untuk Xpander Cross Hybrid tersedia juga warna Green Bronze Metallic.

Toyota Prius

Tanpa Toyota Prius, Dunia Ini Tidak Akan Sama

Suatu saat di tahun 1993, engineer Toyota duduk bersama dan berdebat soal mobil yang pantas untuk abad 21. Ujung perdebatan itu adalah, mobil yang sangat efisien mengkonsumsi bahan bakar. Inilah perdebatan yang memunculkan Toyota Prius.

Prius yang artinya Pertama dalam bahasa latin tidak lahir dengan mudah. Ide awalnya, mobil ini harus 50 persen lebih irit dibandingkan mobil compact yang ada saat itu. Tapi gagasan tersebut dipatahkan oleh VP Riset dan Pengembangan Toyota (waktu itu) Akihiro Wada.

Toyota Prius Concept 1995

Wada memerintahkan anak buahnya untuk keluar dengan konsep mobil yang dua kali lebih hemat bahan bakar dari mobil paling irit. Permintaan yang rasanya mustahil itu, membuat para insinyur berpikir keras. Mereka harus punya ide ‘out of the box’. Dengan dana riset setara US $6 juta, tentunya ini bisa dicapai, meski prakteknya pasti tidak mudah.

Dan ini yang memunculkan konsep sistem penggerak hybrid. Sebuah sistem yang menggabungkan energi listrik tersimpan di baterai NiMH (Nickel Metal Hydride), motor listrik dan mesin empat silinder bekerjasama menggerakkan mobil.

Debut Yang Sunyi

Toyota Prius Generasi satu

 

Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1995 di event Tokyo Motor Show, saat Mazda muncul dengan keriuhan mesin rotary, Subaru dengan mesin boxer empat silinder, Toyota mengeluarkan mobil yang bentuknya gampang untuk dilupakan. Warnanya kuning pula. Namanya Toyota Prius Concept. 

Yang melihat pun tidak terlalu tertarik. Yang membuat penasaran hanya plakat bertuliskan Toyota Energy Management System. Sedikit yang menyadari kalau mereka sedang melihat perubahan sejarah. Nama di plakat itu akan menjelma jadi Toyota Hybrid System dan mengubah peta otomotif dunia.

MEsin Prius generasi 1

Konsumsi bahan bakar 30,3 km/liter adalah sebuah angka yang luar biasa. Bisa dibandingkan dengan saat Bugatti sukses membuat Veyron berlari lebih dari 400 km/jam.

Toyota Prius mulai dipasarkan di Jepang pada 1997 dan jadi mobil pertama di dunia yang berpenggerak hybrid dan dijual masal. Dan sukses. Bentuknya, ya silahkan nilai sendiri.

Lalu Ditinggal

Seiring berjalannya waktu, Toyota mengeluarkan generasi kedua dengan bentuk yang streamline. Dan membosankan. Tapi di balik kulitnya, selain sistem hybrid yang terus dikembangkan, terpasang berbagai inovasi. Mulai dari water pump elektrik hingga termos vakum untuk menyimpan coolant panas. Ini demi mempercepat mesin mencapai suhu optimal.

Hingga muncul generasi terbaru (gen. 5) yang bentuknya memukau. Namun momentum Toyota Prius sepertinya selesai. Pelopor teknologi hybrid ini sudah jadi barang biasa karena sistem penggeraknya sudah dipakai di Yaris, Corolla, Camry bahkan Kijang pun sudah hybrid. Belum lagi merek lain pun mengeluarkan teknologi hybrid-nya masing-masing. 

Tapi kita harus akui, tanpa Prius, proses elektrifikasi di dunia otomotif tidak akan berjalan. Toyota yang sebetulnya masih ingin mengembangkan hybrid, terpaksa membuat mobil listrik karena tekanan dunia. Meski begitu, mereka sukses menjual 15 juta Prius dari berbagai generasi di pasar global. Dan mobil ini tetap dianggap sebagai pelopor elektrifikasi yang sukses masuk ke pasaran.

Indonesia Siap Jadi Basis Produksi Kendaraan Great Wall Motor

Masuknya brand otomotif asal China, Great Wall Motor (GWM) di Tanah Air sejak pertengahan tahun ini semakin meramaikan persaingan pasar antar brand otomotif di Indonesia.

Keagenan dan pemasaran produk kendaraan Great Wall Motor di Indonesia dikelola oleh PT Inchcape Automotive Indonesia yang menjalin kerjasama dengan PT Indomobil.

Great Wall Motor (GWM) siap memamerkan produk mereka di event pameran Smart Transportation and Energy 2023. Pameran teknologi transportasi ini dihelat di JIEXPO Kemayoran, Jakarta dari tanggal 23-26 November 2023.

Dua produk kendaraan yang akan dipamerkan yakni GWM Tank 500 yang berteknologi hybrid dan mobil listrik baterai (BEV) GWM Ora 03.

SUV Tank 500 ditenagai mesin 2.0-liter turbo bermodul hybrid. Output tenaga sebesar 342 hp dan torsi maksimum sebesar 648 Nm disalurkan ke poros roda via transmisi automatic 9-speed.

Sistem penggerak 4WD dan transfer case Mlock 4WD generasi terbaru yang dibekalkan membuat GMW Tank 500 mampu melibas trek off-road.

Produksi Di Indonesia

Tak sekadar memasarkan produk saja, GWM bahkan berencana melakukan perakitan secara lokal di Indonesia.

Minggu lalu, Presiden Direktur PT Inchcape Automotive Indonesia, Khoo Shao Tze, menyampaikan bahwa perakitan unit kendaraan sedianya akan dimulai awal tahun 2024 di Wanaherang, Bogor. Fasilitas perakitan tersebut saat ini memproduksi mobil-mobil Mercedes-Benz.

Kenapa bisa dirakit di fasilitas Mercedes-Benz? Ini karena operasional pabrikan Jerman tersebut juga dikuasai oleh Inchcape. Jadi sah saja mereka memproduksi di situ.

Pihak GWM untuk saat ini masih belum mengumumkan secara resmi mobil apa yang bakal diproduksi di Indonesia. Namun diperkirakan GWM akan memprioritaskan untuk merakit Haval dan mobil off-road bermesin hybrid Tank 500 secara lokal di Bogor.

Untuk mobil listrik GWM Ora 03, nampaknya masih akan didatangkan dari Thailand secara utuh (CBU).

Makin penasaran mobil apa yang bakal diproduksi dan dipasarkan oleh Great Wall Motor nantinya bukan? Kita tunggu kabar selanjutnya…

Tampilan Segar dan Harga Menarik dari Wuling New Almaz RS

Ini bukan yang pertama kalinya kami berjumpa dengan Wuling New Almaz RS, karena SUV ini telah menampakkan sosoknya di pameran GIIAS 2023, beberapa bulan silam. Namun, saat itu Wuling Motors belum mengungkap harga jualnya.

Hari ini (05/10/2023), Wuling secara resmi memasarkan New Almaz RS, sekaligus membeberkan harganya dalam acara yang bertempat di The Forum Mall Kelapa Gading 3, Jakarta Utara. Almaz RS dipasarkan dengan harga khusus peluncuran yakni Rp 398 juta untuk varian RS Pro. Sedangkan Almaz RS Pro Hybrid dijual dengan harga Rp 438 juta.

SUV hybrid ini mengusung teknologi Multi-mode Hybrid Powertrain. Dengan performa mengesankan namun efisien bahan bakar. Secara umum, penyegaran medium SUV ini meliputi tampilan depan, desain baru pada kabin, fitur berkendara dan fitur keselamatan.

“Hingga saat ini, kami menyuguhkan pilihan varian hybrid untuk kendaraan flagship Wuling, yakni Almaz. Apakah teknologi hybrid akan diaplikasikan ke produk lain, kami masih mempertimbangkannya,” kata Danang Wiratmoko, Product Planning Wuling Motors, saat kami jumpai di sela-sela acara price reveal Wuling New Almaz RS.

Tipe Hybrid masih dibekali mesin bensin 4 silinder Atkinson-cycle 2.0 liter. Output 123 hp dan torsi 169 Nm. Dipadukan dengan motor listrik yang bertenaga setara 174 hp dan torsi 320 Nm. Kedua sumber tenaga ini dikombinasikan melalui Dedicated Hybrid Transmission (DHT). Diklaim mampu bekerja secara multi-mode berupa EV Mode, Series Hybrid atau Parallel Hybrid.

Serupa dengan yang terdahulu, sistem ini bekerja secara otomatis menyesuaikan kondisi baterai, kebutuhan daya, serta kondisi jalan untuk mengakomodasi performa sesuai kebutuhan pengguna. Sedangkan, Wuling New Almaz RS Pro dibekali dengan mesin 4 silinder 1.5 liter turbocharger dan dipadukan dengan transmisi CVT.

Ford Ranger Plug-in Hybrid, Bisa Diajak Kerja Sekaligus Main

Ford bakal menawarkan produk yang bisa dipakai di dua ‘kebutuhan’, yaitu Ranger Plug-in Hybrid. Mobil ini akan menggabungkan kapabilitas berkendara sebuah kendaraan listrik (EV) dengan kemampuan untuk menjelajah beragam medan yang ditempuh, bahkan dapat mendukung pekerjaan maupun aktivitas para penggunanya.

Ford merencanakan produksi Ranger Plug-in Hybrid dimulai pada akhir tahun 2024, sehingga konsumennya sudah dapat menerima unit pada awal tahun 2025. Ranger Plug-in Hybrid ini menjadi langkah besar dalam rencana besar Ford untuk menyuguhkan beragam sumber tenaga pada deretan produknya, terutama di segmen pick-up berukuran medium.

Pemilik Ranger Plug-in Hybrid akan mendapat manfaat dari ekosistem Ford Pro, yang merupakan solusi penyederhanaan transisi dari mobil konvensional menuju mobil listrik, dengan adanya software dan opsi perawatan kendaraan.

Pick-up ini memiliki torsi yang lebih besar dari Ranger lainnya, karena Ford memadukan mesin bensin EcoBoost 4 silinder 2.3 liter dengan sebuah motor listrik dan sistem baterai yang dayanya dapat diisi ulang. Diklaim bahwa mobil ini dapat dikendarai dengan mode listrik sejauh 45 km. Mode listrik ini membuka peluang baru kepada para pelaku bisnis yang banyak beraktivitas di area perkotaan dengan zona rendah emisi gas buang.

Ranger Plug-in Hybrid juga menawarkan Pro Power Onboard, yang memungkinkan penggunanya mengoperasikan berbagai perkakas bertenaga listrik hanya dengan menyambungkannya ke soket power outlet pada bak belakang. Sehingga peran generator (genset listrik) pun boleh ‘pensiun dini’ dan bak belakang bisa diisi dengan barang bawaan lebih banyak.

Tersedia empat mode pada sistem EV, yang dapat memberi fleksibilitas penggunanya dalam berkendara dengan tenaga baterai. Tentu tidak ketinggalan lima mode berkendara dan beragam fitur keselamatan, ditambah lagi dengan sistem penggerak empat roda yang telah dikenal mumpuni melahap medan buruk.

Fiat 600 Hybrid, Pilihan Alternatif Bagi Konsumen Anti Mobil Listrik

Mobil listrik Fiat 600e nampaknya tak sendirian jadi urban crossover rendah emisi Fiat di pasar Eropa. Fiat 600 Hybrid jadi alternatif pilihan bagi konsumen yang masih suka mesin bensin.

Apa yang direncanakan oleh pabrikan otomotif Italia ini dengan munculnya versi hybrid dari Fiat 600?

Mobil Mungil Ramah Lingkungan

Dari segi dimensi ukuran, tak ada perbedaan antara Fiat 600 Hybrid dengan versi elektriknya, Fiat 600e.

Kompartemen penyimpanan di dalam kabin jumlahnya banyak seperti Fiat 600e. Volumenya pun sama yakni 15 liter. Belum lagi ditambah dengan volume bagasi yang sebesar 385 liter.

Kapasitas kabin pun sama yakni lima penumpang. Desain interiornya pun tak banyak perbedaan dari Fiat 600e maupun Jeep Avenger.

Panel interior dan jok menggunakan material kain daur ulang. Joknya yang berkelir putih mengingatkan gaya Fiat 600 klasik di era ’60an.

Panel dashboard bernuansa hitam menggunakan bahan plastik organik. Fiat nampaknya mulai beralih pada bahan ramah lingkungan.

Untuk perpindahan gigi transmisi, pada setir terdapat paddle shifter. Mirip seperti pada Jeep Avenger.

Pengemudi pun dapat memantau kapasitas energi baterai via indikator Powermeter pada dashboard.

Seperti halnya Fiat 600e, konsumen dapat memilih varian 600 Hybrid dengan konten fitur paling lengkap yakni La Prima. Varian ini dilengkapi teknologi swa kemudi Level 2.

Versi Hybrid Jadi Pilihan Alternatif

Mobil listrik saat ini tengah gencar dipasarkan di kawasan Uni Eropa. Namun tidak semua konsumen berminat. Oleh sebab itulah Fiat tak hanya meluncurkan mobil listrik 600e, tapi juga dalam versi hybrid.

Sesuai kodrat Fiat 600 sebagai mobil perkotaan seperti versi orisinalnya, sistem penggerak yang diusung tetap versi ekonomis.

Mesin bensin 3-silinder 1.2-liter berdaya 99 hp dipadukan dengan motor elektrik hybrid berdaya 21 kW atau setara 28 hp.

Motor elektrik penggerak dan mesin bensin terintegrasi dengan transmisi kopling ganda elektrik 6-percepatan.

Baterai lithium-ion 48V menjadi sumber pemasok energi listrik modul hybrid. Ya, ini adalah kategori sistem hybrid ringan.

Modul Hybrid Penghemat BBM

Dalam mode EV, Fiat 600 Hybrid bisa melaju dengan kecepatan hingga 30 km/jam. Namun jangan berharap muluk. Jarak tempuh hanya bisa sejauh 1 km, karena kapasitas daya baterai habis.

Modul hybrid ringan memang fungsi utamanya untuk memberi dorongan akselerasi. Motor elektrik hybrid jadi alternatif saat butuh kecepatan laju yang sangat rendah, semisal merayap di kemacetan lampu merah atau antrean loket parkir. Penggunaan mode EV membantu menghemat konsumsi BBM

Karena kapasitas dan output daya mesin yang kecil, Anda harus puas dengan akselerasi 0-100 km/jam yang butuh waktu 11 detik.

Perpindahan sistem penggerak dari mesin bensin ke motor hybrid dikatakan sangat halus dan senyap. Fiat menggunakan sabuk sebagai penggerak pulley motor starter, bukan rantai seperti modul hybrid sejenis dari pabrikan lainnya.

Berdasarkan klaim pabrikan, modul hybrid yang digunakan pada Fiat 600 Hybrid mampu mengurangi kadar emisi CO2 pada gas buang. Konsumsi BBM pun lebih irit hingga 15 persen dibandingkan tanpa modul hybrid.

Fiat 600 Hybrid akan segera dipasarkan di Italia dan sejumlah negara kawasan Eropa lainnya termasuk Inggris.

Pemasaran Fiat 600 Hybrid akan menyasar pada negara yang tipikal konsumennya kurang berminat pada mobil listrik seperti 600e. Dengan demikian, konsumen memiliki pilihan alternatif mobil rendah emisi selain mobil listrik.

Label harga Fiat 600 Hybrid di Italia diprediksi mulai dari €24.950, yang kurang lebih setara Rp 408,6 jutaan.

Lebih murah Rp 85 jutaan dari mobil listrik Fiat 600e yang dipasarkan di Italia dengan harga mulai dari €29.500 atau sekitar Rp 483 jutaan.

Jadi, pilih mobil listrik atau hybrid?

 

Dodge Hornet R/T Berevolusi Jadi Muscle Car Hybrid

Seiring bergesernya trend otomotif ke teknologi elektrifikasi, demikian pula dengan genre ‘muscle car made in USA’. Dodge Hornet R/T model tahun 2024 pun jadi muscle car pertama yang mengusung teknologi hybrid. Label teknologi yang disematkan bukan plug-in hybrid, tapi performance hybrid.

Ya, Dodge, pabrikan otomotif asal AS yang tersohor sebagai biangnya muscle car pun kini mau tidak mau mulai merambah ke teknologi elektrifikasi. Desainnya juga jadi tidak menarik. Menurut kami. 

Seperti apa performa dan teknologi hybrid yang dimiliki sang Tawon terbaru ini?

Muscle Car Berlabel Performance Hybrid

Tak seperti generasi sebelumnya yang kekar berotot dan bongsor. Kini body Hornet R/T sedikit lebih jangkung mirip crossover dengan garis body bergaya grand touring yang aerodinamis. Tampilan wajah pun sedikit berubah dari Hornet terdahulu, namun tetap terlihat garang khas muscle car Dodge.

Yang menjadi perhatian utama kami justru pada potensi performa dan teknologi hybrid yang diusungnya.

Mobil yang menyandang spek R/T atau Road and Track ini tak hanya legal dikendarai di jalan raya. Dodge Hornet R/T juga dapat melibas aspal sirkuit balap.

Uniknya, Dodge tak membekalkan mesin ber-cc besar plus supercharger seperti biasanya. Hornet R/T kini justru hanya mengusung mesin ‘kecil’.

Anda mungkin tak akan percaya jika di balik kap bonnetnya hanya berisi mesin 4-silinder turbo 1.3-liter. Tenaganya pun tidak beringas, hanya 288 hp. Namun torsi maksimumnya yang sebesar 520 Nm cukup lumayan menggigit. Untuk penyaluran daya, Hornet R/T dibekali transmisi automatic 6-speed.

Tanpa Alternator Konvensional

Lantas, seperti apa modul hybrid yang dibekalkan? Nah, pada poros roda belakang terpasang sebuah motor elektrik berdaya 90 kW. Kurang lebih jika dikonversi sekitar 120 hp. Perpaduan mesin di depan dan motor elektrik di belakang menghasilkan sistem penggerak e-AWD.

Hornet R/T memiliki fitur PowerShot, boost suplemen tenaga ekstra sebesar 30 hp untuk beberapa saat. Kurang lebih mirip seperti Sport Mode pada Hornet GT yang bermesin bensin konvensional plus penggerak AWD.

Dengan fitur PowerShot, Hornet R/T hanya butuh waktu 5,6 detik untuk mencapai kecepatan 100 km/jam. Sementara Hornet GT dengan fitur Sport Mode butuh waktu 6,5 detik.

Karena menggunakan modul hybrid, mesin Hornet R/T kini menggunakan starter generator dengan sabuk penggerak. Tak lagi menggunakan motor starter dan alternator konvensional.

Untuk pasokan energi listrik, Hornet R/T dibekali baterai lithium-ion berkapasitas daya 15.5-kWh yang terintegrasi dengan sistem pendingin.

Modul pengisian ulang daya baterai 7.4-kW yang dibekalkan membuat Hornet R/T dapat menggunakan sistem pengisian daya Level 2. Waktu yang dibutuhkan hingga daya baterai terisi penuh pun cukup cepat, sekitar 2,5 jam saja.

Jika ingin berkendara pada mode EV yang senyap tanpa asap, Hornet R/T dapat menempuh jarak hingga 51 km. Sementara untuk kombinasi mesin bensin dan mode EV, jarak jelajah maksimum Hornet R/T dapat mencapai hingga 579 km. Cukup lumayan jauh.

Pilih Hornet R/T Hybrid Atau Hornet GT Non-hybrid?

Penasaran berapa harga muscle car hybrid ini? Hornet R/T dibanderol mulai dari $40,935 atau setara Rp 620 jutaan. Jika ingin konten lebih, tesedia varian R/T Plus. Mesinnya sama. Bedanya antara lain pada kemasan interior yang full kulit, sistem audio Harman Kardon, sunroof, dan pintu bagasi otomatis. Label harganya mulai dari $45,935 atau sekitar Rp 695,8 jutaan (off the road).

Jika tak suka varian hybrid, masih tersedia Hornet GT bermesin 4-silinder turbo Hurricane 2.0-liter bertenaga 268 hp dengan torsi 400 Nm. Perpindahan gigi menggunakan transmisi automatic 9-speed dari ZF Friedrichshafen.

Terdapat dua varian yakni GT yang dibanderol mulai dari $30,735 atau setara Rp 465,5 jutaan dan GT Plus yang label harganya mulai dari $35,735 atau sekitar Rp 541,3 jutaan (off-the road).

Suzuki XL7 Hybrid Dibekali Fitur Yang Tak Kalah Memikat

Suzuki XL7 Hybrid jadi varian terbaru yang diperkenalkan oleh PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) dalam jajaran SUV yang dipasarkan di Indonesia. Saat melihat wujudnya, konsumen yang awam mungkin akan berpikir mobil ini tak ada bedanya dari XL7 versi non-Hybrid. Namun nyatanya tidak demikian.

Nah, ubahan apa yang paling mencolok pada Suzuki New XL7 Hybrid dibandingkan versi tanpa label Hybrid?

Interior Tampil Lebih Elegan

Yang mungkin sedikit mengecoh konsumen mungkin pada area interiornya. Layout kabin XL7 Hybrid sepintas terlihat tak berbeda dari varian non-Hybrid. Panel instrumen plus layar MID (multi-information display) di balik setir palang tiga terlihat identik. Kelengkapan seperti soket listrik 12V, USB dan Aux juga tak berubah.

Sistem infotaintment dengan layar sentuh 8 inci pada XL7 Hybrid sama seperti varian non-Hybrid. Tetap dilengkapi dengan switch audio control serta koneksi Bluetooth. Namun saat dicermati, interior pada XL7 Hybrid varian Alpha maupun Beta kini tampil kian mewah dibandingkan versi non-Hybrid. Kombinasi kulit dan kain pada jok terlihat lebih elegan. Aksen ornamen kayu di dashboard dan panel pintu pun membuat tampilan interior layaknya SUV kelas premium. Nuansa warna beige pada interior pun kini berganti dengan warna silver.

Fitur penyejuk kabin otomatis pada XL7 Hybrid menunjang kenyamanan berkendara. Terlebih dengan adanya sistem ISG dan baterai lithium-ion 10 Ah yang lebih besar dari Ertiga Hybrid. Meskipun mesin mobil mati saat fitur Engine Start-Stop bekerja, AC akan tetap berfungsi. Jadi tak perlu khawatir kepanasan saat tengah terjebak di kemacetan lalu lintas.

Tombol pengaturan fitur Cruise Control pada setir pun cukup mudah dioperasikan. Fitur ini sangat membantu ketika berkendara pada kecepatan konstan seperti di jalan tol yang lurus dan cukup panjang. Setidaknya kaki tak lekas pegal karena harus selalu menginjak pedal gas. Suzuki XL7 Hybrid hanya tersedia dalam dua varian teratas yakni Alpha dan Beta.

Smart E-Mirror Touch Screen

Yang menarik dari sederet fitur yang ada pada interior XL7 Hybrid yakni Smart E-Mirror Touchscreen. Fitur yang satu ini mungkin tak banyak diketahui para konsumen. Kaca spion tengah pada plafon kabin sekaligus berfungsi sebagai layar penampil gambar dari kamera di depan maupun belakang mobil. Tak seperti pada gambar rekaman dari kamera pada mobil lainnya yang ditampilkan pada layar head unit di dashboard. Fitur ini tak akan mengganggu fungsi layar head unit pada bagian tengah dashboard.

Saat transmisi berada di posisi gigi mundur, kamera akan bekerja secara otomatis. Pengendara bisa melihat situasi di belakang kendaraan dari rekaman gambar kamera parkir yang ditampilkan pada kaca spion.

Tak hanya memudahkan saat parkir, fitur ini sekaligus meningkatkan visibilitas pengemudi dan mengurangi blind spot saat parkir mundur. Anda pun dapat merekam situasi perjalanan saat berkendara.

Rekaman gambar dari kamera akan tersimpan pada kartu memori micro SD yang terpasang di dalam spion tengah tersebut. Nah, kapasitas 32 GB pun bisa ditambah menjadi 64 GB. Keren kan! Fitur ini jadi keunggulan yang tak dimiliki kompetitor sekelasnya seperti Daihatsu Terios, Toyota Rush, hingga Honda BR-V dan Mitsubishi Xpander Cross.

Berkendara Aman dan Nyaman

Suzuki XL7 Hybrid bertransmisi manual memiliki fitur pembeda dari varian automatic, yakni Gear Shift IndIcator. Fitur yang terintegrasi dengan sensor rpm mesin ini akan memberi tanda kepada pengemudi kapan waktunya untuk melakukan perpindahan gigi. Fungsinya kurang lebih mirip seperti indikator shift light pada mobil balap. Untuk varian bertransmisi otomatis, terdapat fitur Hill Hold Control. Fitur ini sangat membantu saat kendaraan tengah terjebak di kemacetan atau saat merayap di jalan tanjakan.

Perihal fitur keselamatan berkendara seperti anti-lock braking system (ABS), electronic stability programme (ESP), dual airbag, dan electronic brake distribution (EBD) tetap menjadi kelengkapan standar pada XL7 Hybrid.

Kabin Lapang Dan Nyaman

Seperti halnya di area Jabodetabek maupun kota lainnya, tipikal konsumen peminat Suzuki New XL7 Hybrid di Yogyakarta pun kurang lebih sama. Sebagian besar adalah pengusaha dan profesional muda dengan taraf ekonomi cukup mapan. Dengan kapasitas 7-penumpang, New XL7 Hybrid sangat cocok digunakan sebagai kendaraan penunjang aktifitas sehari-hari maupun mobil keluarga.

Seperti halnya pada XL7 non-Hybrid, posisi duduk tak berubah. Seluruh penumpang dapat duduk dengan nyaman. Meskipun pada baris kedua tak dilengkapi sandaran tangan di bagian tengah, justru hal ini membuat area bangku menjadi tak terasa sempit. Terutama bagi penumpang bertubuh extra large.

Bahkan pada penumpang berpostur jangkung tetap dapat duduk dengan nyaman di baris paling belakang sekalipun. Ya, pada MPV maupun SUV biasanya penumpang baris paling belakang posisi duduknya kurang nyaman. Terutama pada posisi lutut yang mentok maupun batas kepala yang nyaris menyentuh plafon.

Kapasitas Barang Bawaan Lebih Besar

Dibandingkan dengan MPV berkapasitas 5-penumpang yang banyak beredar di pasaran, Suzuki New XL7 Hybrid jelas lebih unggul. Selain dapat memuat penumpang lebih banyak, kapasitas muat barang pun lebih besar. Label harga pun tak terpaut jauh.

Dengan konfigurasi duduk 2-3-3, jok baris kedua dan ketiga bisa dilipat. Volume ruang bagasi pun jadi bertambah besar. Memudahkan saat harus membawa barang bawaan dan belanjaan yang cukup banyak. Bahkan anda pun dapat memuat sepeda MTB di dalam kabin Suzuki New XL7 Hybrid. Jok dalam posisi terlipat tentunya.

Memuat koper dan tas ransel kemping atau tas travel berukuran besar kerap menjadi problem utama saat hendak travelling. Belum lagi ditambah dengan coolbox penyimpan minuman dingin yang ukurannya cukup besar dan memakan tempat.

Kapasitas kargo New XL7 Hybrid bisa menampung empat hingga lima koper besar plus tas bawaan dengan melipat jok baris ketiga. Segala perabotan pun jadi kian mudah dan praktis untuk dimuat dalam kabin.

Sejak diperkenalkan pada akhir Juni lalu, PT Sumber Baru Mobil sebagai salah satu dealer resmi mobil Suzuki di kota Yogyakarta telah mendapat 47 Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) New XL7 Hybrid. Ini baru dari satu dealer saja dan jumlahnya tentu akan kian bertambah.

Dengan sejumlah inovasi dan fitur memikat yang dibekalkan, PT SIS yakin Suzuki New XL7 Hybrid dapat bersaing dengan kompetitor sekelasnya. Bahkan secara simultan Suzuki akan menghadirkan New XL7 Hybrid di 33 kota besar di Indonesia.